Mainstream

Olivia Rodrigo Buka Suara Soal Hubungannya Yang Dingin Dengan Taylor Swift

MUSIKPLUS — Penyanyi dan penulis lagu asal Amerika Serikat, Olivia Rodrigo, akhirnya memberikan tanggapan langsung mengenai rumor keretakan hubungannya dengan popstar dunia Taylor Swift. Spekulasi mengenai hubungan dingin di antara keduanya ini kembali mencuat ke permukaan seiring dengan peringatan lima tahun drama sengketa kredit kepenulisan lagu yang sempat mengguncang industri musik dunia saat debut album Rodrigo dirilis.

Dalam wawancara terbaru di program Popcast dari The New York Times, duo pembawa acara Jon Caramanica dan Joe Coscarelli secara blak-blakan menanyakan kepada Rodrigo apakah ada “keheningan yang membeku” atau kerenggangan hubungan (frosty relationship) antara dirinya dan Taylor Swift saat ini. Pertanyaan tersebut mengacu pada peristiwa tahun 2021, di mana Rodrigo secara mendadak harus menyerahkan sebagian hak cipta dan royalti dari lagu hitnya kepada Swift akibat tuduhan kemiripan struktur musik.

Menanggapi pertanyaan sensitif tersebut, penyanyi berusia 23 tahun itu sempat menarik napas dalam-dalam sebelum memberikan jawaban yang diplomatis namun penuh makna.

“Saya tidak tahu,” ujar Olivia Rodrigo seperti dikutip dari transkrip wawancaranya pada Minggu (31/05/2026).

“Saya rasa saya mencoba untuk tidak membiarkan hal itu memengaruhi atau membuat saya kesal. Saya pikir saya hanya mencoba untuk terus berjalan (keep it trucking). Kejadian itu sudah sangat lama berlalu, tidak ada gunanya untuk terus mengungkit atau meratapinya.” ujarnya.

Rodrigo menambahkan bahwa fokus utamanya saat ini hanyalah berkarya dan mempertahankan integritas pribadinya dalam industri yang kompetitif.

“Ya, saya hanya mencoba membuat lagu-lagu yang saya cintai, mencoba untuk bersikap baik, berbuat baik, serta mendukung orang lain. Saya selalu berusaha menjadi orang yang seperti itu, dan pada akhirnya, saya rasa hanya itu yang bisa Anda lakukan,” tuturnya.

Kontroversi Royalti Album Sour (2021)

Untuk memahami ketegangan di antara kedua bintang tersebut, publik harus melihat kembali lini masa industri musik pada awal tahun 2021. Saat itu, Olivia Rodrigo, yang baru bertransformasi dari bintang remaja Disney menjadi solois, berulang kali menyatakan di hadapan publik betapa besarnya pengaruh Taylor Swift terhadap gaya bermusiknya. Ia mengidentifikasi dirinya sebagai seorang Swiftie (sebutan untuk penggemar Taylor Swift) garis keras.

Baca Juga :  Shakira Akan Tampil di Final Copa América USA 2024

Ketika meluncurkan album debutnya yang bertajuk Sour pada Mei 2021, Rodrigo secara terbuka mengakui penggunaan interpolasi musik. Pada trek 1 Step Forward, 3 Steps Back, Rodrigo secara legal menggunakan bagian dari lagu New Year’s Day milik Swift dari album Reputation, 2017. Karena sifatnya yang direncanakan sejak awal, Taylor Swift dan rekan produsernya, Jack Antonoff, langsung mendapatkan kredit kepenulisan resmi sejak lagu tersebut dirilis.

Namun, situasi berbalik menjadi kontroversial ketika membahas singel kedua Rodrigo yang berjudul Deja Vu. Kontroversi ini bermula dari sesi wawancara Rodrigo dengan majalah Rolling Stone sebelum albumnya rilis. Dalam wawancara tersebut, Rodrigo dengan antusias menceritakan proses kreatif di balik bagian bridge dari Deja Vu.

“Kami ingin menulis sebuah bridge,” jelas Rodrigo saat itu.

“Saya ingin bagian itu memiliki energi yang sangat tinggi karena bagian lagu lainnya terasa begitu tenang dan sunyi secara misterius. Saya ingin bagian bridge terakhir menjadi sangat liar, dan saya sangat menyukai lagu Cruel Summer milik Taylor Swift. Itu adalah salah satu lagu favorit saya sepanjang masa. Saya suka vokal yang berteriak di dalamnya, seperti teriakan harmonisasi yang dia lakukan. Menurut saya itu sangat elektrik dan emosional, jadi saya ingin membuat sesuatu yang serupa.” bebernya.

Pernyataan jujur tersebut rupanya berbuntut panjang. Beberapa bulan setelah singel Deja Vu meledak di pasaran dan menduduki papan atas tangga lagu dunia, perubahan drastis terjadi pada dokumen legal hak cipta lagu tersebut. Secara diam-diam, nama Taylor Swift, Jack Antonoff, dan musisi rock St. Vincent (Annie Clark), yang merupakan tim penulis asli lagu Cruel Summer (2019), ditambahkan sebagai co writers dari lagu Deja Vu.

Penambahan kredit pasca rilis ini mengindikasikan adanya tekanan hukum atau klaim hak cipta di balik layar dari pihak manajemen Swift terhadap tim Rodrigo. Akibat dari keputusan legal tersebut, Rodrigo harus merelakan 50 persen dari seluruh pendapatan royalti lagu Deja Vu mengalir ke kantong Swift dan timnya.

Tidak berhenti di situ, beberapa bulan kemudian, grup band pop-punk Paramore melalui Hayley Williams dan Josh Farro juga mendapatkan perlakuan serupa. Mereka diberikan kredit kepenulisan atas lagu hit Rodrigo lainnya, Good 4 U, karena dinilai memiliki struktur dan progresi yang sangat mirip dengan lagu hit Paramore tahun 2007, Misery Business. Berbagai laporan industri mengestimasi bahwa Rodrigo kehilangan jutaan dolar AS dalam bentuk royalti akibat klaim-klaim hak cipta yang terjadi secara beruntun pada tahun debutnya.

Baca Juga :  Idap Kanker Prostad Bonehead Rehat dari Tur Oasis

Perubahan Sikap dan Narasi Gadis Pendukung

Pengamat musik internasional mencatat bahwa setelah rentetan insiden klaim hak cipta tersebut, sikap Olivia Rodrigo terhadap Taylor Swift berubah total secara drastis. Rodrigo, yang awalnya selalu menggebu-gebu memuji Swift dalam setiap wawancara, tiba-tiba menghentikan semua sebutan atau referensi tentang sang mentor. Ia menolak untuk menjawab pertanyaan spesifik mengenai hubungan mereka dan memilih untuk mengalihkan topik pembicaraan.

Kalimat Rodrigo dalam wawancara terbaru di Popcast, di mana ia menekankan usahanya untuk “bersikap baik, berbuat baik, dan mendukung orang lain”, oleh sebagian analis industri dinilai sebagai sindiran halus (subtle shade). Analisis ini memunculkan narasi bahwa Rodrigo merasa tidak semua orang di industri musik, khususnya mereka yang memiliki kekuasaan lebih besar, memberikan dukungan atau kebaikan yang sama kepadanya ketika ia baru memulai karier sebagai musisi muda berusia 18 tahun.

Kendati demikian, Rodrigo menegaskan bahwa pengalaman pahit di awal kariernya tidak memadamkan kecintaannya terhadap seni musik itu sendiri. Ia menolak meminta maaf atas cara dirinya terinspirasi oleh karya-karya musisi lain yang ia dengarkan sejak kecil.

“Saya adalah seorang fangirl. Saya mencintai musik, dan tidak ada seorang pun yang bisa merebut hal itu dari saya,” tegas Rodrigo dengan percaya diri.

“Saya merasa sangat beruntung bisa melakukan apa yang saya lakukan saat ini. Saya tumbuh dengan dikelilingi oleh musik-musik yang luar biasa dan band-band yang hebat. Saya benar-benar mencintai proses menulis lagu. Saya akan tetap menulis lagu bahkan jika tidak ada satu pun orang yang mendengarkannya, jika semua orang membencinya, atau jika semua orang menganggap karya saya buruk. Saya akan tetap melakukannya karena itulah hidup saya.” tegasnya.

Baca Juga :  Dua Lipa Resmi Rilis Album Live, Tandai Puncak Keemasan Radical Optimism

Fokus Album Baru dan Persahabatan Musisi Lain

Langkah Olivia Rodrigo untuk bersuara mengenai masa lalunya ini bertepatan dengan momentum promosi album studio ketiganya yang sangat dinantikan publik, bertajuk You Seem Pretty Sad For A Girl So In Love. Album baru tersebut dijadwalkan akan dirilis secara global pada 12 Juni mendatang. Melalui album ini, Rodrigo tampaknya ingin membuktikan kematangan musikalitasnya yang sepenuhnya independen dan terlepas dari bayang-bayang tuduhan plagiarisme masa lalu.

Menariknya, meskipun hubungan Rodrigo dengan Taylor Swift diyakini tetap renggang dan berada dalam status “gencatan senjata yang dingin”, Rodrigo terbukti berhasil membangun hubungan profesional yang sangat sehat dengan para musisi senior lainnya, termasuk mereka yang sempat terlibat dalam drama royalti Sour.

Sebagai contoh, pada tahun 2024, Rodrigo justru berkolaborasi erat dengan Annie Clark, salah satu pihak yang ikut menerima royalti dari lagu Deja Vu untuk singelnya yang berjudul Obsessed. Hubungan mereka sangat harmonis, bahkan Rodrigo kerap menggunakan gitar signature milik St. Vincent (Annie Clark) saat beraksi di atas panggung dalam turnya.

Selain itu, Rodrigo juga mengembangkan persahabatan lintas generasi yang erat dengan vokalis legendaris band The Cure, Robert Smith. Persahabatan ini bermula sejak keduanya tampil berduet secara mengejutkan di Festival Glastonbury pada tahun 2025. Hubungan baik juga terjalin dengan musisi rock Jack White, di mana Rodrigo diberikan kehormatan untuk memberikan penghormatan resmi saat White dilantik ke dalam Rock & Roll Hall of Fame. Rodrigo bahkan berhasil mengajak band alt rock legendaris The Breeders untuk menjadi aksi pembuka dalam tur konsernya.

Dengan jajaran aliansi baru dan dukungan dari legenda-legenda musik dunia tersebut, Olivia Rodrigo tampaknya telah berhasil melewati badai trauma hukum industri yang menimpanya lima tahun lalu. Sementara Taylor Swift saat ini juga tengah disibukkan dengan kelanjutan proyek musik globalnya, pernyataan terbaru Rodrigo ini seolah menegaskan bahwa sang bintang muda telah memilih untuk “terus berjalan” dan meninggalkan drama masa lalu di belakangnya, terlepas dari apakah hubungan mereka akan pernah membaik atau tidak.

Artikel Terkait

1 of 4