Tekno

MBG (Mas Bahlil Ganteng), Karya Seni Digital Atau Olok-Olokan Kemuakan Publik Pada Pemerintah?

MUSIKPLUS – Dunia maya Indonesia kembali diguncang oleh fenomena budaya pop yang unik dan tak terduga. Sebuah audio parodi bertajuk “MBG (Mas Bahlil Ganteng)” mendadak viral di berbagai platform media sosial seperti TikTok dan Instagram Reels. Uniknya, lagu yang awalnya merupakan kompilasi komentar jenaka netizen ini justru merebak sangat masif di kalangan anak-anak. Banyak dari mereka yang menyanyikannya dengan fasih dan polos tanpa benar-benar memahami dan tahu konteks politik atau sosok pejabat publik yang dibahas di dalamnya.

Asal-Usul MBG (Mas Bahlil Ganteng)

Lagu ini pertama kali diunggah oleh akun TikTok @vokaliz_netizen, sebuah akun yang dikenal rajin mengolah komentar-komentar absurd netizen menjadi sebuah lagu utuh menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI).

Judul “MBG” sendiri secara menggelitik memplesetkan singkatan program pemerintah “Makan Bergizi Gratis” menjadi “Mas Bahlil Ganteng”, yang merujuk pada sosok Ketua Umum Partai Golkar sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia.

Lagu ini menjadi viral secara eksponensial setelah kreator konten seperti Sania Leonardo mengunggah video reaksi yang mempertanyakan pencipta di balik lagu dengan lirik super absurd tersebut.

Lirik MBG

MBG…Mas Bahlil Ganteng…Buah apa yang paling manis? BUAAAHLILLLL…Tambah ganteng aja My little bolu ketan.

Ups kanda suka, dinda punya gaya Sialan dia makin lucu guys Kalau diperhatiin lama-lama Makin mirip Zayn Malik ihh My Bahlil ganteng.

Makin glowing saja nih My koko Bahlil kecintaanku My little cilok pentol Kecap dinda…Maafkan dinda, dulu salah paham sama kanda.

Apa itu harta, takhta, Baskara? Aku tim harta, takhta, kakanda sayang Benci dan cinta itu beda tipis Semenjak kakanda bilang matikan kompor Kalau masakan sudah matang Dinda memilih untuk tidak memasak Kandaku…Mas Bahlil Ganteng…

Mengingat lagu ini merupakan produk kreasi konten vertikal berbasis AI yang menyebar lewat ribuan video parodi buatan netizen di YouTube maupun TikTok, Anda dapat menyimak kompilasi dan lagu utuhnya melalui pencarian kata kunci resmi di YouTube.

Baca Juga :  PT Pos Gandeng TikTok, Kolaborasikan Potensi Ekonomi Digital RI

Viral di Kalangan Anak-Anak

Ada sebuah ironi budaya yang menarik ketika lagu bertema tokoh politik justru menjadi “lagu kebangsaan” baru bagi anak-anak. Laporan media massa bahkan menangkap momen-momen menggelitik di mana anak-anak mengira kata “Buahlil” dalam lirik tersebut adalah varietas buah baru yang manis, mirip stroberi atau mangga.

Secara psikologis dan linguistik, ada tiga alasan mengapa lagu AI ini sangat memikat ingatan anak-anak:

Efek Earworm yang Kuat

Musik yang digenerasikan oleh AI dalam lagu ini menggunakan struktur nada pop yang repetitif, ceria dan mudah diingat. Karakteristik ini sangat ramah di telinga anak-anak yang menyerap stimulasi auditori secara cepat.

Asosiasi Kata yang Absurd dan Menggemaskan

Penggunaan istilah kuliner populer seperti “bolu ketan” dan “cilok pentol” terasa sangat akrab bagi dunia anak-anak. Mereka tidak melihat Bahlil sebagai menteri atau pejabat publik di negara ini, melainkan sebagai bagian dari irama dan lirik kata yang jenaka.

Algoritma Media Sosial

Ketika orang dewasa menggunakan sound ini untuk konten komedi, anak-anak yang mengonsumsi gawai secara pasif ikut terpapar secara berulang hingga menghafalnya di luar kepala.

Karya Seni Digital atau Olok-Olokan Pejabat Publik?

Membedakan antara kritik, satir, karya seni dan perundungan (bullying) di era digital hari ini memang memiliki batas yang sangat tipis. Untuk membedah posisi lagu “MBG”, kita harus melihatnya dari dua sudut pandang utama.

Sebagai Manifestasi Karya Seni Digital Baru (AI-Generated Art)

Jika dilihat dari proses produksinya, lagu “MBG” adalah produk kebudayaan kontemporer yang valid sebagai sebuah karya seni digital berbentuk satir postmodern.

Demokratisasi Seni lewat AI

Akun pembuatnya berhasil mengompilasi “suara kolektif” netizen, yang biasanya berserakan di kolom komentar menjadi sebuah gubahan audio yang memiliki nilai hiburan tinggi. Ini adalah bentuk folklor modern (cerita rakyat digital) dimana audiens bukan lagi konsumen pasif, melainkan kontributor lirik.

Baca Juga :  Ngonten Make Lagu Sal Priadi Dengan Lagu Dari Planet Lain, Lagi In Banget

Estetika Camp Atau Absurditas

Seni tidak harus selalu indah dan serius. Dalam teori estetika, ada yang disebut Camp, gaya seni yang sengaja menonjolkan sesuatu yang berlebihan, norak dan jenaka untuk mendobrak kekakuan. Membandingkan seorang pejabat negara dengan Zayn Malik atau menyebutnya my little bolu ketan adalah puncak absurditas yang estetik dan menghibur.

Bentuk Olok-Olokan dan Desakralisasi Pejabat Publik

Di sisi lain, lagu ini tidak bisa dilepaskan dari konteks politik Indonesia. Bahlil Lahadalia adalah figur publik yang kerap memicu blunder dan polarisasi opini lewat pernyataan-pernyataan politiknya atau gestur kepemimpinannya.

Desakralisasi Kekuasaan

Lagu ini berfungsi sebagai alat desakralisasi. Tokoh politik yang biasanya dicitrakan kaku, berwibawa dan berjarak di dalam baliho atau televisi, “ditelanjangi” otoritasnya melalui humor. Netizen memosisikan sang pejabat bukan sebagai sosok yang ditakuti, melainkan sebagai objek komedi romantis parodi (shiptok).

Satir Kebijakan

Plesetan MBG (Makan Bergizi Gratis menjadi Mas Bahlil Ganteng) juga merupakan bentuk sindiran halus (satir) terhadap program-program politik yang kerap kali diglorifikasi secara berlebihan di ruang publik dan justru malah dianggap gagal oleh banyak orang.

Garis Batas

Apakah ini bentuk perundungan yang jahat? Tampaknya tidak. Berbeda dengan olok-olokan yang menyerang ranah fisik secara kasar atau fitnah personal, lagu MBG berada di wilayah “gimmick budaya”. Liriknya menggunakan hiperbola pujian yang saking tingginya justru menjadi lucu dan ironi.

Menariknya, respon dari pihak internal pejabat sendiri justru santai. Sekjen DPP Partai Golkar, Sarmuji, bahkan merespons positif fenomena ini dengan menyebutnya sebagai bentuk kreativitas murni netizen yang menghibur dan menganggapnya sebagai bentuk “penghargaan informal” atas kerja keras Bahlil.

Hal ini membuktikan bahwa di era modern, riding the wave atau memanfaatkan tren viral jauh lebih menguntungkan secara politik daripada meresponsnya dengan kemarahan atau jalur hukum.

Baca Juga :  Label Rekaman Gugat Pembuat Lagu AI, Suno dan Udio Atas Pelanggaran Hak Cipta

Seperti halnya lagu “MBG (Mas Bahlil Ganteng)” adalah contoh sempurna bagaimana teknologi AI mampu mengubah dinamika komunikasi politik di Indonesia. Ia adalah karya seni komedi digital sekaligus alat kontrol sosial yang halus.

Bagi orang dewasa, lagu ini adalah parodi politik yang segar untuk menertawakan kekakuan dunia kekuasaan. Sementara bagi anak-anak, lagu ini hanyalah barisan kata ajaib yang menyenangkan untuk didendangkan saat bermain. Fenomena ini membuktikan bahwa di internet, batas antara ruang sidang kementerian dan ruang bermain anak-anak kini hanya dibatasi oleh satu ketukan scroll layar gawai.

Artikel Terkait