Penulis: Redaksi Musik+

  • “Kupeluk Kamu Selamanya” — Ketika Cinta Ibu Tidak Pernah Punya Titik Akhir

    “Kupeluk Kamu Selamanya” — Ketika Cinta Ibu Tidak Pernah Punya Titik Akhir

    MUSIK+ – Ada film yang selesai saat lampu bioskop menyala. Tapi ada juga yang masih “tinggal” di kepala penonton jauh setelah kredit terakhir bergulir. “Kupeluk Kamu Selamanya” termasuk yang kedua.

    Film ini tidak berusaha jadi megah atau terlalu dramatis secara berlebihan. Ia justru menang lewat sesuatu yang lebih sederhana tapi lebih sulit: kejujuran emosional.

    Di pusat cerita, kita mengikuti Naya—ibu tunggal yang hidupnya tidak pernah benar-benar tenang sejak masa lalunya kembali mengetuk pintu. Ancaman terbesar datang bukan dari dunia luar, tapi dari satu hal yang paling ia cintai: anaknya, Aksa.

    Performa Hana Malasan sebagai Naya adalah titik paling kuat film ini. Ia tidak bermain aman. Ada getar yang konsisten di setiap adegan—antara takut, lelah, tapi juga keras kepala untuk tetap bertahan. Beberapa momen bahkan terasa terlalu “nyata”, sampai penonton mungkin tanpa sadar ikut menahan napas.

    Konflik mulai mengeras saat Bagaskara yang diperankan Ibnu Jamil hadir sebagai figur yang mengganggu keseimbangan hidup Naya. Film ini cerdas tidak menjadikannya sekadar antagonis. Ia manusia dengan logika sendiri—dan justru itu yang membuat konflik terasa lebih menyakitkan.

    Di balik layar, sentuhan debut produser Dinda Hauw memberi nuansa yang cukup segar pada pendekatan cerita, sementara arahan Pritagita Arianegara menjaga ritme agar emosi tidak jatuh jadi melodrama kosong. Ada kontrol yang rapi di tengah potensi cerita yang mudah “meledak”.

    Yang menarik, film ini tidak menggurui. Ia tidak sibuk memberi jawaban, tapi justru mengajak penonton berdiri di tengah dilema: sampai sejauh mana seorang ibu bisa dan harus berjuang?

    Namun, bukan berarti film ini tanpa celah. Beberapa transisi emosional terasa sedikit dipercepat, terutama di paruh tengah. Ada ruang yang sebenarnya bisa lebih dalam digali, tapi dilewati cukup cepat demi menjaga durasi tetap padat.

    Meski begitu, kekuatan utamanya tetap dominan: emosi yang jujur dan tidak dibuat-buat.

    Pada akhirnya, “Kupeluk Kamu Selamanya” bukan hanya tentang perebutan hak asuh. Ini tentang rasa memiliki, kehilangan, dan cinta yang tidak pernah benar-benar tahu kapan harus berhenti.

    Dan kalau kamu termasuk orang yang mudah “kebawa suasana”, siapkan satu hal sederhana sebelum nonton: tisu. Banyak.

  • Groovify Debut Lewat “Menunggu Bersamamu”: Patah Hati Dibungkus City Pop yang Ceria

    Groovify Debut Lewat “Menunggu Bersamamu”: Patah Hati Dibungkus City Pop yang Ceria

    MUSIK+ – Band pendatang baru asal Semarang, Groovify, resmi membuka langkahnya di industri musik lewat single perdana berjudul “Menunggu Bersamamu” yang dirilis pada 28 Maret 2026.

    Alih-alih tenggelam dalam sendu, lagu ini justru memutar arah: patah hati dibingkai dengan nuansa ringan, hangat, dan terasa mengalun santai di telinga.

    Di balik liriknya yang bercerita tentang harapan yang tak berbalas, Dana Laga—vokalis sekaligus penulis lirik—memilih pendekatan yang tidak biasa.

    Ia meracik emosi patah hati dengan balutan aransemen yang fun, memadukan sentuhan jazz dengan warna city pop modern yang terasa segar.

    “Walaupun ceritanya tentang putus asa mengejar cinta, kami sengaja bikin aransemennya tetap ceria. Jadi, rasa sedihnya seperti tertutup oleh harapan yang pelan-pelan muncul,” ujar Dana.

    Hasilnya, “Menunggu Bersamamu” tidak sekadar jadi lagu galau. Ia hadir sebagai pengalaman emosional yang lebih elegan—seolah mengajak pendengar berdamai dengan rasa, tanpa harus larut terlalu dalam.

    Patah hati di sini bukan luka, tapi fase yang bisa dinikmati dengan ritme yang tetap hidup.

    Groovify sendiri terbilang wajah baru. Band ini resmi terbentuk pada 19 Februari 2025, beranggotakan Dana Laga (vokal), Adi Kurniawan (gitar), Wahyu Rilnanda (keyboard), Aqeela Razel (drum), Ivan Maulana (bass), Jamesha (perkusi), dan Tasya Sherin (vokal).

    Awalnya, mereka hanya membidik panggung-panggung reguler—kafe, restoran, hingga acara korporat.

    Nama mereka sempat rutin mengisi panggung Ampitheater Awanncosta, POJ City, Semarang, selama hampir setahun.

    Dari situ, jam terbang terbentuk, panggung demi panggung dilalui, hingga akhirnya muncul satu kegelisahan: berhenti jadi band cover, dan mulai bicara dengan karya sendiri.

    “Setelah cukup lama manggung, kami merasa harus punya identitas. Rilis lagu original jadi langkah awal kami untuk benar-benar masuk ke industri,” kata Tasya Sherin.

    Keputusan itu jadi titik balik. Dari panggung ke studio, dari membawakan lagu orang ke menciptakan suara sendiri.

    “Menunggu Bersamamu” pun lahir sebagai penanda: Groovify bukan sekadar band pengisi acara, tapi musisi yang sedang mencari tempatnya di tengah riuh industri.

    Harapannya sederhana, tapi terasa jujur—tetap solid, terus berkarya, dan perlahan membangun warna yang khas di setiap rilisan berikutnya.

    Karena di musik, seperti juga dalam cinta, yang bertahan bukan yang paling cepat, tapi yang paling konsisten menjaga rasa.

  • myBCA Java Jazz 2026: Festival Jazz Terbesar Asia Kembali Digelar

    myBCA Java Jazz 2026: Festival Jazz Terbesar Asia Kembali Digelar

    Musik+ – Ada banyak festival musik di dunia. Sebagian lahir dengan gegap gempita, lalu hilang sebelum sempat menjadi tradisi. Namun ada pula festival yang tumbuh perlahan, membangun reputasi tahun demi tahun, hingga akhirnya menjadi institusi budaya.

    Di Indonesia, nama itu adalah Java Jazz Festival.

    Ketika memasuki tahun ke-21 pada 2026, festival ini bukan lagi sekadar panggung musik. Ia telah menjadi simbol bagaimana sebuah ekosistem industri kreatif bisa bertahan, berevolusi, dan tetap relevan dalam lanskap global yang terus berubah.

    Di tengah persaingan festival musik yang semakin agresif, myBCA International Java Jazz Festival 2026 memilih langkah yang tidak biasa: berevolusi tanpa meninggalkan akar.

    Langkah pertama terlihat dari perubahan skala. Tahun ini festival dipindahkan ke lokasi baru, NICE (Nusantara International Convention Exhibition) PIK 2, Tangerang. Area yang lebih luas ini memungkinkan penyelenggara menghadirkan pengalaman festival kelas dunia yang lebih imersif. Selama tiga hari, 29 hingga 31 Mei 2026, sepuluh panggung besar akan diisi aliran musik yang tidak pernah berhenti.

    Namun perubahan ini bukan sekadar soal ruang.

    Ia adalah sinyal bahwa Java Jazz sedang memasuki fase baru.

    Ekosistem yang Dibangun Dua Dekade

    Dalam dunia festival, umur panjang adalah kemewahan. Banyak event lahir sebagai fenomena sesaat, tetapi gagal membangun fondasi jangka panjang.

    Java Jazz mengambil jalur berbeda.

    Sejak pertama kali digelar pada 2005, festival ini dibangun sebagai ekosistem: mempertemukan musisi internasional, talenta lokal, industri kreatif, sponsor, hingga komunitas penonton lintas generasi.

    Kolaborasi ini lebih dari sekadar sponsor. Ini kemitraan strategis untuk keberlanjutan ekosistem kreatif Indonesia,” ujar Dewi Gontha, Direktur Utama Java Festival Production.

    Selama dua dekade, festival ini telah menghadirkan ratusan musisi kelas dunia. Dari legenda jazz hingga bintang pop dan soul modern.

    Lebih penting lagi, Java Jazz menciptakan ruang bagi musisi Indonesia untuk tampil di panggung yang sama dengan artis internasional.

    Di situlah letak kekuatan sebenarnya: panggung global yang tetap berpijak di tanah sendiri.

    Ketika Brand dan Musik Bertemu

    Masuknya myBCA sebagai sponsor utama menandai babak baru dalam hubungan antara industri musik dan sektor keuangan digital.

    Di era ekonomi kreatif, festival musik bukan lagi sekadar hiburan. Ia adalah platform ekonomi.

    Bagi BCA, kolaborasi ini merupakan cara untuk terlibat langsung dalam ekosistem kreatif yang terus berkembang.

    Sebagai bagian dari komitmen kami mendukung industri kreatif Indonesia, myBCA bangga dapat berkolaborasi di tahun ke-21 Java Jazz Festival,” ujar Norisa, EVP Transaction Banking Business Development BCA.

    Kolaborasi ini juga membawa transformasi digital ke dalam pengalaman festival. Dari pembelian tiket hingga transaksi di lokasi, sistem pembayaran dirancang semakin praktis melalui layanan digital BCA.

    Dalam bahasa sederhana: festival musik kini juga menjadi ruang eksperimen ekonomi digital.

    Panggung Dunia di Jakarta

    Dari sisi artistik, lineup tahun ini mempertegas posisi Java Jazz sebagai titik pertemuan musik dunia.

    Nama-nama besar dari berbagai negara akan tampil, termasuk:

    • Jon Batiste, peraih 8 Grammy Awards

    • Earth, Wind & Fire by Al McKay

    • Incognito

    • Dave Koz & the Summer Horns

    • Ella Mai

    • wave to earth

    Kehadiran artis internasional ini dilengkapi oleh musisi Indonesia seperti Slank, RAN, Maliq & D’Essentials, Ziva Magnolya, hingga Bilal Indrajaya.

    Perpaduan ini menciptakan spektrum musik yang luas—dari jazz klasik hingga R&B modern, dari soul hingga fusion.

    Bagi penonton, ini bukan sekadar konser.

    Ini adalah perjalanan musikal lintas benua.

    Jazz yang Menyentuh Semua Generasi

    Ada satu hal yang membuat Java Jazz berbeda dari festival lain: ia berhasil menembus batas generasi.

    Penonton yang datang di awal 2000-an kini kembali membawa anak mereka.

    Jazz yang dulu dianggap musik “orang tua” kini menemukan audiens baru di kalangan generasi muda.

    Fenomena ini jarang terjadi dalam industri musik.

    Namun Java Jazz berhasil melakukannya dengan satu pendekatan sederhana: menjaga kualitas, sambil membuka diri pada eksplorasi genre baru.

    Masa Depan Festival Musik Indonesia

    Di tengah perubahan lanskap industri hiburan global, Java Jazz memberi satu pelajaran penting: festival musik yang bertahan bukan hanya soal lineup artis.

    Ia adalah soal narasi, komunitas, dan keberlanjutan ekosistem.

    Ketika banyak festival berlomba menjadi yang paling besar, Java Jazz memilih menjadi yang paling konsisten.

    Dan setelah 21 tahun, konsistensi itu kini telah berubah menjadi warisan.

    Warisan bagi industri musik Indonesia.
    Warisan bagi generasi penikmat musik berikutnya.

    Karena pada akhirnya, seperti jazz itu sendiri—

    musik terbaik selalu lahir dari keseimbangan antara tradisi dan improvisasi.

  • Kisah PR Tiara Hermanto Mengawal Musik Koplo dan UMKM Naik Kelas

    Kisah PR Tiara Hermanto Mengawal Musik Koplo dan UMKM Naik Kelas

    MUSIK+ – Di balik layar industri musik dan komunikasi Indonesia, ada satu nama yang semakin diperhitungkan, tetapi jarang terlihat oleh publik secara luas.

    Tiara Lupita Ayu Hermanto, seorang Public Relations Specialist yang kini berperan besar di PT JMusic Global Group, telah membuktikan bahwa di dunia yang semakin didorong oleh pencitraan dan visual, komunikasi yang sejati tetap lahir dari ketenangan, ketepatan, dan kedalaman pemahaman akan manusia itu sendiri.

    Di tengah kegilaan industri hiburan yang penuh sorotan dan gempita, Tiara mengambil langkah yang berbeda: ia memilih untuk berbicara melalui pekerjaan yang membangun reputasi dengan hati-hati, memastikan bahwa pesan yang ia sampaikan mencerminkan integritas dan nilai yang berkelanjutan.

    Namun, jika Anda hanya mengenal Tiara sebagai PR perusahaan besar, Anda mungkin belum sepenuhnya mengenalnya.

    Tiara, lebih dari sekadar seorang komunikator—ia adalah penjaga narasi, seseorang yang menganggap komunikasi bukan sekadar tugas, tetapi sebuah seni untuk merawat hubungan manusia.

    Dari menyuarakan pesan besar perusahaan hingga membangun citra individu dan merek, Tiara memiliki pendekatan yang mengedepankan empati dan pemahaman terhadap konteks.

    Menariknya, peran Tiara dalam dunia PR tidak terbatas pada dunia korporasi saja.

    Sebagai seorang yang memiliki pengalaman di dunia musik—sebagai vokalis band UNDVD dan pengisi suara dalam berbagai proyek—Tiara memahami bahwa komunikasi yang sesungguhnya berakar pada kemampuan untuk mendengarkan, meresapi, dan kemudian menyampaikan.

    Sebagai bagian dari proyek besar, Tiara juga terlibat dalam Festival Musik Koplo Keliling (KOPLING) 2025, sebuah inisiatif kolaborasi antara Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dan Gajah Mada Entertainment yang menggabungkan musik dan ekonomi kreatif.

    Dengan dua lokasi besar: Gambir Expo Jakarta (8–9 November) dan Stadion Pakansari Cibinong (22–23 November), festival ini tidak hanya akan mengguncang dunia musik Indonesia, tetapi juga menjadi motor penggerak untuk pemberdayaan UMKM—suatu langkah besar untuk menyatukan industri kreatif dan ekonomi rakyat.

    Di tengah peran penting yang ia emban, Tiara hadir bukan hanya sebagai seorang PR yang berdiri di depan meja rapat atau menulis rilis pers, tetapi sebagai seseorang yang menata setiap pesan dengan penuh pertimbangan—karena ia memahami, bahwa dalam dunia yang semakin cepat bergerak, hanya pesan yang tepat yang dapat bertahan lama.

    Mendalami Dunia yang Tidak Tergesa: Tiara dan Komunikasi yang Tepat Sasaran

    Lahir dan tumbuh besar di Indonesia, Tiara mulai mengenal dunia komunikasi melalui panggung.

    Ia adalah vokalis dari UNDVD, band gospel kontemporer yang memadukan musik modern dengan nilai spiritual.

    Dari sana ia belajar bahwa musik bukan hanya hiburan, tetapi juga cara untuk menyampaikan pesan yang mendalam.

    Suara bukan sekadar alat, melainkan identitas—sesuatu yang lebih dari sekadar nada, tetapi juga emosi, cerita, dan pengalaman.

    Pengalaman di panggung membentuk cara pandangnya terhadap dunia.

    Ketika banyak orang berbicara tentang reputasi dan citra, Tiara lebih sering memperhatikan bagaimana suara dan pesan diterima, serta bagaimana audiens merespons.

    Di situlah letak kekuatannya—ia tahu bahwa citra yang baik tidak dibangun dengan berlebihan, tetapi dengan keseimbangan antara emosi dan logika.

    Langkah selanjutnya adalah mengembangkan keterampilan voice over—sebuah bidang yang membuka jalan baginya untuk berperan dalam berbagai proyek besar, termasuk pengisi suara di acara penting Blue Bird Group Tbk di Ibu Kota Nusantara.

    Tidak hanya mengisi suara, Tiara menyadari bahwa di balik setiap kata yang ia ucapkan, ada makna yang harus disampaikan dengan penuh perhitungan.

    Pengalaman seperti ini memperkaya keterampilannya dalam komunikasi.

    Ia belajar bahwa suara yang benar-benar kuat tidak hanya terdengar, tetapi juga terasa.

    Dari sinilah, Tiara belajar bahwa dalam dunia PR, komunikasi bukan hanya soal apa yang dikatakan, tetapi juga bagaimana cara menyampaikannya dengan tepat.

    Tiara dan PR: Menjaga Makna dalam Setiap Pesan

    Berpindah dari dunia musik ke PR, Tiara membawa pendekatan yang berbeda dari kebanyakan profesional.

    Ketika banyak orang berfokus pada pencapaian pribadi atau mencari pengakuan, Tiara justru memilih untuk mendalami seni mendengarkan dan meresapi kebutuhan orang lain.

    Dalam dunia PR di PT JMusic Global Group, ia tidak hanya menyusun pesan, tetapi juga menjaga makna dari setiap narasi yang ia sampaikan.

    Di dunia yang sering kali berbicara dengan nada bising dan berlebihan, Tiara lebih memilih untuk berbicara dengan cara yang halus namun pasti.

    Baginya, PR bukan hanya tentang menjual cerita, tetapi tentang membangun kepercayaan.

    Ia memahami bahwa sebuah brand atau individu tidak akan bertahan lama tanpa kepercayaan tersebut.

    Kepercayaan yang dibangun melalui konsistensi, integritas, dan komunikasi yang berbasis pada pemahaman manusia.

    Salah satu pencapaian besar Tiara dalam dunia PR adalah ketika ia membantu Yuvita Apolonia Ginting, seorang kandidat DPRD, untuk membangun personal branding yang lebih dekat dengan rakyat.

    Ia merancang kampanye yang tidak mengandalkan jargon politik atau kepentingan pribadi, melainkan berbasis pada narasi yang lebih humanis, jujur, dan langsung menyentuh hati masyarakat.

    Dengan pendekatan yang lebih empatik dan terfokus pada nilai, Tiara tidak hanya berhasil membuat kampanye yang menarik, tetapi juga menghubungkan kandidat dengan pemilihnya di tingkat yang lebih pribadi.

    Ini adalah contoh bagaimana komunikasi dapat menjadi kekuatan yang menyatukan, bukan memisahkan.

    KOPLING 2025: Menggabungkan Musik dan UMKM dengan Sentuhan PR yang Taktis

    Dalam proyek terbesar Tiara, Festival Musik Koplo Keliling (KOPLING) 2025, perannya tidak hanya terbatas pada menyampaikan pesan.

    Tiara hadir sebagai pilar komunikasi yang menjembatani berbagai pihak: kementerian, media, sponsor, UMKM, dan tentu saja, publik.

    Festival ini tidak hanya tentang musik, tetapi juga tentang pemberdayaan ekonomi rakyat melalui promosi UMKM yang lebih luas.

    Sebagai PR untuk KOPLING 2025, Tiara mengoordinasikan strategi komunikasi yang melibatkan banyak stakeholder.

    Festival ini adalah bukti nyata bahwa musik dapat menjadi penggerak ekonomi, bukan hanya hiburan belaka.

    Dengan dua lokasi besar—Gambir Expo Jakarta pada 8–9 November dan Stadion Pakansari Cibinong pada 22–23 November—KOPLING 2025 akan menjadi ajang terbesar untuk memperkenalkan produk UMKM Indonesia ke khalayak lebih luas, sambil mengguncang industri musik dengan penampilan-penampilan spektakuler.

    Di tangan Tiara, pesan yang ingin disampaikan sangat jelas: musik koplo bukan sekadar hiburan, tetapi juga motor penggerak ekonomi rakyat.

    Tiara bekerja di balik layar untuk memastikan bahwa setiap elemen festival ini—dari media coverage, hubungan sponsor, hingga partisipasi UMKM—berjalan lancar dan terkoordinasi dengan baik.

    Ia menjaga agar setiap cerita yang dibawa oleh UMKM memiliki ruang untuk berkembang, sementara pesan festival tetap terasa kuat di setiap langkah.

    Jejak yang Tertinggal: Antara Kejujuran dan Konsistensi

    Jika ada satu hal yang membedakan Tiara dari banyak profesional lain di bidang komunikasi, itu adalah ketenangannya.

    Di dunia yang sering kali terburu-buru, Tiara tidak tergesa-gesa untuk membuat langkah besar yang melibatkan banyak sorotan.

    Sebaliknya, ia memilih jalur yang lebih pelan, tetapi dengan konsistensi yang tak tergoyahkan.

    Melalui pengalaman panjang di dunia PR, Tiara memahami satu prinsip dasar: bahwa reputasi adalah sesuatu yang harus dijaga, bukan dicari.

    Baginya, PR bukan hanya tentang seberapa cepat kita bisa mengirimkan pesan atau membuat sebuah cerita viral—tetapi seberapa dalam kita memahami dampak dari pesan yang kita kirimkan.

    Setiap langkah yang diambil oleh Tiara dalam kariernya adalah langkah yang terukur, penuh perencanaan, dan berlandaskan nilai yang kuat.

    Baik itu di dunia musik, politik, atau UMKM, Tiara selalu menyusun setiap narasi dengan kesadaran penuh bahwa kepercayaan dan integritas adalah modal utama dalam membangun reputasi yang abadi.

    Melangkah ke Depan: Tiara yang Akan Terus Membuat Cerita

    Ke depan, Tiara sudah menyiapkan dirinya untuk lebih dari sekadar PR di balik layar.

    Dengan pengalaman yang terus berkembang, baik di dunia musik, komunikasi, dan ekonomi kreatif, ia akan terus mengembangkan dirinya dan memperkuat personal branding yang telah dibangunnya.

    Ia bukan hanya seorang PR—ia adalah penjaga cerita yang tahu kapan harus berbicara, kapan harus mendengarkan, dan kapan harus membawa pesan itu ke ruang yang tepat.

    Satu hal yang pasti: dalam setiap perjalanan dan cerita yang ia bangun, Tiara akan terus memainkan peran penting dalam membentuk narasi yang lebih baik—untuk perusahaan, untuk masyarakat, dan untuk dunia yang terus berkembang.

  • KOPLING 2025 Hadir di Pakansari: NDX AKA hingga The Changcuters Siap Tampil Meriah

    KOPLING 2025 Hadir di Pakansari: NDX AKA hingga The Changcuters Siap Tampil Meriah

    MUSIK+ — Festival Musik Koplo Keliling (KOPLING) 2025 akan kembali mengguncang Jawa Barat melalui gelaran kedua di Stadion Pakansari, Cibinong, pada 22–23 November 2025.

    Antusiasme publik meningkat tajam setelah penyelenggara resmi mengumumkan bahwa NDX AKA, salah satu grup koplo-hiphop paling berpengaruh di Indonesia, turut bergabung sebagai penampil utama.

    Informasi ini dirilis tak lama setelah KOPLING mencatat sukses besar dalam rangkaian perdana di Gambir Expo, Jakarta, pada 8–9 November lalu.

    KOPLING 2025 merupakan inisiatif Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) bersama Gajah Mada Entertainment, yang dirancang bukan sekadar festival musik, melainkan sebagai platform strategis untuk memperkuat ekosistem UMKM melalui interaksi langsung antara budaya populer, pasar kreatif, dan pelaku usaha lokal.

    Penggabungan antara panggung musik koplo, zona UMKM, kuliner lokal, hingga produk-produk kreatif UMKM menjadi salah satu kekuatan utama yang membedakan KOPLING dari festival musik lainnya.

    Harga Tiket Resmi KOPLING Cibinong 2025

    Penyelenggara merilis daftar harga tiket lengkap yang dapat dibeli melalui platform Goers dan akun resmi @koplokeliling.

    Seluruh harga belum termasuk pajak dan biaya platform. Berikut detailnya:

    Tiket 2 Hari

    • RZQ X KOPLING – VIP 2 Days Pass: IDR 260.000 (Max 100 tix/user)
    • RZQ X KOPLING – Festival 2 Days Pass: IDR 200.000 (Max 100 tix/user)
    • VIP – 2 Days Pass: IDR 210.000 (Max 5 tix/user)
    • Festival – 2 Days Pass: IDR 150.000 (Max 100 tix/user)
    • SIMPATI X KOPLING – Festival 2 Days Pass: IDR 150.000 (Segera Hadir)

    Tiket Harian

    • VIP – Day 1 (22 Nov): IDR 130.000
    • VIP – Day 2 (23 Nov): IDR 130.000
    • Festival – Day 1 (22 Nov): IDR 85.000
    • Festival – Day 2 (23 Nov): IDR 85.000

    Paket ini menawarkan pilihan fleksibel bagi penonton yang ingin menikmati festival penuh dua hari atau memilih penampilan musisi favorit di hari tertentu.

    Line-up Pengisi Acara

    Gelaran KOPLING Cibinong menghadirkan puluhan musisi lintas genre dalam dua hari penyelenggaraan.

    Pada Day 1 (22 November), panggung akan diramaikan oleh Guyon Waton, Maliq & D’Essentials, Feby Putri, Mr. Jono & Joni, Fakedopp, Batas Senja, Drive, serta kelompok-kelompok koplo kreatif seperti Start Koplo, Warga Koplo, Koplo Disko, dan Spontan Music.

    Perpaduan antara indie pop, band besar, hingga komunitas koplo menjadi warna khas yang menunjukkan bagaimana musik koplo mampu berkolaborasi dengan genre lain.

    Pada Day 2 (23 November), penonton dapat menikmati penampilan The Changcuters, Ndarboy Genk, Aftershine, Juicy Lucy, Lomba Sihir, serta musisi lain seperti Della Monica ft. DJ Gemoy, Aldi Taher, Om Abidin, Pegawai Musik Sipil, Jakarta Koplo, Biang Koplo, Starbe, hingga Mendadak Koplo.

    Tampilnya NDX AKA di hari kedua diprediksi menjadi magnet utama yang akan menarik penonton dalam jumlah besar, terutama komunitas koplo-hiphop yang selama ini menjadi basis penggemar setia grup tersebut.

    Akses Transportasi Menuju Stadion Pakansari

    Lokasi Stadion Pakansari relatif strategis dan dapat dijangkau dari berbagai arah.

    Dari Jakarta, penonton bisa menggunakan KRL Commuter Line menuju Stasiun Cibinong, kemudian melanjutkan perjalanan dengan ojek atau angkot sekitar 10 menit.

    Akses tol juga sangat mudah melalui Tol Jagorawi, keluar di Gerbang Tol Cibinong, dan hanya membutuhkan waktu 10 menit untuk mencapai stadion.

    Dari Depok dan Bekasi, jalur Tol Cimanggis–Cibubur menjadi pilihan tercepat.

    Penonton dapat keluar di area Cibinong City Mall dan melanjutkan perjalanan selama 5–10 menit menuju lokasi.

    Transportasi online seperti Gojek dan Grab juga tersedia 24 jam dengan titik drop-off di pintu utama stadion, memudahkan mobilitas penonton dari berbagai kota sekitar Jabodetabek.

    Penginapan Terdekat Stadion Pakansari

    Untuk penonton luar kota atau mereka yang ingin menikmati festival selama dua hari penuh, tersedia beragam pilihan penginapan di sekitar area Pakansari.

    Di antaranya The Michael Cibinong Hotel yang berjarak 5 menit dari stadion, Bigland Sentul Hotel yang dapat dicapai dalam 10–15 menit, serta RedDoorz dan OYO di kawasan Cibinong dengan harga ekonomis.

    Untuk opsi kelas menengah, Savero Hotel Depok dapat menjadi pilihan, yang berjarak sekitar 20 menit perjalanan melalui tol.

    Selain itu, tersedia guest house di area Pakansari yang cocok untuk komunitas dan rombongan besar.

    Kisaran harga kamar berada di rentang Rp250.000 hingga Rp650.000 per malam.

    Festival Musik yang Menggerakkan Ekonomi

    Selain menjadi sarana hiburan, KOPLING 2025 diposisikan sebagai model kolaborasi nyata antara sektor publik dan swasta.

    Festival ini membuktikan bahwa ketika musisi, UMKM, komunitas kreatif, dan penyelenggara berkembang bersama, dampaknya tidak berhenti pada industri hiburan semata, tetapi meluas hingga menggerakkan roda ekonomi masyarakat secara lebih luas.

    Kementerian UMKM menegaskan bahwa festival-lah yang mampu menjadi jembatan antara budaya populer dan misi pemberdayaan ekonomi rakyat.

    Dengan line-up kuat, harga tiket yang beragam, akses mudah, serta dukungan penuh bagi UMKM, KOPLING 2025 diprediksi menjadi salah satu festival musik terbesar dan paling berdampak di Indonesia tahun ini.

    Tiket semakin terbatas. Amankan tiketmu sekarang, pilih paket sesuai kebutuhan, dan siap menikmati ledakan musik koplo di Pakansari!

  • Andien x Tohpati x Vina x Indra Lesmana — Saksikan Kolaborasi Lintas Generasi!

    Andien x Tohpati x Vina x Indra Lesmana — Saksikan Kolaborasi Lintas Generasi!

    MUSIK+— Di antara sorotan lampu panggung dan gema orkestra, Andien kembali menata langkahnya menuju panggung megah Istora Senayan, (9/10/25)

    Lima belas November mendatang, ia akan berdiri di sana — bukan sekadar sebagai penyanyi, melainkan sebagai penutur kisah.

    Dua puluh lima tahun bukan waktu singkat untuk seorang perempuan yang tumbuh bersama denting jazz, denyut pop, dan disko yang menyalakan nostalgia.

    Konser bertajuk Suarasmara ini bukan sekadar perayaan musik. Ia adalah catatan hidup yang ditulis dengan melodi, busana, dan napas keindahan.

    Sejak video manifesto yang dirilis pada hari ulang tahunnya, Andien seolah mengundang publik untuk masuk ke dunia batinnya: tempat musik, cinta, dan nilai-nilai hidup berpadu tanpa batas.

    “Aku ingin konser ini menjadi ruang di mana semua yang pernah menemaniku dalam perjalanan turut bersuara,” ucapnya dalam keterangan resmi.

    Dibalik kemegahan panggung, ada denyut emosi yang lebih dalam: rasa syukur, rasa kehilangan, dan cinta yang tumbuh di tengah perubahan zaman.

    Konser Suarasmara adalah semacam rumah spiritual bagi Andien, tempat ia mengumpulkan serpihan dirinya — dari gadis berani di awal 2000-an hingga ibu dan aktivis lingkungan yang menyalakan harapan di masa kini.

    Empat Babak Perjalanan: Dari Jazz ke Cinta yang Dewasa

    Disutradarai oleh Shadtoto Prasetio, konser ini akan dibagi menjadi empat babak musikal yang dirangkai seperti pertunjukan Broadway: penuh energi visual, dramatis, dan melodius.

    “Semangat dalam karya ini adalah mengulik segala estetika dari Andien,” tutur Shadtoto.

    “Sejak awal, ia selalu berani tampil beda. Konser ini adalah cara untuk mengajak penonton masuk dan merasakan langsung dunia Andien.”

    Babak demi babak akan membawa penonton ke lanskap emosional berbeda — dari jazz romantis, retro yang menggoda, hingga disko futuristik dengan warna-warna Y2K.

    Masing-masing bagian menggambarkan fase kehidupan Andien: dari idealisme muda, kematangan cinta, hingga kebebasan mengekspresikan diri tanpa batas.

    Tohpati, sang music director, menyebut proyek ini sebagai “tantangan unik”.

    Ia harus menyusun narasi musik yang bukan hanya padu secara teknis, tapi juga emosional.

    “Belum pernah saya mengerjakan konser yang musiknya dibagi secara tematik per babak begini,” katanya.

    Hasilnya nanti akan menjadi perjalanan musikal yang memeluk kenangan dan inovasi sekaligus.

    Kolaborasi Lintas Generasi: Suara-suara yang Menyatu

    Satu hal yang membuat Suarasmara begitu istimewa adalah kolaborasi lintas generasi dan genre.

    Nama-nama besar seperti Vina Panduwinata, Indra Lesmana, Diskoria, Wijaya 80, dan White Chorus akan tampil bersama Andien di atas panggung.

    Semua hadir bukan hanya untuk bernyanyi, tetapi menuturkan benang merah perjalanan musik Indonesia.

    “Selama 25 tahun, aku beruntung bisa bertemu banyak musisi berbakat yang menjadi bagian hidupku,” kata Andien.

    “Konser ini bukan hanya milikku, tapi milik semua yang pernah berjalan bersamaku.”

    Di tengah industri yang sering terjebak tren cepat, kolaborasi seperti ini terasa menenangkan — seperti menemukan semilir jazz di tengah hiruk-pikuk algoritma.

    Di sana, Andien meneguhkan bahwa musikalitas sejati adalah dialog lintas waktu, bukan kompetisi usia.

    Panggung, Busana, dan Jiwa yang Merayakan

    Andien memang bukan sekadar penyanyi. Ia adalah fashion statement yang hidup.

    Dalam konser Suarasmara, ia menggandeng desainer ternama seperti Hian Tjen, Eddy Betty, dan Ivan Gunawan, serta label eksentrik DIBBA.

    Bersama mereka, Andien ingin menghadirkan narasi visual yang sejalan dengan musik — feminin tapi tangguh, glamor tapi jujur.

    Hian Tjen mengakui tantangan kolaborasi ini: “Bagaimana menyeimbangkan karakter Andien yang autentik, edgy, dan penuh energi dengan DNA desain saya agar tercipta keharmonisan visual.”

    Hasilnya nanti bukan sekadar gaun panggung, melainkan perpanjangan dari suara Andien sendiri: berlapis-lapis, eksperimental, namun tetap hangat.

    Di luar panggung, penonton akan disambut dengan instalasi seni dari Setali Indonesia dan komunitas autisme, ruang interaktif yang menampilkan karya kreatif lokal.

    Di sini, konser menjadi pengalaman multisensori — musik, cahaya, dan empati berpadu menjadi satu.

    Seni yang Peduli pada Bumi dan Sesama

    Lebih dari sekadar pertunjukan, Konser Suarasmara juga membawa pesan keberlanjutan.

    Bersama Rekosistem, limbah acara akan dikelola secara bertanggung jawab, sementara jejak karbonnya diimbangi lewat program carbon offset.

    Sebagian hasil penjualan tiket akan disalurkan melalui Andien Aisyah Foundation untuk membangun Sekolah Anak Percaya di kampung pemulung.

    Bagi Andien, menjadi seniman berarti juga menjadi bagian dari solusi.

    Ia telah lama aktif dalam isu fashion sustainability melalui Yayasan Setali Indonesia, dan kini memperluas dampaknya melalui musik.

    “Menjaga bumi bukan sekadar gaya hidup, tapi bentuk cinta,” katanya dalam wawancara terdahulu.

    Dalam ruang industri hiburan yang sering menomorsatukan gemerlap, langkah kecil seperti ini terasa seperti nada yang tulus.

    Ia menunjukkan bahwa hiburan dan tanggung jawab sosial bisa berjalan seirama — seperti duet yang lembut tapi berdaya.

    Suarasmara: Sebuah Catatan tentang Waktu dan Cinta

    RedLine selaku promotor memperkirakan konser ini akan dihadiri lebih dari 5.000 penonton.

    Tiketnya dibanderol mulai dari Rp575 ribu hingga Rp2 juta.

    Namun lebih dari sekadar harga, nilai sejati konser ini terletak pada pengalaman emosional yang dibawanya.

    “Empat babak yang akan ditampilkan adalah sajian yang megah dan indah, bukan hanya musik tapi juga pengalaman interaktif yang mengajak penonton menjadi bagian dari pertunjukan,” ujar Aldi Liputo dari RedLine.

    Pada akhirnya, Konser Suarasmara bukan hanya perayaan musik seorang Andien — tapi perayaan hidup itu sendiri.

    Dua puluh lima tahun ia melintasi panggung, mengisi udara dengan suara, mode, dan makna. Dari jazz ke pop, dari glamor ke kesederhanaan, dari panggung ke gerakan sosial.

    Semua menyatu dalam satu kata yang kini menjadi tajuk perayaannya: Suarasmara.

    Seperti namanya, konser ini adalah tentang suara yang lahir dari cinta — cinta pada musik, pada manusia, dan pada bumi yang menjadi rumah bersama.

    FAQ

    1. Kapan konser Andien Suarasmara digelar?
      → Pada 15 November 2025 di Istora Senayan, Jakarta.
    2. Apa tema utama konser Suarasmara?
      → Perayaan 25 tahun perjalanan musikal Andien dalam empat babak penuh warna.
    3. Siapa saja musisi yang tampil?
      → Tohpati, Vina Panduwinata, Indra Lesmana, Diskoria, White Chorus, dan Wijaya 80.
    4. Siapa sutradara kreatif konser ini?
      → Shadtoto Prasetio.
    5. Apa keunikan konsep Suarasmara?
      → Dibalut empat babak tematik dengan visual Broadway–Roaring Twenties–Y2K.
    6. Bagaimana kontribusi sosial konser ini?
      → Hasil tiket disalurkan untuk Sekolah Anak Percaya dan dikelola ramah lingkungan.
    7. Siapa perancang busana Andien?
      → Hian Tjen, Eddy Betty, Ivan Gunawan, dan DIBBA.
    8. Siapa promotor konser ini?
      → RedLine.
    9. Berapa harga tiket konser Suarasmara?
      → Mulai Rp575.000 hingga Rp2.012.500.
    10. Apa pesan utama konser ini?
      → Musik, cinta, dan keberlanjutan dapat berjalan beriringan.

    Dalam perjalanan seni yang sering kali bergegas, Andien memilih untuk berhenti sejenak dan menengok ke belakang — bukan dengan nostalgia, tapi dengan rasa syukur.

    Suarasmara menjadi ruang di mana waktu bernyanyi, dan cinta beresonansi. Bagi penonton, mungkin hanya satu malam.

    Tapi bagi Andien, ini adalah seperempat abad yang dirayakan dalam satu napas: musik yang lahir dari jiwa yang selalu ingin berbagi.

  • Euforia Musik Nggak Harus Berhenti, Sambung Obrolan Hangat Bareng GoMart

    Euforia Musik Nggak Harus Berhenti, Sambung Obrolan Hangat Bareng GoMart

    MUSIK+ – Bandung bukan sekadar kota dengan cuaca sejuk dan kuliner khas. Sepanjang 2025, kota ini menjelma menjadi panggung raksasa yang menyatukan ribuan orang lewat musik. Dari festival pop penuh teriakan, konser nostalgia yang mengaduk emosi, hingga jazz intim yang merasuk, semuanya hadir dalam satu kalender. Musik di Bandung tahun ini bukan hanya hiburan, tapi juga pengalaman yang melekat dalam ingatan.

    Berseraya: Riuh Massa di Awal Tahun

    Tanggal 8 Februari 2025, PPI Lapangan Pusenif akan jadi rumah sementara bagi ribuan penonton. Berseraya Festival datang membawa nama besar: Tulus, Hindia, Project Pop, hingga Maliq & D’Essentials. Penonton tak hanya sekadar hadir, mereka jadi bagian dari lautan suara yang menyanyi bersama.

    Di bawah langit malam Bandung, momen ketika ribuan orang menyambung lirik Tulus atau tertawa bersama aksi Project Pop terasa begitu personal. “Saya datang sendirian, tapi begitu ikut bernyanyi, rasanya punya keluarga besar,” ujar Santi, salah satu penonton. Inilah keajaiban festival: kebersamaan lahir tanpa perlu undangan.

    Pay Day Fest: Menyatukan Dua Generasi

    Hanya sepekan setelah Berseraya, tepatnya 15 Februari 2025, giliran Pay Day Fest yang menguasai Lapangan Wiradhika. Festival ini menjadi panggung lintas generasi. Dari Tulus yang digemari anak muda hingga Iwa K yang ikonik di era 90-an, semua tampil dengan semangat sama: merayakan musik.

    “Kayak reuni besar,” kata Rina, penonton yang datang bersama anaknya. Ia tumbuh dengan lagu-lagu Iwa K, sementara anaknya hafal habis lirik Tulus. Di panggung Pay Day Fest, keduanya bersorak bersama. Musik menjembatani jarak usia, membuat nostalgia dan tren terbaru bertemu dalam satu frekuensi.

    Break Out Day: Nostalgia yang Membakar

    Tengah tahun, 26 Juli 2025, Super Music Break Out Day (BOD) digelar di Tritan Point. Konsepnya sederhana namun kuat: menghadirkan tribute acts seperti Supernova dan Psycho Sexy. Mereka bukan sekadar menirukan idola, tapi menyalakan kembali semangat era 90-an dan 2000-an.

    Bagi banyak penonton, festival ini lebih dari konser. “Rasanya kayak balik ke masa SMA,” kata Dani, yang masih ingat saat pertama kali mendengar Red Hot Chili Peppers. Dentuman musik di panggung BOD bukan hanya menghibur, tapi juga membuka kotak kenangan, lengkap dengan aroma dan energi masa lalu.

    Now Playing: Pesta Raksasa Bandung

    Memasuki bulan September 2025, panggung Now Playing Festival selalu jadi sorotan. Sebagai salah satu festival multigenre terbesar di Indonesia, line-up-nya mencakup pop, rock, indie, hingga EDM. Penonton tak hanya menonton konser, mereka merayakan hidup.

    Lapangan luas berubah jadi mini-kota. Ada tenda makanan, booth merchandise, hingga komunitas yang membuka ruang interaksi. Outfit festival pun jadi bagian dari pertunjukan, dengan anak muda Bandung tampil penuh gaya. Now Playing bukan hanya konser, melainkan pesta rakyat musik dalam skala megah.

    Papandayan Jazz Fest: Keintiman yang Elegan

    Tahun ditutup dengan nuansa berbeda. 25 Oktober 2025, The Papandayan Jazz Fest menawarkan pengalaman intim di hotel mewah The Papandayan. Musik jazz dimainkan dengan aransemen penuh improvisasi, sementara penonton duduk nyaman menikmati suasana.

    “Rasanya dekat sekali dengan musisinya,” ujar Indra, salah satu pengunjung. Tanpa riuh sorakan atau desakan, konser ini menghadirkan interaksi lebih personal. Setiap nada terasa menyapa langsung ke hati. Bandung di akhir tahun berubah jadi ruang elegan yang hangat.

    Lebih dari Sekadar Musik

    Festival di Bandung 2025 bukan hanya tentang panggung. Ia menjadi ruang pertemuan: fans bertukar cerita, komunitas lokal menunjukkan karya, dan musisi baru mendapat sorotan. Dari euforia massal di Berseraya, reuni lintas generasi di Pay Day Fest, nostalgia segar di BOD, pesta raksasa di Now Playing, hingga intimnya Papandayan Jazz Fest—semua memberi warna yang berbeda.

    Musik akhirnya terbukti bukan sekadar hiburan. Ia adalah bahasa universal yang mampu menyatukan orang dari latar apa pun. Bandung tahun ini kembali membuktikan dirinya sebagai rumah musik paling hangat di Indonesia.

    Saatnya Rehat, Nikmati Obrolan Santai

    Setelah sepanjang tahun larut dalam dentuman festival, tubuh tentu butuh jeda. Inilah saat yang pas untuk berbincang santai, mengenang momen favorit, atau sekadar tertawa bersama teman. Beli rokok elektrik online terdekat via GoMart, nikmati suasana hangat, dan lanjutkan obrolan musikmu dengan cara yang paling sederhana: bersama orang-orang terdekat.

  • Masddho & NDX AKA Panaskan Diton Fest 2025, Jakarta Berguncang Musik dan Otomotif

    Masddho & NDX AKA Panaskan Diton Fest 2025, Jakarta Berguncang Musik dan Otomotif

    MUSIK+ — Hari pertama Diton Fest 2025 di Museum Purna Bhakti Pertiwi, Jakarta Timur, berlangsung meriah sejak sore hingga malam, jakarta (12/9/25).

    Ribuan pengunjung hadir menikmati perpaduan musik, otomotif, seni, dan komunitas urban.

    Festival dibuka dengan berbagai aktivitas otomotif, mulai dari Diton Pitstop, Modification Expo, hingga Stunt Rider Show yang memacu adrenalin.

    Suara mesin berpadu dengan dentuman musik, menciptakan suasana unik yang jarang ditemui di event lain.

    Masddho dan NDX AKA Jadi Sorotan

    Sore hingga malam, panggung musik menjadi magnet. Masddho membuka penampilan dengan nuansa segar, sebelum NDX AKA naik sebagai bintang utama.

    Grup hip-hop asal Yogyakarta ini tampil spesial merayakan ulang tahun ke-14 dengan 90 menit nonstop performance.

    Sorak sorai penonton pecah. Lampu ponsel berkilau, ribuan orang bernyanyi bersama, hingga muncul komentar khas pengunjung, “Day 1 Diton Fest 2025 pecahh! 🔥 Gokil sampe bangun tidur auto pake koyo 😂.”

    Keseruan Dunia Otomotif

    Selain musik, komunitas roda dua dan roda empat mendapat panggung istimewa. Ada Sunday Morning Ride, sesi talkshow modifikasi, hingga area kreatif dengan mural, graffiti, dan airbrush.

    Zona hobi pun tak kalah ramai, dari balap Tamiya 4WD, Pushbike Challenge, hingga koleksi diecast yang memikat anak-anak maupun orang dewasa.

    Tiket, Jadwal, dan Fasilitas

    Tiket Diton Fest 2025 tersedia di loket.com dan juga OTS di venue.

    • Pre-sale: Reguler Rp75.000, VIP Rp175.000
    • OTS: Reguler Rp100.000, VIP Rp200.000

    Jam operasional:

    • 12 September: 13.00 – 23.00 WIB
    • 13 September: 10.00 – 22.00 WIB
    • 14 September: 10.00 – 22.00 WIB

    Meski antrean sempat panjang, fasilitas VIP dan reguler dinilai cukup memadai.

    Ruang Ekspresi untuk Semua

    Dengan tema “Satu Festival, Banyak Ekspresi”, Diton Fest 2025 bukan sekadar konser.

    Festival ini menyatukan komunitas otomotif, seniman jalanan, hingga penggemar musik dari berbagai kalangan.

    Dari mural hingga workshop cat semprot, dari konser besar hingga pasar komunitas, pengunjung punya banyak pilihan cara menikmati hari.

    Masih Ada Dua Hari Lagi

    Euforia belum selesai. Day 2 (13 Sept) akan menghadirkan Endank Soekamti, Mr. Jono Joni, dan Tony Q Rastafara.

    Sedangkan Day 3 (14 Sept) ditutup dengan NTRL, For Revenge, Pegawai Musik Sipil, The Angels Percussion, Tuan 13 & Yacko.

    Marketplace, food & beverage, dan bursa otomotif juga tetap tersedia.

    Dengan lineup ini, Diton Fest 2025 diproyeksikan menjadi salah satu festival paling segar dan besar di Jakarta tahun ini.

  • NDX AKA Hingga Tony Q Ramaikan Panggung Diton Fest 2025

    NDX AKA Hingga Tony Q Ramaikan Panggung Diton Fest 2025

    MUSIK+ – Jakarta kembali bersiap dengan pesta musik dan komunitas yang berbeda dari festival pada umumnya, (30/8/25).

    Bukan sekadar deretan konser, Diton Fest 2025 menghadirkan sesuatu yang lebih dalam: sebuah perayaan ekspresi kreatif lintas hobi, gaya hidup, dan seni urban.

    Acara ini digelar selama tiga hari, 12–14 September 2025, bertempat di Museum Purna Bhakti Pertiwi, Jakarta Timur, mulai pukul 13.00–22.00 WIB.

    Dari mural, graffiti, otomotif, modifikasi kendaraan, diecast, barber, tattoo culture, hingga musik lintas genre, semuanya menyatu dalam satu festival bertema “Satu Festival, Banyak Ekspresi.”

    Inilah panggung besar di mana energi anak muda urban bertemu dan berpesta.

    Siapa di Balik Festival Ini?

    Festival ini digagas oleh Diton Spray Paint, merek cat semprot yang sudah lama jadi “sahabat setia” komunitas kreatif.

    Nama Diton lekat dengan tembok penuh warna di jalanan kota, motor dengan desain custom, hingga karya seni jalanan yang ikonik.

    Tidak heran, saat Diton memutuskan mengadakan festival berskala nasional, banyak komunitas menyambut dengan antusias.

    Bagi Diton, festival ini bukan hanya ruang promosi, melainkan bentuk nyata dukungan terhadap kreativitas anak muda Indonesia.

    “Kami ingin setiap orang yang datang merasa bagian dari ekosistem kreatif ini,” begitu salah satu panitia menjelaskan.

    Musik Jadi Magnet Utama

    Meski banyak elemen komunitas terlibat, musik tetap jadi magnet utama Diton Fest 2025.

    Line-up tahun ini cukup berani: mencampur genre populer, alternatif, hingga eksperimental.

    • NDX AKA – hip-hop dangdut khas Jogja.

    • Masdddho – musisi akustik penuh lirisisme.

    • NTRL – rock alternatif legendaris.

    • Endank Soekamti – pop-punk yang bikin crowd melompat bersama.

    • Mr. Jono Joni – racikan elektronik unik.

    • For Revenge – post-hardcore penuh energi emosional.

    • Tuan 13 x Yacko feat The Angels Percussion – hip-hop dengan sentuhan perkusi dunia.

    • Tony Q Rastafara – legenda reggae Indonesia yang jadi bintang tamu spesial.

    Perpaduan ini membuat Diton Fest punya warna yang khas: musiknya tidak mengkotak-kotakkan audiens, tapi justru membuka ruang temu lintas selera.

    Tiket: Early Bird, Reguler, dan VIP

    Kabar buat yang ketinggalan Early Bird Ticket—tenang saja, masih ada Reguler Ticket untuk kamu yang belum sempat beli.

    Tinggal pilih mau datang di hari pertama, kedua, atau ketiga.

    Kalau masih bingung, kenapa nggak sekalian hadir tiga hari penuh?

    Karena tiap hari punya nuansa dan GSNya (Good Show Night) sendiri yang dijamin seru.

    • Festival Pass: Rp75.000/hari

    • VIP Pass: Rp175.000/hari

    Tiket bisa dibeli di Loket.com, penjualan berakhir setiap harinya pukul 09.59 WIB.

    Transportasi Menuju Lokasi

    Lokasi acara di Museum Purna Bhakti Pertiwi, Taman Mini, Jakarta Timur cukup strategis dan bisa diakses dengan berbagai moda transportasi:

    • KRL Commuter Line: turun di Stasiun Cawang atau Stasiun Tanjung Barat, lalu lanjut dengan ojek online/taksi ke lokasi.

    • TransJakarta: gunakan koridor 7 (Kampung Rambutan–Kampung Melayu), turun di Halte Tamini Square, lanjut jalan kaki atau ojek online sekitar 10 menit.

    • MRT Jakarta: meski belum langsung terhubung ke lokasi, pengunjung bisa turun di Dukuh Atas BNI, lalu lanjut TransJakarta ke arah Taman Mini.

    • Ojek Online & Taksi Online: opsi paling praktis, titik drop-off tersedia di depan area museum.

    Bagi yang membawa kendaraan pribadi, area parkir cukup luas, namun panitia menyarankan datang lebih awal untuk menghindari antrean.

    Penginapan Hotel di Sekitar Lokasi

    Karena Diton Fest berlangsung tiga hari penuh, banyak penonton dari luar Jakarta atau luar kota yang memilih menginap. Beberapa pilihan hotel dan penginapan dekat venue antara lain:

    • Hotel Santika Taman Mini Indonesia Indah – hanya berjarak sekitar 5 menit dari lokasi. Cocok untuk yang ingin akses cepat dan fasilitas nyaman.

    • Aston Priority Simatupang – sekitar 20 menit perjalanan, pilihan hotel berbintang dengan fasilitas lengkap.

    • Grand Cempaka Resort Cipayung – 15 menit dari venue, lebih tenang dengan nuansa resort.

    • Budget Hotel & Guesthouse – di sekitar Ceger, Cipayung, dan Ciracas, ada banyak pilihan penginapan ramah kantong untuk backpacker.

    Panitia juga menyarankan booking hotel lebih awal karena di tanggal yang sama biasanya kawasan Taman Mini cukup ramai pengunjung.

    Lebih dari Sekadar Musik

    Festival ini memang mengusung musik sebagai jantungnya, namun denyut nadi Diton Fest sesungguhnya ada pada keragaman ekspresi:

    • Otomotif & Modifikasi – karya builder dan modifikator tanah air.

    • Mural & Graffiti – seniman jalanan live painting.

    • Barber & Tattoo – gaya rambut dan seni tubuh kontemporer.

    • Diecast – miniatur kendaraan penuh detail.

    Festival ini seolah menjawab kebutuhan banyak komunitas urban yang sering merasa tidak punya ruang besar untuk unjuk karya.

    Mengapa Penting?

    Dalam lanskap hiburan dan budaya pop Indonesia, Diton Fest 2025 penting karena memadukan dua hal yang sering dianggap terpisah: seni jalanan dan panggung musik mainstream.

    Banyak festival hanya fokus pada konser, sementara sisi komunitas urban sering diabaikan.

    Diton Fest hadir dengan pesan: “Setiap ekspresi kreatif punya tempat.”

    Harapan Diton Fest 2025

    Dengan cakupan nasional, Diton Fest 2025 berpeluang menjadi agenda tahunan yang dinantikan.

    Panitia berharap acara ini menjadi titik temu besar komunitas urban Indonesia dan mendorong anak muda berani mengekspresikan diri.

    Karena di dunia urban, karya sering lahir dari jalanan, dari ruang alternatif, dari sudut kota yang jarang tersorot media mainstream.

    Diton Fest 2025 adalah potret hidup komunitas urban Indonesia yang penuh warna, energi, dan ekspresi.

    Dari mural hingga moshing, dari cat semprot hingga tattoo, dari NDX AKA hingga Tony Q Rastafara—semuanya bersatu di panggung besar ini.

    Kalau kamu merasa bagian dari dunia urban, ini saatnya hadir.

    Amankan tiketmu, ajak teman, pilih moda transportasi yang nyaman, atau booking hotel terdekat.

    Karena Diton Fest bukan cuma konser—tapi perayaan ekspresi tiga hari berturut-turut.

  • Gabung Serunya Festival Komunitas Urban Diton Fest, Tiket Sudah Bisa Dibeli!

    Gabung Serunya Festival Komunitas Urban Diton Fest, Tiket Sudah Bisa Dibeli!

    MUSIK+— Festival komunitas berskala nasional Diton Fest 2025 resmi digelar pada 12–14 September 2025 mendatang.

    Acara ini digagas oleh Diton Spray Paint sebagai bentuk selebrasi ekspresi kreatif lintas hobi dan gaya hidup urban, yang mengusung tema besar “Satu Festival, Banyak Ekspresi”.

    Diton Fest menjanjikan pengalaman 3 hari penuh warna bagi para pecinta otomotif, seni jalanan, musik, dan gaya hidup kontemporer.

    Berlangsung di area ikonik Museum Purna Bhakti Pertiwi, Jakarta Timur, festival ini tak hanya menjadi ajang kumpul para komunitas modifikasi kendaraan, mural, graffiti, diecast, lifestyle barber dan tattoo, namun juga menghadirkan line up musisi lokal papan atas.

    Sejumlah nama beken seperti NDX AKA, Endank Soekamti, NTRL, For Revenge, Mr. Jono Joni, hingga kolaborasi spesial Tuan 13 x Yacko feat The Angels Percussion dijadwalkan meramaikan panggung utama selama tiga hari berturut-turut.

    “Kami ingin Diton Fest menjadi ruang eksplorasi terbuka bagi semua komunitas yang ingin mengekspresikan diri.

    Ini bukan sekadar festival, tapi gerakan bersama,” ujar perwakilan Diton Spray Paint dalam siaran persnya.

    Tiket Terbagi Dua Kategori, Harga Mulai dari Rp50.000

    Tiket Diton Fest 2025 telah dibuka dalam dua kategori: Festival (mulai dari Rp50.000) dan VIP (mulai dari Rp150.000).

    Semua harga tiket belum termasuk pajak dan biaya lainnya. Penjualan Early Bird masih tersedia hingga 20 Juli 2025 pukul 23:59 WIB melalui platform resmi Loket.com.

    Berikut adalah rincian line-up dan harga tiket per hari:

    • Hari 1 (12 September):
      • Festival: Rp50.000 | VIP: Rp150.000
      • Penampil: NDX AKA, Masdddho
    • Hari 2 (13 September):
      • Festival: Rp50.000 | VIP: Rp150.000
      • Penampil: Endank Soekamti, Mr. Jono Joni
    • Hari 3 (14 September):
      • Festival: Rp50.000 | VIP: Rp150.000
      • Penampil: NTRL, For Revenge, Tuan 13 x Yacko feat The Angels Percussion

    Aktivitas Seru dan Komunitas Unik

    Tak hanya menampilkan konser musik, Diton Fest 2025 juga menyuguhkan berbagai aktivitas seru.

    Mulai dari Pushbike Challenge untuk anak-anak, workshop modifikasi kendaraan, live mural, hingga talkshow bersama pelaku kreatif dari berbagai latar belakang komunitas.

    Sebuah marketplace komunitas juga akan tersedia, mempertemukan para pelaku UMKM, seniman, hingga pengrajin lokal untuk saling berbagi karya.

    Kehadiran ragam komunitas inilah yang membuat Diton Fest tampil berbeda dari festival sejenis.

    Penonton tak hanya menjadi penikmat, tapi juga bisa ikut berpartisipasi dalam berbagai sesi kolaboratif yang disiapkan panitia.

    Perayaan Kreativitas yang Inklusif dan Humanis

    Diton Fest bukan hanya tentang hiburan, melainkan juga tentang keberagaman ekspresi.

    Dengan mengangkat semangat kebebasan berekspresi, festival ini menjadi panggung inklusif bagi semua kalangan—dari pecinta musik jalanan hingga penggiat seni rupa jalanan.

    “Kalau kamu senang modif motor, suka gambar di tembok, atau sekadar butuh lagu galau buat menyembuhkan patah hati, Diton Fest ini tempatnya,” tulis akun resmi @ditonfest di Instagram dengan gaya komunikatif khas anak muda.

    Festival ini juga menyediakan beragam hadiah, doorprize, hingga spot foto unik bagi para pengunjung.

    Diton Fest 2025 diyakini akan menjadi salah satu festival lintas komunitas terbesar di Indonesia tahun ini.

    📍 Catat tanggalnya: 12–14 September 2025
    🏟 Lokasi: Museum Purna Bhakti Pertiwi, Jakarta Timur
    🎟 Tiket Early Bird: loket.com/event/ditonfest2025
    📲 Info lengkap: Instagram @ditonfest

    Satu Festival, Banyak Ekspresi — Kamu bagian dari warnanya.