MUSIKPLUS – Bagi sebagian besar pencinta musik, nama Flea akan selalu identik dengan dentuman bass elektrik yang agresif, lompatan bertenaga tanpa baju di atas panggung dan fondasi funk-rock yang membesarkan nama Red Hot Chili Peppers. Namun, bagi mereka yang memadati venue legendaris KOKO di Camden, London, malam itu menjadi saksi bisu lahirnya sebuah altar hibrida yang baru.
Flea melangkah ke atas panggung bukan untuk meruntuhkan dinding dengan distorsi rock alternatif, melainkan untuk meniupkan roh kebebasan jazz melalui instrumen yang paling personal baginya sejak masa kanak-kanak, trumpet.
Pertunjukan eksklusif di London ini bertindak sebagai sebuah perayaan atas proyek eksperimental teranyarnya. Didampingi oleh ansambel musisi lintas genre yang luar biasa, termasuk keterlibatan magis dari John Frusciante pada trumpet pendamping, tiupan klarinet bas Brian Walsh, serta sapuan emosional saksofon alto Josh Johnson, KOKO diubah menjadi sebuah ruang laboratorium sonik. Format ini langsung mendobrak batas konvensional pertunjukan jazz maupun rock tradisional.
Turnya diperkaya oleh dua bintang tamu spesial yang mengejutkan, bintang rock Thom Yorke pada dua lagu, ia tampil di lagu “Traffic Lights” dan pemain biola Warren Ellis, yang terkenal karena karyanya bersama Nick Cave.
Sebagai sebuah artikel feature musik yang menangkap esensi malam tersebut, suasana di dalam KOKO terasa sangat magis sekaligus tegang. Penonton yang awalnya berekspektasi akan disuguhi energi instan ala stadion, justru dipaksa untuk masuk ke dalam ruang meditatif yang penuh dengan kejutan improvisasi. Ketika Flea meniup trumpetnya dan sesekali beralih ke instrumen tiup langka, flumpet, ia tidak sedang mencoba menjadi Miles Davis baru, ia membawa amarah spiritual, kepekaan melodi dan rasa sakit yang murni ke dalam setiap hembusan napasnya.
Musikalitas yang disajikan malam itu bergerak di wilayah jazz adjacent, sebuah lanskap musik yang berbatasan langsung dengan jazz, namun menolak untuk dikotak-kotakkan. Lanskap ini diperkaya dengan sapuan synthesizer Moog dari Josh Johnson dan Fender Rhodes dari Nathaniel Walcott yang membangun atmosfer sinematik berbalut avant garde. Musiknya mengalir secara independen, kadang-kadang renggang dan penuh ruang sunyi, namun di detik lain meledak menjadi dinding suara yang pekat.
Meskipun Flea dikenal luas sebagai salah satu bassist terbaik sepanjang masa di Rock ‘n’ Roll Hall of Fame, keputusannya untuk memimpin ansambel ini dengan trumpet membuktikan filosofi hidupnya yang paling mendasar, musik adalah eksplorasi tanpa akhir tanpa peduli batasan genre. Di paruh kedua pertunjukan, ketika ia akhirnya meraih bassnya, getaran frekuensi rendah yang ia hasilkan tidak lagi terdengar seperti musik rock, bass tersebut kini mengunci ritme poliritmik yang kompleks, berkomunikasi secara intens dengan ketukan drum yang tak tertebak.
Konser di KOKO London ini menegaskan bahwa keintiman sebuah pertunjukan musik tidak melulu lahir dari lagu-lagu hit yang dinyanyikan bersama secara massal. Keintiman sejati lahir ketika seorang ikon global berani menanggalkan zona nyamannya, berdiri rapuh di bawah sorotan lampu dan membiarkan naluri musikalitasnya menuntun penonton ke wilayah-wilayah sonik yang belum pernah dipetakan sebelumnya. Malam itu, KOKO tidak hanya menyaksikan seorang bintang rock bermain jazz, mereka menyaksikan sebuah reuni emosional antara seorang manusia dan instrumen cinta pertamanya.



























