MUSIKPLUS – Surabaya pada awal dekade 1990-an adalah sebuah kuali besar yang mendidih oleh distorsi gitar dan ambisi anak-anak muda yang memuja musik rock. kisah perjalanan band rock legendaris Boomerang berdasarkan memorabilia dan kesaksian langsung dari sang tirani musik rock tanah air, yang tengah berada di tengah gelombang tersebut, berdiri kokoh seorang Log Zhelebour, impresario rock legendaris yang bertangan dingin sekaligus diktator industri yang idealis, Boomerang resmi berdiri pada 8 Mei 1994 dengan nama Lost Angels, tetapi sudah mulai berkiprah di dunia musik cadas tanah air sejak tahun 1991.
Bagi Log, musik rock bukan sekadar hobi pengisi waktu luang, melainkan sebuah medan pertempuran profesional tempat hanya mereka yang bermental baja yang berhak bertahan. Dari sekian banyak nama yang pernah mengetuk pintu kantornya, nama Boomerang yang lahir dari rahim sebuah band bernama Los Angels memiliki catatan tersendiri yang dipenuhi dengan penolakan, kegigihan yang nekat, air mata finansial, hingga puncak kejayaan yang melipat panggung-panggung rock tanah air.
Penolakan Sang Idealis dan Kenekatan di Teras Kantor
Semua kisah ini bermula pada tahun 1993, Log Zhelebour pertama kali berpapasan dengan cikal bakal Boomerang ketika mereka masih mengusung nama Los Angels (nama Lost Angels merupakan permainan kata dari nama kota di Amerika Serikat, Los Angeles dan berarti “Malaikat Tersesat”). Saat itu, band asal Surabaya ini ikut serta dalam Festival Rock se-Jawa Timur dan berhasil keluar sebagai wakil daerah untuk bertarung di tingkat final nasional yang digelar di Yogyakarta.
Formasi awal band ini dihuni oleh personel-personel yang kelak mengukir sejarah besar, Roy Jeconiah pada vokal, John Paul Ivan pada gitar, Hubert Henry pada bass, dan seorang drummer Petrus Augusti (Pet Agusti). Di panggung Yogyakarta, Los Angels berhasil menembus jajaran finalis. Sebagai produser yang memayungi festival tersebut, Log memberikan kesempatan standar berupa perekaman sebuah lagu tunggal (single) untuk dimasukkan ke dalam album kompilasi festival.
Sejak pandangan pertama di atas panggung festival, Log mengakui bahwa performa anak-anak Los Angeles memang memikat.
“Saya sudah melihat penampilan mereka di atas panggung, memang rocker,” kenangnya.
Namun, dunia bisnis musik memiliki hukumnya sendiri yang kaku. Setelah sesi rekaman single selesai, Los Angels sempat menghilang dari radar Log. Beberapa waktu kemudian, para personel band tersebut tiba-tiba mendatangi kediaman Log untuk menawarkan sebuah master atau demo album penuh. Saat itu, yang maju bertindak sebagai perwakilan untuk menawarkan rekaman tersebut adalah sang drummer, Pet Agusti.

Secara mengejutkan, Log Zhelebour menolak mentah-mentah demo tersebut. Pada masa itu, Log mengakui cara berpikirnya sangat idealis dan terikat kuat oleh konsep bisnis festival yang ia bangun sendiri. Baginya, hanya band yang berhasil menyabet gelar juara utama yang layak untuk masuk dapur rekaman album penuh di bawah benderanya. Los Angels, bagaimanapun bagusnya penampilan mereka, hanyalah seorang finalis, bukan juara satu. Log merasa jika ia melanggar aturannya sendiri dengan merekam band non-juara, maka semua finalis lain akan menuntut hal yang sama, sebuah situasi yang ia gambarkan akan membuat dirinya “mabuk” mengelola bisnis produksi.
Namun, anak-anak Los Angels rupanya memiliki urat malu yang sudah putus demi cita-cita bermusik mereka. Mereka menolak untuk menyerah pada penolakan sang produser tiran. Didorong oleh keinginan yang menggebu-gebu agar demo musik mereka didengarkan secara saksama oleh Log, mereka melakukan tindakan yang tergolong nekat sekaligus mengganggu. Mereka membawa perangkat pemutar musik (tape kombo) sendiri ke teras kantor Log Zhelebour di Surabaya. Di sana, mereka memutar demo album mereka dengan volume yang sangat kencang, sengaja mendentumkan distorsi musik mereka agar menembus dinding ruangan kerja Log.
“Mereka memotongnya sampai bawa tape kombo sendiri di teras kantor saya, rumah juga, mereka setel kencang-kencang demonya supaya saya dengerin aja, karena suaranya keras dan karena saya melihat perjuangan gigih mereka itu, akhirnya saya terima ngobrol,” kisah Log tersenyum mengenang masa lalu.
Kenekatan di teras kantor itulah yang akhirnya meruntuhkan keangkuhan sang produser. Log meluangkan waktu untuk duduk bersama, berdiskusi, dan mencecar mereka dengan pertanyaan krusial mengenai visi masa depan mereka, apakah mereka benar-benar ingin menjadikan musik sebagai profesi serius yang menghidupi, ataukah sekadar hobi komersial sesaat? Ketika anak-anak muda itu menyatakan komitmen total untuk hidup dari musik, Log akhirnya bersedia membuka pintu uji coba, namun dengan dua syarat mutlak yang tidak bisa ditawar-tawar.
Pembaptisan Nama Baru dan Retaknya Formasi Awal
Syarat pertama yang diajukan oleh Log Zhelebour adalah perombakan total pada materi lagu agar sesuai dengan selera industri tanpa kehilangan taji rock mereka. Syarat kedua, yang jauh lebih radikal, adalah perubahan nama band. Log secara tegas menolak nama Los Angels. Sebagai seorang pebisnis ulung yang visioner, ia tidak ingin di kemudian hari muncul sengketa hukum mengenai kepemilikan nama band, baik di antara sesama personel maupun klaim dari pihak luar yang merasa berjasa membesarkan nama Los Angels sebelum masuk ke industri arus utama. Nama band harus bersih secara hukum dan komersial sejak hari pertama.
Melihat ada sebuah judul lagu di dalam demo materi mereka yang berjudul “Boomerang”, Log langsung memilih kata tersebut sebagai nama baru mereka. Menurut pandangan estetikanya, Boomerang adalah nama yang sangat bagus, filosofis, sekaligus kuat untuk sebuah grup rock modern. Setelah para personel sepakat, kesepakatan bisnis pun ditandatangani. Log membeli master album perdana tersebut dengan nilai kontrak yang ia ingat berada di kisaran angka lima juta rupiah, sebuah nominal yang cukup berarti pada tahun 1994.
Namun, badai pertama justru datang dari dalam tubuh band itu sendiri sebelum album perdana mereka sempat menyentuh pasar. Tak lama setelah uang kontrak dibayarkan, tiga personel Boomerang, Roy Jeconiah, John Paul Ivan, dan Hubert Henry kembali mendatangi kantor Log. Formasi berempat itu telah runtuh, sang drummer, Pet Agusti, telah dikeluarkan oleh rekan-rekannya. Log sendiri tidak mengetahui secara pasti pangkal persoalan internal tersebut, apakah terkait masalah prinsipil antar personel atau pembagian uang kontrak master yang baru saja mereka terima dari Log. Yang jelas, Boomerang kini pincang, kehilangan penggebuk drum di saat album pertama mereka siap diluncurkan.
Kondisi pincang ini membuat Log memutar otak saat mempersiapkan pembuatan video klip untuk lagu andalan mereka yang berjudul “Kasih”. Log memutuskan untuk membawa sisa personel yang hanya bertiga itu ke Gunung Bromo untuk syuting video klip. Absennya drummer, posisi definitif disiasati dengan Roy berakting memukul drum di dalam video klip tersebut. Akibat kemelut internal ini, album perdana bersampul nama Boomerang (1994) dirilis tanpa target komersial yang muluk-muluk dari pihak manajemen.
“Saya sendiri waktu merilis Boomerang album pertama itu, saya sudah merasakan bahwa band ini output-nya akan lama, memakan waktu. Dalam hitungan saya, paling tidak butuh waktu empat sampai lima tahun baru band ini bisa jadi barang,” analisa Log Zhelebour saat itu.
Bagi Log, album pertama tersebut hanyalah sebuah penanda eksistensi akibat dirinya yang terlanjur basah mengontrak mereka. Ia menyadari sepenuhnya bahwa di dalam album perdana tersebut tidak ada materi yang benar-benar spesial untuk langsung menggebrak pasar. Ditambah dengan hilangnya drummer asli, album tersebut berjalan tertatih-tatih di pasar kaset dengan angka penjualan yang sangat standar di kisaran 25.000 keping.

Strategi K.O. Untuk Menginvasi Jakarta
Log Zhelebour bukanlah tipe produser yang suka meratapi kegagalan awal. Begitu album pertama dilepas ke pasar, ia langsung memerintahkan Roy, Ivan, dan Henry untuk kembali ke studio guna menggarap album kedua. Kali ini, Boomerang berhasil menemukan kepingan puzzle mereka yang hilang dengan merekrut Farid Martin Badjeber sebagai drummer tetap yang baru menggantikan Pet Agusti. Kehadiran Farid membawa energi baru yang luar biasa pada dinamika musikalitas band.
Di album kedua yang diberi judul Kontaminasi Otak (K.O.) (1995), Log mulai turun tangan secara agresif dalam mengarahkan arsitektur musik Boomerang. Ia memberikan banyak masukan, menitipkan visi agar mereka membuat lagu-lagu rock dengan struktur yang memiliki daya pikat kuat (catchy), aransemen yang kaya akan petikan melodi gitar (ballad), serta karakter vokal Roy yang harus dieksplorasi secara maksimal agar mampu menjangkau berbagai dinamika lagu. Anak-anak Boomerang menyambut tantangan tersebut dengan menunjukkan bakat besar mereka sebagai musisi yang tanggap industri. Hasilnya, materi lagu di album kedua melompat jauh secara kualitas dibandingkan album debut mereka.
Di album K.O. inilah lahir lagu-lagu legendaris yang kelak menjadi lagu wajib para pencinta musik rock Indonesia, seperti “Bawalah Aku” dan “Kisah”. Log yang menyadari potensi besar album ini, segera menyusun strategi promosi yang belum pernah dilakukan oleh band-band asal Surabaya sebelumnya. Jika di Jawa Timur dan Surabaya nama Boomerang sudah cukup berakar karena basis massa lokal mereka, maka tantangan terbesar adalah bagaimana menaklukkan ibu kota Jakarta yang menjadi barometer utama industri musik nasional.
Log membawa Boomerang menginvasi Jakarta melalui rangkaian tur kafe yang sangat intensif. Selama masa promosi album K.O. Boomerang diajak keliling Jakarta untuk tampil di kurang lebih 15 kafe, klab malam, dan pusat hiburan malam yang paling bergengsi di ibu kota. Strategi promosi gerilya dari panggung ke kafe ini terbukti sangat efektif mengenalkan karakter permainan Boomerang yang enerjik langsung di depan hidung para penikmat musik Jakarta.
Sambutan khalayak ibu kota ternyata sangat hangat. Popularitas mereka merangkak naik, yang kemudian membuka pintu bagi Boomerang untuk tampil di televisi nasional seperti Indosiar, hingga puncaknya dipercaya menjadi band pembuka untuk konser grup rock raksasa Gong 2000 di Ancol pada tahun 1995.

Tragedi Palembang dan Kerugian Finansial yang Menumpuk
Meskipun popularitas Boomerang di atas panggung menunjukkan grafik yang terus meroket, realitas di atas kertas keuangan menunjukkan hal yang sebaliknya. Log Zhelebour mengenang fase ini sebagai periode yang penuh dengan ujian finansial yang berat. Pada masa-masa awal itu, Boomerang masih bersikeras mengelola manajemen internal mereka sendiri. Mereka menyewa kantor sendiri dan mencoba mengurus basis penggemar (fans club) secara mandiri. Akibatnya, mereka keteteran dalam mengelola keuangan operasional band, biaya sewa kantor sering kali menunggak dan pengelolaan logistik band berantakan.
Log, yang saat itu murni hanya bertindak sebagai produser rekaman membuatkan video klip dan mempromosikan album, melihat bahwa jika pola manajemen ini diteruskan, Boomerang tidak akan pernah menjadi band yang kokoh secara finansial. Setelah merilis album ketiga mereka, Disharmoni pada tahun 1996, Log melakukan kalkulasi total. Album ketiga ini lahir dengan konsep rock murni yang sangat keras atas keinginan idealisme para personelnya sendiri. Akibat materi yang sangat tersegmentasi dan minimnya lagu slow rock yang ramah di telinga publik (hanya mengandalkan lagu “Generasiku”), penjualan album Disharmoni kembali tidak mampu menutup biaya produksi iklan yang jor-joran.
Log mengumpulkan anak-anak Boomerang di kantor barunya di kawasan Darmo Satelit, Surabaya. Dengan transparan, ia menyodorkan angka-angka kerugian yang selama ini ia tanggung.
“Tiga album itu saya sudah rugi terus. Menurut catatan saya waktu itu, saya sudah rugi 300 juta rupiah lebih lah pada zaman itu. Itu cukup besar,” kenang Log.
Angka 300 juta di pertengahan tahun 1990-an adalah sebuah nilai yang fantastis, yang bisa membuat produser mana pun gulung tikar atau menghentikan kontrak artisnya.
Log memberikan pilihan tegas, apakah kerja sama mereka harus dihentikan, ataukah berlanjut dengan syarat manajemen total band harus diserahkan ke tangan Log Zhelebour. Anak-anak Boomerang yang sadar akan keterbatasan mereka dalam mengelola bisnis industri, akhirnya memilih bertahan dan menandatangani kontrak manajemen baru di bawah Log. Melalui kontrak baru ini, harga jual panggung Boomerang mulai didongkrak naik, sponsor-sponsor besar mulai dilobi, dan penataan karier mereka disusun dalam cetak biru yang rapi. Namun, sebelum roda manajemen baru ini berjalan mulus, Boomerang dihantam oleh sebuah tragedi luar biasa di luar kendali mereka pada tahun 1996 di Palembang.
Saat itu, Boomerang dijadwalkan tampil dalam sebuah konser di Palembang. Sialnya, sekretaris Log yang mengurus administrasi kontrak panggung kurang jeli melakukan pemeriksaan latar belakang (screening) terhadap kredibilitas dan kesiapan teknis panitia penyelenggara lokal di lapangan. Di tengah-tengah pertunjukan, baru saja Boomerang membawakan sekitar dua atau tiga lagu, panggung pertunjukan yang konstruksinya rapuh tiba-tiba ambruk secara total karena tidak kuat menahan beban dan guncangan. Konser pun seketika dibubarkan demi keselamatan.
Kemarahan penonton yang kecewa berusaha diredam oleh kepanitiaan dengan menjanjikan bahwa Boomerang akan tampil kembali keesokan harinya secara gratis sebagai kompensasi. Namun, janji tersebut rupanya hanya isapan jempol belaka dari pihak panitia yang panik. Keesokan harinya, pertunjukan ulang tidak pernah terwujud karena izin tidak keluar dan panitia menghilang. Ribuan penonton yang telanjur mendatangi lokasi konser mengamuk. Kerusuhan massal pecah di kota Palembang, toko-toko kaset dan tempat penjualan tiket dijarah, koleksi kaset dihancurkan, dan amuk massa melumpuhkan kota. Akibat peristiwa kelam tersebut, pihak militer dan kepolisian setempat menjatuhkan sanksi berat, nama Boomerang masuk ke dalam daftar hitam (blacklist) dan dilarang keras untuk tampil di seluruh wilayah Palembang.
Dampak dari tragedi Palembang ini sangat memukul telak Boomerang dan manajemen Log Zhelebour. Beberapa tahun kemudian, ketika Log menggelar tur raksasa bertajuk “Duel Jamrud dan Boomerang” yang menjelajahi pulau Sumatera, bayang-bayang hitam Palembang masih mengejar mereka. Log mengenang bagaimana dirinya harus tertahan di hotel, ketar-ketir karena izin keamanan dari pihak kepolisian dan militer wilayah Sumatera Selatan sempat ditahan akibat status blacklist Boomerang yang dianggap berpotensi memicu kerusuhan serupa, meskipun panggung roboh pada tahun 1996 murni merupakan kesalahan teknis kelalaian panitia, bukan kesalahan para personel Boomerang.

Keberanian di Tengah Puing Reformasi 1998 dan Ledakan ‘Segitiga’
Memasuki tahun 1997 dan awal 1998, iklim industri musik Indonesia mulai bergeser seiring dengan meledaknya band-band rock alternatif seperti Jamrud, yang kebetulan juga berada di bawah asuhan Log Zhelebour melalui album Nekad dan Putri. Boomerang berada di persimpangan jalan; mereka belum menemukan formula lagu hit baru sementara pasar kaset mulai jenuh dengan formula rock konvensional. Log kemudian berdiskusi dengan Roy Jeconiah, melihat karakter vokal Roy yang sangat fleksibel dan memiliki jangkauan emosi yang luas untuk menyanyikan lagu-lagu bernuansa balada klasik.
Log mengusulkan sebuah ide yang tidak biasa untuk album keempat Boomerang: merekam ulang lagu-lagu legendaris dari para maestro musik Indonesia terdahulu dengan sentuhan aransemen rock modern khas Boomerang. Proyek ini dinamakan album Segitiga (1998). Anak-anak Boomerang bergerak cepat memburu para pencipta lagu lawas dan mengurus perizinan hak cipta. Lagu-lagu seperti “Kisah Seorang Pramuria” (ciptaan Albert Sumlang), “Berita Cuaca” (ciptaan Gombloh), “Hidupku Sunyi”, “Kereta Laju”, hingga “Pahlawan yang Dilupakan” dikemas ulang dengan distorsi gitar Ivan yang tajam namun ramah di telinga.
Namun, tantangan terbesar album Segitiga bukanlah pada proses kreatif di studio, melainkan situasi politik tanah air yang membara. Album ini selesai diproduksi dan siap dirilis tepat ketika Indonesia dihantam badai krisis moneter yang berujung pada kerusuhan massal Reformasi Mei 1998. Ibu kota Jakarta dan berbagai kota besar membara, toko-toko kaset dijarah dan dibakar, banyak produser dan perusahaan rekaman di Jakarta panik, menarik semua anggaran promosi mereka dari stasiun televisi, dan memilih menyelamatkan diri atau menunda rilis album hingga situasi kondusif.
Di tengah kepanikan massal industri tersebut, Log Zhelebour menunjukkan mentalitasnya sebagai petaruh ulung yang tidak mengenal rasa takut. Ketika produser lain tiarap, Log justru memutuskan untuk tetap merilis dan mendistribusikan album Segitiga milik Boomerang ke pasar yang sedang porak-poranda.
“Saya saat itu tidak peduli ada lari kemana orang-orang itu, saya heran gitu kan, banyak orang yang mau kabur, mau ini… Kita orang Indonesia kenapa mesti takut? Kan tetap hidup di sini. Jadi akhirnya saya tetap isu (rilis) album dengan kondisi habis kerusuhan,” ujar Log dengan nada bicaranya yang tegas.
Keberanian nekat Log membuahkan hasil yang manis. Di luar dugaan semua orang, di tengah situasi negara yang kelam, album Segitiga justru disambut dengan sangat luar biasa oleh masyarakat Indonesia yang membutuhkan hiburan di tengah tekanan krisis. Lagu “Kisah Seorang Pramuria” dan “Berita Cuaca” versi Boomerang meledak di radio-radio nasional. Kaset album tersebut laku keras di pasaran. Log menitipkan distribusi album ini di bawah label Logat Record (Log Alternatif), sebuah sub-label yang ia dirikan khusus untuk proyek-proyek eksperimental.
Satu hal yang menyisakan teka-teki bagi para kolektor musik hingga dekade-dekade berikutnya adalah kelangkaan album Segitiga dalam format cakram padat (CD). Log membeberkan fakta sejarah bahwa pada tahun 1998, pangsa pasar format CD di Indonesia masih sangat kecil dan mahal; penjualan format CD untuk sebuah album rock paling banyak hanya berkisar antara 1.500 hingga 1.600 keping saja, sehingga produksi utama dipusatkan pada format kaset pita. Mengapa di kemudian hari Log tidak merilis ulang album Segitiga dalam format CD?
Jawabannya terletak pada rumitnya masalah royalti lagu daur ulang. Karena semua lagu di album tersebut adalah karya cipta orang lain, Log harus kembali membayar biaya perizinan pemakaian lagu yang sangat mahal kepada masing-masing ahli waris pencipta lagu jika ingin merilisnya dalam format komersial yang baru seperti CD, sebuah kalkulasi bisnis yang membuatnya memilih untuk membiarkan album tersebut menjadi barang langka yang legendaris dalam format kaset pitanya.

Puncak Kejayaan Sang ‘Hit Maker’ dan Rekor Setengah Juta Keping
Melihat momentum Boomerang yang sedang naik daun pasca-album Segitiga, Log Zhelebour mengambil alih kendali penuh strategi rilis kompilasi terbaik mereka. Selama bertahun-tahun, anak-anak Boomerang selalu ingin ikut campur menentukan konsep sampul album, urutan lagu, dan strategi peluncuran, sebuah idealisme yang menurut Log justru sering kali menjadi blunder yang membuat album-album awal mereka gagal secara komersial. Untuk proyek album kompilasi hit berikutnya, Log bersikap otoriter demi menyelamatkan investasinya. Ia menolak semua masukan dari para personel band.
Log menyusun sendiri daftar lagu, merancang konsep visual sampul, dan merilis album kompilasi yang diberi nama Boomerang Hit Maker di bawah label utama miliknya, Logiss Records. Strategi bisnis Log kali ini benar-benar jitu. Album Boomerang Hit Maker meledak di pasaran dengan angka penjualan yang melampaui angka 200.000 keping dalam waktu singkat. Angka ini merupakan lompatan raksasa jika dibandingkan dengan album studio murni mereka seperti Disharmoni yang hanya terjual sekitar 50.000 keping, atau K.O. yang bergerak di angka 70.000 keping berkat sokongan iklan tinju yang mahal.
Kesuksesan ini disusul oleh keputusan Log untuk melakukan proses digitalisasi ulang (remastering) terhadap seluruh materi audio lama Boomerang dengan menggunakan teknologi audio terkini di Triand Studio pada tahun 1997. Langkah inovasi audio ini menghasilkan kualitas kejernihan suara (sound quality) yang luar biasa tajam, yang kemudian diimplementasikan pada peluncuran dua album kembar penanda puncak karier Boomerang, Best Ballad dan Hard ‘n Heavy.
Hasil dari penataan manajemen total, strategi promosi yang agresif, dan peningkatan kualitas audio ini membawa Boomerang ke puncak tertinggi sejarah musik rock Indonesia. Album Best Ballad, yang mengandalkan lagu “Kisah” sebagai track utama, meledak bak bom waktu di pasar industri musik tanah air.
Catatan Sejarah Logiss Records
“Boomerang saya berikan predikat sebagai band kumpulan yang terlaris di Logiss, karena tidak pernah dalam sejarah Logiss bikin album seleksi (kompilasi the best) bisa laku di atas 500.000 keping seperti Best Ballad itu.” kenang Log.
Setengah juta keping kaset terjual di era akhir 90-an dan awal 2000-an untuk sebuah album kompilasi rock adalah sebuah torehan prestasi yang sangat fenomenal. Album pasangannya, Hard ‘n Heavy, juga mencatatkan angka penjualan yang mengagumkan di kisaran 200.000 keping. Boomerang bertransformasi menjadi mesin pencetak uang sekaligus raksasa panggung yang menakutkan.
Log merayakan pencapaian satu dekade kiprahnya di industri musik dengan menggelar konser akbar di GOR Kertajaya, Surabaya, yang menampilkan kolaborasi ekstrem antara Boomerang dan musik dangdut. Penonton yang membludak membuat kapasitas gedung tidak mampu menampung animo massa. Harga tiket di sekitar lokasi acara melonjak naik berkali-kali lipat di tangan calo, namun tiket tetap habis terjual. Melihat antusiasme yang menggila tersebut, Log memindahkan panggung konser ke Stadion Tambaksari, Surabaya, dan pemandangan yang sama kembali terulang, lautan manusia memenuhi stadion. Kejadian legendaris inilah yang membuat mata sponsor-sponsor rokok raksasa nasional terbuka lebar, memicu gelombang kerja sama sponsor bernilai miliaran rupiah untuk mendanai tur-tur konser rock kolosal Boomerang menjelajahi seluruh pelosok nusantara.

Extravagansa dan Retaknya Hubungan di Muara Karang
Tahun 2000 menandai perilisan album Extravagansa, sebuah album studio yang digadang-gadang akan menjadi karya agung (masterpiece) Boomerang berikutnya di tengah gelombang tur konser mereka yang padat. Namun, kesuksesan besar dan limpahan materi finansial rupanya mulai menumbuhkan kembali benih-benih idealisme lama yang bandel di dalam diri para personel Boomerang. Log Zhelebour mengeluhkan sikap anak-anak asuhnya yang ia sebut mulai kembali bersikap “bandel” karena merasa sudah mampu bertindak sebagai produser untuk karya mereka sendiri.
Konfrontasi tajam antara produser dan band akhirnya pecah ketika John Paul Ivan dan personel lainnya mendatangi kantor baru Log Zhelebour yang telah berpindah ke kawasan Muara Karang, Jakarta Utara. Mereka datang dengan membawa konsep album yang sepenuhnya telah mereka persiapkan sendiri, mulai dari aransemen musik hingga rancangan seni sampul album. Judul awal yang mereka usulkan bukan Extravagansa, melainkan sebuah judul provokatif berbasa Inggris, Psychadelic Manimalist. Desain sampul yang mereka bawa mengusung konsep visual gambar kebun binatang yang eksentrik, meniru tren visual album-album rock luar negeri masa itu.
Log meradang melihat konsep tersebut. Sebagai seorang produser yang telah kenyang makan asam garam industri, ia menilai konsep yang dibawa anak-anak Boomerang adalah sebuah langkah mundur yang egois dan berpotensi menghancurkan momentum penjualan yang sedang berada di puncak. Log tidak ingin pencapaian setengah juta keping dari album Best Ballad merosot tajam hanya karena menuruti ego eksperimental band yang tidak ramah pasar. Saat mendengarkan hasil akhir penyelarasan suara (mixing) album tersebut yang dilakukan di Studio Natural Surabaya dengan menyewa perangkat konsol legendaris SSL 4000 yang sangat mahal, Log terkejut mendapati lagu andalan mereka, “Pelangi”, ditaruh di urutan nomor delapan, sementara lagu utama pilihan band ditaruh di urutan pertama.
“Gua bingung, ini ngapain? Ngawur!.” kenang Log ketus.
Tanpa mempedulikan protes para personel, Log menggunakan hak dikatator dan taring produser tunggalnya. Ia mengacak-acak kembali urutan lagu, menaruh lagu “Pelangi” di nomor urut pertama sebagai peluru utama album. Ia membuang konsep sampul kebun binatang buatan band, dan menggantinya dengan foto hasil jepretan kamera pribadinya sendiri saat anak-anak Boomerang sedang melakukan syuting video klip untuk lagu “Tragedi”. Album itu kemudian ia baptis dengan nama yang lebih menjual, Extravagansa.
Untuk memastikan album ini meledak menyamai kesuksesan album grup Jamrud yang saat itu mampu menembus angka penjualan 800.000 keping, Log melakukan strategi promosi yang sangat agresif dan menguras finansial manajemen. Ia membiayai pembuatan delapan video klip sekaligus untuk album Extravagansa, sebuah langkah promosi yang sangat langka dan luar biasa mahal untuk satu album rock. Klip untuk lagu “Bungaku” diambil secara langsung dari rekaman konser kolosal Boomerang bersama Jamrud di Stadion Siliwangi, Bandung. Sementara untuk lagu andalan “Pelangi”, Log menyewa Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta secara penuh demi mendapatkan visual lorong bawah tanah tempat ganti atlet. Log bahkan menyewa mobil Pemadam Kebakaran (PMK) untuk menyemprotkan air di lorong tersebut demi efek visual yang dramatis.
Total biaya promosi yang digelontorkan Log untuk album Extravagansa, termasuk biaya transportasi pulang-pergi Jakarta-Surabaya dan strategi memblokir (blocking time) slot program stasiun televisi nasional selama satu jam penuh khusus untuk penayangan Boomerang, menembus angka hampir 500 juta rupiah. Langkah jor-joran ini sempat membuat para produser rekaman saingan di Jakarta geleng-geleng kepala dan menyebut Log Zhelebour telah gila. Namun, kegilaan promosi Log terbukti kebenarannya secara komersial, lagu “Pelangi” menjelma menjadi lagu kebangsaan rock baru yang abadi dan melambungkan nilai komersial Boomerang ke tingkat tertinggi dalam sejarah eksistensi mereka.

Akhir Sebuah Era dan Misteri Surat Pengunduran Diri
Di balik gemerlap lampu panggung tur konser yang sukses besar dan aliran uang yang melimpah, sebuah keretakan ideologis yang sunyi sedang merayap di dalam tubuh Boomerang. Log Zhelebour menyayangkan munculnya pengaruh-pengaruh dari luar lingkaran manajemen yang mulai membisiki para personel band pasca-kesuksesan besar album Extravagansa. Log merasakan ada keanehan ketika atmosfer hubungan kerja profesional di antara mereka mulai mendingin.
Puncaknya terjadi pada sebuah hari yang tak disangka-sangka di kantor manajemen Log. Seorang staf pemasaran dari perusahaan rokok Djarum datang menghadap Log, bertindak sebagai perantara yang mengantarkan para personel Boomerang untuk menemui sang produser. Hari itu, Boomerang datang bukan untuk menawarkan konsep demo album baru, melainkan untuk mengajukan surat pengunduran diri secara resmi dari manajemen Log Zhelebour. Sebuah keputusan yang membuat Log terkejut sekaligus bingung.
Log merasa heran dan tidak habis pikir dengan alasan di balik mundurnya Boomerang. Dari segi finansial, Log baru saja menggelontorkan uang royalti bersih untuk album Extravagansa sebesar 400 juta rupiah kepada para personel Boomerang, sebuah angka yang sangat fantastis di era tersebut di luar seluruh biaya operasional produksi album yang telah ditanggung penuh oleh Log. Log membandingkan bahwa band rock sekelas Dewa 19 saja saat melakukan rekaman di Sydney, Australia, di bawah label Aquarius Musikindo, menurut cerita yang ia dengar hanya menerima royalti di kisaran 100 juta rupiah. Log merasa telah memperlakukan Boomerang dengan sangat makmur dan adil secara bisnis.
Belakangan, Log akhirnya mengetahui bahwa ada sosok promotor atau pihak ketiga asal Surabaya yang tinggal di Jakarta, yang sering berkumpul bersama para personel Boomerang di kafe-kafe, yang menjadi pembisik utama di balik keputusan mundurnya band tersebut. Pihak ketiga ini menjanjikan bahwa Boomerang akan mendapatkan kontrak yang jauh lebih besar dan kebebasan idealisme artistik jika keluar dari tirani dan kediktatoran manajemen Log Zhelebour.
Sebagai seorang pebisnis yang memiliki harga diri tinggi, Log Zhelebour tidak pernah sudi mengemis atau mempertahankan artis yang hatinya sudah tidak lagi berada di dalam rumah manajemennya. Ketika anak-anak Boomerang bersikeras untuk pamit, Log melepaskan mereka dengan sebuah peringatan keras yang visioner.
“Kamu pikir dulu matang-matang, kamu kalau di luar sana, kamu ketemu kenek atau raja loh, bukan ketemu bos. Mereka tidak bisa menemukan apa-apa, mereka itu tidak akan seperti saya. Saya sudah ingatkan waktu itu.” ujar Log.
Log mengingatkan mereka bahwa di dalam sejarah industri musik Indonesia, tidak ada produser yang berani melakukan kegilaan promosi sekreatif dan seberani dirinya dalam membakar uang demi membesarkan nama sebuah band rock. Proses perpisahan itu akhirnya diselesaikan secara hukum melalui sebuah nota kesepakatan tertulis, Boomerang resmi mengundurkan diri dan sebagai kompensasi atas pemutusan kontrak di tengah jalan serta keinginan mereka untuk tetap menggunakan nama komersial “Boomerang”, para personel sepakat melakukan barter hukum. Mereka melepaskan seluruh hak royalti masa depan atas master-master album lama mereka di bawah Logiss Records, menjadikan master rekaman tersebut sepenuhnya sebagai aset milik pribadi Log Zhelebour.
Kepergian Boomerang seketika mematikan gairah (mood) Log Zhelebour untuk terus membina grup rock asal Surabaya tersebut. Hubungan yang telah retak itu menandai akhir dari sebuah era emas kerja sama magis antara sang diktator bertangan dingin dan band nekat dari teras kantor. Log mengenang bahwa keputusannya memberikan royalti besar di masa lalu murni karena kebijaksanaan pribadinya sebagai bentuk penghargaan atas kerja keras anak-anak asuhnya, bukan karena paksaan kontrak tertulis yang sebenarnya nilai kontrak flat-nya sangat kecil.
Sejarah kemudian mencatat kebenaran dari ramalan pahit Log Zhelebour. Pasca-keluar dari manajemen Log Zhelebour, Boomerang merilis dua album studio secara mandiri di bawah bendera manajemen baru. Namun, tanpa sentuhan visi industri Log, tanpa strategi promosi “gila” yang membakar miliaran rupiah, dan di tengah runtuhnya kohesi internal yang berujung pada hengkangnya John Paul Ivan disusul oleh Roy Jeconiah, kedua album baru tersebut gagal total di pasaran. Langkah mandiri itu justru menjadi awal dari redupnya nama besar Boomerang di belantika musik Indonesia, meninggalkan kekecewaan yang mendalam di hati jutaan pasang mata penggemar fanatik mereka yang kerap disapa Boomers.
Bagi Log Zhelebour, perjalanan Boomerang adalah sebuah potret nyata dari dialektika antara idealisme seni yang liar dan hukum besi industri musik yang kaku. Mereka lahir dari sebuah kenekatan luar biasa di teras kantor, dibesarkan oleh keberanian menantang badai krisis ekonomi negara, dan hancur ketika mencoba melangkah keluar dari lingkaran ekosistem yang telah membesarkan mereka. Di atas semua kepahitan perpisahan itu, mahakarya audio seperti “Kisah”, “Berita Cuaca”, dan “Pelangi” akan tetap abadi berputar di udara, seperti sebuah bumerang yang dilemparkan dengan penuh tenaga ke angkasa, melipat zaman dan selalu kembali pulang ke dalam ingatan sejarah musik rock Indonesia.
Diskography Album
Boomerang (1994)
K.O. (1995)
Disharmoni (1996)
Hits Maker (1997)
Segitiga (1998)
Hard ‘n Heavy (1999)
Best Ballads (1999)
Xtravaganza (2000)
The Greatest Hits of Boomerang (2003)
Terapi Visi (2003)
Urbanoustic (2005)
Suara Jalanan (2009)
Reboisasi (2012)



























