Hard N' Heavy

Dick Parry, Saksofonis Legendaris di Balik Mahakarya Pink Floyd, Meninggal Dunia Pada Usia 83 Tahun

MUSIKPLUS — Dunia musik rock internasional berduka atas berpulangnya Dick Parry, saksofonis veteran asal Inggris yang tiupan instrumennya menjadi bagian tak terpisahkan dari lagu-lagu paling ikonik milik band progresif rock legendaris, Pink Floyd. Musisi yang melahirkan solo saksofon monumental pada lagu “Money” dan “Us and Them” tersebut mengembuskan napas terakhirnya pada Jumat pagi, 22 Mei 2026, dalam usia 83 tahun.

Kabar duka ini dikonfirmasi secara langsung oleh gitaris dan vokalis utama Pink Floyd, David Gilmour, melalui sebuah unggahan emosional di akun media sosial resminya. Gilmour, yang merupakan sahabat karib Parry sejak masa remaja, membagikan rangkaian foto retrospektif yang merekam kebersamaan mereka di atas panggung selama lintas dekade.

Hingga rilis pers ini disiarkan, pihak keluarga maupun manajemen belum mengumumkan penyebab spesifik dari kematian sang musisi. Kepergian musisi kelahiran Suffolk, 22 Desember 1942 ini memicu gelombang penghormatan dari jutaan pencinta musik lintas generasi di seluruh belahan dunia.

Penghormatan Emosional dari David Gilmour

Dalam pernyataan tertulisnya, David Gilmour tidak dapat menyembunyikan rasa kehilangan yang mendalam atas kepergian sosok yang ia sebut sebagai salah satu pilar penting dalam perjalanan estetikanya. Hubungan emosional dan profesional antara Gilmour dan Parry tercatat sebagai salah satu kemitraan paling awet dan berpengaruh dalam sejarah musik rock klasik.

“Sahabat karibku, Dick Parry, meninggal dunia pagi ini,” tulis Gilmour membuka pengumuman duka tersebut. “Sejak saya berusia tujuh belas tahun, saya telah bermain di berbagai band bersama Dick yang memegang saksofon, termasuk di Pink Floyd.”

Gilmour memberikan pujian tinggi terhadap karakter sonik yang dihasilkan oleh tiupan saksofon Parry. Menurutnya, Parry memiliki sensitivitas rasa (feel) dan warna suara (tone) yang sangat khas, sehingga langsung dapat dikenali oleh telinga pendengar sejak nada pertama dibunyikan.

“Sentuhan dan nadanya membuat permainan saksofonnya tidak salah lagi, sebuah ciri khas dengan keindahan luar biasa yang dikenal oleh jutaan orang. Permainannya adalah bagian yang sangat besar dari lagu-lagu seperti Shine On You Crazy Diamond, Wish You Were Here, Us and Them, dan Money,” tambah Gilmour.

Sejarah Persahabatan Cambridge dan Jejak Rekaman ‘Abadi’

Ikatan antara Dick Parry dan David Gilmour berakar jauh sebelum nama Pink Floyd mengguncang dunia. Keduanya tumbuh bersama di tengah kancah musik kota Cambridge yang dinamis pada awal era 1960-an. Pada masa muda tersebut, Gilmour tergabung dalam grup Jokers Wild, sementara Parry memimpin sebuah band beraliran soul lokal bernama The Soul Committee.

Ketika Pink Floyd sedang menggarap album eksperimental The Dark Side of the Moon di Studio Abbey Road pada tahun 1973, Gilmour memutuskan untuk mengundang Parry guna mengisi departemen alat tiup logam (brass section). Keputusan tersebut terbukti menjadi momen bersejarah.

Parry mengeksekusi solo saksofon tenor bernuansa jazz-blues yang agresif pada lagu “Money”, yang kemudian menjadi salah satu komposisi instrumental paling terkenal sepanjang masa. Di album yang sama, ia juga memberikan kontribusi kontras yang tenang dan emosional pada trek “Us and Them”, membuktikan fleksibilitas artistiknya yang luar biasa.

Kontribusi historis Dick Parry bersama Pink Floyd tercatat di sejumlah album studio paling berpengaruh:

Tahun Rilis Judul Album Lagu yang Melibatkan Dick Parry
1973 The Dark Side of the Moon “Money” dan “Us and Them”
1975 Wish You Were Here “Shine On You Crazy Diamond (Part V)”
1994 The Division Bell “Wearing the Inside Out”

Setelah kesuksesan masif The Dark Side of the Moon dan Wish You Were Here, Parry bergabung sebagai musisi tur resmi Pink Floyd dalam periode emas mereka antara tahun 1973 hingga 1977, termasuk dalam tur In the Flesh yang legendaris.

Dari Mengundurkan Diri Menjadi Tapal Kuda, hingga Audisi di Atas Perahu

Salah satu anekdot paling menarik dalam perjalanan hidup Parry adalah keputusannya untuk menarik diri sepenuhnya dari industri musik pada era 1980-an. Jenuh dengan gemerlap dunia hiburan, Parry sempat menjual seluruh koleksi saksofon miliknya, pindah ke sebuah desa terpencil di pinggiran Cambridge, dan beralih profesi menjadi seorang pembuat tapal kuda (farrier).

Dua dekade berselang, saat Pink Floyd tengah mempersiapkan album The Division Bell pada tahun 1994, David Gilmour secara tidak sengaja menerima kartu ucapan Natal dari Parry. Mengetahui sahabat lamanya hidup terisolasi dari musik, Gilmour langsung melacak keberadaannya dan mengundangnya untuk kembali.

Pertemuan kembali tersebut berujung pada sebuah sesi audisi unik yang dilakukan di atas rumah perahu (houseboat) milik Gilmour yang merangkap sebagai studio rekaman, Astoria.

“Saya mengundang Dick untuk melihat apakah dia masih bisa memainkannya,” kenang Gilmour dalam wawancara masa lalu bersama Variety. “Hanya butuh tiga frasa nada bagi kami dan produser Bob Ezrin untuk saling berpandangan dan sepakat bahwa kemampuan magisnya sama sekali tidak pudar.”

Parry akhirnya resmi mengisi lagu “Wearing the Inside Out” di album tersebut dan ikut serta dalam tur dunia masif tahun 1994, yang penampilannya diabadikan dalam album langsung (live album) pemenang penghargaan, Pulse.

Penampilan Terakhir di Panggung Historis ‘Live 8’

Nama Dick Parry juga tercatat dalam tinta emas sejarah kebudayaan pop saat ia berpartisipasi dalam konser amal global Live 8 yang digelar di Hyde Park, London, pada Juli 2005. Konser tersebut menjadi momentum satu-satunya di mana kuartet inti klasik Pink Floyd, David Gilmour, Roger Waters, Richard Wright, dan Nick Mason bersatu kembali di atas panggung setelah perpecahan pahit selama dua dekade.

Dalam pertunjukan bersejarah tersebut, Parry naik ke panggung untuk membawakan bagian solonya yang ikonik dalam lagu “Money”. Penampilan tersebut menjadi kali terakhir publik dunia menyaksikan formasi klasik Pink Floyd tampil utuh bersama instrumen saksofon khas milik Parry.

Di luar ekosistem Pink Floyd, keandalan Parry sebagai musisi sesi (session musician) membuatnya banyak diburu oleh nama-nama besar lainnya. Ia tercatat pernah melakukan tur internasional bersama bagian tiup logam band rock legendaris The Who pada periode 1979–1980, bekerja sama dengan basis John Entwistle, musisi blues legendaris Rory Gallagher, grup R&B Bloodstone, hingga band folk-punk Violent Femmes pada tur tahun 2009.

Kepergian Dick Parry menandai hilangnya salah satu suara instrumental paling khas dari era keemasan classic rock. Para penggemar setia di berbagai forum internet kini melepas kepergiannya dengan menyematkan julukan kehormatan bagi Parry sebagai “The Sixth Floyd” (Personel Pink Floyd Keenam), sebuah pengakuan atas besarnya pengaruh tiupan saksofonnya dalam membentuk lanskap musik yang telah menemani kehidupan ratusan juta manusia.

+ Bagikan

Artikel Terkait

1 of 4