MUSIKPLUS — Di tengah pergeseran industri musik modern yang kian pragmatis, mantan drummer band rock legendaris Boomerang, Faried Martin, melayangkan pandangan kritisnya mengenai identitas musik rock tanah air. Menurutnya, sebuah band rock sejati harus mempertahankan visi idealis dan “spirit perlawanan,” bukan sekadar mengikuti pasar atau terjebak dalam zona nyaman lagu-lagu bertema asmara.
Pernyataan tegas tersebut disampaikan Faried saat menjadi bintang tamu dalam program bincang-bincang musik NGOROCK TV episode 13 yang dipandu oleh musisi senior, Agil. Wawancara berdurasi satu jam ini mengupas tuntas perjalanan spiritual, musikalitas, hingga keterlibatan nyata Faried dalam aksi aktivisme lingkungan yang ekstrem.
Sorotan Utama (Highlights) Wawancara:
Prinsip Dasar Rock: Rock bukan sekadar distorsi atau tempo cepat, melainkan media protes dan perlawanan sosial. Faried mengagumi figur seperti Iwan Fals, Ebiet G. Ade, hingga Bob Dylan karena muatan lirik mereka yang mendalam.
Aktivisme Lingkungan Nyata
Di fase akhir Boomerang bersama mendiang Henry, Faried terlibat aktif dalam aksi garis keras bersama organisasi global Greenpeace, termasuk melakukan aksi menghentikan operasional pabrik perusak lingkungan yang berujung pada penangkapan oleh aparat.
Lahirnya Geriliawan Band
Pasca-wafatnya Henry (bassis Boomerang), Faried membawa sisa 15 materi lagu idealis Boomerang ke dalam proyek barunya yang dinamakan Geriliawan Band. Proyek ini digarap kembali bersama produser legendaris Log Zhelebour.
Kontras Antar-Generasi
Menanggapi perbedaan musisi era lawas dan Gen Z, Faried mengutip pesan Sayidina Ali bahwa setiap generasi memiliki tantangan dan masanya sendiri, sehingga tidak adil membandingkan proses gemblengan fisik zaman dulu dengan kemudahan fasilitas digital hari ini.
Perjalanan dari Garasi Hingga Panggung Aktivisme
Lahir di Tondano, Sulawesi Utara, masa kecil Faried dihabiskan dengan berpindah-pindah kota mengikuti sang ayah. Ia mulai mengenal partitur dan teknik dasar drum sejak SMP di Gresik, Jawa Timur, berkat fasilitas garasi rumah dan keikutsertaannya dalam korps marching band lokal. Pengalaman hibrida ini membentuk gaya permainannya di Boomerang yang dikenal memiliki groove dinamis dan responsif layaknya sebuah obrolan.
Namun, fase yang paling membekas bagi Faried justru terjadi di era-era akhir Boomerang. Di saat banyak pengamat menilai popularitas band sedang menurun, Faried, Tomi, Babas, dan almarhum Henry justru menemukan kepuasan batin dengan menyelaraskan musik mereka dengan isu ekologi.
“Bagi saya, band rock itu harus ada spirit perlawanan. Kita pernah terlibat aksi langsung dengan Greenpeace di Bitung dan Kalimantan untuk memprotes eksploitasi hutan dan limbah industri,” kenang Faried.
Aksi menghentikan operasional pabrik tersebut berisiko tinggi dan sempat membuat Faried berurusan dengan hukum hingga ditangkap aparat keamanan. “Waktu ditangkap kami tidak masalah. Tapi begitu istri menelepon dan mengingatkan umur serta anak yang sudah kuliah, di situlah momen kita tersadar. Kadang-kadang sebagai rocker, kita sering lupa umur kalau sudah menyangkut idealisme,” ujarnya sembari tertawa. Pengalaman empiris di tengah kepungan asap karhutla Kalimantan itu kemudian ia tuangkan ke dalam lagu protes seperti “Ekologi Rakyat” dan “Jeda Kebodohan”.
Melanjutkan Nafas yang Terputus Lewat ‘Geriliawan’
Wafatnya Henry almarhum sempat menghentikan langkah Boomerang secara organisasional. Namun, Faried menolak berhenti berkarya. Ia mengungkapkan bahwa sebelum Henry berpulang, terdapat sekitar 15 tabungan materi lagu yang awalnya dipersiapkan untuk album baru Boomerang.
Materi-materi idealis yang sarat kritik sosial ini akhirnya diselamatkan dan ditiupkan roh baru melalui pembentukan Geriliawan Band. Menariknya, proyek ini kembali diproduksi di bawah bendera Logis Music milik sang promotor legendaris, Log Zhelebour. Faried menegaskan bahwa di dalam band baru ini, seluruh hak cipta dan kepemilikan karya dibagi rata secara komunal demi menghindari ego personal yang kerap memecah-belah band rock di masa lalu.
“Ketika saya tidak bisa berkarya lagi dengan nama Boomerang, saya buat wadah baru bersama Geriliawan. Karakter musiknya tetap kuat karena ini adalah manifesto orisinal dari visi kami terhadap alam dan kemanusiaan,” pungkas Faried.


























