Musisi

Dibalik Kejeniusan Matteo Mancuso, Filosofi Latihan, Anatomi Teknik dan Visi Album Baru

MUSIKPLUS – Dunia gitar elektrik global dalam beberapa tahun terakhir dikejutkan oleh kehadiran seorang virtuoso muda asal Sisilia, Italia, Matteo Mancuso. Dikenal secara luas karena keputusannya untuk menanggalkan pik (guitar pick) dan beralih sepenuhnya menggunakan teknik jari (fingerstyle) yang sangat tidak biasa pada gitar elektrik berdistorsi, Mancuso mendefinisikan ulang batas-batas kecepatan, artikulasi, dan kebersihan suara (cleanliness).

Dalam sebuah sesi wawancara mendalam dengan Rick Beato, keduanya membedah secara radikal evolusi permainan Mancuso, pendekatan barunya terhadap komposisi di album kedua yang sangat dinantikan, rahasia latihan harian, hingga bagaimana ia mengombinasikan pengaruh jazz klasik dengan shred rock modern.

Eksplorasi Yamaha Pacifica Custom dan Rahasia Fretboard

Rick Beato yang menyoroti instrumen baru yang berada di pangkuan Mancuso, sebuah gitar bergaya Stratocaster yang tampak berbeda dari Revstar yang biasa ia mainkan.

“Ini adalah Yamaha Pacifica Custom baru yang sudah saya mainkan selama beberapa bulan terakhir. Saya masih membiasakan diri dengannya. Mainan baru ini memaksa saya untuk mencari tahu bagaimana cara mengeksplorasi whammy bar sekaligus memetik dengan jari secara bersamaan,” kata Matteo Mancuso.

Mancuso menjelaskan bahwa untuk gaya permainannya, ia memesan handle (whammy bar) yang berukuran lebih pendek agar tidak menghalangi pergerakan kompleks tangan kanannya. Ia menggunakan sistem bridge dari Vega-Trem yang ia puji karena stabilitas tuning-nya yang luar biasa dan kemampuan menghasilkan sustain yang masif meskipun ditekan dengan ekstrem.

Ketika Beato menanyakan apa fokus latihan batiniahnya akhir-akhir ini, Mancuso memberikan jawaban yang mengejutkan bagi seorang pemain berteknologi tinggi. Alih-alih mengejar kecepatan mekanis, ia justru memfokuskan energinya pada visualisasi fretboard secara tradisional.

“Banyak orang berpikir bahwa mengetahui letak persis setiap not di fretboard hanya berguna untuk membaca partitur (sight reading). Itu salah besar. Mengetahui not sangat krusial untuk improvisasi. Selama bertahun-tahun, saya menyadari bahwa saya terlalu bergantung pada memori otot (muscular memory). Sekarang, jika saya harus bermain melewati perubahan akor (playing through changes) di tangga nada yang tidak ramah bagi gitar seperti B-flat atau A-flat, mengetahui letak not secara absolut memberikan keuntungan besar,” ujarnya.

Baca Juga :  Dari Racer X ke Mr. Big, Evolusi Tanpa Batas Sang Virtuoso Gitar Paul Gilbert

Gitar memiliki kelemahan inheren pada penyeteman standarnya (Standard Tuning), di mana jarak antara senar tiga (G) dan senar dua (B) menggunakan interval major third, berbeda dengan senar lainnya yang menggunakan perfect fourth. Mancuso mengakui hal ini sering merusak visualisasi bentuk simetris saat bermain cepat, sehingga latihan visualisasi interval, seperti memetakan interval perfect fourth di setiap posisi akor dominant 7 menjadi menu latihan wajibnya.

Anatomi Teknik Mengapa Kecepatan Mancuso Begitu Bersih?

Salah satu misteri terbesar yang sering diperdebatkan oleh para gitaris di internet adalah bagaimana posisi tangan kanan Mancuso bisa menghasilkan artikulasi yang begitu kuat seperti menggunakan pik, lengkap dengan efek punch dan palm muting yang konseptual. Mancuso secara gamblang membedah dua posisi mendasar tangan kanannya.

Teknik Gaya Bass (Rest Stroke/Apoyando)

Saat mengeksekusi jalur melodi cepat yang berbasis tiga not per senar (three notes per string), Mancuso memosisikan pergelangan tangannya menekuk, mirip pemain bass atau gitaris klasik yang menggunakan teknik apoyando.

Kelebihannya dapat memberikan volume yang jauh lebih besar, artikulasi yang menyerang (punchy), dan memungkinkan perpindahan cepat antar senar yang berdekatan.

Sedangkan fungsi klinisnya, posisi ini juga memungkinkannya melakukan teknik palm muting menggunakan sisi telapak tangan yang menempel pada jembatan gitar, memberikan suara chugging yang padat khas musik rock.

Teknik Gaya Klasik (Free Stroke/Tirando)

Ketika jalur melodi beralih menjadi sapuan arpeggio yang melompati senar (string skipping), Mancuso secara instan mengubah posisi tangannya menjadi lebih terbuka, di mana ibu jari (thumb) sejajar dengan jari-jari lainnya.

Kelebihannya sangat memudahkan pembersihan suara saat melompat dari senar satu langsung ke senar enam. Ibu jari bertindak sebagai jangkar independen untuk memetik nada bass, sementara jari telunjuk dan tengah menyapu sisa nada.

Ketika Rick Beato menanyakan apakah pukulan keras kuku jari ke senar baja berdistorsi merusak tangannya, Mancuso tertawa dan membenarkannya.

“Sangat merusak. Pada lagu kelima atau keenam di atas panggung, kondisi kuku saya sudah berantakan. Saya selalu mendambakan ada bahan antipeluru atau material tak hancur yang bisa saya pasang di kuku saya. Sedikit saja ada rekahan (nick) pada kuku jari tengah, suara klik kecil yang mengganggu akan muncul di sistem audio, dan itu sangat mengganggu fokus saya,” ujarnya.

Baca Juga :  Jejak Visual Sang Maestro Drum, Tommy Aldridge Dari Ozzy Osbourne Hingga Whitesnake

Dari George Benson hingga Jembatan “Giant Steps”

Ketika diskusi bergeser ke ranah harmoni, Beato menanyakan siapa panutan Mancuso dalam menyusun akord dan melodi linier. Dua nama besar muncul, George Benson dan Allan Holdsworth.

Mancuso menceritakan kekagumannya pada rekaman ikonik George Benson, Live in Montreux 1986. Menurutnya, Benson bukan sekadar pemain melodi tunggal yang hebat, melainkan seorang master chord soloing yang bisa membuat satu gitar terdengar megah seperti sebuah big band. Karakter Benson yang selalu melodis bahkan di atas progresi ii-V-I yang rumit menjadi landasan Mancuso dalam membangun kosakata (vocabulary) improvisasinya saat bermain dengan suara gitar bersih (clean tone).

Di sisi lain, Allan Holdsworth tetap menjadi sosok misterius yang strukturnya sulit dipecahkan secara teori konvensional. Album Wardencliffe Tower (1992) diakui Mancuso sebagai album dengan tone gitar terfavoritnya, meskipun progresi akor di dalamnya sangat tidak biasa dan tidak akan pernah ditemukan dalam standar jazz populer.

Untuk mendemonstrasikan bagaimana sebuah melodi tunggal harus mampu menguraikan harmoni tanpa bantuan instrumen pengiring, Mancuso secara spektakuler memainkan cuplikan lagu “Giant Steps” milik John Coltrane.

“Luar biasa! Bahkan tanpa kamu memainkan akordnya, telinga kita bisa mendengar dengan jelas perubahan harmoni yang lewat. Itu sangat gila!,” kata Beato.

Mancuso menegaskan bahwa di tempo secepat “Giant Steps”, improvisasi murni di atas panggung adalah hal yang mustahil tanpa adanya memori otot yang kuat dan kepemilikan “kosakata” yang kaya. Ia mengibaratkan kosakata musik sama seperti berbicara dalam bahasa asing, semakin banyak kata yang dikuasai, semakin akurat pesan yang bisa disampaikan saat berimprovisasi.

Pendekatan Komposisi dan Detail Album Baru

Berbicara mengenai album studio keduanya yang dijadwalkan rilis pada 24 April 2026 (yang secara kebetulan bertepatan dengan hari ulang tahun Rick Beato), Mancuso memaparkan perubahan radikal dalam proses produksinya.

Baca Juga :  Sisi Lain Keith 'Rolling Stones' Richards, Seks, Obat-Obatan dan Rock and Roll

Jika album pertamanya (The Journey) direkam dengan pendekatan trio jazz tradisional yang mentah, di mana gitar, bass, dan drum direkam bersamaan dalam satu ruangan, maka di album kedua ini, Mancuso lebih banyak bereksperimen dengan teknik layering atau menumpuk trek gitar. Ia menggabungkan gitar akustik nylon, gitar klasik gypsy, dan gitar elektrik berdistorsi di dalam satu lagu untuk menciptakan lanskap suara yang jauh lebih megah dan tebal.

Album ini juga menampilkan kolaborasi tingkat tinggi dengan sejumlah musisi legendaris.

Antoine Boyer

Berkolaborasi dalam lagu berjudul “Isla Feliz”. Lagu ini memadukan elemen ritme Brasil yang dinamis, nuansa grup Pat Metheny secara harmonis, serta peleburan tiga jenis gitar sekaligus.

Steve Vai

Single kolaborasi yang dijadwalkan rilis pada akhir Februari 2026, menampilkan dialog gitar yang intens antara dua generasi virtuoso berbeda.

Valeri Stepanov

Seorang produser dan pemain keyboard jenius asal Rusia yang ikut mengisi lagu bonus, sebuah versi aransemen baru dari lagu funk klasik “The Chicken” yang awalnya dipopulerkan oleh Jaco Pastorius.

Rahasia Latihan Tanpa Rutinitas

Mancuso juga membagikan satu pandangan hidup yang membebaskan bagi para gitaris akademis yang sering terjebak dalam kebosanan latihan teknik.

“Saya tidak memiliki rutinitas latihan yang kaku. Saya bukan tipe orang yang melatih arpeggio selama satu jam, lalu berlatih tangga nada selama satu jam lagi. Rentang perhatian saya tidak akan kuat melakukan itu. Saya selalu memulai dari materi musiknya langsung. Jika ada solo gitar yang saya sukai, saya ulik. Jika ada lagu yang indah, saya pelajari. Saya bermain berdasarkan apa yang membuat saya bersemangat pada momen tersebut,” beber Mancuso.

Melalui kombinasi antara bakat alami, kebebasan berekspresi tanpa pik, dan pemahaman harmoni jazz yang mendalam, Matteo Mancuso membuktikan bahwa evolusi gitar elektrik belum mati. Ia tidak sekadar bermain lebih cepat, melainkan bermain dengan pemikiran yang lebih matang, ekonomi gerakan yang efisien dan melodi yang bernyawa.

Artikel Terkait

1 of 2