Hard N' Heavy

John Paul Ivan: Antara Realitas Boomerang Reload, Ego Masa Lalu dan Idealisme PHP

MUSIKPLUS – Dunia musik rock Indonesia tidak akan pernah lepas dari nama besar John Paul Ivan (JPI), gitaris legendaris sekaligus salah satu pendiri band Boomerang. Dalam sebuah obrolan mendalam di program The Rock Campus, Ivan secara blak-blakan membuka lembaran masa lalu yang selama ini menjadi misteri bagi para penggemar, sekaligus memperkenalkan proyek solo terbarunya yang penuh dengan pesan idealisme.

Kegagalan Reuni Boomerang dan Misteri Ego Masa Lalu

Ivan mengungkapkan bahwa ide awal dari materi-materi musik terbarunya sebenarnya dikonsepkan untuk album baru Boomerang. Rencana besar ini sempat digagas sebagai penanda momentum tiga dekade berdirinya band rock asal Surabaya tersebut pada tahun 2024, lengkap dengan keterlibatan Irang Arkad pada vokal. Namun, kenyataan di lapangan berkata lain. Masalah internal yang kompleks dan tidak adanya kesamaan visi antar-personel membuat proyek tersebut kandas di tengah jalan.

Ivan menceritakan adanya ganjalan emosional dari salah satu personel terkait masalah masa lalu yang dianggap belum selesai. Meskipun bagi Ivan pribadi hal tersebut seharusnya tidak lagi menjadi persoalan di usia mereka yang sudah matang, keengganan untuk berkompromi membuat rencana menelurkan karya baru bersama Boomerang terpaksa dihentikan. Baginya, reuni bukanlah sebuah ambisi pribadi yang harus dipaksakan jika tidak ada keikhlasan di dalamnya.

Kilas Balik 2005 dan Alasan Nyata di Balik Keputusan Keluar

Untuk pertama kalinya, Ivan menceritakan suasana ruang ganti Boomerang menjelang keputusannya keluar pada tahun 2005. Ketidaknyamanan mulai ia rasakan sejak proses penggarapan album Urban Musriik (2004) di bawah label Sony Music. Ivan yang dikenal memiliki visi kuat ke depan sering kali dicap sebagai sosok yang “tukang ngatur” karena keinginannya untuk terus menaikkan level profesionalisme band. Sayangnya, perbedaan prinsip dari empat kepala dalam satu band memicu benturan ego yang hebat.

Baca Juga :  JPI Siap Garap Album Baru Solo, Nasib Boomerang Reload Bagaimana?

Secara spesifik, Ivan menyebut performa sang drummer saat itu, Farid Martin, yang dinilai mengalami penurunan drastis akibat gaya hidup dan pengaruh lingkungan yang kurang sehat di era tersebut. Sebagai sosok yang tidak merokok dan tidak minum, Ivan merasa perannya bergeser menjadi seorang babysitter bagi personel lainnya. Karena enggan bertindak diktator dengan memecat temannya sendiri, Ivan memilih mengalah dan mengundurkan diri setelah konser perpisahan mereka di Timor Leste pada tahun 2005.

Lahirnya Boomerang Reload dan Amanah Terakhir Henry

Kematian bassis Hubert Henry Limahelu pada tahun 2021 meninggalkan duka sekaligus penyesalan mendalam bagi Ivan. Sebelum wafat, Henry sempat menitipkan pesan melalui komunitas Boomers (fans Boomerang) bahwa dirinya sangat ingin menyatukan kembali para personel lama untuk bermain musik bersama lagi.

Amanah itulah yang menggerakkan Ivan ketika promotor Raavel menawarkan Boomerang untuk menjadi headline di festival Hammersonic 2023. Ivan mencoba menghubungi Roy Jeconiah dan Farid Martin. Meski awalnya Roy sempat menyambut baik, di akhir proses Roy mendadak menolak untuk terlibat dalam reuni tanpa alasan yang jelas.

Demi menyelamatkan kontrak dan menjaga napas legalitas karya mereka, Ivan memutar otak dengan merekrut mantan vokalis Boomerang, Andi Babas, untuk mengisi posisi bassis, serta menggandeng vokalis kolaborator seperti Irang Arkad (ex BIP) dan Robi Matulandi (ex Edane). Proyek ini kemudian diberi nama Boomerang Reload sebagai penanda bahwa ini adalah wadah bagi para mantan personel yang ingin terus menghidupkan karya-karya legendaris mereka.

Proyek Solo “PHP” dan Perlawanan terhadap Era AI

Gagal membawa materi baru ke dalam Boomerang, Ivan memilih banting setir dan merilis album solo keduanya yang bertajuk “Passion, Hope, Perception” (PHP) pada Oktober 2025. Judul “PHP” sendiri merupakan sebuah candaan sarkastik sekaligus refleksi dari banyaknya janji-janji palsu (pemberi harapan palsu) yang ia terima dari berbagai promotor sepanjang tahun-tahun terakhir.

Baca Juga :  Amy Lee, Evanescence dan Misi Membangun 'Sanctuary' di Tengah Kekacauan Dunia

Album ini digarap secara mandiri 100% oleh Ivan, mulai dari penulisan lirik, komposisi aransemen, pemograman drum, hingga proses mixing dan mastering. Ivan menggandeng empat vokalis dengan karakter berbeda untuk mengisi 10 lagu di dalam album ini, yaitu Irang Arkad, Semi Elskan, Indra Irot, dan istrinya sendiri, Windy.

Menariknya, salah satu lagu di album ini yang berjudul “New Era” secara khusus menyoroti fenomena Artificial Intelligence (AI) di industri musik. Ivan menegaskan bahwa dirinya adalah sosok yang sangat menjunjung tinggi otentisitas manusia dalam. Baginya, AI boleh saja membantu mempermudah proses teknis, namun esensi, roh dan kejujuran sebuah karya seni sejati hanya bisa lahir dari pengalaman hidup, darah dan keringat seorang manusia.

Melalui album Passion, Hope, Perception, John Paul Ivan membuktikan bahwa meski Boomerang masa lalu telah menjadi kenangan, gairah musiknya tidak akan pernah padam oleh usia ataupun perkembangan zaman.

Artikel Terkait

1 of 7