Mainstream

Bruce Springsteen Kecam Donald Trump Saat Tampil di ‘The Late Show with Stephen Colbert’

MUSIKPLUS — Legenda musik rock Amerika Serikat, Bruce Springsteen, meluncurkan kritik tajam terhadap Presiden Donald Trump dan jajaran eksekutif media dalam penampilan emosionalnya di episode pamungkas kedua (penultimate show) program komedi larut malam The Late Show with Stephen Colbert di CBS.

Musisi yang akrab disapa “The Boss” tersebut secara terbuka menyebut pembatalan program berperingkat tinggi itu sebagai bentuk kepatuhan korporat terhadap presiden yang “tidak bisa menerima lelucon.”

Penampilan Springsteen di Teater Ed Sullivan, New York, pada Rabu malam waktu setempat, menandai salah satu momen paling bermuatan politik dalam sejarah televisi modern. Langkah ini diambil di tengah ketegangan yang meningkat antara industri hiburan independen dengan administrasi pemerintahan Trump yang baru, serta gelombang konsolidasi media yang mengubah lanskap penyiaran Amerika.

Pembelaan untuk Kebebasan Berbicara

Berdiri di hadapan pembawa acara Stephen Colbert dan penonton studio yang riuh, Springsteen tidak menahan diri saat menjelaskan alasannya hadir di malam-malam terakhir program tersebut. CBS sebelumnya mengumumkan pembatalan The Late Show menyusul tekanan politik yang berkepanjangan dan akuisisi korporat oleh Skydance Media yang dipimpin oleh David Ellison.

“Saya di sini malam ini untuk mendukung Stephen, karena Anda adalah orang pertama di Amerika yang kehilangan acaranya hanya karena kita memiliki seorang presiden yang tidak bisa menerima lelucon,” ujar Springsteen, yang langsung disambut oleh gemuruh tepuk tangan dan sorakan dari penonton.

Tidak berhenti di situ, Springsteen secara spesifik menyerang Larry Ellison (pendiri Oracle) dan putranya, David Ellison, yang kini mengendalikan Paramount global selaku induk perusahaan CBS. Hubungan dekat keluarga Ellison dengan Donald Trump dinilai banyak pengamat sebagai faktor utama di balik keputusan mendadak untuk menghentikan program larut malam nomor satu di Amerika Serikat tersebut.

“Dan karena Larry serta David Ellison merasa mereka harus menjilat pantatnya untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan,” lanjut Springsteen dengan nada sengit. “Stephen, mereka ini adalah orang-orang berpikiran sempit. Mereka sama sekali tidak memiliki pemahaman tentang apa arti kebebasan yang seharusnya dijunjung tinggi oleh negara yang indah ini.”

Kritik tajam Springsteen mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas di Hollywood mengenai sensor mandiri (self-censorship) oleh konglomerat media yang berusaha mengamankan regulasi atau keuntungan bisnis dari pemerintah Federal.

Lagu Protes “Streets of Minneapolis”

Setelah menyampaikan pernyataan politiknya, Springsteen beralih ke mikrofon untuk membawakan lagu protesnya yang sarat politik, “Streets of Minneapolis.” Lagu ini merupakan kritik langsung terhadap kebijakan imigrasi agresif yang dijalankan oleh badan Penegakan Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE) di bawah arahan administrasi Trump.

Penampilan tersebut disajikan secara teatrikal dan intim. Di belakang Springsteen, sebuah gambar bendera Amerika Serikat berukuran besar diproyeksikan pada dinding bata panggung. Proyeksi tersebut secara bergantian menampilkan kata-kata bermakna kuat dalam huruf kapital besar: “RESISTANCE” (Perlawanan), “TRUTH” (Kebenaran), dan “HOPE” (Harapan).

Lirik lagu yang dibawakan Springsteen menceritakan sebuah insiden tragis yang melibatkan penegak hukum federal dan seorang warga sipil fiktif bernama Alex Pretti. Dalam lagu tersebut, Springsteen secara eksplisit menuduh para penasihat dan pejabat tinggi Trump melakukan kebohongan publik untuk menutupi kebrutalan aparat.

“Trump’s federal thugs beat him in the face and chest / then we heard the shots and Alex Pretti lay dead in the snow,” demikian bait lirik yang dilantunkan Springsteen dengan suara seraknya yang khas.

(Preman-preman federal Trump memukulinya di wajah dan dada / lalu kami mendengar tembakan dan Alex Pretti tergeletak mati di salju)

Ia kemudian melanjutkan liriknya dengan menyerang arsitek kebijakan imigrasi Trump, Stephen Miller, serta mantan Sekretaris Keamanan Dalam Negeri, Kristi Noem:

“Their claim was self-defense, sir / Just don’t believe your eyes / It’s our blood and bones / And these whistles and phones / Against Miller and Noem’s dirty lies.”

(Klaim mereka adalah pembelaan diri, Tuan / Jangan percaya pada apa yang kaulihat / Ini adalah darah dan tulang kami / Dan peluit serta telepon genggam ini / Melawan kebohongan kotor Miller dan Noem)

Penggunaan nama Stephen Miller dan Kristi Noem dalam lagu tersebut mempertegas posisi Springsteen sebagai salah satu figur publik paling vokal yang menentang kebijakan domestik garis keras pemerintah.

Kronologi Pembatalan dan Badai Politik

Pembatalan The Late Show with Stephen Colbert telah menjadi subjek kontroversi nasional sejak pertama kali diisyaratkan pada pertengahan tahun lalu. Selama satu dekade memimpin program tersebut sejak menggantikan David Letterman pada tahun 2015, Colbert konsisten menempatkan acaranya di urutan teratas peringkat rating televisi larut malam. Kesuksesan komersial ini sebagian besar didorong oleh satir politiknya yang tajam terhadap Donald Trump selama masa jabatan pertamanya dan tahun-tahun berikutnya.

Namun, situasi berubah drastis setelah pengumuman merger antara Paramount Global dan Skydance Media. David Ellison, miliarder muda di balik Skydance, dilaporkan mengambil langkah-langkah efisiensi dan restrukturisasi yang sejalan dengan lanskap politik yang baru. Pengamat media menilai bahwa mempertahankan acara yang setiap malam mengkritik presiden petahana dianggap sebagai risiko bisnis yang terlalu besar bagi korporasi yang membutuhkan persetujuan regulasi antitrust dari pemerintah federal.

Meskipun Trump melalui akun media sosialnya membantah terlibat langsung dalam pemecatan Colbert dan mengklaim pembatalan tersebut murni karena “ketiadaan bakat dan penurunan penonton,” ia secara terbuka merayakan berakhirnya acara tersebut. Trump menyebut The Late Show sebagai program yang “mati tanpa kehidupan” dan memperingatkan bahwa program larut malam lainnya, seperti yang dipandu oleh Jimmy Kimmel di ABC dan Jimmy Fallon di NBC, akan menghadapi nasib serupa.

Respon Industri dan Solidaritas Rekan Sejawat

Langkah berani Bruce Springsteen di panggung Colbert memicu gelombang reaksi di seluruh industri hiburan AS. Sejumlah komedian dan pembawa acara saingan menyatakan solidaritas mereka. Dalam monolognya di jaringan NBC, Seth Meyers juga melayangkan kritik serupa terhadap langkah CBS dan keluarga Ellison, menyebutnya sebagai preseden buruk bagi kebebasan berekspresi di media penyiaran publik.

Bagi Springsteen sendiri, perseteruan dengan Donald Trump bukanlah hal baru. Musisi berusia 76 tahun tersebut telah berulang kali mengecam Trump selama bertahun-tahun, menyebutnya sebagai sosok yang “korup, tidak kompeten, dan mengancam demokrasi.” Sebaliknya, Trump sering membalas kritik tersebut di hadapan para pendukungnya dengan menyebut Springsteen sebagai “pria sombong yang menyebalkan.”

Penampilan pada Rabu malam itu dipandang oleh banyak pihak sebagai pernyataan sikap terakhir dari sebuah era televisi larut malam yang berani berkonfrontasi langsung dengan kekuasaan eksekutif. Episode terakhir The Late Show sendiri ditayangkan pada Kamis malam, menampilkan deretan tamu legendaris termasuk Sir Paul McCartney dan Jon Batiste, yang berkumpul untuk mengantarkan Colbert keluar dari panggung udara CBS setelah satu dekade yang penuh gejolak.

Dengan berakhirnya acara Colbert, para analis media memperkirakan era baru televisi larut malam Amerika akan bergeser ke arah konten yang lebih netral dan menghindari topik politik sensitif demi menjaga stabilitas bisnis korporasi di bawah bayang-bayang pemerintahan yang agresif terhadap kritik media.

+ Bagikan

Artikel Terkait

1 of 3