Para Rockastar Ini Nggak Memiliki Tato di Tubuhnya, Siapa Saja?

0
Gene Simmons

MUSIKPLUS – Dunia musik rock dan heavy metal sering kali identik dengan citra pemberontak, jaket kulit, dan tubuh yang dipenuhi tato. Sejak era Janis Joplin, Ozzy Osbourne, hingga ledakan glam metal di era 80-an seperti Mötley Crüe, tato telah menjadi bagian tak terpisahkan dari estetika seorang “rockstar”.

Namun, siapa sangka bahwa beberapa ikon paling berpengaruh di dunia musik keras justru memilih untuk menjaga tubuh mereka tetap bersih dari tinta permanen? Berikut adalah daftar bintang besar heavy metal yang membuktikan bahwa Anda tidak butuh tato untuk menjadi “metal”.

1. Gene Simmons (KISS)

Sang basis legendaris KISS ini dikenal sangat disiplin. Alasan utamanya tidak bertato cukup sederhana: ia tidak pernah ingin melakukannya. Simmons juga dikenal sangat menjaga citra dan kesehatan tubuhnya (ia mengaku tidak pernah mabuk atau menggunakan narkoba).

2. Angus Young (AC/DC)

Meskipun rekan bandnya, Bon Scott, memiliki tato, sang gitaris ikonik berseragam sekolah ini tidak memilikinya. Fokus Angus sejak dulu hanyalah pada permainan gitar energinya di atas panggung.

3. Bruce Dickinson (Iron Maiden)

Vokalis Iron Maiden ini adalah sosok “Renaissance Man” modern—pilot, atlet anggar, penulis, dan penyanyi. Meski berada di garis depan salah satu band metal terbesar, Dickinson memilih untuk tidak merajah tubuhnya.

4. James Hetfield (Metallica)

Catatan: Artikel asli sering membahas evolusi musisi. James Hetfield kini dikenal memiliki banyak tato yang bermakna (termasuk abu mendiang Lemmy Kilmister), namun dalam daftar musisi yang “bersih” di masa lalu atau rekan-rekannya, beberapa nama berikut tetap konsisten tanpa tato.

5. Rob Halford (Judas Priest)

Halford sebenarnya memiliki tato di lengannya. Namun, nama-nama seperti Alice Cooper justru dikenal tetap bersih dari tato meskipun ia merupakan pionir shock rock yang sangat teatrikal.

6. Joe Perry (Aerosmith)

Gitaris Aerosmith ini adalah salah satu cool guy asli di dunia rock. Meski gaya berpakaiannya sangat rock ‘n’ roll, ia tidak pernah merasa perlu menambahkan tato untuk memperkuat citranya.

7. Blackie Lawless (W.A.S.P.)

Tokoh sentral W.A.S.P. yang dikenal dengan aksi panggung kontroversial di era 80-an ini ternyata tidak memiliki tato. Ia pernah menyatakan bahwa ia tidak melihat alasan yang cukup kuat untuk memiliki sesuatu yang permanen di kulitnya.

8. Dee Snider (Twisted Sister)

Vokalis yang vokal membela kebebasan berekspresi ini juga memilih untuk tidak bertato. Baginya, riasan wajah dan kostum panggung Twisted Sister sudah cukup untuk mengekspresikan diri.

9. Geddy Lee (Rush)

Sebagai bagian dari trio progresif paling dihormati, Geddy Lee selalu tampil dengan gaya yang lebih bersahaja namun tetap kharismatik tanpa hiasan tinta.

Mengapa Mereka Memilih Tidak Bertato?

Beberapa alasan umum yang muncul dari para musisi ini antara lain:

Ketidaktertarikan Personal: Banyak yang merasa tato tidak sesuai dengan kepribadian mereka.

Komitmen Permanen: Beberapa musisi merasa ragu untuk memasang sesuatu yang tidak bisa dihapus seumur hidup.

Pembeda: Di industri di mana hampir semua orang bertato, tidak memiliki tato justru menjadi cara untuk tampil beda.

Laporan ini mengingatkan para penggemar bahwa esensi dari musik metal dan rock bukan terletak pada penampilan fisik atau hiasan di kulit, melainkan pada sikap, dedikasi, dan kekuatan musik yang dihasilkan.

Ternyata, untuk menjadi sosok yang paling mengintimidasi atau paling keren di atas panggung, Anda tidak selalu membutuhkan jarum dan tinta.

“Kupeluk Kamu Selamanya” — Ketika Cinta Ibu Tidak Pernah Punya Titik Akhir

0
Foto : Kupeluk Kamu Selamanya
Foto : Kupeluk Kamu Selamanya

MUSIK+ – Ada film yang selesai saat lampu bioskop menyala. Tapi ada juga yang masih “tinggal” di kepala penonton jauh setelah kredit terakhir bergulir. “Kupeluk Kamu Selamanya” termasuk yang kedua.

Film ini tidak berusaha jadi megah atau terlalu dramatis secara berlebihan. Ia justru menang lewat sesuatu yang lebih sederhana tapi lebih sulit: kejujuran emosional.

Di pusat cerita, kita mengikuti Naya—ibu tunggal yang hidupnya tidak pernah benar-benar tenang sejak masa lalunya kembali mengetuk pintu. Ancaman terbesar datang bukan dari dunia luar, tapi dari satu hal yang paling ia cintai: anaknya, Aksa.

Performa Hana Malasan sebagai Naya adalah titik paling kuat film ini. Ia tidak bermain aman. Ada getar yang konsisten di setiap adegan—antara takut, lelah, tapi juga keras kepala untuk tetap bertahan. Beberapa momen bahkan terasa terlalu “nyata”, sampai penonton mungkin tanpa sadar ikut menahan napas.

Konflik mulai mengeras saat Bagaskara yang diperankan Ibnu Jamil hadir sebagai figur yang mengganggu keseimbangan hidup Naya. Film ini cerdas tidak menjadikannya sekadar antagonis. Ia manusia dengan logika sendiri—dan justru itu yang membuat konflik terasa lebih menyakitkan.

Di balik layar, sentuhan debut produser Dinda Hauw memberi nuansa yang cukup segar pada pendekatan cerita, sementara arahan Pritagita Arianegara menjaga ritme agar emosi tidak jatuh jadi melodrama kosong. Ada kontrol yang rapi di tengah potensi cerita yang mudah “meledak”.

Yang menarik, film ini tidak menggurui. Ia tidak sibuk memberi jawaban, tapi justru mengajak penonton berdiri di tengah dilema: sampai sejauh mana seorang ibu bisa dan harus berjuang?

Namun, bukan berarti film ini tanpa celah. Beberapa transisi emosional terasa sedikit dipercepat, terutama di paruh tengah. Ada ruang yang sebenarnya bisa lebih dalam digali, tapi dilewati cukup cepat demi menjaga durasi tetap padat.

Meski begitu, kekuatan utamanya tetap dominan: emosi yang jujur dan tidak dibuat-buat.

Pada akhirnya, “Kupeluk Kamu Selamanya” bukan hanya tentang perebutan hak asuh. Ini tentang rasa memiliki, kehilangan, dan cinta yang tidak pernah benar-benar tahu kapan harus berhenti.

Dan kalau kamu termasuk orang yang mudah “kebawa suasana”, siapkan satu hal sederhana sebelum nonton: tisu. Banyak.

Groovify Debut Lewat “Menunggu Bersamamu”: Patah Hati Dibungkus City Pop yang Ceria

0
Groovify
Foto : Personil Groovify Dana Laga (vokal), Adi Kurniawan (gitar), Wahyu Rilnanda (keyboard), Aqeela Razel (drum), Ivan Maulana (bass), Jamesha (perkusi), dan Tasya Sherin (vokal). doc/Ist

MUSIK+ – Band pendatang baru asal Semarang, Groovify, resmi membuka langkahnya di industri musik lewat single perdana berjudul “Menunggu Bersamamu” yang dirilis pada 28 Maret 2026.

Alih-alih tenggelam dalam sendu, lagu ini justru memutar arah: patah hati dibingkai dengan nuansa ringan, hangat, dan terasa mengalun santai di telinga.

Di balik liriknya yang bercerita tentang harapan yang tak berbalas, Dana Laga—vokalis sekaligus penulis lirik—memilih pendekatan yang tidak biasa.

Ia meracik emosi patah hati dengan balutan aransemen yang fun, memadukan sentuhan jazz dengan warna city pop modern yang terasa segar.

“Walaupun ceritanya tentang putus asa mengejar cinta, kami sengaja bikin aransemennya tetap ceria. Jadi, rasa sedihnya seperti tertutup oleh harapan yang pelan-pelan muncul,” ujar Dana.

Hasilnya, “Menunggu Bersamamu” tidak sekadar jadi lagu galau. Ia hadir sebagai pengalaman emosional yang lebih elegan—seolah mengajak pendengar berdamai dengan rasa, tanpa harus larut terlalu dalam.

Patah hati di sini bukan luka, tapi fase yang bisa dinikmati dengan ritme yang tetap hidup.

Groovify sendiri terbilang wajah baru. Band ini resmi terbentuk pada 19 Februari 2025, beranggotakan Dana Laga (vokal), Adi Kurniawan (gitar), Wahyu Rilnanda (keyboard), Aqeela Razel (drum), Ivan Maulana (bass), Jamesha (perkusi), dan Tasya Sherin (vokal).

Awalnya, mereka hanya membidik panggung-panggung reguler—kafe, restoran, hingga acara korporat.

Nama mereka sempat rutin mengisi panggung Ampitheater Awanncosta, POJ City, Semarang, selama hampir setahun.

Dari situ, jam terbang terbentuk, panggung demi panggung dilalui, hingga akhirnya muncul satu kegelisahan: berhenti jadi band cover, dan mulai bicara dengan karya sendiri.

“Setelah cukup lama manggung, kami merasa harus punya identitas. Rilis lagu original jadi langkah awal kami untuk benar-benar masuk ke industri,” kata Tasya Sherin.

Keputusan itu jadi titik balik. Dari panggung ke studio, dari membawakan lagu orang ke menciptakan suara sendiri.

“Menunggu Bersamamu” pun lahir sebagai penanda: Groovify bukan sekadar band pengisi acara, tapi musisi yang sedang mencari tempatnya di tengah riuh industri.

Harapannya sederhana, tapi terasa jujur—tetap solid, terus berkarya, dan perlahan membangun warna yang khas di setiap rilisan berikutnya.

Karena di musik, seperti juga dalam cinta, yang bertahan bukan yang paling cepat, tapi yang paling konsisten menjaga rasa.

myBCA Java Jazz 2026: Festival Jazz Terbesar Asia Kembali Digelar

0
Java Jazz Festival
Java Jazz Festival

Musik+ – Ada banyak festival musik di dunia. Sebagian lahir dengan gegap gempita, lalu hilang sebelum sempat menjadi tradisi. Namun ada pula festival yang tumbuh perlahan, membangun reputasi tahun demi tahun, hingga akhirnya menjadi institusi budaya.

Di Indonesia, nama itu adalah Java Jazz Festival.

Ketika memasuki tahun ke-21 pada 2026, festival ini bukan lagi sekadar panggung musik. Ia telah menjadi simbol bagaimana sebuah ekosistem industri kreatif bisa bertahan, berevolusi, dan tetap relevan dalam lanskap global yang terus berubah.

Di tengah persaingan festival musik yang semakin agresif, myBCA International Java Jazz Festival 2026 memilih langkah yang tidak biasa: berevolusi tanpa meninggalkan akar.

Langkah pertama terlihat dari perubahan skala. Tahun ini festival dipindahkan ke lokasi baru, NICE (Nusantara International Convention Exhibition) PIK 2, Tangerang. Area yang lebih luas ini memungkinkan penyelenggara menghadirkan pengalaman festival kelas dunia yang lebih imersif. Selama tiga hari, 29 hingga 31 Mei 2026, sepuluh panggung besar akan diisi aliran musik yang tidak pernah berhenti.

Namun perubahan ini bukan sekadar soal ruang.

Ia adalah sinyal bahwa Java Jazz sedang memasuki fase baru.

Ekosistem yang Dibangun Dua Dekade

Dalam dunia festival, umur panjang adalah kemewahan. Banyak event lahir sebagai fenomena sesaat, tetapi gagal membangun fondasi jangka panjang.

Java Jazz mengambil jalur berbeda.

Sejak pertama kali digelar pada 2005, festival ini dibangun sebagai ekosistem: mempertemukan musisi internasional, talenta lokal, industri kreatif, sponsor, hingga komunitas penonton lintas generasi.

Kolaborasi ini lebih dari sekadar sponsor. Ini kemitraan strategis untuk keberlanjutan ekosistem kreatif Indonesia,” ujar Dewi Gontha, Direktur Utama Java Festival Production.

Selama dua dekade, festival ini telah menghadirkan ratusan musisi kelas dunia. Dari legenda jazz hingga bintang pop dan soul modern.

Lebih penting lagi, Java Jazz menciptakan ruang bagi musisi Indonesia untuk tampil di panggung yang sama dengan artis internasional.

Di situlah letak kekuatan sebenarnya: panggung global yang tetap berpijak di tanah sendiri.

Ketika Brand dan Musik Bertemu

Masuknya myBCA sebagai sponsor utama menandai babak baru dalam hubungan antara industri musik dan sektor keuangan digital.

Di era ekonomi kreatif, festival musik bukan lagi sekadar hiburan. Ia adalah platform ekonomi.

Bagi BCA, kolaborasi ini merupakan cara untuk terlibat langsung dalam ekosistem kreatif yang terus berkembang.

Sebagai bagian dari komitmen kami mendukung industri kreatif Indonesia, myBCA bangga dapat berkolaborasi di tahun ke-21 Java Jazz Festival,” ujar Norisa, EVP Transaction Banking Business Development BCA.

Kolaborasi ini juga membawa transformasi digital ke dalam pengalaman festival. Dari pembelian tiket hingga transaksi di lokasi, sistem pembayaran dirancang semakin praktis melalui layanan digital BCA.

Dalam bahasa sederhana: festival musik kini juga menjadi ruang eksperimen ekonomi digital.

Panggung Dunia di Jakarta

Dari sisi artistik, lineup tahun ini mempertegas posisi Java Jazz sebagai titik pertemuan musik dunia.

Nama-nama besar dari berbagai negara akan tampil, termasuk:

  • Jon Batiste, peraih 8 Grammy Awards

  • Earth, Wind & Fire by Al McKay

  • Incognito

  • Dave Koz & the Summer Horns

  • Ella Mai

  • wave to earth

Kehadiran artis internasional ini dilengkapi oleh musisi Indonesia seperti Slank, RAN, Maliq & D’Essentials, Ziva Magnolya, hingga Bilal Indrajaya.

Perpaduan ini menciptakan spektrum musik yang luas—dari jazz klasik hingga R&B modern, dari soul hingga fusion.

Bagi penonton, ini bukan sekadar konser.

Ini adalah perjalanan musikal lintas benua.

Jazz yang Menyentuh Semua Generasi

Ada satu hal yang membuat Java Jazz berbeda dari festival lain: ia berhasil menembus batas generasi.

Penonton yang datang di awal 2000-an kini kembali membawa anak mereka.

Jazz yang dulu dianggap musik “orang tua” kini menemukan audiens baru di kalangan generasi muda.

Fenomena ini jarang terjadi dalam industri musik.

Namun Java Jazz berhasil melakukannya dengan satu pendekatan sederhana: menjaga kualitas, sambil membuka diri pada eksplorasi genre baru.

Masa Depan Festival Musik Indonesia

Di tengah perubahan lanskap industri hiburan global, Java Jazz memberi satu pelajaran penting: festival musik yang bertahan bukan hanya soal lineup artis.

Ia adalah soal narasi, komunitas, dan keberlanjutan ekosistem.

Ketika banyak festival berlomba menjadi yang paling besar, Java Jazz memilih menjadi yang paling konsisten.

Dan setelah 21 tahun, konsistensi itu kini telah berubah menjadi warisan.

Warisan bagi industri musik Indonesia.
Warisan bagi generasi penikmat musik berikutnya.

Karena pada akhirnya, seperti jazz itu sendiri—

musik terbaik selalu lahir dari keseimbangan antara tradisi dan improvisasi.

Oasis Rampungkan 41 Tur Reuni Selama 142 Hari

0

MUSIK+ – Tur konser reuni akbar Oasis yang bertajuk Live ‘25 telah mencapai titik akhir dengan cara spektakuler. Noel dan Liam Gallagher cs telah berkeliling dunia selama 142 hari untuk merampungkan 41 pertunjukan.

Adapun, pertunjukan terakhir dilangsungkan di MorumBIS, São Paulo, Brasil pada Minggu, 23 November waktu setempat.

Selama rangkaian tur, termasuk tujuh pertunjukan di London, enam di Manchester, dua di Jepang, dan lima di AS, Oasis konsisten menampilkan setlist yang sama—menghadirkan campuran hit-hit supersonic mereka.

Konser terakhir tak terkecuali, dibuka dengan “Hello”, dilanjutkan dengan “Acquiesce”, “Morning Glory”, serta lagu-lagu ikonis seperti “Cigarettes & Alcohol”, “Wonderwall”, dan “Champagne Supernova”.

Momen yang tak terlupakan terjadi saat akhir pertunjukan pamungkas di São Paulo. Berdasarkan video penggemar yang diunggah fi X, Liam terlihat memberikan tamborin dan marakasnya kepada Noel, diikuti dengan pelukan hangat yang menutup seluruh rangkaian tur.

Sebelumnya, Liam juga melontarkan janji perpisahan yang penuh makna kepada para penonton sebelum menyanyikan lagu penutup “Champagne Supernova”.

“Kami mencintai kalian, terima kasih atas semua energi kalian. Jaga diri kalian baik-baik dan kami akan bertemu kalian lagi di lain waktu,” kata Liam.

Aksi panggung tersebut kian memperkuat rumor bahwa Live ’25 bukanlah akhir dari reuni Oasis. Desas-desus mengenai lebih banyak pertunjukan, khususnya di Knebworth atau Stadion Etihad pada tahun depan, semakin santer terdengar. Rumor ini muncul mengingat tahun 2026 akan menjadi peringatan 30 tahun konser besar mereka di Knebworth dan Maine Road.

Spekulasi tersebut bahkan sempat “secara tidak sengaja” dikonfirmasi oleh seorang anggota House of Lords di Inggris bulan lalu.

Pada 22 Oktober, Lady Taylor dari Stevenage mengklaim Oasis akan memainkan lima pertunjukan ulang tahun berturut-turut di Knebworth House tahun depan, sebelum kemudian meralat pernyataannya.

“Saya berbicara secara hipotesis menyusul spekulasi bahwa mereka akan bermain Knebworth lagi seperti yang mereka lakukan pada Agustus 1996. Saya memahami band ini belum mengonfirmasi hal ini,” kata Taylor, mengutip Guardian.

Liam Gallagher sendiri telah memberikan petunjuk terselubung tentang kemungkinan tanggal lanjutan. Ketika seorang penggemar bertanya di media sosial apakah ia merasa bersedih karena tur akan segera berakhir, Liam memberikan jawaban yang mengisyaratkan bahwa Oasis belum akan melambat: “Aku sebenarnya tidak sedih karena aku tahu hal-hal yang tidak kamu ketahui.”

Bahkan, saat pertunjukan terakhir di Wembley pada September, Liam sempat berjanji kepada penggemar untuk bertemu kembali tahun depan. “Sampai jumpa tahun depan,” katanya.

Meski demikian, manajer Oasis, Alec McKinlay, sempat menepis harapan penggemar akan musik baru dengan mengatakan, “Tidak, tidak ada rencana untuk musik baru apapun.”

Terlepas dari ketidakpastian perilisan musik baru, tur reuni ini telah mengobati kerinduan banyak pihak. Paul ‘Bonehead’ Arthurs, gitaris Oasis, sempat mengungkap rasa terima kasihnya melalui X.

Sementara putri Noel, Anais, membagikan unggahan panjang di Instagram yang merangkum perasaannya.

“Tahun terhebat dalam hidup saya, dihabiskan bersama orang-orang terhebat, diiringi oleh band terhebat. Apa yang dulu dianggap mustahil menjadi mungkin. 41 pertunjukan. 142 hari. Kenangan seumur hidup,” kata Anais.

Fakhira Adhyaksa Resmi Merilis Single Debut “Cintaku di Istanbul”

0

MUSIK+ Putri Mantan Menpor Adhyaksa Dault, Fakhira Adhyaksa,  memulai debutnya di jagad musik Indonesia dengan merilis single karya Imaniar dan Jaja berjudul ” Cintaku di Istanbul”.

Tak sendiri, dalam debutnya ini Fakhira atau yang akrab disapa Fafa menggandeng penyanyi jebolan ajang pncar bakat PopStar bernama Dandy.

Fakhira mengaku bahwa tak mudah menekuni dunia tarik suara, namun berket kemauan kerasnya akhirnya ia sukses merampungkan singlenya.

” Menyanyi adalah hal baru buat aku, dan dan belum pernah dilakukan, saya belajar dari nol banget dan aku disini ditantang banget teknik dalam menyanyi. Thanks  tante imaniar,” kata Fakhira, dalam jumpa pers perilisan single, yang digelar di XXI Lounge, Plaa Senayan, Jakarta, Minggu (23/11/2025).

Sementara Imaniar selaku pencipta lagu sekaligus mentor bagi Fakhira mengaku tertantang untuk memoles vokal Fakhira yang polos.

“Setelah mendengar cara Fakhira nyanyi, saya tertantang banget untuk memoles karakter vokalnya yang polos. Saya nggak mau menjadikan seperti siapa, tetapi saya berusaha mempertahankan vokal Fakhira biar menjadi warna tersendiri di dunia musik,” kata Imaniar.

Rekan duetnya Dandy mengaku senang bisa berduet dngan Fakhira, dirinya merasa tertantang untuk megekplor kemamuan vokalnya.

“Vokal Fakhira atau cewek pada umunya kan tinggi ya, kalau cowok rendah, jadi saya merasa tertantang untuk nynyi dengannya, apalagi lagunya modulasinya beda cord, jadi saya mesti menyesuaikan agar lagunya bisa menjadi indah dan romantis sesuai isi liriknya,” kata Dandy.

Sementara sang ayah Adhyaksa Daul mengaku mendukung apa yang dilakukan putri tunggalnya menekuni dunia nyanyi. Meski secara bathin Adhyaksa mengaku lebih senang putrinya berkarir sebagai sutradara.

“Dia itu dulu pinginnya jadi sutradara, aku ndukung banget dia jadi sutradara, tetapi sekarang dia pengin nyanyi, aku malah nggak tau kalau dia bsa nyanyi. Sebagai rang tua ya dukung aja apa kemauan dia. Tapi aku sebenernya dukung dia jadi sutradara, kata Adhyaksa sambil bercanda dengan Fakhira.

Lebih lanjut Adhyaksa mengaku  bahwa lagu Cintaku di Istanbul ini cocok untuk dijadikan soundtrack film.

“Lagu ini sebetulnya cocok untuk jadi sountrack film, makanya aku undang juga Hanung Bramantyountuk hadir disini, semoga nanti kedepan bisa jadi soundtrack film,” tambah Adhyaksa.

Baik Fakhira, Adhyaksa, Dandy, Imaniar maupun  Jaja selaku pembuat lirik berharapagar single Cintaku di Istanbul bisa disukai oleh masyarakat pecinta musik di Indonesia.

Aerosmith Rilis Ep “One Mre Time” Usai Hiatus Lebih dari Satu Dekade

0
LOS ANGELES, CA - FEBRUARY 10: (L-R) Brad Whitford, Joe Perry, Joey Kramer, Tom Hamilton and Steven Tyler of Aerosmith attend Steven Tyler's Second Annual GRAMMY Awards Viewing Party to benefit Janie's Fund presented by Live Nation at Raleigh Studios on February 10, 2019 in Los Angeles, California. (Photo by Tommaso Boddi/Getty Images for Janie's Fund)

MUSIK+ – Aerosmith, salah satu raksasa rock legendaris dunia, kembali dengan musik baru setelah lebih dari satu dekade vakum tanpa rilisan.

Kembalinya Steven Tyler cs ditandai dengan kolaborasi lintas generasi bersama musisi asal Inggris, Yungblud, lewat extended play (EP) bertajuk “One More Time”.

Proyek dengan lima lagu ini menjadi jembatan yang menyatukan dua era rock melalui empat materi orisinal dan satu remix dari lagu klasik yang dihidupkan kembali.

Empat lagu baru dalam koleksi ini ditulis bersama oleh Aerosmith dan Yungblud, dengan Tyler dan Yungblud berbagi tugas vokal secara bergantian.

Nuansa rock Aerosmith tetap terasa kuat berkat sound khas gitaris Joe Perry yang menjadi jangkar utama dalam keseluruhan rilisan.

Judul dari materi tersebut adalah “My Only Angel”, “Problems”, “Wild Woman”, dan “A Thousand Days”.

Selain materi baru, EP ini menampilkan lagu klasik Aerosmith, “Back in the Saddle”, yang direkam ulang dengan sentuhan Yungblud dalam versi remix tahun 2025.

Menariknya, kehadiran EP ini datang di saat nama Yungblud sedang hangat diperbincangkan, menyusul kritik keras yang ia terima pasca penampilannya bersama Aerosmith dalam acara penghargaan MTV Video Music Awards (VMAs).

“The Lights” Rilisan Lagu Baru Dari Themilo Untuk Para Pendengar Setianya

0

MUSIKPLUS – Band shoegaze atau dream pop asal Bandung, Themilo, kembali merilis lagu, ditujukan untuk menerangi perjalanan musiknya lewat single terbarunya berjudul “The Lights.”

“Lagu ini bukan sekadar karya baru, ia adalah persembahan tulus untuk para pendengar dan penggemar setia yang telah menemani Themilo sejak awal berdiri, menyalakan cahaya di setiap langkah perjalanan band ini,” katanya dalam rilis.

Dalam “The Lights”, Themilo menggambarkan para pendengar sebagai cahaya-cahaya kecil yang bersama-sama menerangi gelapnya perjalanan waktu. Lagu ini menjadi semacam anthem yang memantulkan hubungan emosional antara band dan pendengarnya.

Yang membuat lagu ini semakin istimewa, Themilo berkolaborasi dengan Pingkan Tumbelaka, vokalis dan gitaris dari band asal Bali, Dive Collate.

Kehadiran Pingkan memberi sentuhan lain dan  harmoni vokal yang menambah kedalaman suasana dalam lagu ini. Kolaborasi ini menjadi simbol pertemuan dua cahaya: suara yang lahir dari kerinduan, dan melodi yang menyala dari ketulusan.

“The Lights” dirilis di seluruh platform digital musik mulai 21 November 2025, dan siap menjadi anthem bagi semua pendengar setianya.

Kisah PR Tiara Hermanto Mengawal Musik Koplo dan UMKM Naik Kelas

0
Tiara Lupita Ayu Hermanto
Foto : Tiara Lupita Ayu Hermanto. (doc.Ist)

MUSIK+ – Di balik layar industri musik dan komunikasi Indonesia, ada satu nama yang semakin diperhitungkan, tetapi jarang terlihat oleh publik secara luas.

Tiara Lupita Ayu Hermanto, seorang Public Relations Specialist yang kini berperan besar di PT JMusic Global Group, telah membuktikan bahwa di dunia yang semakin didorong oleh pencitraan dan visual, komunikasi yang sejati tetap lahir dari ketenangan, ketepatan, dan kedalaman pemahaman akan manusia itu sendiri.

Di tengah kegilaan industri hiburan yang penuh sorotan dan gempita, Tiara mengambil langkah yang berbeda: ia memilih untuk berbicara melalui pekerjaan yang membangun reputasi dengan hati-hati, memastikan bahwa pesan yang ia sampaikan mencerminkan integritas dan nilai yang berkelanjutan.

Namun, jika Anda hanya mengenal Tiara sebagai PR perusahaan besar, Anda mungkin belum sepenuhnya mengenalnya.

Tiara, lebih dari sekadar seorang komunikator—ia adalah penjaga narasi, seseorang yang menganggap komunikasi bukan sekadar tugas, tetapi sebuah seni untuk merawat hubungan manusia.

Dari menyuarakan pesan besar perusahaan hingga membangun citra individu dan merek, Tiara memiliki pendekatan yang mengedepankan empati dan pemahaman terhadap konteks.

Menariknya, peran Tiara dalam dunia PR tidak terbatas pada dunia korporasi saja.

Sebagai seorang yang memiliki pengalaman di dunia musik—sebagai vokalis band UNDVD dan pengisi suara dalam berbagai proyek—Tiara memahami bahwa komunikasi yang sesungguhnya berakar pada kemampuan untuk mendengarkan, meresapi, dan kemudian menyampaikan.

Sebagai bagian dari proyek besar, Tiara juga terlibat dalam Festival Musik Koplo Keliling (KOPLING) 2025, sebuah inisiatif kolaborasi antara Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dan Gajah Mada Entertainment yang menggabungkan musik dan ekonomi kreatif.

Dengan dua lokasi besar: Gambir Expo Jakarta (8–9 November) dan Stadion Pakansari Cibinong (22–23 November), festival ini tidak hanya akan mengguncang dunia musik Indonesia, tetapi juga menjadi motor penggerak untuk pemberdayaan UMKM—suatu langkah besar untuk menyatukan industri kreatif dan ekonomi rakyat.

Di tengah peran penting yang ia emban, Tiara hadir bukan hanya sebagai seorang PR yang berdiri di depan meja rapat atau menulis rilis pers, tetapi sebagai seseorang yang menata setiap pesan dengan penuh pertimbangan—karena ia memahami, bahwa dalam dunia yang semakin cepat bergerak, hanya pesan yang tepat yang dapat bertahan lama.

Mendalami Dunia yang Tidak Tergesa: Tiara dan Komunikasi yang Tepat Sasaran

Lahir dan tumbuh besar di Indonesia, Tiara mulai mengenal dunia komunikasi melalui panggung.

Ia adalah vokalis dari UNDVD, band gospel kontemporer yang memadukan musik modern dengan nilai spiritual.

Dari sana ia belajar bahwa musik bukan hanya hiburan, tetapi juga cara untuk menyampaikan pesan yang mendalam.

Suara bukan sekadar alat, melainkan identitas—sesuatu yang lebih dari sekadar nada, tetapi juga emosi, cerita, dan pengalaman.

Pengalaman di panggung membentuk cara pandangnya terhadap dunia.

Ketika banyak orang berbicara tentang reputasi dan citra, Tiara lebih sering memperhatikan bagaimana suara dan pesan diterima, serta bagaimana audiens merespons.

Di situlah letak kekuatannya—ia tahu bahwa citra yang baik tidak dibangun dengan berlebihan, tetapi dengan keseimbangan antara emosi dan logika.

Langkah selanjutnya adalah mengembangkan keterampilan voice over—sebuah bidang yang membuka jalan baginya untuk berperan dalam berbagai proyek besar, termasuk pengisi suara di acara penting Blue Bird Group Tbk di Ibu Kota Nusantara.

Tidak hanya mengisi suara, Tiara menyadari bahwa di balik setiap kata yang ia ucapkan, ada makna yang harus disampaikan dengan penuh perhitungan.

Pengalaman seperti ini memperkaya keterampilannya dalam komunikasi.

Ia belajar bahwa suara yang benar-benar kuat tidak hanya terdengar, tetapi juga terasa.

Dari sinilah, Tiara belajar bahwa dalam dunia PR, komunikasi bukan hanya soal apa yang dikatakan, tetapi juga bagaimana cara menyampaikannya dengan tepat.

Tiara dan PR: Menjaga Makna dalam Setiap Pesan

Berpindah dari dunia musik ke PR, Tiara membawa pendekatan yang berbeda dari kebanyakan profesional.

Ketika banyak orang berfokus pada pencapaian pribadi atau mencari pengakuan, Tiara justru memilih untuk mendalami seni mendengarkan dan meresapi kebutuhan orang lain.

Dalam dunia PR di PT JMusic Global Group, ia tidak hanya menyusun pesan, tetapi juga menjaga makna dari setiap narasi yang ia sampaikan.

Di dunia yang sering kali berbicara dengan nada bising dan berlebihan, Tiara lebih memilih untuk berbicara dengan cara yang halus namun pasti.

Baginya, PR bukan hanya tentang menjual cerita, tetapi tentang membangun kepercayaan.

Ia memahami bahwa sebuah brand atau individu tidak akan bertahan lama tanpa kepercayaan tersebut.

Kepercayaan yang dibangun melalui konsistensi, integritas, dan komunikasi yang berbasis pada pemahaman manusia.

Salah satu pencapaian besar Tiara dalam dunia PR adalah ketika ia membantu Yuvita Apolonia Ginting, seorang kandidat DPRD, untuk membangun personal branding yang lebih dekat dengan rakyat.

Ia merancang kampanye yang tidak mengandalkan jargon politik atau kepentingan pribadi, melainkan berbasis pada narasi yang lebih humanis, jujur, dan langsung menyentuh hati masyarakat.

Dengan pendekatan yang lebih empatik dan terfokus pada nilai, Tiara tidak hanya berhasil membuat kampanye yang menarik, tetapi juga menghubungkan kandidat dengan pemilihnya di tingkat yang lebih pribadi.

Ini adalah contoh bagaimana komunikasi dapat menjadi kekuatan yang menyatukan, bukan memisahkan.

KOPLING 2025: Menggabungkan Musik dan UMKM dengan Sentuhan PR yang Taktis

Dalam proyek terbesar Tiara, Festival Musik Koplo Keliling (KOPLING) 2025, perannya tidak hanya terbatas pada menyampaikan pesan.

Tiara hadir sebagai pilar komunikasi yang menjembatani berbagai pihak: kementerian, media, sponsor, UMKM, dan tentu saja, publik.

Festival ini tidak hanya tentang musik, tetapi juga tentang pemberdayaan ekonomi rakyat melalui promosi UMKM yang lebih luas.

Sebagai PR untuk KOPLING 2025, Tiara mengoordinasikan strategi komunikasi yang melibatkan banyak stakeholder.

Festival ini adalah bukti nyata bahwa musik dapat menjadi penggerak ekonomi, bukan hanya hiburan belaka.

Dengan dua lokasi besar—Gambir Expo Jakarta pada 8–9 November dan Stadion Pakansari Cibinong pada 22–23 November—KOPLING 2025 akan menjadi ajang terbesar untuk memperkenalkan produk UMKM Indonesia ke khalayak lebih luas, sambil mengguncang industri musik dengan penampilan-penampilan spektakuler.

Di tangan Tiara, pesan yang ingin disampaikan sangat jelas: musik koplo bukan sekadar hiburan, tetapi juga motor penggerak ekonomi rakyat.

Tiara bekerja di balik layar untuk memastikan bahwa setiap elemen festival ini—dari media coverage, hubungan sponsor, hingga partisipasi UMKM—berjalan lancar dan terkoordinasi dengan baik.

Ia menjaga agar setiap cerita yang dibawa oleh UMKM memiliki ruang untuk berkembang, sementara pesan festival tetap terasa kuat di setiap langkah.

Jejak yang Tertinggal: Antara Kejujuran dan Konsistensi

Jika ada satu hal yang membedakan Tiara dari banyak profesional lain di bidang komunikasi, itu adalah ketenangannya.

Di dunia yang sering kali terburu-buru, Tiara tidak tergesa-gesa untuk membuat langkah besar yang melibatkan banyak sorotan.

Sebaliknya, ia memilih jalur yang lebih pelan, tetapi dengan konsistensi yang tak tergoyahkan.

Melalui pengalaman panjang di dunia PR, Tiara memahami satu prinsip dasar: bahwa reputasi adalah sesuatu yang harus dijaga, bukan dicari.

Baginya, PR bukan hanya tentang seberapa cepat kita bisa mengirimkan pesan atau membuat sebuah cerita viral—tetapi seberapa dalam kita memahami dampak dari pesan yang kita kirimkan.

Setiap langkah yang diambil oleh Tiara dalam kariernya adalah langkah yang terukur, penuh perencanaan, dan berlandaskan nilai yang kuat.

Baik itu di dunia musik, politik, atau UMKM, Tiara selalu menyusun setiap narasi dengan kesadaran penuh bahwa kepercayaan dan integritas adalah modal utama dalam membangun reputasi yang abadi.

Melangkah ke Depan: Tiara yang Akan Terus Membuat Cerita

Ke depan, Tiara sudah menyiapkan dirinya untuk lebih dari sekadar PR di balik layar.

Dengan pengalaman yang terus berkembang, baik di dunia musik, komunikasi, dan ekonomi kreatif, ia akan terus mengembangkan dirinya dan memperkuat personal branding yang telah dibangunnya.

Ia bukan hanya seorang PR—ia adalah penjaga cerita yang tahu kapan harus berbicara, kapan harus mendengarkan, dan kapan harus membawa pesan itu ke ruang yang tepat.

Satu hal yang pasti: dalam setiap perjalanan dan cerita yang ia bangun, Tiara akan terus memainkan peran penting dalam membentuk narasi yang lebih baik—untuk perusahaan, untuk masyarakat, dan untuk dunia yang terus berkembang.

David Coverdale Umumkan Pensiun Dari Dunia Musik

0
David Coverdale

MUSIKPLUS – Kabar mengejutkan datang dari jagad musik rock dunia. Legenda musik rock asal Inggris berusia 74 tahun David Coverdale telah mengumumkan pensiun dari hingar-bingar dunia musik.

Mantan vokalis Deep Purple pada 1974-1975 ini mengabarkan keputusannya untuk pensiun dalam sebuah pesan video.

“Tuan-tuan dan nyonya-nyonya, anak-anak dan perempuan, saudara-saudara snake, pengumuman khusus untuk Anda. Setelah 50 tahun-plus perjalanan yang luar biasa bersamamu, dengan Deep Purple, dengan Whitesnake, Jimmy Page, beberapa tahun terakhir telah sangat jelas bagi saya bahwa sudah waktunya benar-benar bagi saya untuk menggantung sepatu platform rock and roll saya dan celana jeans kulit saya,” kata David Coverdale.

Coverdale melanjutkan,  “Dan seperti yang Anda lihat, kami telah merawat wig singa. Tapi sudah waktunya bagi saya untuk menyebutnya sehari,” lanjutnya.

Dalam video tersebut, David mengucakan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu selama menjalani karir musiknya yang sangat panjang.

“Aku sangat mencintaimu. Saya berterima kasih kepada semua orang yang telah membantu dan mendukung saya dalam perjalanan yang luar biasa ini, semua musisi, kru, penggemar, keluarga. Sungguh menakjubkan, tetapi ini benar-benar saatnya bagi saya untuk menikmati masa pensiun saya. Dan kuharap kau bisa menghargainya. Sekali lagi, aku mencintaimu sepenuh hati. Selamat tinggal.” tutup Coverdale.

Sebelum mendirikan band Whitesnake pada tahun 1978, Coverdale pernah bergabung dengan Deep Purple dalam 3 album yaitu  B”Burn” tahun 1974, “Stormbringer” juga tahun 1974 dan album Come Taste The Band di tahun 1975.

Ia juga pernah membuat album duo dengan gitaris Led Zeppelin Jimmy Page pada tahun 1991 dengan judul album Coverdale/Page.