MUSIKPLUS – Di balik diskursus megah mengenai proyeksi Indonesia Emas 2045, terdapat ruang sunyi yang dipenuhi oleh kecemasan, kejenuhan, dan keputusasaan generasi muda. Realitas emosional yang kontras ini dibedah secara tajam oleh musisi Baskara Putra yang dikenal melalui proyek Hindia dan .Feast, dalam sebuah dialog mendalam bersama Gita Wirjawan di kanal YouTube Endgame. Wawancara bertajuk “Dunia Distopia Baskara Putra” ini bukan sekadar perbincangan biasa, melainkan sebuah otopsi sosial terhadap kondisi psikologis dan struktural masyarakat kontemporer Indonesia yang kian hari kian mengkhawatirkan.
Baskara Putra mengawali kisahnya dengan menepis anggapan bahwa dirinya lahir dari ekosistem seni yang kental. Ia tumbuh dalam lingkungan kelas menengah konvensional Jakarta yang sangat akrab dengan dunia korporat, dengan ayah yang mengabdi puluhan tahun di BUMN serta kakak-kakak yang berkarier di sektor perbankan. Keputusan Baskara untuk melompat penuh ke belantika musik independen dan mendirikan label rekaman sendiri merupakan sebuah tindakan nekat (leap of faith) yang sempat mendobrak tradisi keluarganya.
Momentum besar terjadi pada tahun 2018 ketika lagu “Peradaban” yang dirilis oleh .Feast meledak di pasaran. Untuk pertama kalinya, orang tuanya menyaksikan puluhan ribu orang menyanyikan manifesto kemarahan sosial tersebut di sebuah festival nasional. Sejak saat itu, Baskara menyadari bahwa musik yang ia gubah bukan sekadar sarana hiburan, melainkan sebuah wadah penampung spektrum emosi yang sangat spesifik dari generasinya, perasaan-perasaan yang kerap diabaikan atau gagal ditangkap oleh industri musik pop arus utama.
Penyakit Struktural Kesehatan Mental
Salah satu topik paling krusial yang diangkat adalah maraknya narasi kesehatan mental (mental health) di ruang publik saat ini. Baskara bersikap mawas diri dengan tidak menampik adanya bias komodifikasi dalam industri kreatif. Di era digital, kesedihan, tangisan dan kecemasan sering kali dikemas menjadi komoditas jualan yang laris manis demi mendongkrak angka pasar.
Namun, ia menolak jika fenomena ini hanya dilihat secara superfisial sebagai tren generasi yang cengeng. Bagi Baskara, melonjaknya isu depresi klinis adalah gejala (symptom) nyata dari penyakit struktural yang jauh lebih masif. Generasi hari ini hidup di bawah paparan stressor (pemicu stres) konstan tanpa jeda. Setiap kali membuka gawai atau media sosial, mereka dihantam oleh banjir informasi buruk: krisis iklim global, inflasi ekonomi, karut-marut politik domestik, hingga ancaman dislokasi lapangan kerja akibat kecerdasan buatan (AI).
Tekanan berlapis ini menciptakan kondisi psikologis di mana masa depan terasa semakin redup dan kabur. Fokus generasi muda terpaksa menyempit drastis dari yang semula merancang visi jangka panjang menjadi sekadar mekanisme bertahan hidup dari hari ke hari, memikirkan kecemasan finansial yang sangat pragmatis di kota besar seperti Jakarta.
Kemunduran Imunitas Kognitif di Era Post-Truth
Menanggapi kegelisahan Baskara, Gita Wirjawan memberikan perspektif makro dengan menyoroti runtuhnya “imunitas kognitif” di era modern. Media sosial, dengan algoritma rancangannya, telah menjebak masyarakat ke dalam bilik gema (echo chamber) yang memisahkan realitas. Ruang publik digital kini kental dengan sensasionalisasi, festivalisasi, dan fenomena pasca-kebenaran (post-truth), di mana emosi dan fiksi jauh lebih dihargai daripada fakta objektif.
Gita secara kritis mempertanyakan definisi literasi di Indonesia yang kerap kali disalahartikan. Literasi seutuhnya bukan sekadar kemampuan mekanis untuk membaca teks, melainkan kapasitas mendalam untuk menafsirkan informasi, menyaring kebenaran, dan memitigasi risiko. Lemahnya literasi substansial ini membuat kelompok masyarakat, bahkan kelompok elit berpendidikan sangat rentan terhadap hoaks dan manipulasi digital. Baskara pun mengamini hal tersebut, menyatakan bahwa ruang diskusi di internet kini telah menjadi biner (hanya angka satu dan nol) tanpa menyisakan ruang bagi kompleksitas dan dialektika yang sehat.
Keputusasaan Politik dan Siklus Kekuasaan
Kejenuhan emosional ini pada akhirnya merembet ke ranah optimisme politik. Baskara membagikan cerita personal mengenai fase burnout yang sempat melanda dirinya dan rekan-rekan bandnya. Setelah bertahun-tahun vokal menyuarakan kritik sosial-politik lewat musik, mereka sampai pada titik kulminasi di mana mereka merasa lelah dan menyadari bahwa “tidak ada yang benar-benar berubah” secara substansial di negeri ini.
Ada rasa keputusasaan mendalam ketika mengamati siklus kekuasaan di Indonesia. Baskara menyoroti bagaimana figur-figur pemuda atau ketua lembaga mahasiswa yang dulu sangat dielu-elukan karena idealisme kritismya di kampus, perlahan-lahan justru berasimilasi dan bertransformasi menjadi persis seperti sosok penguasa yang dulu mereka benci begitu mereka berhasil masuk ke dalam sistem birokrasi. Hilangnya keteladanan ini merampas sisa-sisa harapan generasi muda terhadap masa depan tata kelola negara.
Penegakan Hukum dan Seni Bercerita sebagai Harapan
Di balik tabir distopia yang pekat, dialog ini tidak berakhir tanpa arah. Gita Wirjawan menekankan bahwa kunci untuk mengurai benang kusut ketidakseimbangan antara negara (state) dan masyarakat (society) terletak pada ketegasan penegakan hukum. Kepastian hukum adalah fondasi mutlak yang melahirkan kepercayaan publik, stabilitas ekonomi, dan iklim meritokrasi yang sehat.
Sementara itu, Baskara melihat secercah harapan pada kekuatan narasi (storytelling) dalam kesenian. Bagi Baskara, seniman dan atlet adalah diplomat terbaik sebuah bangsa karena mereka mampu berkomunikasi menggunakan bahasa universal yang langsung menyentuh emosi manusia melintasi sekat ideologi politik. Musik memiliki kekuatan magis untuk menceritakan kisah hidup puluhan tahun hanya dalam durasi beberapa menit secara utuh dan menggerakkan hati pendengarnya.
Sebagai penutup, perbincangan ini menggarisbawahi esensi dari nasionalisme modern. Gita menegaskan bahwa patriotisme sejati justru termanifestasi melalui ketajaman berpikir kritis (critical thinking). Menjadi kritis terhadap negara adalah bukti nyata bahwa seseorang peduli dan menginginkan perbaikan. Walaupun grafik optimisme pribadinya sering kali fluktuatif, Baskara mengajak generasinya untuk tidak mematikan daya kritis tersebut demi bisa menembus dan bertahan di tengah kabut dunia distopia yang tengah mereka hadapi.




























