Hard N' Heavy

Geddy Lee Buka-Bukaan Soal Warisan Rush, Dari Peran Anika Nilles dan Kenangan Bersama Neil Peart

MUSIKPLUS – Bagi para pencinta musik progresif rock, nama mendiang Neil Peart bukan sekadar seorang penabuh drum, melainkan sebuah institusi. Kepergian sang profesor dan virtuoso drum pada tahun 2020 meninggalkan kekosongan emosional yang mendalam, tidak hanya bagi jutaan penggemar Rush di seluruh dunia, tetapi terutama bagi sang pembetot bass dan vokalis, Geddy Lee.

Baru-baru ini, dalam sebuah sesi perbincangan yang mendalam dan emosional, Geddy Lee kembali mengenang dinamika magis di dalam Rush bersama sang master drum, sekaligus memberikan pandangan menarik mengenai generasi baru penabuh drum berbakat, salah satunya Anika Nilles.

Wawancara khusus ini menjadi momen refleksi yang langka, di mana Geddy Lee membedah bagaimana kompleksitas musik Rush dibangun di atas fondasi ritme yang tidak biasa. Selama puluhan tahun, Lee dan Peart membentuk salah satu duet rhythm section paling sinkron dan berpengaruh dalam sejarah musik rock.

“Bekerja dengan Neil itu seperti mencoba mengimbangi sebuah mesin jam yang sangat presisi namun memiliki jiwa yang besar,” kata Geddy Lee dengan nada penuh penghormatan.

“Setiap ketukan, setiap transisi waktu yang rumit, selalu diperhitungkan dengan matang olehnya. Kami tidak hanya bermain musik bersama, kami saling menantang batas kemampuan instrumen kami masing-masing di atas panggung.” ungkapnya.

Menariknya, perbincangan ini juga menyoroti sosok Anika Nilles, komposer dan penabuh drum modern asal Jerman yang dikenal dengan penguasaan teknik polyrythm dan pembagian ketukan (odd-time signatures) yang sangat rumit. Karakter permainan Nilles yang matematis namun tetap beralur kerap membuat komunitas musik menyamakannya dengan etos kerja seorang profesor Peart.

Geddy Lee sendiri tidak ragu memberikan pujian tinggi terhadap Nilles dan generasi musisi baru yang terus mendobrak batasan instrumen mereka. Menurut Lee, melihat musisi seperti Nilles memberikan harapan besar bahwa musik yang mengutamakan keahlian teknis tingkat tinggi dan eksplorasi ritme yang kompleks tidak akan pernah punah.

Baca Juga :  Amy Lee, Evanescence dan Misi Membangun 'Sanctuary' di Tengah Kekacauan Dunia

“Sangat mengagumkan melihat bagaimana para penabuh drum modern seperti Anika mengadopsi pendekatan teknis tersebut dan membawanya ke level yang baru,” ujar Lee.

Rush di tahun 2026. Dari kiri: Alex Lifeson, Nilles, dan Geddy Lee (Image credit: YouTube)

“Ada kedisiplinan dan pemahaman mendalam tentang ruang dan waktu dalam permainan mereka yang selalu mengingatkan saya pada cara Neil memandang drumkitnya. Neil pasti akan sangat tersenyum melihat ke mana arah perkembangan dunia drum saat ini.” bebernya.

Selain membahas aspek teknis instrumen, Geddy Lee juga membagikan sisi humanis dari hubungannya dengan Peart di luar panggung. Ia menekankan bahwa di balik sosoknya yang terlihat serius dan misterius di hadapan publik, Peart adalah seorang pria dengan rasa ingin tahu yang masif, seorang pembaca yang rakus dan sahabat yang sangat setia. Kehilangan Peart diakui Lee sebagai salah satu momen paling transformatif dalam hidupnya, yang akhirnya menuntunnya untuk menulis memoar pribadinya demi mengabadikan kenangan-kenangan indah tersebut.

Wawancara ini seolah menjadi pengingat bagi dunia musik bahwa meskipun Rush sebagai band aktif telah usai, warisan kreativitas yang ditinggalkan oleh Neil Peart, Geddy Lee dan Alex Lifeson akan terus hidup. Pengaruh mereka terus mengalir dan bergaung kuat, menginspirasi para virtuoso modern untuk terus memukul drum dan membetot bass dan mencabik gitar melampaui batas batas konvensional.

Artikel Terkait

1 of 7