Penulis: Redaksi Musik+

  • Dari Kreator Konten ke Aktor Utama: Keanu Agl Bintangi dan Jadi Produser Eksekutif di Film “Agen +62”

    Dari Kreator Konten ke Aktor Utama: Keanu Agl Bintangi dan Jadi Produser Eksekutif di Film “Agen +62”

    MUSIK+ Di tengah maraknya pemberitaan mengenai dampak destruktif judi online, Wahana Kreator Nusantara dan PK Films menawarkan perspektif segar melalui film komedi aksi “Agen +62”. Dijadwalkan tayang serentak di bioskop mulai 3 Juli 2025,

    film ini tidak sekadar menyajikan tawa renyah, namun juga menyoroti isu krusial yang kian mengakar di masyarakat, bahkan hingga menyentuh lingkaran keluarga terdekat.

    Sebagai seorang jurnalis yang kerap mengamati dinamika sosial, kehadiran film ini patut diapresiasi karena kemampuannya mengemas isu serius dengan sentuhan ringan yang mudah dicerna.

    Disutradarai oleh Dinna Jasanti, “Agen +62” memperkenalkan Dito (Keanu Agl), seorang agen rahasia PUANAS yang kerap dianggap ‘payah’ karena rentetan kegagalannya.

    Ambisinya untuk kembali ke lapangan terwujud saat ia ditugaskan membongkar sindikat besar yang telah menjerat paman dan ayahnya sendiri.

    Dito dipasangkan dengan Martha (Rieke Diah Pitaloka), agen senior yang telah lama absen dari medan laga. Duet yang menjanjikan dinamika unik ini bertugas mengintai seorang pejabat daerah yang terindikasi terlibat dalam sindikat tersebut melalui kekasih simpanannya, Jessica (Cinta Laura Kiehl), yang menjalankan operasi via salon kecantikan.

    Misi mereka? Menyusup ke salon tersebut dan berhadapan langsung dengan Jessica.

    Salah satu kekuatan utama film ini terletak pada jajaran pemerannya. Keanu Agl, yang memulai kariernya sebagai kreator konten, menunjukkan perkembangan signifikan sebagai aktor.

    Perannya sebagai Dito menuntutnya untuk memerankan berbagai karakter dalam penyamaran, sebuah tantangan yang berhasil ia taklukkan dengan baik.

    Tidak hanya itu, keterlibatannya sebagai produser eksekutif juga menandakan evolusi kariernya yang menarik.

    Keanu, dalam konferensi pers, sempat menyoroti pesan penting film ini tentang “berproses”, sebuah nilai yang relevan di tengah budaya instan saat ini.

    Rieke Diah Pitaloka, dengan persona “Mpok Oneng” yang ikonik, kembali menampilkan kemampuan aktingnya yang mengagumkan. Chemistry antara Rieke dan Keanu menjadi daya tarik tersendiri, menghasilkan adegan-adegan komedi yang natural dan menghibur.

    Sementara itu, Cinta Laura Kiehl mengejutkan penonton dengan penampilan memukaunya sebagai Jessica. Aksi bela dirinya yang brutal, berpadu dengan pesonanya yang mematikan, menambah ketegangan yang pas dalam narasi.

    Dinna Jasanti, sang sutradara, patut diacungi jempol karena berhasil memadukan genre komedi aksi dengan isu sosial yang pelik.

    Ia menekankan bahwa isu judi online adalah “isu yang sangat penting dan mendesak untuk kita suarakan bersama” dan bahwa film ini dikemas agar “menyenangkan, lucu, dan dekat” dengan penonton.

    Pendekatan ini relevan mengingat survei menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia kerap menggunakan humor sebagai mekanisme koping dalam menghadapi kesulitan.

    “Agen +62” adalah bukti bahwa film hiburan dapat membawa pesan mendalam tanpa terasa menggurui.

    Para produser, termasuk Orchida Ramadhania, mengakui bahwa meskipun Wahana Kreator dikenal dengan film drama, “Agen +62” dikemas dalam balutan komedi karena “kemampuan survival masyarakat Indonesia banyak dikuatkan dengan cara menertawakan diri sendiri.”

    Rieke Diah Pitaloka juga menambahkan harapan agar film ini tidak hanya memicu tawa, tetapi juga memicu pemikiran dan kesadaran kolektif terhadap bahaya judi online.

    Sebagai film perdana hasil kolaborasi antara PK Films dan Wahana Kreator Nusantara, “Agen +62” menjadi penanda strategis bagi PK Entertainment Group dalam memperluas kontribusinya di industri kreatif.

    Harry Sudarma dari PK Films optimis bahwa film ini akan menjadi tontonan yang “segar, penuh aksi, dan yang terpenting, menyampaikan pesan bermakna.”

    Secara keseluruhan, “Agen +62” adalah tontonan yang wajib disaksikan. Ia menawarkan hiburan yang memicu gelak tawa, aksi yang mendebarkan, dan, yang paling penting, sebuah cerminan sosial yang patut direnungkan.

    Film ini berhasil membuktikan bahwa komedi dapat menjadi medium efektif untuk menyampaikan pesan-pesan krusial, membuka mata masyarakat terhadap realitas yang mungkin luput dari perhatian.

  • Java Jazz 2025 Tampilkan Refleksi dan Nostalgia Lewat Peluncuran Buku Sejarah Festival

    Java Jazz 2025 Tampilkan Refleksi dan Nostalgia Lewat Peluncuran Buku Sejarah Festival

    MUSIK+ — Ada yang berbeda dari gelaran konferensi pers Jakarta International BNI Java Jazz Festival tahun ini.

    Bukan karena daftar pengisi acaranya—yang tetap memukau seperti biasa—melainkan karena suasananya.

    Ada nuansa hangat yang sulit dijelaskan. Seolah waktu melambat sejenak, mengajak kita menengok ke belakang, ke tahun 2005, ke momen ketika segalanya dimulai dari satu hal sederhana: mimpi.

    Dua Dekade Java Jazz: Ketika Mimpi dan Musik Tak Pernah Usai

    Java Jazz Festival kini memasuki usia dua puluh tahun. Sebuah tonggak yang bukan hanya mencerminkan umur, tetapi kedalaman perjalanan.

    Dari sebuah gagasan yang sempat dianggap terlalu ambisius, menjadi festival musik jazz berskala internasional yang menjadi kebanggaan Indonesia.

    Dalam konferensi pers tersebut, Dewi Gontha—Presiden Direktur Java Festival Production—membuka acara dengan kata-kata yang menyentuh, kemudian memanggil seseorang yang selama ini berada di balik layar kesuksesan Java Jazz: sang ayah, Peter F. Gontha.

    “Sebelum lanjut, saya ingin mengundang ayah saya naik ke atas panggung,” ucap Dewi, suaranya terdengar penuh emosi.

    Peter naik ke atas panggung bukan sebagai pengusaha, bukan pula sebagai tokoh publik.

    Ia berdiri sebagai seorang ayah, seorang pecinta musik, dan seorang pemimpi.

    “Saya hanya seseorang yang dulu bermimpi Indonesia bisa punya festival jazz kelas dunia,” katanya singkat, sebelum diam sejenak.

    Sorot matanya menerawang jauh, barangkali ke ruang waktu yang hanya bisa dijangkau oleh mereka yang pernah bermimpi dan berani bertaruh segalanya untuk itu.

    Peter mengenang awal mula Java Jazz.

    Tentang ketidakpercayaan banyak pihak, tentang keterbatasan sumber daya, tentang bagaimana ia harus meyakinkan sponsor dan musisi bahwa festival ini layak diwujudkan.

    Tapi ia juga bercerita tentang harapan. Tentang komunitas. Tentang cinta—pada musik, pada negeri ini, dan pada kemungkinan-kemungkinan yang lahir dari ketulusan niat.

    Sebagai bentuk penghormatan pada perjalanan dua dekade ini, Peter merilis buku “The Making of Java Jazz Festival”—sebuah karya setebal 506 halaman yang tak hanya berisi dokumentasi sejarah, tapi juga memoar pribadi.

    Ditulis dalam bahasa Inggris, buku ini menghadirkan kisah-kisah di balik layar, fragmen-fragmen kecil yang selama ini tersembunyi di balik gemerlap panggung.

    Buku tersebut diserahkan langsung oleh Peter kepada SS Budi Rahardjo, Pemimpin Redaksi Majalah MATRA sekaligus CEO Majalah EKSEKUTIF, sebagai bentuk terima kasih kepada media yang telah menjadi bagian penting dari perjalanan Java Jazz.

    “Media bukan hanya peliput, mereka adalah saksi. Bahkan sering kali, mereka yang pertama kali percaya pada mimpi ini,” ujar Peter.

    Buku ini tidak dijual. Ia akan dibagikan secara gratis kepada para mitra, sponsor, dan media sebagai bentuk penghargaan atas kepercayaan dan kerja sama yang telah terjalin selama 20 tahun.

    Karena bagi Peter, festival ini tidak mungkin berdiri sendiri. Ia dibangun oleh banyak tangan—yang bekerja dalam diam, yang tidak selalu terlihat kamera, tapi selalu hadir dalam semangat.

    Java Jazz, katanya, adalah kerja kolektif. Dari relawan yang mengatur logistik hingga produser yang menyusun line-up, dari teknisi suara hingga penyedia makanan, semuanya punya peran. Dan semuanya punya cerita.

    Dalam bukunya, Peter juga mengajak pembaca untuk menyusuri kenangan pribadinya.

    Dari masa remaja ketika jatuh cinta pada jazz, pertemuannya dengan musisi-musisi lokal, hingga bagaimana ia mengenang istrinya, Purnama—sosok yang selalu mendukung dalam diam.

    Juga tentang bagaimana ia melihat putrinya, Dewi, tumbuh dan kini memimpin festival ini dengan caranya sendiri.

    Foto : Peter menyerahkan buku kepada SS Budi Rahardjo, Pemimpin Redaksi Majalah MATRA sekaligus CEO Majalah EKSEKUTIF. (28/5/25) (Idris/MATRA)

    Java Jazz bukan hanya festival. Ia adalah ruang temu. Ruang nostalgia. Ruang harapan.

    Tahun 2025 ini, Java Jazz kembali akan digelar pada 30 Mei hingga 1 Juni di Jakarta.

    Tapi kali ini, ia membawa satu makna tambahan: bahwa mimpi yang dijaga dengan cinta akan terus hidup.

    Dan musik, seperti kehidupan itu sendiri, selalu menemukan caranya untuk bertahan.

    Seperti jazz yang lahir dari kebebasan dan keberanian bereksplorasi, Java Jazz Festival berdiri sebagai bukti bahwa Indonesia bisa.

    Bahwa kita mampu membangun panggung bagi talenta lokal dan internasional, menciptakan jembatan antara masa lalu dan masa depan, antara kenangan dan kemungkinan.

    Dan di atas semua itu, Java Jazz adalah tentang manusia. Tentang mereka yang percaya pada mimpi, yang bekerja tanpa pamrih, dan yang tahu bahwa di balik setiap nada, ada cinta yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

    Karena musik, pada akhirnya, adalah cara kita mencintai dunia.

  • “Pertama”, Kolaborasi Musik Penuh Rasa dari Fakhrinurluthfi dan Fush

    “Pertama”, Kolaborasi Musik Penuh Rasa dari Fakhrinurluthfi dan Fush

    MUSIK+ – Dua penyanyi muda berbakat, Fakhrinurluthfi dan Fush, kembali menggugah dunia musik Indonesia lewat sebuah kolaborasi yang intim dan menyentuh.

    Pada 23 Mei 2025, keduanya merilis single bertajuk “Pertama”, sebuah lagu balada yang tidak hanya bercerita tentang cinta, tapi juga tentang kekuatan untuk pulih bersama, dalam kesederhanaan yang menyayat hati. (23/05/2025)

    “Pertama” adalah pengingat akan bagaimana cinta pertama—sebagai pengalaman emosional pertama—membentuk banyak hal dalam hidup.

    Liriknya puitis, musiknya minimalis, dan nuansanya begitu dalam hingga mampu mengaduk-aduk perasaan pendengar sejak bait pertama.

    Lagu ini bukan sekadar karya kolaborasi, tapi cerminan dari sebuah perjalanan emosional yang jujur dan penuh makna.

    Narasi Tentang Luka dan Penguatan

    Dalam lagu ini, Fakhrinurluthfi dan Fush tidak hanya mengandalkan keharmonisan vokal, tapi juga merangkai lirik yang mampu menjangkau ruang-ruang batin terdalam.

    Lirik seperti “tawa yang hadir di sela tangis” atau “lukamu sembuh oleh senyumku” menjadi kekuatan utama “Pertama”.

    Ini bukan lagu cinta biasa. Ini adalah surat terbuka bagi mereka yang pernah patah, namun berhasil bangkit karena seseorang yang hadir pada waktu yang tepat.

    Menurut Fakhrinurluthfi, lagu ini adalah tentang orang pertama yang mengubah hidup kita.

    “Bukan hanya soal romansa, tapi tentang pengaruh mendalam yang membentuk siapa kita hari ini,” ucapnya.

    Fush pun menambahkan bahwa lagu ini ingin menjadi pelukan hangat, baik bagi yang sedang merayakan cinta, maupun yang sedang mencoba memahaminya.

    Kemasan Musik yang Minimalis dan Jujur

    Dari sisi musikalitas, “Pertama” tidak menawarkan eksplorasi instrumen yang rumit.

    Justru kekuatannya ada pada kesederhanaan aransemen yang membuat pesan lagunya lebih kuat.

    Sentuhan piano lembut dan gesekan string ringan menyatu dalam keseimbangan yang intim, memperkuat atmosfer melankolis yang ingin disampaikan.

    Pilihan aransemen ini adalah keputusan artistik yang matang, mencerminkan filosofi ‘less is more’ yang membuat lirik lebih menonjol.

    Hasilnya adalah pengalaman mendengar yang mendalam.

    “Pertama” mengajak pendengarnya untuk tidak hanya mendengar, tetapi juga merasakan dan mengingat—sebuah cara musik bekerja dalam dimensi emosional.

    Dari Studio ke Hati Pendengar

    Dirilis di bawah label RFNP Records, single “Pertama” kini sudah tersedia di seluruh platform streaming digital.

    Dalam beberapa jam setelah perilisan, lagu ini langsung mendapatkan respons positif dari para pendengar.

    Banyak yang membagikan kisah personal mereka di media sosial setelah mendengarkan lagu ini, sebagai bentuk resonansi antara pengalaman pribadi dan pesan yang terkandung dalam lagu.

    Kolaborasi antara Fakhrinurluthfi dan Fush juga menandai sebuah pertemuan musikal yang langka—dua seniman yang tidak hanya berbagi suara, tetapi juga kesadaran artistik yang sama: bahwa musik harus jujur, dan kejujuran itu menyentuh.

    Makna yang Tak Pernah Selesai

    “Pertama” adalah lagu yang menolak untuk dilupakan. Bukan karena ia viral atau dipromosikan secara agresif, tetapi karena ia membawa keintiman yang tidak bisa dipalsukan.

    Lagu ini akan tinggal di hati mereka yang pernah merasa kehilangan, pernah jatuh cinta, atau pernah merasa bahwa hidupnya berubah karena satu orang—satu momen, satu lagu.

    Kolaborasi ini membuktikan bahwa musik Indonesia masih menyimpan banyak kekuatan naratif yang bisa menggugah.

    Fakhrinurluthfi dan Fush berhasil menempatkan diri mereka bukan hanya sebagai penyanyi, tetapi juga sebagai pendongeng yang merangkul luka dan cinta dalam satu lagu sederhana bernama “Pertama”.

    FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

    1. Apa tema utama lagu “Pertama”?
      Lagu ini mengangkat tema cinta pertama, pemulihan emosional, dan kekuatan dalam kebersamaan.
    2. Siapa kolaborator dalam lagu ini?
      Fakhrinurluthfi dan Fush, dua talenta muda dari Indonesia.
    3. Bagaimana aransemen musik “Pertama”?
      Minimalis dan intim, menonjolkan vokal dan lirik yang menyentuh.
    4. Kapan lagu ini dirilis?
      Pada 23 Mei 2025 secara digital.
    5. Apa makna mendalam dari lagu ini menurut penyanyinya?
      Lagu ini tentang orang pertama yang mengubah hidup, bukan hanya dari sisi romansa.
    6. Di mana lagu ini bisa didengarkan?
      Tersedia di seluruh platform streaming digital.
    7. Apa label musik dari lagu ini?
      Dirilis oleh RFNP Records.
    8. Apa gaya bahasa lirik lagu ini?
      Puitis, reflektif, dan emosional.
    9. Apa harapan dari kolaborasi ini?
      Lagu ini menjadi pelukan hangat untuk mereka yang sedang merayakan cinta maupun memahami maknanya.
    10. Apakah lagu ini akan ada versi akustik atau video musik?
      Belum diumumkan, namun para penggemar berharap ada versi live atau visual menyusul.
  • Sheila On 7, Kahitna, Denny Caknan, dan Payung Teduh X Pusakata Meriahkan Rendezvous 2025

    Sheila On 7, Kahitna, Denny Caknan, dan Payung Teduh X Pusakata Meriahkan Rendezvous 2025

    MUSIK+ Dunia hiburan kembali diramaikan oleh kehadiran salah satu festival musik dan pentas seni tahunan paling ditunggu di Indonesia, Rendezvous 2025.

    Acara ini akan digelar pada Sabtu, 9 Agustus 2025, mulai pukul 11:00 WIB bertempat di Istora Senayan, Jakarta Pusat.

    Dengan tema tropikal penuh makna, “Whispers of Aloha”, Rendezvous 2025 siap memberikan pengalaman musik dan seni yang tidak terlupakan.

    Diselenggarakan oleh SMA Labschool Cirendeu, acara ini memasuki tahun keempat penyelenggaraan dengan skala yang semakin besar, lineup yang lebih kuat, serta konsep yang kian matang.

    Menggabungkan nuansa pantai, angin laut, dan semangat persahabatan, Rendezvous 2025 tidak hanya sebuah konser, tetapi juga sebuah perjalanan emosional dan budaya yang mendalam.

    Tema “Whispers of Aloha”: Simfoni Kehangatan dan Kebersamaan

    “Whispers of Aloha” menjadi tema utama Rendezvous tahun ini.

    Aloha bukan hanya kata, tetapi filosofi hidup yang merangkul cinta, kedamaian, dan kebersamaan.

    Tema ini diwujudkan melalui desain venue yang bernuansa tropikal, pengalaman visual yang immersive, dan line-up penampil yang siap menggugah perasaan penonton dari berbagai kalangan.

    Lineup Spektakuler: Musisi Favorit Lintas Generasi

    Pentas utama akan dimeriahkan oleh nama-nama besar di industri musik Indonesia:

    • Sheila On 7 – legenda pop rock yang membawa nostalgia dan semangat masa muda.
    • Kahitna – simbol romantisme musik Indonesia.
    • Denny Caknan – ikon dangdut koplo modern yang merajai chart musik nasional.
    • Parade Hujan (Payung Teduh X Pusakata) – kolaborasi eksklusif yang menyatukan suara syahdu dan lirik puitis.

    Dengan kekuatan lineup ini, Rendezvous 2025 menjanjikan malam penuh irama, emosi, dan energi positif.

    Harga Tiket dan Cara Pembelian

    Tiket resmi hanya tersedia di Yesplis.com dengan harga mulai dari Rp 335.000. Tersedia kategori Tribune dan Festival, serta bundling spesial untuk pembelian grup.

    Langkah-langkah pembelian:

    1. Pilih kategori dan jumlah tiket.
    2. Isi data lengkap dan email aktif.
    3. Pilih metode pembayaran.
    4. Lakukan pembayaran.
    5. Simpan e-voucher dan tukarkan dengan wristband saat event.

    Perlu diingat, satu email hanya dapat digunakan untuk pembelian maksimal 5 tiket. Tiket yang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan atau dialihkan.

    Syarat & Ketentuan Masuk Acara

    • E-ticket wajib ditukar dengan wristband.
    • Tiket hanya sah jika dibeli melalui Yesplis.com.
    • Pengunjung dilarang membawa makanan/minuman dari luar, rokok/vape, kamera profesional, dan barang terlarang lainnya.
    • Penonton di bawah 7 tahun dilarang masuk. Anak 7 tahun ke atas wajib tiket dan pendamping.
    • Dalam kondisi force majeure, panitia berhak mengubah jadwal dan tidak menanggung akomodasi atau transportasi.

    Beli Tiket Sekarang dan Rasakan Energi Tropikal di Rendezvous 2025!

    Jangan lewatkan kesempatan menyaksikan Sheila On 7, Kahitna, Denny Caknan, dan kolaborasi legendaris Payung Teduh X Pusakata dalam satu panggung.

    📍 Lokasi: Istora Senayan, Jakarta Pusat
    🗓️ Tanggal: 9 Agustus 2025
    Jam: Mulai pukul 11:00 WIB
    🎟️ Tiket: Mulai dari Rp 335.000
    🔗 Beli sekarang di: www.yesplis.com/event/rendezvous-2025

    Untuk info terbaru dan pengumuman penting, ikuti akun Instagram resmi @rrendezvous25.

    Rendezvous 2025 adalah selebrasi seni dan musik dengan nuansa yang menyatukan generasi, emosi, dan ekspresi kreatif dalam satu ruang. Jadilah bagian dari gelombang Aloha yang mengguncang Jakarta. Sampai jumpa di festival tropis paling hangat tahun ini!

  • Gistara Project: Menyuarakan Kejujuran Emosi Lewat Nada-Nada Pop dari Semarang

    Gistara Project: Menyuarakan Kejujuran Emosi Lewat Nada-Nada Pop dari Semarang

    MUSIK+ Ada kalanya musik tak hanya soal nada, melainkan cerminan dari jiwa yang sedang berproses.

    Dalam belantara industri musik Indonesia yang terus bergerak cepat, sebuah kelompok musik asal Semarang menampilkan dirinya secara sederhana namun berisi. Namanya Gistara Project.

    Grup musik ini tidak hadir dengan gegap gempita. Mereka datang dengan tenang, membawa karya yang mengedepankan kejujuran rasa, dan memilih jalur yang tidak semua musisi mau tempuh: mengandalkan kekuatan cerita, bukan sekadar kemasan.

    Gistara Project, sejak awal kemunculannya pada 31 Desember 2018, telah menunjukkan komitmen bahwa bermusik adalah bentuk pengabdian terhadap rasa, bukan sekadar hiburan belaka.

    Mengusung genre pop, Gistara Project seolah ingin menekankan bahwa musik pop tak harus klise.

    Mereka membuktikan bahwa pop bisa tetap ringan namun menyimpan kedalaman. Ini bisa dirasakan dalam dua single mereka yang dirilis pada awal 2025: “Barat”* dan “Seperti Yang Kau Mau” — dua karya yang pantas mendapat tempat dalam diskografi musik pop Indonesia masa kini.

    Single “Barat” adalah potret rasa lelah, sebuah refleksi akan kerasnya hidup yang kerap tidak seindah ekspektasi.

    Tapi menariknya, Gistara Project tidak menjerumuskan pendengar ke dalam kelam.

    Mereka justru menawarkan pelukan, semacam pengakuan bahwa merasa lelah itu manusiawi.

    Sementara “Seperti Yang Kau Mau” menyuarakan bentuk cinta yang rela berkorban.

    Tentang seseorang yang menanggalkan dirinya sendiri demi kebahagiaan orang yang dicinta.

    Sederhana, tapi justru di situlah letak kekuatannya. Seperti kata pepatah lama, yang jujur tak perlu ribut.

    Formasi Gistara Project terdiri dari enam orang musisi yang cukup matang secara musikal:

    • Dhitya (vokal)
    • Imel (vokal)
    • Izul (keyboard)
    • Ricky (gitar)
    • Sang Saka (bass)
    • Bobby (drum)

    Dalam banyak kesempatan manggung, termasuk acara gathering perusahaan, pentas seni sekolah, hingga event pernikahan dan perayaan tahun baru, mereka menunjukkan kelas tersendiri.

    Bukan hanya piawai memainkan instrumen, Gistara Project tahu bagaimana membangun koneksi dengan penonton.

    Tak jarang, penonton yang awalnya hanya duduk menikmati, akhirnya ikut tenggelam dalam arus suasana yang dibangun Gistara Project di panggung.

    Konsistensi adalah Nafas Panjang Musik

    Musik Indonesia butuh lebih banyak musisi seperti Gistara Project.

    Mereka tidak terburu-buru menjadi sensasi.

    Tidak mengejar algoritma. Mereka berjalan dengan tenang, mengandalkan konsistensi dan kejujuran sebagai identitas.

    Portofolio mereka membuktikan jam terbang yang tidak bisa diremehkan.

    Di balik dua single original ini, ada ratusan jam latihan, puluhan panggung yang mereka jalani, dan proses kreatif yang dijalani tanpa glamor.

    Tapi justru dari sanalah lahir karya yang otentik.

    Ada semacam ‘ruh’ yang lekat dalam setiap karya Gistara Project—sebuah karakter yang membuat pendengar merasa dekat.

    Dan di dunia musik, karakter adalah harta yang mahal.

    Ajakan untuk Terlibat

    Gistara Project kini membuka diri lebih luas. Mereka siap hadir dalam berbagai event musik, program komunitas, hingga kolaborasi lintas disiplin.

    Tak hanya sebagai band panggung, tetapi sebagai rekan kreatif yang memahami pentingnya suasana, emosi, dan nilai artistik.

    💌 Untuk informasi lebih lanjut, pemesanan, atau kolaborasi:
    📱 081-259-179-723
    📧 gistaraproject@gmail.com
    📸 Instagram: @gistara\_project

  • Perayaan 20 Tahun Java Jazz Festival: Nostalgia, Inovasi, dan Deretan Musisi Papan Atas

    Perayaan 20 Tahun Java Jazz Festival: Nostalgia, Inovasi, dan Deretan Musisi Papan Atas

    MUSIK+ – Jakarta kembali bergemuruh! International BNI Java Jazz Festival hadir lagi tahun ini, tepatnya pada 30 Mei – 1 Juni 2025 di JIExpo Kemayoran, Jakarta (19/3/25).

    Kali ini terasa lebih istimewa karena festival jazz terbesar di Indonesia ini merayakan ulang tahunnya yang ke-20!

    Dua dekade perjalanan yang penuh warna, penuh cerita, dan tentu saja, penuh musik berkualitas.

    Dua Dekade Perjalanan: Dari Impian hingga Tradisi Musik Dunia

    Sejak pertama kali digelar pada 2005, Java Jazz Festival telah tumbuh menjadi salah satu festival jazz terbesar di dunia.

    Dari tahun ke tahun, festival ini tak hanya menampilkan musisi jazz legendaris tetapi juga menjadi panggung bagi talenta-talenta muda berbakat dari dalam dan luar negeri. ”

    20 tahun adalah sebuah perjalanan yang penuh dengan kenangan indah, canda, tawa, dan air mata,” ujar Dewi Gontha, CEO Java Festival Production.

    Bertahan selama dua dekade tentu bukan hal mudah. Java Jazz Festival telah melewati berbagai tantangan, dari krisis ekonomi, pandemi global, hingga perubahan tren musik.

    Namun satu hal yang tak pernah berubah: komitmen untuk menyajikan musik berkualitas bagi pencinta jazz di Indonesia dan dunia.

    11 Panggung, Ribuan Nada, Satu Pesta Jazz Akbar!

    Tahun ini, Java Jazz Festival menghadirkan 11 panggung yang tersebar di area JIExpo Kemayoran.

    Setiap panggung akan menyajikan pengalaman musik yang unik, mulai dari jazz klasik, fusion, funk, hingga R&B dan soul.

    Para penonton bisa bebas memilih menikmati alunan musik dari panggung ke panggung, sesuai selera mereka.

    Bicara soal line-up, tahun ini Java Jazz Festival kembali menghadirkan nama-nama besar, baik dari kancah internasional maupun lokal.

    Salah satu kejutan spesialnya adalah kehadiran tiga special show yang akan menampilkan musisi-musisi luar biasa:

    • Jacob Collier – Multi-instrumentalis, komposer, dan produser asal Inggris yang dikenal dengan pendekatan uniknya dalam musik jazz dan fusion.
    • Raye – Penyanyi-penulis lagu berbasis di Inggris yang sukses mencuri perhatian di **Grammy Awards 2025** dengan lagu Oscar Winning Tears.
    • Tunde (The Voice of Lighthouse Family) – Vokalis dari grup legendaris Lighthouse Family yang akan membawakan lagu-lagu ikonis mereka.
    • Snarky Puppy – Band instrumental asal Amerika yang dikenal dengan perpaduan jazz, funk, dan musik dunia.
    • Lettuce – Band funk yang telah lama menjadi bagian dari komunitas jazz global.
    • The Stevie Wonder Celebration – Sebuah pertunjukan penghormatan bagi legenda musik Stevie Wonder.

    Tak ketinggalan, deretan musisi internasional lainnya seperti Jeff Lorber, Kamasi Washington, hingga Yun Seok Cheol Trio dari Korea Selatan siap mengguncang panggung Java Jazz 2025.

    Dari tanah air, nama-nama seperti Rizky Febian, Endah N Rhesa Extended, Rony Parulian, Rahmania Astrini, Wijaya 80, Nonaria x Horns Big Band hingga The Lantis turut meramaikan festival ini.

    Kombinasi antara musisi senior dan generasi baru menjadi bukti bahwa Java Jazz selalu menjadi wadah bagi regenerasi musisi di Indonesia.

    Maskot Baru: Jazon dan Jezzy!

    Ada yang baru di perayaan ke-20 tahun ini. Java Jazz Festival akhirnya punya maskot resmi, yaitu Jazon dan Jezzy.

    “Sekarang, setelah duapuluh tahun, kami memiliki maskot yang terinspirasi dari pick gitar. Sebuah benda kecil, namun kuat untuk membuka potensi suara yang tiada terbatas,” jelas Dewi Gontha.

    Maskot ini diharapkan bisa menjadi ikon yang semakin memperkuat identitas Java Jazz Festival di masa depan.

    Harga Tiket dan Cara Membeli

    Java Jazz Festival 2025 menawarkan beberapa kategori tiket yang bisa dibeli melalui situs resmi www.javajazzfestival.com. Berikut harga tiketnya:

    Tiket Reguler:

    • 3 Days Pass (30 Mei – 1 Juni 2025): Rp 2.100.000
    • Daily Pass Friday (30 Mei 2025): Rp 875.000
    • Daily Pass Saturday (31 Mei 2025): Rp 875.000
    • Daily Pass Sunday (1 Juni 2025): Rp 875.000

    Tiket Special Show:

    • Special Show – Jacob Collier (30 Mei 2025): Rp 350.000
    • Special Show – Tunde (31 Mei 2025): Rp 275.000
    • Special Show – Raye (1 Juni 2025): Rp 545.000

    Sebagai bentuk apresiasi kepada para penonton setia, Java Jazz Festival bekerja sama dengan BNI menghadirkan promo spesial Buy 1 Get 2 Daily Pass secara eksklusif melalui aplikasi wondr by BNI.

    Jadi, bagi yang ingin menikmati festival dengan harga lebih hemat, jangan lupa manfaatkan promo ini!

    Dukungan Penuh dari Para Sponsor

    Perjalanan panjang Java Jazz Festival tentu tak lepas dari dukungan para sponsor.

    Tahun ini, BNI kembali menjadi title sponsor, memastikan bahwa festival ini bisa berjalan dengan lebih megah dari tahun-tahun sebelumnya.

    Selain itu, ada juga dukungan dari Tehbotol Sosro, Telkomsel Hyper 5G, serta Zurich Syariah yang memberikan perlindungan bagi lebih dari 3000 kru, artis, dan musisi yang tampil di festival ini.

    Java Jazz Festival 2025: Sebuah Perayaan, Sebuah Warisan

    Dua dekade bukan waktu yang singkat, tapi Java Jazz Festival terus berdiri kokoh sebagai festival musik yang dicintai banyak orang.

    Tahun ini bukan hanya sekadar festival, tapi juga selebrasi perjalanan panjang yang telah mengukir sejarah di industri musik Indonesia dan dunia.

    Bagi para pencinta musik, jangan lewatkan perayaan ke-20 ini.

    Ajak teman, keluarga, dan orang-orang tersayang untuk bersama-sama menikmati tiga hari penuh musik, nostalgia, dan kejutan tak terduga.

    Karena seperti yang selalu dikatakan, musik adalah bahasa universal yang mampu menyatukan perbedaan.

    Sampai jumpa di Java Jazz Festival 2025!

  • OMG Entertainment Hadirkan Grease The Musical di TIM: Sensasi Broadway di Panggung Jakarta

    OMG Entertainment Hadirkan Grease The Musical di TIM: Sensasi Broadway di Panggung Jakarta

    MUSIK+ – OMG Entertainment dan Yasmara dengan bangga mempersembahkan Grease The Musical dalam debut resminya di Indonesia, (5/2/25)..

    Untuk pertama kalinya, musikal legendaris ini akan mengguncang panggung Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 15-16 Februari 2025.

    Sebuah perhelatan istimewa yang tak hanya menghadirkan keajaiban Broadway ke tanah air, tetapi juga menjadi panggung bagi talenta terbaik negeri ini.

    Musikal yang pertama kali menggebrak dunia pada era 70-an ini telah mencetak sejarah.

    Dengan delapan kemenangan Academy Award dan nominasi Tony Awards untuk kategori Musikal Terbaik, Grease tidak hanya sekadar hiburan—ia adalah fenomena budaya.

    Soundtrack orisinalnya mendominasi tangga lagu Billboard 200, sementara hit ikonik You’re The One That I Want mencatatkan diri sebagai salah satu singel terlaris sepanjang masa, mengukuhkan Grease sebagai karya yang melampaui zaman.

    Kini, euforia itu akan kembali hadir di panggung Jakarta.

    Dalam adaptasi ini, Grease The Musical menampilkan Gusty Pratama sebagai Danny Zuko dan Rahmania Astrini sebagai Sandy Dumbrowski.

    Dua seniman muda berbakat ini siap menghidupkan romansa dan dinamika khas remaja Rydell High, membawa penonton pada perjalanan nostalgia ke masa keemasan rock ‘n’ roll.

    Yang juga tak kalah menarik, Briggita Cynthia—mantan anggota grup musik CherryBelle—akan berperan sebagai Frenchie, karakter unik dari geng Pink Ladies yang penuh warna.

    Kehadirannya bersama jajaran talenta muda berbakat lainnya, yang dipilih melalui seleksi audisi ketat, menjadi bukti bahwa kualitas seni pertunjukan Indonesia mampu bersaing di kancah internasional.

    Dengan persiapan matang, tim produksi memastikan bahwa setiap elemen pertunjukan, dari akting hingga koreografi, akan memberikan pengalaman yang tak terlupakan bagi para penonton.

    Di balik panggung, musikal ini digarap dengan standar produksi tinggi.

    Yasmin Alvina sebagai produser, bersama sutradara Alexander Damara, membawa visi besar untuk menghadirkan pengalaman teater kelas dunia bagi penonton Indonesia.

    “Sebelumnya kami telah menampilkan karya-karya orisinal, tetapi kali ini tantangannya berbeda.

    Grease adalah judul besar dengan basis penggemar yang luas.

    Ekspektasi publik sangat tinggi, dan kami berkomitmen untuk memberikan yang terbaik,” ujar Yasmin.

    Sang sutradara, Alexander Damara, mengungkapkan betapa sulitnya menyeleksi para pemain dalam audisi.

    “Talenta yang muncul luar biasa. Saya benar-benar terkesima dengan kemampuan mereka.

    Kami mencari para seniman triple threat—yang bisa berakting, bernyanyi, dan menari dengan sempurna.

    Standarnya begitu tinggi, terutama untuk aspek tari yang merupakan elemen penting dalam Grease.”

    Di lini koreografi, pertunjukan ini akan dikomandoi oleh Sheila Gianetti, sosok yang telah lama malang melintang di dunia tari sejak 2008.

    Grease terkenal dengan koreografi energiknya, dan dengan pengalaman serta visi Sheila, setiap gerakan dalam musikal ini dipastikan menjadi bagian yang memukau dan berkesan.

    Lebih dari sekadar pertunjukan, Grease The Musical adalah perayaan atas seni, nostalgia, dan semangat generasi muda.

    Dengan energi yang membara, musikal ini siap menghidupkan kembali era 50-an dengan gaya yang lebih segar dan relevan bagi penonton masa kini.

    Kualitas produksi yang diusung, mulai dari tata panggung hingga kostum yang detail, menjadi elemen penting yang akan semakin memperkaya pengalaman menonton bagi seluruh pecinta teater di Indonesia.

    Jangan lewatkan kesempatan langka ini. Dapatkan tiketnya sekarang melalui Ohmytix.com dan bersiaplah untuk menikmati sebuah pengalaman teater yang akan membawa Anda ke dalam pesona klasik Broadway yang abadi.

    Jakarta, saatnya bersiap untuk terpukau! Dengan segala persiapan yang telah dilakukan, Grease The Musical dipastikan menjadi salah satu pertunjukan terbesar tahun ini. Menyaksikan musikal legendaris ini adalah lebih dari sekadar hiburan, tetapi juga penghormatan terhadap seni teater yang telah bertahan selama beberapa dekade. Bersiaplah untuk malam yang penuh gairah, nostalgia, dan tentu saja, suguhan artistik yang spektakuler di panggung Jakarta.

  • Fans Rayakan Kelahiran Anak Kedua Lesti Kejora di Brawijaya Hospital Duren Tiga, Trending di Medsos!

    Fans Rayakan Kelahiran Anak Kedua Lesti Kejora di Brawijaya Hospital Duren Tiga, Trending di Medsos!

    MUSIK+ – Kabar bahagia datang dari pasangan selebritas Lesti Kejora dan Rizky Billar yang baru saja menyambut kelahiran anak kedua mereka di Brawijaya Hospital Duren Tiga pada 25 Januari 2025.

    Proses persalinan berjalan lancar di bawah penanganan dr. Nana Agustina, Sp.OG, serta didukung oleh Golden Butterfly, layanan persalinan eksklusif dari rumah sakit tersebut.

    Persalinan Nyaman dan Aman dengan Tim Medis Profesional

    Golden Butterfly merupakan layanan unggulan di Brawijaya Hospital Duren Tiga yang dirancang khusus untuk memberikan pengalaman persalinan yang lebih personal, aman, dan nyaman.

    Tim ini terdiri dari dokter dan tenaga medis wanita berpengalaman yang memastikan setiap ibu mendapatkan perhatian terbaik dalam proses persalinan.

    “Kami sangat bersyukur karena proses kelahiran berjalan dengan lancar. Terima kasih kepada dr. Nana Agustina dan seluruh tim Golden Butterfly – Brawijaya Hospital Duren Tiga atas pelayanan terbaik yang telah diberikan,” ujar Rizky Billar.

    Sementara itu, Lesti Kejora juga mengungkapkan rasa bahagianya, “Pengalaman persalinan kali ini begitu berkesan. Saya merasa sangat nyaman dan tenang berkat profesionalisme serta keramahan tim medis.”

    Komitmen Brawijaya Hospital Duren Tiga dalam Pelayanan Kesehatan Terbaik

    Direktur Brawijaya Hospital Duren Tiga, dr. Akmal Yadi, MARS, turut mengapresiasi kepercayaan yang diberikan oleh pasangan ini kepada rumah sakit mereka.

    “Kami merasa terhormat dapat menjadi bagian dari momen spesial ini. Golden Butterfly adalah bentuk komitmen kami dalam memberikan layanan persalinan terbaik yang mengutamakan kenyamanan dan privasi bagi setiap ibu.

    Selamat kepada Lesti dan Rizky atas kelahiran anak kedua mereka.”

    Dengan kelahiran bayi kedua mereka yang sehat, momen ini menjadi babak baru bagi Lesti Kejora dan Rizky Billar dalam perjalanan mereka sebagai orang tua.

  • Dari PR hingga Musik: Perjalanan Multitalenta Debby Lufiasita yang Patut Anda Ketahui

    Dari PR hingga Musik: Perjalanan Multitalenta Debby Lufiasita yang Patut Anda Ketahui

    MUSIK+ Debby Lufiasita, seorang ahli Public Relations dan Branding yang berpengalaman, telah menjadi sosok yang dikenal luas di industri ini berkat kemampuannya yang luar biasa dalam memperkuat narasi klien dan mengkomunikasikan kepribadian merek mereka kepada publik, Jakarta (9/1/25).

    Dengan lebih dari sepuluh tahun pengalaman dalam bidang Public Relations dan Brand Communications, Lufiasita telah bekerja dengan berbagai industri dan memberikan dampak besar di bidang teknologi, bisnis, musik, lifestyle, dan lainnya.

    Sebagai seorang Publicist, Lufiasita bertanggung jawab dalam membangun hubungan dengan media, merancang strategi PR, dan mengarahkan upaya branding untuk klien-kliennya.

    Ia memastikan cerita klien tersampaikan dengan tepat dan relevan untuk audiens target, dengan pendekatan yang tak hanya berbasis pada keahlian komunikasi tetapi juga kreativitas yang mendalam.

    Selain karir suksesnya di bidang Public Relations, Debby Lufiasita juga telah membuktikan dirinya di dunia musik.

    Tak hanya berfokus pada dunia branding dan komunikasi, ia juga terjun dalam penulisan lagu dan produksi musik.

    Melalui PT. Ulasan Pena Indonesia, dia berhasil menggabungkan dua elemen penting; PR & Brand Consultant yang dijalankan dengan NueveTOP yang sudah memiliki ratusan klien ternama dan juga Record Label yang diberi nama Nueve Records.

    Dengan visi yang jelas dan kerja keras, Nueve Records telah sukses memproduksi berbagai lagu yang kini dapat dinikmati di Digital Streaming Platform (DSP) yaitu 7 (tujuh) lagu yang telah dirilis di platform streaming Spotify, termasuk bersama Mumu yang membawakan lagu “Bintang,” “Still the Same,” “Sesungguhnya,” dan “Grow Apart.”

    Selain itu, ada juga proyek bersama 6 am Club dengan lagu “You,” Jundi dengan lagu “It’s Alright,” dan Karan yang membawakan lagu “Takkan Terulang” selama 2 tahun ini terakhir ini.

    “Bagi saya, menulis lagu adalah bentuk lain dari komunikasi, namun dengan cara yang lebih emosional dan personal.

    Dalam setiap lagu, saya berusaha menyampaikan pesan yang tak hanya bisa dirasakan, tetapi juga dapat menghubungkan pendengar pada pengalaman pribadi mereka.” Ujar Lufiasita selaku Founder dari NueveTOP & Nueve Records

    Lufiasita memiliki pengalaman panjang di dunia PR, dengan posisi kepemimpinan di sejumlah perusahaan ternama.

    Ia pernah menjabat sebagai Head of PR & Communications di KoinWorks selama dua tahun, di mana ia memimpin upaya PR di tengah periode pertumbuhan pesat perusahaan.

    Selain itu, ia juga pernah berperan sebagai Account and Senior Media Relations Executive di PIAR Consulting, mengasah keterampilan dalam relasi media dan strategi komunikasi.

    Tidak hanya itu, Lufiasita juga berperan penting dalam merancang kampanye activation dan marketing saat menjabat sebagai Head of Offline Marketing di Gojek & Moka selama empat tahun yang berdampak untuk salah satu perusahaan teknologi terbesar di Asia Tenggara.

    “Dalam industri di mana reputasi adalah kunci, saya berkomitmen untuk membentuk dan memelihara merek, membangun kepercayaan, serta menciptakan hubungan bermakna yang akan mendukung kesuksesan jangka panjang,” ungkap Lufiasita.

    Dengan kombinasi antara pengalaman PR yang luas dan bakat musik yang berkembang, Debby Lufiasita tidak hanya menjadi seorang publicist yang handal, tetapi juga seorang kreator yang mampu merangkul banyak audiens lewat karya-karya musiknya.

    Tahun 2025 menjadi bukti komitmennya dalam mengembangkan kedua passion ini ke level yang lebih tinggi.

    “Musik adalah jembatan antara perasaan dan kata-kata, dan saya ingin karya saya menjadi suara bagi mereka yang mungkin kesulitan untuk mengungkapkan perasaan mereka.

    Saat ini, saya sedang mempersiapkan rilisan baru berupa beberapa puisi saya tayangkan di https://instagram.com/lufiasita dan https://instagram.com/nueve.journal dipadukan dengan melodi, yang akan segera dirilis” tutup Debby Lufiasita. 

    Tentang Debby Lufiasita

    Debby Lufiasita adalah seorang Public Relations & Branding Expert yang telah berkarir lebih dari sepuluh tahun.

    Dengan pengalaman mendalam di berbagai sektor industri, termasuk teknologi, bisnis, dan musik, ia dikenal sebagai sosok yang mampu membangun hubungan yang kuat dengan media, klien, serta audiens.

    Kemudian, ia melanjutkan di Nueve & B Publicist (Big Change Agency), mengembangkan strategi PR yang inovatif untuk berbagai klien besar, serta membangun hubungan yang kuat dengan media dan audiens.

    Selain berkarir di dunia PR, ia juga aktif di dunia musik sebagai penulis lagu dan produser.

    Instagram: @lufiasita @nueve.journal @nuevetop.id @nueve.records @ulasanpena.id

    Official Youtube: Nueve Records & NueveTOP 

    Official Music: Nueve Records 

    Linkedin: Debby Lufiasita

  • ‘Memori Baik’ dari Sheila on 7: Single Haru, Suasana Baru, Sebuah Karya yang Dinantikan Akhirnya Diluncurkan

    ‘Memori Baik’ dari Sheila on 7: Single Haru, Suasana Baru, Sebuah Karya yang Dinantikan Akhirnya Diluncurkan

    Musik+ – Usai enam tahun lalu merilis lagu ‘Film Favorit’, kini Sheila on 7 kembali mengeluarkan karya terbaru untuk menutup tahun 2024.

    Eross Candra, Akhdiyat Duta Modjo, dan Adam Muhammad Subarkah meluncurkan single anyar Sheila on 7 bertajuk ‘Memori Baik’, yang dijadwalkan mengudara di gerai-gerai musik digital pada Senin 25 November 2024.

    Untuk format video liriknya juga tersedia pada waktu yang sama di kanal YouTube Sheila on 7 Tv. Kemudian untuk video klipnya akan menyusul secepatnya.

    LAGU YANG DICIPTAKAN UNTUK ANAK

    Secara umum, ‘Memori Baik’ cukup berbeda dengan lagu-lagu Sheila on 7 lainnya. Jika sebelumnya tema lagu-lagu Sheila on 7 lebih didominasi tentang asmara, lagu ‘Memori Baik’ terasa lebih emosional karena menceritakan tentang rasa perhatian dan kasih sayang orang tua pada anaknya.

    “Kalau yang didengar sekarang memang itu spesifik ya. Bahwa orang tua pada saatnya nanti harus merelakan anaknya menjadi dewasa dan mempunyai jalan hidup sendiri. Intinya seperti itu,” ujar Eross mengawali.

    Ditambahkan oleh Duta, lirik ‘Memori Baik’ bisa ditafsirkan bahwa setiap orang, cepat atau lambat, harus mempersiapkan diri untuk legawa ketika suatu saat nanti orang-orang terdekat, apakah itu keluarga, sahabat, atau pun teman masa kecil, harus menjalani kehidupan ini dengan cerita dan cara mereka sendiri.

    “Kebetulan yang diceritakan di ‘Memori Baik’ adalah bagaimana orang tua berusaha untuk ikhlas menghadapi kenyataan bahwa anaknya telah tumbuh dan mulai merangkai perjuangan dan kisah hidupnya sendiri. Karena semuanya bisa saja berubah pada waktunya, dan pada akhirnya akan selalu bisa jadi memori, kan?” papar Duta.

    TERCIPTA SAAT SEMUANYA HARUS DI RUMAH

    Diceritakan oleh Eross, ‘Memori Baik’ dibuatnya sekitar empat tahun lalu, tepatnya saat pandemi melanda. Pada awal pembuatannya, liriknya justru bukan bercerita tentang memori orang tua pada anaknya, melainkan bercerita tentang hal lainnya.

    Kala itu, Eross yang kalut dengan situasi yang terjadi, secara pribadi juga mengkhawatirkan orang-orang terdekatnya, baik keluarganya sendiri maupun Sheila on 7.

    “Jadi memang sempat kepikiran, ‘Kalau band ini sudah nggak bisa lanjut lagi gimana?’. Memang kita sempat ada di fase itu. Besok nggak tahu kita akan seperti apa. Bukan cuma band ya, tapi semua lini. Nggak tahu, apakah masih ada hari esok atau nggak,” ujar Eross.

    “Jadi kepikirannya waktu itu adalah, apa pun yang terjadi Sheila on 7 akan tetap menjadi memori baik buat saya pribadi. Tentunya juga buat teman-teman yang lain,” tambah Eross.

    Namun belum sempat disempurnakan, materi lagu itu nyatanya tersimpan begitu saja sampai saat yang tepat tiba.

    Momentum Sheila on 7 dengan format baru seperti sekarang menjadi pemicu Eross untuk menawarkan ide lagu ‘Memori Baik’ kepada Duta dan Adam. Eross pun mulai mengubah liriknya dan menyempurnakannya bersama kedua temannya itu.

    “Saya berpikir, lagu ini mungkin akan relevan dengan kondisi sekarang kalau liriknya diubah. Akhirnya liriknya disesuaikan dengan kondisi kami saat ini, bahwa semua yang sudah kita lewati bisa jadi memori baik,” kata Eross.

    FEATURING AISHAMEGLIO

    Lagu ‘Memori Baik’ ini juga terasa spesial karena Sheila on 7 mengajak Aishameglio Duta Chiara, puteri sulung dari Duta. Sosok Aisha tentu tak asing, karena sejak awal tahun, ia hampir selalu ikut tampil bersama Sheila on 7 di panggung musik sebagai backing vocal (penyanyi latar).

    “Keikutsertaan Aisha itu jugalah yang membuat Eross ingat kalau dia punya materi lagu baru yang memang dipersiapkan untuk format featuring. Lagu itu tak lain dan tak bukan adalah ‘Memori Baik’,” ujar Adam menambahkan.

    Diakui Eross, sebenarnya ‘Memori Baik’ sejak awal memang ia siapkan untuk format featuring. Eross membayangkan, apa pun temanya, apa pun yang dibicarakan di situ, lagu itu nantinya tak dipresentasikan oleh satu orang saja.

    “Dan kenapa lagu ini sampai muncul ke permukaan dan diperdengarkan ke teman-teman lain, karena Aisha sudah ikut manggung bantuin Sheila on 7 jadi backing vocal.

    Dari situ saya mikir, ‘Oh iya, aku punya lagu yang konsepnya memang featuring, gitu’. Lalu, terjadilah apa yang kita dengarkan sekarang. Selamat menikmati. Semoga ‘Memori Baik’ bisa membuat hari-harimu menjadi lebih baik. Amin,” tutup Eross.

    FORMAT BARU SEKALIGUS MENCOBA PENGALAMAN MUSIKAL PERDANA DI JEPANG

    Terhitung sejak pertengahan tahun 2022, ada yang berbeda pada setiap penampilan panggung Sheila on 7. Wajah-wajah dan energi muda lebih mendominasi ketika Eross, Duta, dan Adam melakukan pertunjukan musik.

    Kini Sheila on 7 selalu dikawal Elang Nuraga (gitar akustik dan elektrik), Vicki Unggul (kibor), Bounty Ramdhan (drum), dan terakhir adalah Aishameglio Duta Chiara (penyanyi latar).

    Keempat musisi yang berstatus sebagai additional player tersebut bahkan turut andil menyukseskan konser besar Sheila on 7 ‘TUNGGU AKU DI’ yang berlokasi di enam kota besar Indonesia.

    Sejak selesainya rangkaian konser ‘TUNGGU AKU DI’, Sheila on 7 kemudian melanjutkan kegiatannya ke Jepang. Lawatan mereka ke Negeri Sakura itu untuk melakukan proses mixing-mastering lagu ‘Memori Baik’.

    Menurut Adam, pengalaman perdana mereka melakukan produksi karya di luar negeri adalah karena ide spontan dari Eross yang mengajak teman-temannya untuk rekaman dengan format yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya.

    Kebetulan Eropa adalah salah satu tujuan awal mereka. Konsep yang ditawarkan Eross pun adalah rekaman live di Swiss atau Swedia, bukan rekaman multitrack seperti yang sudah-sudah.

    Eross ingin Sheila on 7 mencoba mengerjakan sesuatu yang di luar kebiasaan mereka. “Eross pernah nyeletuk, ‘Yuk, rekaman yuk. Tapi rekaman yang besok ganti suasana lah’. Adam juga sempat usul, ‘Gimana kalau rekamannya tetap di Indonesia aja, tapi nyewa villa di mana gitu’,” papar Duta.

    Namun ternyata opsi untuk rekaman di Eropa urung mereka realisasikan. Setelah melalui beberapa pertimbangan, akhirnya mereka mantap memilih Jepang untuk destinasi finishing produksi karya-karya baru mereka.

    “Akhirnya kami memilih Sony Music Studios Japan. Pertimbangannya jelas karena biaya, jarak, dan effort lainnya. Dan untuk Eropa, saat itu kami rasa belum memungkinkan untuk Sheila on 7,” ujar Adam.

    “Awalnya idenya memang kami rekaman single baru di Jepang. Cuma di tengah jalan, Duta justru memberi ide untuk melakukan proses mixing-mastering saja, rekamannya tetap dilakukan di Jogja,” kata Adam.

    Alasan untuk merekam semua instrumen dan vocal di Jogja adalah untuk mempersingkat waktu produksi agar lebih efisien. Akhirnya proses mixing dikerjakan oleh Yuta Yoneyama dan mastering oleh Hidekazu Sakai di Sony Music Studios, Akasaka, Minato City, Tokyo.

    “Yang membedakan secara signifikan menurut kami adalah mixing mastering-nya, karena itu kan berkaitan dengan taste si engineer. Makanya kami ingin coba pengalaman baru di sana,” tambah Adam.

    Selain melakukan proses mixing-mastering, Sheila on 7 juga sekaligus melakukan rekaman live performance video dari beberapa lagu mereka di studio yang sama. Pengalaman itu diakui mereka sangat berkesan.

    “Berasa beda aja, karena kalau take live kan emosinya sudah pasti lebih greget, sedangkan kalau tracking multitrack biasanya kan penuh kehati-hatian. Tracking live itu istilahnya ada sedikit cerobohnya, dan terkadang justru itu yang bikin suasananya jadi lebih hidup,” papar Adam.

    “Satu hal lagi, suasana di Jepang yang menyenangkan adalah soal equipment-nya. Alat-alat di sana kan bener-bener jadi impian, dalam arti musisi kan selalu ingin melihat alat-alat studio di negara yang lebih maju. Nah, itu yang aku rasakan. Alat-alatnya sangat memungkinkan sekali buat kita melakukan tracking live yang nyaman dengan kualitas yang sudah pasti terjamin,” ujar Eross.

    Duta juga menegaskan bahwa rilisnya ‘Memori Baik’ ini secara tidak langsung juga menjawab adanya sedikit anggapan, bahwa Sheila on 7 cukup nyaman mengandalkan karya-karya yang lama saja.

    “Kenyataannya, selama ini terutama pada masa-masa di rumah kemarin itu, kita tetap menabung karya baru kok, dan proses kreatif kami akan selalu berjalan selama band ini masih ada. Semoga ‘Memori Baik’ ini akan jadi awal cerah bagi karya-karya baru Sheila on 7 lainnya di masa mendatang,” imbuh Duta menutup obrolan.