Klasik

Siapakah Pemilik Pink Floyd Yang Sebenarnya, Roger Waters Atau David Gilmour?

MUSIKPLUS – Siapakah pemilik Pink Floyd? Waters mendapatkan ‘The Wall’, Gilmour mendapatkan nama band dan Sony membeli katalognya seharga $400 Juta.

Ketika David Gilmour memimpin Pink Floyd era pasca Roger Waters dan membawa babi inflabel (Algie) ikonik mereka dalam sebuah tour, mereka menambahkan sepasang testikel pada boneka tersebut. Tujuannya adalah agar secara hukum bentuknya berbeda dari babi milik Waters, sehingga mereka bisa menghindari kewajiban membayar Waters sebesar $800 per malam.

Tingkat kepicikan seperti ini mendefinisikan perpecahan mereka selama berdekade-dekade. Namun, di balik itu semua, kedua musisi tersebut diam-diam berhasil membangun kerajaan bisnis masing-masing dari belahan kesepakatan tahun 1987, yang ditandatangani di atas sebuah rumah-perahu dua hari sebelum Natal.

Pink Floyd. Getty Images

Anda tentu tahu bahwa Pink Floyd telah pecah. Namun, apa yang mungkin belum Anda ketahui adalah siapa yang sebenarnya memenangkan perebutan nama band tersebut, atau seberapa pelit dan kekanak-kanakan situasi yang terjadi di balik layar.

Semua bermula ketika Roger Waters keluar pada akhir tahun 1985, dengan keyakinan penuh bahwa band tersebut akan mati tanpanya. Dia adalah penulis lagu utama dan kekuatan pendorong konseptual sejak kepergian Syd Barrett pada tahun 1968. Waters benar-benar percaya atau meyakinkan dirinya sendiri untuk percaya, bahwa band tersebut tidak akan ada tanpa dirinya. Oleh karena itu, ia menggunakan klausul “Leaving Member” (Anggota yang Mengundurkan Diri) dalam kontraknya dengan EMI dan CBS, lalu mengumumkan bahwa grup tersebut adalah “kekuatan yang telah habis secara kreatif”. David Gilmour dan Nick Mason tidak melihatnya seperti itu. Mereka justru mulai merekam album baru di bawah bendera Pink Floyd.

Pada Oktober 1986, Waters mengajukan gugatan ke Pengadilan Tinggi di London untuk meminta keputusan yang membubarkan Pink Floyd sebagai entitas hukum dan komersial. Namun, ia kalah bahkan sebelum kasus tersebut masuk ke persidangan. Pengacaranya sendiri memberi tahu bahwa nama band tersebut adalah aset dengan nilai komersial dan pengadilan sama sekali tidak peduli dengan argumen moral Waters yang menyatakan bahwa Pink Floyd sudah berakhir. Seperti yang dikatakan Waters di kemudian hari.

Baca Juga :  Naskah Langka Milik Shakespeare Dipamerkan Untuk Umum

“Hukum tidak tertarik pada masalah moral, melainkan pada nama sebagai sebuah aset,” katanya.

Pada 23 Desember 1987, dua hari sebelum Natal, ketiganya bertemu di Astoria, sebuah rumah-perahu yang dialihfungsikan menjadi studio rekaman milik Gilmour, yang bersandar di Sungai Thames dekat Hampton. Di sana, mereka menandatangani perjanjian di luar pengadilan dan mengambil jalan masing-masing.

Pink Floyd sekitar tahun 1973. (dari kiri) Rick Wright, David Gilmour, Nick Mason, dan Roger Waters. Getty Images/Michael Ochs

Apa yang Didapatkan Waters dan Gilmour Dalam Kesepakatan Pink Floyd 1987

Gilmour dan Mason mempertahankan nama Pink Floyd serta hak untuk merekam dan melakukan tur menggunakan nama tersebut. Waters melepaskan semua klaim atas nama band.

Sebagai gantinya, Waters mempertahankan hak konseptual atas ‘The Wall’, hak untuk mementaskan album tersebut sebagai produksi teater langsung, serta hak atas babi inflabel dari album ‘Animals’, babi betina setinggi 12 meter berisi helium bernama Algie yang melayang di atas Pembangkit Listrik Battersea untuk sampul album tahun 1976.

Gilmour juga diwajibkan membayar royalti kepada Waters untuk setiap penggunaan citra atau konsep yang diciptakan selama masa jabatan Waters di dalam band. Klausul inilah yang melahirkan salah satu babak paling picik dalam sejarah rock and roll.

Balon tiup setinggi 1,2 meter itu tampil dalam sampul album musik Pink Floyd yang bertajuk Animals (1977). Algie yang merupakan hasil karya dari seniman Jeffrey Shaw menjadi populer karena membuat kehebohan saat sesi foto sampul album, pada Desember 1976.
Baca artikel CNN Indonesia “Balon Babi ‘Algie’ Dipulangkan ke Pink Floyd”

Ketika Pink Floyd membawa album ‘A Momentary Lapse of Reason’ dalam tur pada tahun 1987, mereka ingin menggunakan babi inflabel mereka sendiri. Berdasarkan perjanjian, hal ini mengharuskan mereka membayar biaya lisensi kepada Waters di setiap pertunjukan. Guna mengakalinya, Gilmour atas pengakuannya sendiri menemukan solusi, band merancang babi baru dan menambahkan sepasang testikel merah muda berukuran besar pada boneka tersebut.

Secara hukum, inflabel itu kini menjadi babi yang berbeda, babi jantan, sedangkan milik Waters adalah betina, sehingga bukan lagi merupakan hak kekayaan intelektual milik Waters. Gilmour berhasil menghemat biaya harian yang dilaporkan sebesar $800 per malam, sementara Waters dikabarkan sangat marah.

Baca Juga :  The Beatles dan The Rolling Stones, Kisah di Balik Rivalitas Palsu Yang Direkayasa Media

Keuntungan Waters ‘The Wall’ yang Menghasilkan Dua Kali Lipat

Waters mendapatkan keuntungan besar dari kompensasi konseptual tersebut dan langsung membuktikannya dalam waktu singkat. Ketika Tembok Berlin runtuh pada November 1989, Waters terbang ke sana dalam hitungan hari dan mulai menyusun rencana. Pada 21 Juli 1990, ia mementaskan ‘The Wall Live in Berlin’ di lahan kosong antara Potsdamer Platz dan Gerbang Brandenbur, bekas wilayah tak bertuan (no man’s land) antara Berlin Barat dan Timur.

Konser tersebut bertabur bintang, menampilkan Joni Mitchell, Van Morrison, Cyndi Lauper, Bryan Adams, Scorpions, Sinéad O’Connor, hingga para personel The Band. Penonton langsung diperkirakan mencapai 200.000 hingga 450.000 orang dan sekitar 500 juta orang lainnya menyaksikan lewat siaran televisi. Meskipun pendapatan awalnya dialokasikan untuk yayasan amal, hak atas rekaman album langsung dan videonya pada akhirnya kembali ke tangan Waters.

Roger Waters. Getty Images

Dua puluh tahun kemudian, ia mengulanginya lagi dalam skala yang jauh lebih masif dan sepenuhnya untuk dirinya sendiri. Tur ‘The Wall Live’ yang berlangsung dari September 2010 hingga September 2013 menggelar 219 pertunjukan di empat benua, meraup pendapatan kotor sebesar $458,7 juta, dan menyedot lebih dari 4,1 juta penonton. Pada tahun 2013, tur tersebut memecahkan rekor sebagai tur dengan pendapatan tertinggi bagi artis solo dalam sejarah, melampaui tur ‘Sticky & Sweet’ milik Madonna. Produksinya memakan biaya sekitar $60 juta dan menggunakan konsep teater yang persis sama dengan yang diperoleh Waters dari kesepakatan tahun 1987. Tanpa kesepakatan itu, semua ini tidak akan legal dilakukan tanpa tanda tangan persetujuan dari Gilmour.

Keuntungan Gilmour, Tiga Album, Band yang Aktif dan Kesepakatan Masif Dengan Sony

Di pihak lain, Gilmour, Mason, dan Richard Wright yang dipekrjakan kembali sebagai anggota tur dan rekaman, meskipun tidak lagi menjadi mitra bisnis penuh, menggunakan nama Pink Floyd untuk merilis tiga album studio setelah kepergian Waters, ‘A Momentary Lapse of Reason’ (1987), ‘The Division Bell’ (1994) dan ‘The Endless River’ (2014).

Baca Juga :  Ratapan Dari Delta, Perjanjian Robert Johnson Dengan Iblis dan Cross Road Blues

Tur untuk mendukung album-album ini berjalan sangat masif. Tur ‘A Momentary Lapse’ saja tampil di hadapan lebih dari 5,5 juta orang dalam 200 jadwal pertunjukan, jauh melampaui angka penjualan dan skala pertunjukan solo yang dilakukan Waters pada waktu yang sama.

Hingga akhirnya datanglah rezeki nomplok yang luar biasa besarnya. Pada Oktober 2024, Pink Floyd menjual katalog musik rekaman beserta hak nama dan citra name and likeness mereka kepada Sony Music dengan nilai yang dilaporkan mencapai $400 juta.

Kesepakatan yang akhirnya rampung setelah bertahun-tahun mandek karena perselisihan internal ini mencakup rekaman master (master rights), merchandising, hak teatrikal, serta hak pembuatan film biografi. Namun, kesepakatan ini mengecualikan hak penerbitan lagu (publishing rights), yang tetap dipegang oleh masing-masing pencipta lagu, yaitu Waters, Gilmour, ahli waris Richard Wright, Nick Mason, dan ahli waris Syd Barrett. Gilmour memberi tahu Rolling Stone bahwa motif utamanya bukan uang, melainkan kelelahan.

“Saya hanya ingin keluar dari kubangan lumpur perselisihan yang sudah berlangsung sangat lama ini.” ungkap Gilmour.

David Gilmour. Getty Images

Siapa yang Menang?

Lantas, siapa yang memenangkan perebutan merek dagang ini? Waters menukarkan nama band dengan konsep ‘The Wall’ dan berhasil meraup hampir setengah miliar dolar dari turnya. Sementara itu, Gilmour mempertahankan nama Pink Floyd, menggunakannya untuk menelurkan tiga album berpenghasilan besar, melakukan tur dunia dan kemudian menjual sisa aset yang tersisa kepada Sony seharga $400 juta lagi.

Jadi, bisa dikatakan keduanya memenangkan pertempuran hukum ini dengan cara mereka masing-masing. Kendati demikian, mereka berdua tetap tidak saling berbicara sampai sekarang. Pada akhirnya, satu-satunya pihak yang benar-benar kalah adalah para penggemar, yang kemungkinan besar tidak akan pernah lagi memiliki kesempatan untuk melihat Pink Floyd tampil bersama Roger Waters di atas panggung atau mendengarkan album baru dari mereka.

Artikel Terkait