MUSIKPLUS – Industri musik Indonesia dalam beberapa tahun terakhir diramaikan oleh kehadiran musisi-musisi independen yang membawa warna baru yang sangat segar. Salah satu nama yang paling mencolok dan selalu berhasil mencuri perhatian pendengar adalah Brigitta Sriulina Beru Meliala, atau yang lebih dikenal dengan nama panggungnya, Idgitaf. Melalui obrolan mendalam di kanal YouTube Eka Gustiwana bertajuk “EGP Producer’s Corner”, terungkap berbagai fakta menarik mengenai alasan kuat di balik karya-karya Idgitaf yang selalu terasa sangat dekat dan terkoneksi langsung (relate) dengan kehidupan emosional para pendengarnya, khususnya generasi muda yang kerap mengalami krisis identitas.
Berani Menampilkan Kejujuran yang Rentan (Vulnerable)
Alasan paling utama mengapa lagu-lagu Idgitaf selalu terasa personal adalah karena proses penulisannya yang melibatkan kejujuran yang sangat mentah. Idgitaf mengungkapkan bahwa menulis lagu baginya adalah proses yang sangat memalukan sekaligus rapuh (vulnerable). Sisi melankolis dan keresahan yang ia tuangkan dalam lirik lagu adalah wilayah privat yang bahkan orang terdekatnya seperti orang tua, kakak, atau pacarnya sekalipun tidak pernah melihat saat proses penciptaan itu berlangsung.
Di tengah pasar musik yang dipenuhi lagu cinta mainstream, Idgitaf memilih jalur yang berbeda dengan berani menelan “pil pahit” industri, mencari celah emosi yang belum banyak disentuh orang lain. Ketika ia menulis tentang patah hati, kesedihan atau ketakutan beranjak dewasa (seperti pada lagu “Takut”), ia tidak sekadar meratapi nasib dengan diksi standar. Ia melakukan pelintiran makna (twist) kalimat berdasarkan sudut pandang spesifik dirinya sebagai manusia biasa. Karakter penulisan lirik yang tajam ini diperolehnya dari kepekaannya sebagai seorang pendengar yang baik serta latar belakangnya yang dulu merupakan pembaca aktif.
Menulis Tanpa Batasan Teori Musik (Keterbatasan Menjadi Kebebasan)
Secara teknis, fakta mengejutkan dari seorang Idgitaf adalah ia sama sekali tidak menguasai atau memainkan instrumen musik seperti gitar atau piano. Ketika menciptakan sebuah lagu, ia sepenuhnya mengandalkan rekaman suara (voice note) di ponselnya secara organik. Prosesnya dimulai dari menulis lirik, lalu menyanyikan lirik tersebut berulang-ulang dengan berbagai variasi nada hingga menemukan melodi yang dirasa pas. Terkadang, ia bisa menghasilkan hingga 50 rekaman voice note hanya untuk menyempurnakan satu bagian chorus.
Keterbatasan ini justru berubah menjadi senjata utama dan ruang kebebasan yang luas. Rekan sesama musisi, Dere, pernah menyampaikan kepadanya bahwa ketidakbisaannya bermain instrumen justru membuat progresi nada Idgitaf menjadi sangat unik, bebas dan tidak terduga. Musisi yang terbiasa memegang gitar atau piano sering kali terjebak dalam pola progresi acord yang itu-itu saja karena keterbatasan jari atau kebiasaan teori musik. Idgitaf, sebaliknya, melompat bebas tanpa beban aturan tersebut, menghasilkan melodi murni yang mengalir langsung dari emosi kepalanya.
Keseimbangan Antara Idealisme Seniman dan Realisme Pebisnis
Banyak musisi indie yang terjebak pada idealisme ekstrem di awal karier hingga akhirnya kesulitan mempertahankan roda operasional mereka. Idgitaf melewati fase pendewasaan ini lewat perdebatan panjang dengan kakaknya yang juga bertindak sebagai manajernya. Ia berhasil membelah persona dirinya menjadi dua entitas yang saling mendukung, Idgitaf sebagai seniman dan Idgitaf sebagai pebisnis, yaitu CEO bagi label mandirinya, Idgitaf Music.
Ia memegang prinsip yang sangat realistis bahwa untuk memuaskan idealisme besarnya, ia harus sukses secara komersial terlebih dahulu demi menghidupi tim dan roda bisnisnya. Kompromi ini terlihat jelas dalam beberapa karyanya.
Lagu seperti “Terpikat Senyummu” diakuinya sebagai lagu yang sengaja dibuat dengan lirik paling mainstream demi memenuhi pasar komersial, meskipun itu bukan gaya lirik favoritnya. Namun dari kesuksesan lagu komersial itulah, ia mendapatkan stabilitas finansial untuk membiayai proyek-proyek idealisnya yang jauh lebih dalam, seperti lagu “Berlaga Bahagia”, “Selesai”, atau eksplorasi genre musik country pada rilisan terbarunya, “Sedia Aku Sebelum Hujan”.
Penggarapan Aransemen yang Otentik dan Berkarakter
Meskipun liriknya digubah secara mandiri lewat voice note, Idgitaf sangat tahu apa yang ia inginkan, dan yang paling penting apa yang tidak ia inginkan dalam sebuah lagu. Sejak single pertamanya “Hal Indah Butuh Waktu untuk Datang”, ia secara tegas menginstruksikan produsernya untuk menghindari penggunaan efek dengung (ambient/pad) yang terlalu tebal atau basah yang marak di tahun 2020. Ia menginginkan vokal yang kering (dry), intim, suara instrumen akustik yang padat, serta ketukan drum yang distingtif.
Karakter vokal timbre Idgitaf yang unik dipadukan dengan produksi musik dari nama-nama besar seperti Ezra Kunia (XYFI), Eko Sulistio, Rayendra Sunito, Enrico Octaviano, hingga Dimas Pradipta membuat kualitas lagunya selalu terjaga. Keberaniannya mengeksplorasi struktur lagu, seperti menambahkan bagian post-chorus (chorus kedua) yang tidak biasa pada lagu “Satu-Satu”, atau memasukkan instrumen langka seperti lap steel dan pedal steel guitar lewat permainan Amrus Ramadan di lagu “Rutinitas”, memberikan bobot musikalitas yang tinggi sekaligus membedakan dirinya dari solois lainnya di Indonesia.
Semua hal tersebut membuat lagu-lagu Idgitaf selalu relate karena karya tersebut lahir dari kombinasi antara kejujuran emosi yang mentah, pemanfaatan keterbatasan menjadi kebebasan kreatif, serta kecerdasan dalam mengelola manajemen bisnis musik secara independen. Dianggap sebagai penyedia “KTP bagi anak muda yang mengalami krisis identitas,” Idgitaf berhasil membuktikan bahwa musik indie yang jujur, jika dikelola dengan strategi promosi dan kompromi bisnis yang tepat, mampu mengetuk hati jutaan pendengar tanpa harus kehilangan jiwa senimannya.




























