Hard N' Heavy

Sang Profesor dan Sang Pembelajar: Mengenang Neil Peart, Jiwa dan Ritme Dibalik Kemegahan Rush

MUSIKPLUS – Bagi jutaan penggemar musik rock di seluruh dunia, Neil Peart adalah sebuah monumen. Dijuluki “The Professor” (Sang Profesor), ia bukan sekadar drummer band progresif rock legendaris asal Kanada, Rush. Ia adalah arsitek ritme, filsuf kata-kata dan benteng intelektual yang mendefinisikan ulang batas-batas musik rock modern. Ketika ia menggebuk drum kit raksasanya yang mengelilinginya penuh 360 derajat, ia tidak hanya menjaga tempo, melainkan sedang menuturkan sebuah narasi ilmiah yang megah. Namun, di balik presisi teknisnya yang luar biasa, terdapat esensi manusiawi yang paling murni, Neil Peart adalah seorang pembelajar abadi yang memandang kehidupan dan musik sebagai sebuah perjalanan tanpa akhir.

Lahir dengan nama Neil Ellwood Peart pada 12 September 1952 di Hamilton, Ontario, Kanada masa kecilnya dihabiskan di lingkungan peternakan yang tenang sebelum keluarganya menetap di Port Dalhousie.

Ketertarikannya pada dunia perkusi berawal dari kebiasaannya mengetuk benda-benda di rumah dengan sumpit. Sadar akan gairah sang anak, orang tuanya membelikan sepasang stik drum dan bantalan latihan pada ulang tahunnya yang ke-13, dengan janji sebuah set drum lengkap jika ia bertahan selama setahun. Peart menepati janji itu dan pada usia 14 tahun, dunianya berubah saat set drum pertamanya tiba.

Perjalanan awalnya tidaklah instan. Di usia 18 tahun, didorong ambisi menjadi musisi profesional, Peart merantau ke London, Inggris. Alih-alih mendapatkan ketenaran, ia justru menghadapi kemiskinan dan harus bertahan hidup dengan menjual perhiasan di sebuah toko kecil bernama The Great Frog di Carnaby Street. Namun, di kota inilah ia bersentuhan dengan pemikiran filosofis, termasuk karya-karya Ayn Rand tentang individualisme, yang kelak memengaruhi lirik-lirik awal Rush seperti “Anthem” dan “2112”.

Baca Juga :  Sejarah Grunge, Kisah Ledakan Musik Seattle Lewat 13 Album Fenomenal

Kecewa dengan kerasnya industri musik Inggris saat itu, ia memilih kembali ke Kanada untuk bekerja di toko suku cadang traktor milik ayahnya, sembari tetap bermain musik di band-band lokal.

Titik balik bersejarah terjadi pada Juli 1974. Peart mengikuti audisi untuk sebuah band rock asal Toronto yang baru merilis album pertama mereka, Rush. Bersama Geddy Lee dan Alex Lifeson, ia tidak hanya mengisi posisi drummer yang kosong, melainkan menjadi roda penggerak utama yang mengubah band blues-rock standar menjadi raksasa progressive rock dunia.

Mulai dari album Fly by Night (1975) hingga mahakarya Moving Pictures (1981), Peart mengambil alih peran sebagai penulis lirik utama. Ia menyuntikkan tema-tema sains fiksi, mitologi klasik, filsafat dan pencarian makna hidup yang mendalam ke dalam lagu-lagu hit seperti “Tom Sawyer” dan “Limelight”.

Kombinasi antara lirik yang puitis-filosofis dan pukulan drum yang kompleks berstruktur tinggi menjadikannya salah satu drummer paling dihormati dalam sejarah. Baginya, keahlian bukanlah garis akhir. Di puncak popularitasnya pada era 90-an, Peart justru mengambil langkah yang mengejutkan banyak pihak, ia kembali mengambil kelas drum dari guru jazz legendaris Freddie Gruber dan Peter Erskine demi memperbaiki kelenturan dan struktur groove-nya.

“Apalah artinya seorang master selain seorang murid utama?” ujarnya dalam sebuah wawancara.

“Ada tanggung jawab besar pada dirimu untuk terus menjadi lebih baik dan mengeksplorasi jalan dalam profesimu.” ucapnya saat itu.

Rush, gitaris Alex Lifeson (kiri), drummer Neil Peart (tengah), dan bassis sekaligus vokalis utama Geddy Lee (kanan). Getty Images

Namun, kehidupan tidak selalu berjalan dalam ketukan yang sinkron. Di akhir dekade 90-an, Peart dihantam oleh tragedi personal yang nyaris merenggut jiwanya. Pada tahun 1997, putri tunggalnya yang berusia 19 tahun, Selena, tewas dalam kecelakaan mobil tragis. Hanya sepuluh bulan berselang, istrinya, Jacqueline, meninggal dunia akibat kanker, sebuah kehilangan yang oleh Peart disebut sebagai akibat dari “patah hati” yang teramat dalam.

Baca Juga :  Persahabatan di Balik Distorsi, Steve Lukather dan Sammy Hagar Kenang Kejeniusan Eddie Van Halen

Menghadapi kekosongan yang membekukan, Peart memilih menghilang dari panggung dunia dan meminta rekan-rekan bandnya menganggap dirinya telah pensiun.

Ia mengendarai sepeda motor BMWnya, menempuh jarak puluhan ribu mil membelah Amerika Utara dalam sebuah perjalanan meditasi dan isolasi. Perjalanan penyembuhan yang sunyi ini kemudian ia tuangkan dalam buku memoar terkenalnya, Ghost Rider: Travels on the Healing Road.

Ia mendefinisikan dirinya sebagai seorang “linear thinking agnostic” (agnostik yang berpikir linear). Tanpa dogma agama tradisional atau penghiburan semu, ia menghadapi kedukaan dengan menatap cakrawala jalanan yang membentang. Jalanan tidak menyembuhkannya secara instan, namun melindunginya dari kelumpuhan total akibat kesedihan.

Kembalinya Peart ke pangkuan Rush pada tahun 2001 disambut layaknya mukjizat oleh dunia musik. Album Vapor Trails (2002) lahir sebagai sebuah kepalan tangan emosional, tanda bahwa ia memilih untuk terus bernapas dan memukul drumnya kembali setelah melewati gurun kepedihan. Konser-konser setelahnya, termasuk tur legendaris yang singgah di Brasil dan menghasilkan DVD multi-platinum Rush in Rio, mempertegas posisinya sebagai legenda hidup.

Di atas panggung, ia tetap menjadi sosok yang menolak kenyamanan status kebintangan rock, ia bermain murni demi kesetiaan pada seni dan eksplorasi musikal.

Setelah tur perayaan 40 tahun (R40) pada tahun 2015, Neil Peart memutuskan pensiun secara resmi untuk mendedikasikan sisa hidupnya sebagai seorang ayah dan suami yang tenang bersama istri barunya, Carrie, dan putri mereka, Olivia. Sayangnya, babak tenang itu berlangsung singkat. Pada 7 Januari 2020, Sang Profesor menghembuskan napas terakhirnya di Santa Monica, California, setelah tiga setengah tahun bertarung secara rahasia melawan glioblastoma, jenis kanker otak yang sangat agresif.

Kepergian Neil Peart meninggalkan kekosongan emosional yang mendalam bagi dunia musik, namun warisannya tetap menyala terang melalui program-program kemanusiaan seperti Neil Peart Spirit of Drumming Scholarship yang digagas bersama keluarganya untuk menginspirasi generasi drummer muda di seluruh dunia.

Baca Juga :  Eks Gitaris dan Manajer Boomerang Lahirkan Strobo, Kilatan Rock Baru dari Kota Pahlawan

Pada akhirnya, mengenang Neil Peart bukan hanya tentang mengingat solo drumnya yang spektakuler atau jutaan kopi album yang terjual. Ini adalah tentang menghidupkan kembali filosofi yang ia tanamkan dalam bait terakhir lagu terakhirnya, “The Garden”, bahwa apa yang kita tinggalkan adalah bagian dari taman kehidupan yang kita rawat. Melalui dedikasi, integritas dan rasa haus akan pengetahuan yang tak pernah padam, Sang Profesor telah mengajarkan kita bagaimana cara hidup yang jujur di atas dan di luar gemerlapnya panggung rock sebagai seorang yang berpengetahuan luas dan rendah hati.

Artikel Terkait

1 of 7