Musisi

Symphony of Destruction, Perjalanan Dave Mustaine Menaklukkan Kegelapan, Metallica dan Kanker Tenggorokan

MUSIKPLUS – Bagi dunia musik cadas, nama Dave Mustaine adalah sebuah monumen. Ia adalah salah satu arsitek utama yang ikut merancang blue print thrash metal, sebuah genre yang menggabungkan kecepatan antara riff gitar dan distorsi rock dengan presisi serta agresi heavy metal. Namun, di balik kecepatan jemarinya di atas gitar dan karakter vokalnya yang sinis, kehidupan Mustaine adalah sebuah melodrama yang dipenuhi oleh pengkhianatan, ketergantungan zat terlarang, cedera medis yang mengancam karier, hingga pertarungan melawan maut.

Dalam wawancara mendalam bersama Gibson TV dalam serial Icons, Dave Mustaine membuka lembaran memoar hidupnya secara blak-blakan. Mulai dari masa kecilnya yang terlunta-lunta di California, memori getir saat dikeluarkan dari Metallica, masa-masa susah saat mendirikan Megadeth, hingga bagaimana ia berhasil selamat dari vonis kanker tenggorokan. Ini adalah kisah tentang seorang pria yang menolak untuk menyerah, bahkan ketika takdir berulang kali mencoba menjatuhkannya.

Masa Kecil yang Keras di La Mesa

Dave Mustaine lahir di La Mesa, California, pada tanggal 13 September 1961. Masa kecilnya jauh dari kata ideal atau normal. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang hancur berantakan akibat perceraian kedua orang tuanya. Kehidupan pribadinya kian kelam karena baik ayah maupun ibunya adalah pecandu alkohol berat.

“Ibuku adalah seorang pecandu alkohol yang berfungsi (functioning alcoholic). Aku bahkan tidak pernah menyadarinya secara langsung sampai dia meninggal, baru aku tahu bahwa dia bisa minum dalam jumlah yang luar biasa layaknya orang normal,” kenang Mustaine.

Akibat situasi rumah tangga yang tidak stabil dan ancaman dari sang ayah yang kerap melacak keberadaan mereka, Mustaine dan ibunya harus hidup berpindah-pindah. Mereka sering menumpang di rumah kerabat atau kakak-kakak perempuannya yang usianya terpaut sangat jauh.

“Sangat aneh ketika kami tinggal bersama kakak perempuanku. Begitu ayahku menemukan tempat persembunyian kami, kami harus segera berkemas, pindah ke tempat tinggal sementara dengan kerabat lain sampai bisa menemukan apartemen baru,” ujarnya.

Ketidakstabilan ini memaksa Mustaine untuk mandiri dalam usia yang sangat muda. Pada umur 15 tahun, ia sudah keluar dari rumah ibunya dan hidup sebatang kara di jalanan Orange County. Kehidupan jalanan yang keras membuatnya akrab dengan kenakalan remaja, yang berujung pada rangkaian pengusiran dari institusi pendidikan. Ia dikeluarkan dari sekolah menengah atas, pindah ke sekolah malam namun kembali dipecat, hingga akhirnya didepak dari junior college. Dunia mengaturnya untuk menjadi statistik anak nakal yang gagal, sampai akhirnya ia menemukan pelarian terbaiknya, yaitu gitar listrik.

Metallica era Dave Mustaine. Getty Images

Pengaruh dari Kakak Ipar hingga Trinitas Rhythm

Ketertarikan Mustaine pada musik tidak tumbuh dari ruang hampa. Di tengah pengasingan keluarganya, kakak perempuannya, Debbie, sering bermain piano di rumah.

“Dia mencoba bermain piano, dan aku akhirnya mengambil gitar yang tergeletak di sana hanya karena itu menyenangkan, dan entah bagaimana, gitarku membuat permainan pianonya terdengar jauh lebih baik,” kenang Mustaine.

Selera musik Mustaine dibentuk oleh generasi yang lebih tua darinya. Kakak iparnya, Stan, seorang polisi lalu lintas California Highway Patrol yang kerap berpatroli di Pacific Coast Highway, memiliki koleksi piringan hitam yang luar biasa. Melalui Stan, Mustaine muda terpapar gelombang British Invasion serta grup-grup vokal Amerika seperti Frankie Valli. Sementara itu, kakak-kakak perempuannya sangat menyukai musik keluaran Motown. Kombinasi inilah yang secara tidak langsung memberikan pengaruh unik pada musik Megadeth di kemudian hari. Mustaine mengakui bahwa elemen Rhythm and Blues (R&B) dan Motown memberikan ketukan berenergi (bounce) yang jarang dimiliki oleh band metal lain.

Ketika Mustaine mulai serius mendalami gitar pada usia 13 tahun, ia bahkan belum memahami dikotomi teknis dalam sebuah band rock.

“Aku tidak tahu perbedaan antara pemain gitar ritem dan gitar utama (lead),” akunya jujur.

Namun, begitu ia menyadari bahwa keduanya adalah peran yang berbeda, karakter ambisiusnya langsung bergolak, Mengapa tidak mempelajari keduanya sekaligus dan menjadi pemain yang paling lengkap serta atletis?.

Dalam perjalanannya, Mustaine mengembangkan standar yang sangat tinggi untuk gitar ritem. Baginya, fondasi sebuah lagu metal terletak pada presisi ritem, bukan sekadar solo yang cepat. Ia menyebut mendiang Malcolm Young dari AC/DC sebagai kiblat utamanya.

“Bagi saya, pemain gitar ritem nomor satu di dunia adalah Malcolm Young. Dan jika kita berbicara tentang dunia metal, saya selalu melihat adanya ‘Trinitas Gitar Ritem’ di dunia ini: Malcolm Young, James Hetfield, dan saya sendiri,” ujar Mustaine tanpa ragu.

Sementara untuk permainan gitar utama, ia menyerap energi agresif dari Angus Young, Ace Frehley (KISS), Ted Nugent, Jimmy Page (Led Zeppelin), hingga George Harrison (The Beatles).

Dave Mustaine. Getty Images

Tragedi Bersama Panic dan Panggilan Iklan The Recycler

Sebelum namanya melambung, band serius pertama yang didirikan Mustaine bernama Panic. Band ini memiliki potensi besar dengan seorang vokalis berbakat yang mampu mencapai nada-nada tinggi. Namun, Panic tampaknya dikutuk oleh nasib buruk. Kematian dan kehancuran membayangi setiap jengkal langkah mereka.

Usai menjalani konser pertama mereka di Dana Point, sebuah tragedi mengerikan terjadi dalam perjalanan pulang. Sang drummer yang mengemudikan mobil tertidur di balik kemudi saat melintasi Pacific Coast Highway di Huntington Beach. Mobil tersebut menabrak kotak trafo lalu lintas dan terbalik miring. Sang penata suara (sound man) patah leher dan tewas seketika, sementara sang drummer terjebak di kursi belakang saat mobil meledak terbakar, ia meninggal tidak lama kemudian. Seolah belum cukup, beberapa waktu setelahnya, pemain gitar Panic yang lain juga mengalami kecelakaan mobil tragis dan merenggut nyawanya.

“Hanya tersisa aku dan sang vokalis dari band itu,” kata Mustaine.

Di tengah rasa frustrasi dan konsumsi alkohol serta narkotika yang kian meningkat seiring popularitas lokal mereka, Mustaine menyadari ia harus keluar dari lingkaran setan tersebut dan mencari sesuatu yang baru.

Momen perubahan itu datang ketika ia membuka lembaran The Recycler, sebuah surat kabar iklan baris legendaris di kawasan Los Angeles dan Orange County. Di sana, ia melihat sebuah iklan singkat: Dicari pemain gitar utama yang menyukai Motorhead dan Saxon.

Mustaine mengangkat telepon, menghubungi nomor tersebut, dan di ujung telepon, seorang pemuda bernama James Hetfield menjawabnya. Percakapan awal itu langsung mencair ketika keduanya menemukan kecocokan selera musik yang mendalam, mulai dari kekaguman mereka pada band Inggris Budgie, Saxon, hingga Motorhead.

Era Singkat di Metallica, Percikan Api dan Pengusiran Getir

Mustaine resmi bergabung dengan Metallica pada hari-hari awal pembentukannya. Formasi awal yang terdiri dari James Hetfield, Lars Ulrich, Dave Mustaine, dan Ron McGovney (pada bass) mulai merumuskan musik yang lebih cepat dari apa pun yang ada di kancah rock L.A. saat itu. Mustaine membawa agresi mentah dan kecakapan teknis yang luar biasa.

“Lagu pertama yang kami garap bersama adalah lagu yang sudah kuselesaikan sendiri, dan James juga membawa lagunya yang sudah selesai,” kenang Mustaine mengenai proses kreatif awal mereka. Rekaman demo pertama mereka, No Life ‘Til Leather, menjadi sensasi bawah tanah. Gaya bermain Mustaine yang meledak-ledak di lagu-lagu awal tersebut langsung mencuri perhatian dunia metal.

Baca Juga :  Jejak Visual Sang Maestro Drum, Tommy Aldridge Dari Ozzy Osbourne Hingga Whitesnake

“Aku hanya berpikir, jika aku diberi kesempatan melakukan solo gitar di lagu ini, aku akan bermain secepat dan seliar mungkin. Itulah cara aku menancapkan namaku di peta musik metal,” tegasnya.

Mengenang masa-masa itu, Mustaine menyebut bahwa dari mereka berempat, sang pemain bass awal, Ron McGovney, adalah sosok yang paling membumi dan dapat diandalkan. Namun, dinamika band bergeser secara masif ketika mereka menyaksikan permainan bass Cliff Burton dalam kaset demo band bernama Trauma. Meskipun Trauma bukanlah band yang istimewa bagi Mustaine, kemampuan Cliff adalah sesuatu yang magis.

Ketika Cliff Burton akhirnya setuju bergabung menggantikan Ron dan mereka melakukan latihan pertama, Mustaine merasakan sebuah letupan energi yang belum pernah ada sebelumnya.

“Ada percikan api yang luar biasa. Gaya permainanku tiba-tiba bisa menonjol di antara dentuman drum Lars, berbaris sejajar dengan ritem James, dan Cliff menjadi konektor aneh yang menyatukan seluruh elemen itu menjadi berfungsi sempurna,” kata Mustaine.

Namun, harmoni musikal itu tidak sejalan dengan hubungan personal mereka. Ego yang besar, usia yang masih sangat muda, serta ketergantungan berat pada alkohol membuat ketegangan di dalam band mencapai titik didih.

“Kami berempat memiliki bakat dan kepribadian yang terlalu besar. Kami ditakdirkan untuk meledak pada satu titik,” akunya.

Ledakan itu terjadi pada April 1983 di New York, tepat sebelum Metallica merekam album debut mereka, Kill ‘Em All. Tanpa peringatan awal, Hetfield dan Ulrich membangunkan Mustaine, menyodorkan tiket bus satu arah kembali ke California, dan menyatakan bahwa ia dipecat dari band.

Pengusiran itu menjadi trauma emosional terdalam dalam hidup Mustaine. Perjalanan pulang menggunakan bus selama berhari-hari dari New York menuju California terasa seperti neraka yang panjang dan berbahaya. Rasa sakitnya kian parah ketika ia harus menyaksikan dari jauh bagaimana Metallica meroket menuju puncak popularitas dunia menggunakan lagu-lagu yang ikut ia ciptakan.

“Melihat kesuksesan mereka sangatlah berat. Mereka bisa saja berhenti main musik dan mulai memproduksi kue Twinkies, dan aku akan tetap merasa cemburu, karena kami pernah menjadi sahabat dan tiba-tiba kami bukan lagi teman,” tutur Mustaine dengan nada getir.

“Aku belum pernah merasa menjadi seseorang yang istimewa dalam hidupku sampai aku memegang gitar dan berada di band itu. Ketika band itu mengusirku, aku merasa seolah-olah eksistensiku ikut lenyap.” ujarnya.

Megadeth. Getty Images

Kelahiran Megadeth dari Secarik Kertas di Lantai Bus

Di dalam bus yang membawanya pulang dalam keputusasaan, tanpa mentor, dan tanpa satu orang pun yang bisa diajak berbagi, Dave Mustaine melakukan kontemplasi batin yang mendalam. Alih-alih menyerah dan membuang gitarnya, rasa sakit hati itu ia ubah menjadi bahan bakar kemarahan yang kreatif.

“Aku mengambil keputusan, aku akan mendirikan sebuah band yang jauh lebih metal daripada Metallica!” seru Mustaine.

“Dan aku harus menemukan sebuah nama yang terdengar lebih metal daripada band yang memiliki kata ‘metal’ di namanya.” bebernya.

Saat bus melintasi perbatasan negara bagian, mata Mustaine tertuju pada secarik kertas yang tergeletak di lantai bus. Kertas tersebut ternyata adalah pamflet politik milik Senator AS, Alan Cranston. Di dalam pamflet itu, terdapat sebuah kalimat peringatan mengenai ancaman senjata nuklir yang berbunyi: “The arsenal of megadeath cannot be rid…” (Gudang senjata megadeath tidak dapat dihilangkan).

Kata “Megadeath” yang berarti satuan representasi kematian satu juta jiwa akibat ledakan nuklir, langsung menyengat otak Mustaine. “Aku berpikir, itu adalah nama yang luar biasa untuk sebuah lagu,” katanya.

Ia kemudian membuang huruf ‘a’ menjadi Megadeth, sebuah nama yang kelak akan menjadi salah satu pilar terbesar dalam sejarah musik ekstrem. “Hari ini, aku bersyukur atas perjalanan bus yang panjang itu. Apa pun yang menjadi pemicu awal malam itu, aku bersyukur tidak mendengarkan suara-suara kecil di kepalaku yang mengatakan bahwa aku tidak berguna dan pantas dipecat,” renungnya.

Menembus Batas, Menjadi Vokalis yang “Tak Sengaja”

Kembali ke California, kehidupan pasca-Metallica berjalan sangat lambat dan berat. Mustaine harus berhati-hati agar tidak melakukan kesalahan fatal yang bisa menghancurkan reputasi barunya. Ia mulai menulis materi lagu baru, termasuk sebuah lagu berjudul Mega Death yang di kemudian hari diganti judulnya menjadi Set The World Afire.

Pada awalnya, Megadeth sempat memiliki seorang vokalis wanita bernama Lor Kane. Saat melihat lembaran lirik yang ditulis Mustaine, Lor berkata, “Hei kawan, mengapa kita tidak menamai band ini Megadeth saja?”

Mustaine setuju karena sebelumnya ia sempat ingin menggunakan nama-nama asing bernuansa teatrikal yang provokatif, namun ia sadar meneriakkan kata-kata seperti “api” dan “bom” di depan puluhan ribu penonton justru akan memicu kepanikan massal di ruang publik.

Satu hal yang menarik: Dave Mustaine tidak pernah berencana atau bercita-cita menjadi seorang penyanyi. Impian terbesarnya hanyalah menjadi seorang gitaris utama yang berdiri di sisi panggung, menikmati kebebasan berekspresi tanpa beban memimpin sebuah pertunjukan. Namun, setelah melakukan audisi demi audisi dan tidak menemukan satu pun vokalis yang mampu menyampaikan amarah dan intensitas lagu-lagu Megadeth, kejenuhan melanda band.

Momen krusial itu terjadi pada sebuah malam tahun baru di Curly Joe’s Studio di kawasan San Fernando Valley. Di tengah kebuntuan audisi, mendiang drummer Gar Samuelson menatap Mustaine dan berkata, “Mengapa tidak kamu saja yang mencoba bernyanyi?”.

Mustaine akhirnya melangkah maju ke depan mikrofon. Pengalaman pertama itu diakuinya sangat menyiksa secara fisik.

“Itu benar-benar sangat menyakitkan. Aku sama sekali tidak tahu teknik vokal atau cara bernapas yang benar. Aku hanya berteriak sepanjang waktu,” kenangnya sambil tertawa.

“Begitu aku menarik napas, aku langsung memuntahkannya kembali dalam bentuk teriakan secepat mungkin. Aku seperti tercekik dan tenggelam dalam napasku sendiri. Ketika lagu selesai, rasanya seolah-olah ada paku raksasa yang dihujamkan menembus bola mataku.”.

Gaya vokal serak, sinis, dan penuh geraman (snarl) yang tidak sengaja tercipta malam itu justru menjadi salah satu identitas paling ikonik dalam sejarah musik rock.

Realitas Industri, Kontrak Murah dan Album Pertama Senilai 4.000 Dolar

Ketika Megadeth mulai menarik perhatian industri, label rekaman independen Combat Records berniat mengontrak mereka. Ironisnya, para petinggi label bahkan belum pernah melihat Megadeth tampil secara langsung. Mustaine menceritakan sebuah anomali jenaka saat mereka mendatangi kantor label di New York dengan sikap acuh tak acuh dan cenderung kasar. Mereka sempat keluar dari kantor dan berjalan kaki menuju mobil Volkswagen Bug milik manajer mereka, Jay Jones, sebelum akhirnya eksekutif label bernama Cliff Cultreri berlari mengejar mereka di jalanan dan meminta mereka kembali ke dalam untuk menandatangani kontrak.

Baca Juga :  Efek Domino Mesias Jazz, Bagaimana Miles Davis dan John Coltrane Rubah Wajah Musik Rock Dunia

Namun, anggaran yang diberikan untuk merekam album debut Killing Is My Business… and Business Is Good! (1985) sangatlah minim dan dianggap Mustaine sebagai sebuah “penghinaan”. Masalah kian pelik ketika mereka memilih merekamnya di Moody Blues Studio di Malibu yang bertarif mahal. Di tengah jalan, sang manajer Jay Jones dan gitaris Chris Poland menghabiskan lebih dari setengah total anggaran album hanya untuk membeli narkotika.

“Kami akhirnya terpaksa menyelesaikan album Killing Is My Business hanya dengan sisa uang sebesar 4.000 dolar,” ungkap Mustaine.

Dalam kondisi panik, ia menelepon pihak label mengabarkan bahwa mereka kehabisan dana. Beruntung, pihak label mengirimkan produser Karat Faye untuk mengambil alih kendali dari Jay Jones yang dipecat, dan bersama teknisi Casey McMakin, mereka berhasil menyelesaikan album legendaris tersebut di tengah keterbatasan ekstrem.

Ketergantungan zat kimia ini terus membayangi tur-tur awal Megadeth. Chris Poland bahkan sempat absen di tengah tur karena masalah hukum atau medis, memaksa Mustaine melakukan kursus kilat untuk mengajari gitaris pengganti, Mike Albert (mantan gitaris Captain Beefheart). Tur awal ini dipenuhi kegilaan; mereka kerap tidak dibayar dengan uang, melainkan dengan beberapa kendi bir, serta bergantung pada kemurahan hati para penggemar lokal yang memberi mereka uang bensin dan makanan agar bisa mencapai kota berikutnya.

Mustaine mengenang masa kelam di Texas ketika mereka kehabisan bensin dan uang untuk menginap di hotel. Saat ia menelepon label untuk meminta bantuan darurat, sang eksekutif di ujung telepon justru mencemoohnya dan berkata, “Kamu lebih baik pulang dan mencari pekerjaan harian saja.” Kalimat itu menyulut api kemarahan besar dalam diri Mustaine.

Rasa frustrasi akibat kemiskinan dan ketiadaan tempat tinggal membuahkan salah satu mahakarya terbesar Megadeth: Peace Sells… But Who’s Buying? (1986). Lirik lagu ikonik tersebut ditulis oleh Mustaine menggunakan pena tebal langsung di dinding sebuah gedung latihan kumuh di Vernon, California, tempat ia menumpang hidup karena berstatus tunawisma.

“Gedung itu sangat mengerikan. Tidak ada makanan, tidak ada kulkas, tidak ada pancuran air, tidak ada apa-apa,” kenang Mustaine.

Inspirasi judul lagu itu datang ketika ia membaca majalah Reader’s Digest yang tergeletak di sana, memuat artikel wawancara musisi Patti Smith. Patti berbicara tentang bagaimana perdamaian ditawarkan namun tidak ada yang membelinya (“Peace sells, but nobody’s buying”). Mustaine memodifikasi kalimat tersebut menjadi sebuah kritik politik tajam yang meroketkan nama Megadeth ke orbit arus utama.

Dave Mustaine. Getty Images

Era Emas, Kehadiran Marty Friedman, Nick Menza, dan Formula 120 BPM

Keberhasilan Peace Sells membawa Megadeth masuk ke dalam radar label raksasa, Capitol Records. Meskipun sempat ragu karena Capitol identik dengan label yang menaungi The Beach Boys dan Frank Sinatra, Mustaine akhirnya menandatangani kontrak besar tersebut. Namun, stabilitas di label besar juga menyajikan tantangan tersendiri; selama 17 tahun bernaung di sana, Megadeth harus menghadapi pergantian presiden direktur sebanyak tujuh kali.

Perubahan formasi terbesar terjadi menjelang pembuatan album Rust in Peace (1990). Setelah memecat Chuck Beeler, mereka mengangkat Nick Menza, yang awalnya hanyalah seorang teknisi drum untuk band, menjadi drummer utama setelah menunjukkan kemampuan pukulan yang luar biasa.

Sementara untuk posisi gitaris utama, pencarian berlangsung selama hampir tiga tahun. Manajer mereka saat itu, Ron Lafitte, memiliki kaset album solo gitaris bernama Marty Friedman yang berjudul Dragon’s Kiss. Awalnya, Mustaine menolak mentah-mentah melihat penampilan Marty di sampul album dengan rambut dua warna yang aneh. Namun, setelah mengalami kejenuhan akibat audisi puluhan gitaris amatir yang payah, Mustaine akhirnya bersedia memutar kaset Marty.

“Aku mendengarkannya dan langsung terperangah. Oh Tuhan, orang ini luar biasa! Apakah dia benar-benar ingin bermain bersama kita?” kenang Mustaine penuh antusias.

Keesokan harinya, Marty Friedman datang ke studio latihan. Untuk menguji kemampuannya, Mustaine meminta teknisi gitarnya memasang dua tumpukan unit amplifier Marshall.

Ia menginstruksikan Marty: “Ketika tiba waktunya bagian solomu, injak tombol merah ini, karena itu akan menggabungkan kedua amplifier ini dan aku ingin mendengar apa yang bisa kamu lakukan.”.

Marty mulai memetik gitarnya. “Begitu dia menginjak tombol itu dan melakukan solo, rasanya seolah-olah langit terbuka dan para malaikat turun dari surga untuk bernyanyi,” ujar Mustaine takjub.

“Saat itu aku tahu, aku tidak perlu lagi berkompromi dengan musisi yang biasa-biasa saja. Marty Friedman adalah sosok yang eksotis, fantastis, dan jenius.”. Formasi Mustaine, Friedman, Ellefson dan Menza kelak dinobatkan sebagai formasi klasik terbaik Megadeth yang melahirkan album thrash metal paling sempurna secara teknis sepanjang masa, Rust in Peace.

Kesuksesan komersial tertinggi mereka raih melalui album berikutnya, Countdown to Extinction (1992), di bawah arahan produser Max Norman. Norman adalah produser pertama dalam karier Mustaine yang sangat metodologis, melakukan kurasi ketat pada struktur lagu, modulasi akord, hingga tempo.

Max Norman membawa sebuah formula rahasia industri musik ke dalam album tersebut dan album berikutnya, Youthanasia (1994).

“Max memberi tahu kami sebuah rahasia bahwa tempo 120 ketukan per menit (BPM) adalah tempo magis bagi sebuah lagu agar bisa lolos dan sukses di radio,” ungkap Mustaine.

Meskipun formula ini terbukti menghasilkan album bersertifikasi Double Platinum, Mustaine diam-diam membenci pembatasan tempo tersebut. Ketika proses pasca produksi album Youthanasia selesai, ia sengaja mempercepat tempo seluruh lagu di master rekaman karena ia merasa Megadeth kehilangan jati diri agresifnya jika bermain terlalu lambat.

Dave Mustaine. Getty Images

Menatap Liang Lahat, Overdosis di Arizona dan Kelumpuhan Saraf

Di puncak kesuksesan komersial pada tahun 1992, Megadeth menggelar tur besar bersama Stone Temple Pilots (STP). Namun, di balik kemegahan panggung, Mustaine kembali terjebak dalam ketergantungan narkotika yang parah. Ia mengenang bagaimana ia mencoba menasihati Scott Weiland (vokalis STP) untuk menjauhi heroin, namun ironisnya, ia sendiri justru gagal membentengi dirinya sendiri.

Tekanan mental kian memuncak ketika album Countdown to Extinction tertahan di posisi nomor dua tangga lagu Billboard, gagal menggeser album country milik Billy Ray Cyrus yang berada di puncak.

“Itu membuatku sangat marah. Berada di posisi nomor dua dan tidak bisa menggoyahkannya membuatku merasa frustrasi,” akunya.

Kondisi fisik dan mental yang hancur membuat sang istri terpaksa menyusulnya ke lokasi tur, menatap matanya, dan berkata, “Kamu harus pulang sekarang juga.”. Tur dibatalkan, dan Mustaine diterbangkan ke sebuah pusat rehabilitasi di Wickenburg, Arizona.

Di sanalah, sebuah peristiwa medis fatal terjadi. Dave Mustaine mengalami overdosis parah yang secara klinis sempat menghentikan detak jantungnya.

“Aku benar-benar dinyatakan mati di sana,” ungkapnya datar.

“Tidak ada cahaya biru, tidak ada terowongan putih, tidak ada kaleidoskop, tidak ada apa-apa. Hanya kegelapan total.”. kenangnya.

Ia terbangun beberapa hari kemudian di ranjang rumah sakit dengan kondisi linglung. Melihat hamparan kaktus dari balik jendela gurun Arizona, pikiran pertamanya adalah sebuah delusi parah: ia mengira dirinya telah diculik dan dibuang di Meksiko. Seorang perawat masuk dan berkata penuh haru, “Nak, kami sempat mengira telah kehilanganmu selamanya.”. ujarnya.

Baca Juga :  Bagaimana Jacob Deraps Menghidupkan Kembali Sihir Brown Sound Gitar Eddie Van Halen?

Sang istri dan sahabatnya segera datang setelah sebelumnya mendapat kabar dari pihak rumah sakit bahwa Mustaine telah tiada.

“Momen itu menyadarkanku. Aku belum siap untuk mati, aku belum rela meninggalkan keluargaku karena tindakan bodohku sendiri,” tuturnya.

Setelah berhasil melewati jerat narkotika, takdir kembali menguji komitmen bermusik Mustaine pada tahun 2002 melalui sebuah cedera aneh yang dikenal secara medis sebagai Saturday Night Palsy (Kelumpuhan Malam Minggu).

Peristiwa itu terjadi saat ia tertidur di atas sebuah kursi dengan posisi lengan kiri tersampir di sandaran kursi. Posisi tersebut memutus aliran darah dan menekan saraf radial (radial ulna nerve) yang melintasi tulang bisepnya dalam waktu yang sangat lama. Akibatnya, jaringan sarafnya hancur layaknya sedotan plastik yang dikunyah habis.

“Dokter memberi tahu bahwa aku mungkin hanya bisa memulihkan 80 persen fungsi lenganku. Dan ketika aku bertanya apakah 80 persen itu cukup untuk bermain gitar lagi, dokter itu menatapku dan berkata, ‘Oh tidak nak, kamu tidak akan pernah bisa bermain gitar lagi. 80 persen itu hanyalah kemampuan untuk menggunakan lenganmu dalam kehidupan sehari-hari jika kamu beruntung.'” kenang Mustaine.

Vonis tersebut memaksa Megadeth untuk bubar sementara waktu pada tahun 2002. Dunia berasumsi karier Dave Mustaine telah tamat. Namun, Mustaine menolak pasrah pada vonis medis.

“Apakah secara jujur aku pernah membiarkan diriku berpikir bahwa aku tidak akan pernah bermain gitar lagi? Jawabannya adalah tidak,” tegasnya.

“Aku memang merasa takut, dan aku tidak tahu kapan aku bisa bermain lagi, tetapi aku tidak pernah menerima pikiran bahwa aku sudah selesai.”.

Melalui terapi fisik intensif yang menyakitkan selama berbulan-bulan dan melatih ulang otot-otot tangkannya dari nol, sebuah keajaiban terjadi. Saraf lengannya beregenerasi secara bertahap. Mustaine berhasil merebut kembali kemampuan bermusiknya, menghidupkan kembali Megadeth, dan merilis album The System Has Failed pada tahun 2004 sebagai pembuktian bahwa sang arsitek thrash metal telah kembali.

Badai Terakhir, Menundukkan Kanker Tenggorokan Stage 12

Belasan tahun setelah kelumpuhan lengannya, pada tahun 2019, sebuah awan hitam kembali menggelayuti hidup Mustaine. Ia merasakan rasa sakit yang luar biasa di rahang bawah bagian kiri. Awalnya, ia mengira itu hanyalah kesalahan prosedur pemesangan mahkota gigi atau ada serpihan alat medis yang tertinggal di dalam gusinya.

Setelah kunjungan ke dokter gigi tidak membuahkan hasil, ia dirujuk ke seorang ahli bedah mulut. Di sana, setelah dibuat menunggu lama, dokter tersebut masuk dan memberikan kalimat yang membuat tubuh Mustaine membeku: “Sepertinya kamu memiliki masalah besar, kamu harus segera menemui ahli THT untuk memastikan.”.

Dokter spesialis THT kemudian melakukan pemeriksaan scope ke dalam hidungnya. Prosedur itu sangat menyakitkan hingga membuat Mustaine muntah, memaksa dokter membius total dirinya untuk mengambil sampel jaringan. Dua minggu kemudian, hasil tes keluar: Dave Mustaine positif mengidap tumor ganas (kanker) di sisi kiri tenggorokannya, yang telah menyebar ke dua kelenjar getah bening di sisi kanan.

Pihak rumah sakit MD Anderson di Texas meminta Mustaine untuk menetap selama 11 minggu guna menjalani perawatan intensif. Namun, Mustaine menolaknya karena enggan menghabiskan sisa waktu yang mungkin terbatas jauh dari anak dan istrinya. Ia memilih pulang ke rumah dan menjalani perawatan radiologi serta kemoterapi di bawah pengawasan tim dokter lokal di bawah pimpinan Vandenberg.

Selama masa-masa kemoterapi yang melelahkan, Mustaine mendapat suntikan moral dari sesama penyintas kanker di dunia metal, Bruce Dickinson (vokalis Iron Maiden). Bruce memberikan nasihat berharga agar Mustaine mematuhi seluruh instruksi dokter secara perfeksionis agar pita suaranya bisa terselamatkan.

“Ketika kanker melanda untuk kedua kalinya dalam hidupku, aku berpikir: Aku tidak ingin meninggalkan istriku sendirian. Aku tidak ingin anak-anakku kehilangan ayah mereka hanya karena aku lalai dalam menjalani terapi,” kata Mustaine.

Disiplin yang ketat dan mentalitas petarung kembali membuahkan hasil. Pada awal tahun 2020, Dave Mustaine resmi dinyatakan bersih dan bebas dari kanker (cancer free). Meskipun tubuhnya sangat lemah dan ia harus berjuang mengembalikan staminanya dengan mengonsumsi chocolate shake setiap hari untuk menjaga berat badannya, suaranya justru kembali dengan karakter yang lebih kuat dan matang. Kemenangan ini dirayakannya dengan meluncurkan album Megadeth yang penuh amarah politik, The Sick, the Dying… and the Dead! (2022).

Dave Mustaine. Getty Images

Warisan dan Refleksi Sang Dewa Gitar

Di usianya yang telah melewati kepala enam, Dave Mustaine kini memandang hidup dengan perspektif yang jauh lebih bijaksana. Hubungannya dengan para personel Metallica yang dulu dipenuhi kebencian membara selama puluhan tahun, kini telah mencair dan berubah menjadi jalinan rasa hormat sesama veteran perang industri musik.

“Persahabatan kami hari ini sangat berbeda dari masa-masa kelam itu. Kami semua sekarang sudah menjadi ayah, kami sudah menua, dan kami melihat sesuatu dengan cara yang berbeda,” tuturnya penuh kedamaian.

Ketika merenungkan kontribusinya bagi dunia musik, Mustaine merasa tersanjung melihat bagaimana gaya permainannya telah memengaruhi jutaan band di seluruh dunia, baik amatir maupun sesama anggota kelompok The Big Four (Metallica, Megadeth, Slayer, Anthrax). “Ada orang-orang di keempat band terbesar itu yang terpengaruh oleh cara bermain gitarku. Dan jika kamu menghitung berapa juta band yang terinspirasi oleh Big Four, maka warisan musikku sudah tertanam kuat di sana,” ujarnya bangga.

Di balik citranya sebagai pria yang keras, sarkastik, dan kontroversial di media massa, Mustaine menyelipkan sebuah pesan emosional bagi para penggemarnya di seluruh dunia:

“Aku berharap orang-orang di luar sana tahu bahwa aku bukanlah monster besar yang menakutkan seperti yang sering dicitrakan. Mereka bisa datang, menyapaku, dan aku tidak akan membakar mereka. Gitar adalah cinta pertamaku. Hal terbesar yang masih kusukai dari memegang gitar adalah kemampuanku untuk membuat orang berhenti dari apa yang mereka lakukan, menunggu, dan menonton. Aku ingin musikku membantu membebaskan mereka, memberikan mereka cara untuk merasa terlepas dari beban hidup. Kita semua harus menemukan ritme dan frekuensi hidup kita sendiri.” harapnya.

Dave Mustaine telah melewati api penyucian berulang kali dalam hidupnya. Ia diusir, dibuang, mati suri, lumpuh, hingga digerogoti kanker. Namun, seperti judul salah satu lagu terbaiknya, ia selalu berhasil bangkit dari abu kehancuran, membuktikan bahwa selama jemarinya masih bisa mencengkeram fretboard gitar, simfoni penghancuran miliknya belum akan berakhir. Ia menargetkan untuk terus membuat musik dan menjalani tur setidaknya selama sepuluh tahun ke depan, dan melihat rekam jejaknya menaklukkan maut, tidak ada satu orang pun yang berani meragukan janji tersebut.

Artikel Terkait

1 of 2