Hard N' Heavy

Satu Batang Rokok Join Berdua, Kenangan Emosional Antara David Lee Roth dan Eddie Van Halen

MUSIKPLUS – Dalam mitologi musik rock dunia, Van Halen kerap digambarkan sebagai kereta pesta tanpa henti yang dipenuhi kemewahan, kegilaan, dan stadion-stadion megah yang penuh sesak. Namun, bagi sang vokalis ikonik David Lee Roth, fondasi dari lagu-lagu mahakarya yang mengubah wajah musik rock dunia justru lahir dari sebuah ruang yang sangat jauh dari kata mewah, sebuah sudut sempit yang bahkan nyaris tidak cukup untuk menampung dua orang.

Saat tampil solo di panggung Keswick Theatre di Glenside, Pennsylvania, penyanyi yang akrab disapa “Diamond Dave” ini mendadak emosional. Sambil memangku sebuah gitar klasiknya, Roth menahan air mata ketika menceritakan kembali masa-masa awal di mana dirinya dan mendiang Eddie Van Halen pertama kali belajar cara menulis lagu bersama. Sebuah momen yang ia sebut sebagai ruang yang sangat sempit, hingga “lutut kami berdua saling bersentuhan saat duduk.” kata Roth.

Roth mengenang bahwa takdir seolah sengaja mempertemukan mereka lewat latar belakang masa kecil yang serupa. Selama belasan tahun pertamanya, keluarga Roth tinggal di perumahan mahasiswa yang sempit. Kamarnya sendiri hanyalah sebuah ruang cuci pakaian (washer-and-dryer space) yang dimodifikasi dengan susunan batako dan alas busa karet. Kemiripan yang mencengangkan ini langsung ia rasakan ketika pertama kali menginjakkan kaki di rumah keluarga Van Halen di Pasadena, California.

“Ketika saya pertama kali masuk ke area Ed (Eddie), itu bahkan tidak bisa disebut kamar,” kenang Roth. “Itu identik dengan tempat saya tumbuh besar. Anda harus berjalan dari halaman belakang menuju dapur, dan melewati lorong kecil yang sebenarnya merupakan tempat mesin cuci dan pengering pakaian. Di situlah ruang Ed berada, dan pada akhirnya, menjadi ruang saya juga,” kenangnya.

Baca Juga :  Marty Friedman Mulai Gunakan Peralatan Vintage Untuk Pertama Kalinya

Kondisi yang serbaterbatas itulah yang melahirkan magis tersendiri. Karena sang ibu melarang Eddie mencolokkan gitar elektriknya ke dalam amplifier agar tidak berisik, Roth harus mendekatkan telinganya langsung ke badan gitar tanpa pengeras suara. Selama berjam-jam, keduanya duduk membungkuk di depan sebuah perekam kaset kecil merek Sony dengan tombol-tombol tekan, mendokumentasikan setiap rif dan ide mentah yang keluar dari jemari Eddie.

“Saya akan pulang membawa rekaman itu, menulis liriknya, lalu kembali ke sana dan berkata, ‘Ed, saya rasa ini sebuah lagu tentang Runnin’ With the Devil atau semacamnya. Apa lagi yang kau punya setelah ini?'” tutur Roth menirukan percakapan masa mudanya.

Kemiskinan masa muda juga membuat mereka harus berbagi banyak hal, termasuk urusan merokok. Roth berseloroh bahwa ketika salah satu dari mereka mengajak merokok, itu berarti mereka hanya memiliki satu batang rokok untuk diisap berdua secara bergantian. Pembagian yang irit ini tak jarang menyulut pertengkaran kecil yang penuh tawa di antara keduanya. “Ada friksi yang intens sejak awal, dan kami sangat menyukainya,” ujar Roth.

Menariknya, dinamika intim yang penuh keterbatasan itu tetap bertahan meski mereka telah meraih kesuksesan masif dan bergelimang harta puluhan tahun kemudian. Pada tahun 1996, ketika mereka kembali berkumpul untuk menulis dua lagu baru untuk album kompilasi Best Of – Volume I (Can’t Get This Stuff No More dan Me Wise Magic), Eddie sudah memiliki studio rekaman bernilai jutaan dolar yang dipenuhi peralatan mutakhir.

Namun, alih-alih memanfaatkan kemegahan studio barunya, Eddie secara naluriah merekonstruksi suasana keintiman masa lalu mereka. Roth mengenang saat dirinya sedang duduk membaca buku di tengah studio besar yang kosong menanti kehadiran sang gitaris.

Baca Juga :  Sang Profesor dan Sang Pembelajar: Mengenang Neil Peart, Jiwa dan Ritme Dibalik Kemegahan Rush

“Ketika Ed masuk, dia menyelipkan sebatang rokok di mulutnya, berjalan menghampiri saya, mengambil sebuah kursi tepat di depan saya, lalu menarik kursinya maju ke depan hingga lutut kami kembali saling bersentuhan,” ucap Roth dengan mata berkaca-kaca.

Sebuah circle yang membuktikan bahwa di balik semua ketenaran, konflik ego, dan sejarah panjang mereka, ruang rahasia penulisan lagu terbaik Van Halen akan selalu berupa jarak sedekat sentuhan lutut antara dua orang sahabat.

Artikel Terkait

1 of 7