MUSIKPLUS – Ada sebuah kesedihan yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan kata-kata. Dia harus dinyanyikan. Dia harus dipetik lewat senar gitar yang berkarat, mengalun bersama debu tanah Mississippi dan lahir dari rahim penderitaan yang mendalam. Itulah blues, sebuah genre musik yang kini menjadi akar dari hampir seluruh musik modern, mulai dari rock ‘n’ roll, jazz, pop, hingga hip-hop.
Namun, jika kita menarik garis waktu ke belakang, ke akhir abad ke-19 di wilayah Selatan Amerika Serikat, blues bukanlah hiburan panggung megah. Ia adalah ratapan para budak Afrika-Amerika yang dipaksa bekerja di perkebunan kapas.
Dari Ladang Kapas ke Kedai Remang-Remang
Musik blues lahir dari perpaduan antara spirituals (lagu pujian gereja kaum kulit hitam), work songs (lagu pengiring kerja di ladang), dan hollers atau teriakan bersahut-sahutan antarpekerja. Bagi komunitas Afrika-Amerika yang menghadapi rasisme brutal dan kemiskinan pasca-perbudakan, musik adalah satu-satunya ruang kebebasan yang mereka miliki.
Kata “blues” sendiri merujuk pada frasa the blue devils, yang menggambarkan perasaan melankolis, frustrasi dan patah hati. Struktur dasarnya sederhana, biasanya menggunakan pola 12-bar (12 birama) dengan lirik yang repetitif. Pola ini justru memberikan ruang bagi penyanyinya untuk berimprovisasi dan menumpahkan emosi secara mentah.
Pada awal abad ke-20, musik ini mulai berpindah dari ladang-ladang pertanian menuju juke joints, kedai minum remang-remang tempat para pekerja melepas penat di akhir pekan. Di kawasan Delta Mississippi inilah, sejenis blues yang kasar, akustik dan sangat emosional berkembang pesat. Jenis ini kemudian dikenal sebagai Delta Blues.
Robert Johnson dan Mitos di Persimpangan Jalan
Jika Delta Blues adalah sebuah agama, maka Robert Johnson adalah nabi paling misterius sekaligus berpengaruh di dalamnya. Lahir pada tahun 1911 di Hazlehurst, Mississippi, nama Johnson abadi bukan hanya karena karya musiknya yang jenius, melainkan karena legenda kelam yang menyelimuti hidupnya.
Cerita bermula ketika Johnson muda dianggap sebagai pemain gitar yang buruk. Musisi senior Delta Blues saat itu, seperti Son House, mengenang Johnson sebagai pemuda yang berisik dan tidak berbakat. Frustrasi, Johnson menghilang selama beberapa bulan dari pergaulan musik Delta.
Namun, ketika dia kembali, sesuatu yang mustahil terjadi. Jemarinya bergerak dengan kecepatan dan akurasi yang menghipnotis. Dia bisa memainkan melodi, ritem dan bass secara bersamaan pada satu gitar akustik, membuatnya terdengar seperti dimainkan oleh dua orang sekaligus.

Dari sinilah rumor itu lahir dan terus berbisik di antara angin malam Mississippi, bahwa Robert Johnson telah menjual jiwanya kepada Iblis.
Konon, di sebuah persimpangan jalan sepi (the crossroads) di dekat Clarksdale pada tengah malam, Johnson bertemu dengan seorang pria jangkung hitam yang mengambil gitarnya, menyetel senarnya dan menyerahkannya kembali. Bayarannya? Jiwa Johnson, ditukar dengan keahlian gitar yang tiada tanding. Mitos ini diperkuat oleh lagu-lagunya sendiri yang berbau okultisme dan pelarian, seperti “Cross Road Blues”, “Me and the Devil Blues” dan “Hellhound on My Trail”.
Warisan Kekal Dalam 29 Lagu
Terlepas dari benar atau tidaknya sekutu magis tersebut, kenyataan historis menunjukkan bahwa Johnson adalah seorang inovator jenius. Dia hanya sempat melakukan dua sesi rekaman dalam hidupnya, di sebuah kamar hotel di San Antonio (1936) dan sebuah gedung perkantoran di Dallas (1937). Dari dua sesi itu, lahir 29 lagu yang selamanya mengubah arah musik dunia.
Gaya bermain gitarnya yang menggunakan teknik slide, yaitu menggesekkan botol atau besi pada senar dan ketukan bass yang konstan menjadi blue print bagi perkembangan electric blues di Chicago, yang kemudian diadopsi oleh band-band Inggris puluhan tahun kemudian. Keith Richards dari The Rolling Stones bahkan pernah berujar saat pertama kali mendengar rekaman Johnson.
“Siapa orang kedua yang bermain gitar bersamanya?” Richards tidak tahu bahwa itu semua keluar dari satu pasang tangan Johnson saja.
Tragisnya, kehidupan Johnson sesingkat meteor yang jatuh. Pada tahun 1938, di usia yang baru 27 tahun, ia meninggal dunia. Ia diyakini diracun oleh seorang suami yang cemburu di sebuah kedai tempatnya tampil. Kematiannya menjadikannya “anggota pertama” dari klub terkutuk musisi jenius yang mati muda di usia 27 tahun (The 27 Club), bersanding dengan Jimi Hendrix, Janis Joplin, Kurt Cobain dan Amy Winehouse.
“Blues adalah musik yang mudah dimainkan, tetapi sangat sulit untuk dirasakan.” kata Jimi Hendrix.
Blues mungkin berakar dari penderitaan kaum kulit hitam di Amerika, namun esensinya bersifat universal. Ia berbicara tentang bertahan hidup, patah hati dan pencarian makna di tengah hidup yang kejam. Melalui petikan gitar Robert Johnson yang magis di persimpangan jalan itu, ratapan Delta tidak pernah benar-benar mati, ia justru bertransformasi menjadi detak jantung musik populer dunia hari ini.





















