Hard N' Heavy

Memilih Jalan Sunyi, Chris Poland Menolak Kembali ke Megadeth dan Menepis Amarah Dave Mustaine

MUSIKPLUS – Dalam narasi sejarah musik thrash metal, nama Megadeth kerap kali diwarnai oleh konflik internal dan pergantian personel yang dramatis. Salah satu babak yang paling sering dibahas adalah perseteruan antara sang kapten band, Dave Mustaine, dengan mantan gitaris pertamanya, Chris Poland. Poland, yang mengisi lini gitar ikonik pada dua album perdana Megadeth, Killing Is My Business…and Business Is Good! (1985) dan Peace Sells… But Who’s Buying? (1986), pernah berada di persimpangan jalan besar ketika ia disodori kesempatan emas, kembali bergabung untuk menggarap album yang kelak menjadi mahakarya legendaris, Rust in Peace (1990).

Namun, Chris Poland memilih untuk berkata “tidak”. Sebuah keputusan yang bagi sebagian besar musisi metal dianggap sebagai langkah yang gila.

Menengok kembali momen krusial tersebut, Poland memberikan pandangan yang sangat tenang dan pragmatis. Ketika Dave Mustaine merilis lagu berjudul Liar pada album So Far, So Good… So What! (1988) yang secara terang-terangan ditulis untuk menyerang dan mencemarkan nama baiknya di depan publik, banyak pihak mengira karier Poland akan hancur lebur.

“Tentu saja hal itu sempat mempersulit karier saya,” aku Chris Poland saat merefleksikan dampak dari kecaman publik Mustaine terhadapnya.

“Tetapi pada saat itu, fokus karier saya adalah bermain musik instrumental jazz-fusion yang eksentrik. Saya hanya memiliki segelintir penggemar setia yang mendengarkan karya-karya saya. Dan menariknya, orang-orang yang menyukai musik saya itu bahkan tidak mendengarkan Megadeth sama sekali. Jadi, bagi saya, serangan itu tidak membawa pengaruh yang begitu besar.” ungkap Poland.

Ketenangan inilah yang mendasari keputusan Poland saat menolak tawaran untuk mengisi posisi gitaris utama di album Rust in Peace, posisi yang pada akhirnya jatuh ke tangan Marty Friedman dan melambungkan nama band ke puncak dunia. Poland merasa bahwa dunianya dan dunia thrash metal Megadeth sudah tidak lagi sejalan. Ia sudah merasa jenuh dengan formula musik metal konvensional pada masa itu dan ingin mengeksplorasi kebebasan bermusik yang ia temukan di ranah fusion.

Baca Juga :  Geddy Lee Buka Suara Alasan Rush Pilih Jalan 'Tidak Kompetitif' Terkait Suksesor Neil Peart

Bagi Poland, mengejar kepuasan batin dalam bermusik jauh lebih berharga daripada panggung stadion dan raungan distorsi yang monoton.

Meskipun hubungan mereka sempat diwarnai oleh tuntutan hukum dan adu argumen di media selama bertahun-tahun, Poland menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak menyimpan dendam pribadi kepada Mustaine. Melalui proses pendewasaan spiritual, yang salah satunya dibantu oleh mendiang mantan dramer Megadeth, Nick Menza, Poland belajar untuk melepaskan seluruh energi negatif tersebut.

“Nick selalu mengingatkan saya: ‘Kawan, kau tidak bisa terus-menerus membawa beban amarah itu ke mana pun kau pergi. Kau harus merelakan dan melepaskan semuanya.’ Saya belajar banyak hal dari Nick,” kenang Poland.

Kini, setelah puluhan tahun berlalu, Chris Poland tengah bersiap untuk merilis buku autobiografinya yang berjudul Now Leaving Metalopolis. Melalui buku tersebut, ia berjanji akan meluruskan berbagai tuduhan miring dan omong kosong yang pernah dilemparkan kepadanya, namun tetap mengemasnya tanpa rasa benci. Poland ingin membagikan sisi lain dari sejarah metal, sebuah cerita tentang bagaimana seorang musisi memilih untuk tetap setia pada integritas seninya sendiri, meskipun harus menolak kenyamanan dari salah satu band terbesar di planet bumi.

Bagi para pencinta gitar elektrik yang ingin mendengarkan bagaimana jadinya jika Chris Poland tidak menolak tawaran tersebut, rekaman Chris Poland – Rust In Peace (DEMO) Solos menyajikan dokumentasi audio langka yang berisi sisa-sisa petikan solo gitar Poland saat sempat merekam demo awal untuk lagu-lagu legendaris seperti Holy Wars dan Take No Prisoners sebelum akhirnya ia memutuskan untuk hengkang selamanya.

Artikel Terkait

1 of 7