Klasik

Rock and Roll Lahir di Mimbar Gereja Tahun 1942, Kisah Rosetta Tharpe Ibu Baptis Yang Terlupakan

MUSIKPLUS – Jika Anda bertanya kepada pencinta musik awam mengenai siapa pencipta musik rock and roll, nama-nama yang muncul biasanya tidak jauh dari Chuck Berry, Little Richard, Jerry Lee Lewis atau Elvis Presley. Sejarah arus utama sering kali mencatat pertengahan tahun 1950-an sebagai momen kelahiran genre yang mengguncang dunia ini. Namun, sejarah yang tertulis di buku-buku sekolah sering kali mengabaikan satu fakta krusial, jauh sebelum Chuck Berry merekam nada pertama di gitarnya dan saat Elvis Presley masih seorang anak kecil yang tinggal di Tupelo, Mississippi, seorang perempuan kulit hitam bertangan dingin telah memainkan musik rock and roll dengan gitar elektriknya di atas mimbar gereja, perempuan itu adalah Sister Rosetta Tharpe.

Pada tahun 1942, lebih dari satu dekade sebelum dunia mengenal istilah rock and roll melalui penyiar radio Alan Freed, seorang kritikus musik dari majalah Billboard telah menggunakan istilah tersebut untuk menggambarkan aksi panggung Sister Rosetta Tharpe. Fakta ini tidak hanya menggeser lini masa sejarah musik modern, tetapi juga mengukuhkan posisi Tharpe sebagai “Ibu Baptis Rock and Roll” yang sesungguhnya.

Kesaksian Tahun 1942, Catatan Sejarah yang Mengubah Segalanya

Pada awal dekade 1940-an, Sister Rosetta Tharpe sudah menjadi sensasi yang memicu kontroversi sekaligus kekaguman. Ia memadukan lirik spiritual gospel yang religius dengan ritme uptempo yang menghentak, ditambah dengan permainan gitar solo yang agresif dan penuh distorsi alami.

Momen pembuktian itu tercatat dalam ulasan majalah Billboard edisi tahun 1942. Sang kritikus, yang menghadiri salah satu pertunjukan Tharpe, menuliskan kalimat yang kelak akan menjadi nubuat sejarah musik dunia:

“Tharpe menghadirkan musik spiritual gospel religius tradisional dengan gaya spiritual yang sangat berbeda, di mana ia memetik gitar elektriknya dan bernyanyi dengan ritme yang melompat-lompat, menghasilkan musik ‘rock and roll’ kudus yang luar biasa.”

Penggunaan frasa “rock and roll” pada tahun 1942 ini sangatlah revolusioner. Sebagai konteks historis, pada tahun tersebut.

Chuck Berry masih berusia 16 tahun dan belum pernah menyentuh studio rekaman profesional.

Elvis Presley baru berusia 7 tahun, tumbuh di tengah kemiskinan dan hanya mendengarkan musik di gereja lokalnya.

Little Richard masih seorang anak laki-laki berusia 10 tahun yang bernyanyi di paduan suara gereja di Georgia.

Baca Juga :  The Beatles dan The Rolling Stones, Kisah di Balik Rivalitas Palsu Yang Direkayasa Media

Bagaimana bisa seorang perempuan religius dari era Perang Dunia II sudah mempraktikkan apa yang kelak akan menjadi komoditas budaya terbesar abad ke-20? Jawabannya terletak pada kejeniusan musikalitas Tharpe yang mendobrak zaman.

Gitar Elektrik, Distorsi dan Lahirnya ‘Shredding’ Pertama di Dunia

Sister Rosetta Tharpe lahir dengan nama Rosetta Nubin pada tahun 1915 di Cotton Plant, Arkansas. Sejak usia empat tahun, ia sudah dianggap sebagai anak ajaib (prodigy) karena kemampuannya menyanyi dan memainkan gitar akustik sambil menemaninya ibunya berkhotbah keliling.

Namun, transformasi terbesar terjadi ketika ia mulai mengadopsi gitar elektrik, khususnya salah satu gitar yang paling melekat dengan citranya, Gibson Les Paul Custom tiga-pickup tahun 1961 yang kelak dikenal sebagai SG berselimut warna putih alpine.

Di era ketika gitaris perempuan terutama perempuan kulit hitam, biasanya ditempatkan sebagai penyanyi latar tanpa instrumen, Tharpe berdiri di depan panggung dengan gitar elektrik yang dicolokkan ke ampli tabung dengan volume maksimal. Gaya permainannya melahirkan teknik-teknik dasar yang kelak diadopsi oleh seluruh dewa gitar rock.

Distorsi Alami (Overdrive)

Jauh sebelum efek pedal distorsi diciptakan, Tharpe sengaja memutar knop volume amplinya hingga batas maksimal untuk mendapatkan suara yang kotor, kasar dan menggigit (crunchy).

Teknik Memetik yang Agresif

Ia menggunakan fingerpicking yang dikombinasikan dengan flatpick (thumbpick), memungkinkan dirinya mengeksusi ritme driving yang cepat sekaligus melodi solo yang tajam secara bergantian.

Penggunaan Skala Pentatonik dan Blues Note

Solo gitar Tharpe kaya akan pembengkokan senar (string bending) dan vibrato cepat yang menjadi fondasi utama musik classic rock dan heavy metal.

Jika Anda menonton rekaman ikoniknya saat membawakan lagu “Didn’t It Rain” di stasiun kereta api terbengkalai di Manchester, Inggris, pada tahun 1964, Anda akan melihat Tharpe mengenakan mantel tebal, tersenyum lebar, lalu tiba-tiba menghantam penonton dengan solo gitar elektrik yang sangat bertenaga. Aksi panggung tersebut tidak hanya membuat penonton kulit putih di Inggris terpana, tetapi juga mengubah arah bermusik para pemuda lokal yang menyaksikannya.

Membuka Jalan Bagi Para Legenda, Dari Cash Hingga Hendrix

Pengaruh Sister Rosetta Tharpe terhadap generasi musisi setelahnya tidak bisa dinilai dengan uang. Ia adalah jembatan yang menghubungkan musik blues pedesaan, gospel kulit hitam, dan musik pop-rock komersial. Para musisi terbesar abad ini secara terbuka mengakui utang budi mereka kepada Tharpe.

Baca Juga :  Di Royal Vasa, ABBA Terima Gelar Ksatria Swedia Bergengsi

Johnny Cash

Dalam pidato pelantikannya di Rock and Roll Hall of Fame, Cash menyebutkan bahwa Sister Rosetta Tharpe adalah musisi favoritnya saat ia masih kecil. Gaya vokal Cash yang tegas dan ritme gitarnya yang seperti kereta berjalan (boom-chicka-boom) sangat dipengaruhi oleh Tharpe.

Little Richard

Tharpe adalah orang pertama yang memberikan panggung profesional bagi Little Richard. Pada tahun 1947, setelah mendengar Richard bernyanyi sebelum konsernya, Tharpe mengundangnya naik ke panggung untuk berduet. Pengalaman itu memicu keyakinan Richard untuk mengejar karier di dunia musik.

Chuck Berry

Berry terkenal dengan gaya duckwalk dan solo gitar berbasis double-stop. Jika Anda mendengarkan lagu Tharpe yang berjudul “Strange Things Happening Every Day” (direkam tahun 1944), Anda akan mendengar struktur melodi dan ketukan gitar yang hampir identik dengan apa yang dibawakan Chuck Berry dalam “Johnny B. Goode” belasan tahun kemudian.

Jimi Hendrix

Sebelum Hendrix membakar gitarnya di panggung, Tharpe sudah memutar gitarnya ke belakang punggung dan memainkannya dengan gigi. Hendrix muda dilaporkan sangat mengagumi agresi dan kebebasan berekspresi yang ditunjukkan Tharpe lewat gitar elektrik.

Sister Rosseta Tharpe. Getty Images/Tonny Evans

Kontroversi dan Penolakan Gereja, Diabaikan Industri Sekuler

Meskipun memiliki kejeniusan yang luar biasa, perjalanan karier Tharpe dipenuhi dengan duri ironi. Ia hidup di era segregasi rasial yang ketat di Amerika Serikat (Jim Crow laws). Sebagai musisi kulit hitam, ia sering kali tidak diizinkan makan di restoran atau menginap di hotel tempat ia menggelar pertunjukan, sehingga ia terpaksa tidur di dalam bus turnya.

Tragedi terbesar dalam karier musikal Tharpe adalah statusnya yang “terjepit” di antara dua dunia:

Gereja-gereja gospel tradisional kulit hitam mulai mengutuknya. Mereka menganggap Tharpe telah “menjual jiwanya kepada iblis” karena membawa musik Tuhan ke tempat-tempat sekuler seperti kelab malam The Cotton Club di New York, dan memainkannya dengan gaya yang dinilai terlalu sensual serta liar.

Di sisi lain, industri musik sekuler kulit putih yang mulai mendominasi genre rock and roll pada pertengahan 1950-an tidak siap memberikan takhta kepada seorang perempuan kulit hitam paruh baya. Industri lebih memilih mempromosikan wajah-wajah muda kulit putih seperti Elvis Presley atau Buddy Holly sebagai ikon genre baru tersebut untuk konsumsi pasar massal.

Baca Juga :  Naskah Langka Milik Shakespeare Dipamerkan Untuk Umum

Akibatnya, nama Sister Rosetta Tharpe perlahan-lahan meredup dari arus utama komersial di Amerika, meskipun ia tetap mendapatkan penghormatan yang sangat tinggi di Eropa hingga akhir hayatnya pada tahun 1973.

Penulisan Ulang Sejarah dan Pengakuan yang Terlambat

Selama beberapa dekade, nama Sister Rosetta Tharpe terkubur di bawah dominasi narasi sejarah rock yang berpusat pada laki-laki. Kuburannya di Philadelphia bahkan sempat tidak memiliki batu nisan selama bertahun-tahun karena masalah finansial, sebuah akhir yang sangat tragis bagi seorang pionir besar.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, sebuah gerakan penulisan ulang sejarah musik (historical revision) mulai gencar dilakukan. Kesadaran publik global kembali tergugah berkat dedikasi para jurnalis musik, akademisi, dan sesama musisi yang menuntut keadilan sejarah bagi Tharpe.

Puncaknya terjadi pada tahun 2018, ketika Sister Rosetta Tharpe akhirnya secara resmi dilantik ke dalam Rock and Roll Hall of Fame dalam kategori Early Influence (Pengaruh Awal). Meskipun pengakuan ini dinilai sangat terlambat 45 tahun setelah kematiannya, hal ini menjadi pernyataan hukum yang sah bahwa pondasi musik modern tidak dibangun di atas pondasi yang diletakkan oleh para musisi pria tahun 1950-an saja, melainkan di atas petikan gitar seorang perempuan kulit hitam di mimbar gereja tahun 1940-an.

Catatan jurnalis majalah Billboard pada tahun 1942 adalah bukti otentik yang tidak bisa dibantah, rock and roll bukanlah sebuah penemuan instan yang lahir di studio rekaman Memphis pada tahun 1954. Rock and roll adalah sebuah sikap, sebuah ritme dan sebuah pemberontakan yang telah diledakkan oleh Sister Rosetta Tharpe sejak era Perang Dunia II.

Mendengarkan musik Tharpe hari ini bukan sekadar mendengarkan musik gospel lawas, itu adalah pengalaman mendengarkan cetak biru dari setiap distorsi gitar, setiap aransemen upbeat dan setiap energi panggung yang kita nikmati dalam musik rock modern saat ini. Sudah saatnya dunia berhenti mengabaikan sejarah dan mengembalikan mahkota rock and roll kepada pemiliknya yang sah, Sister Rosetta Tharpe.

Artikel Terkait