Kategori: Info +

Headline

  • Groovify Debut Lewat “Menunggu Bersamamu”: Patah Hati Dibungkus City Pop yang Ceria

    Groovify Debut Lewat “Menunggu Bersamamu”: Patah Hati Dibungkus City Pop yang Ceria

    MUSIK+ – Band pendatang baru asal Semarang, Groovify, resmi membuka langkahnya di industri musik lewat single perdana berjudul “Menunggu Bersamamu” yang dirilis pada 28 Maret 2026.

    Alih-alih tenggelam dalam sendu, lagu ini justru memutar arah: patah hati dibingkai dengan nuansa ringan, hangat, dan terasa mengalun santai di telinga.

    Di balik liriknya yang bercerita tentang harapan yang tak berbalas, Dana Laga—vokalis sekaligus penulis lirik—memilih pendekatan yang tidak biasa.

    Ia meracik emosi patah hati dengan balutan aransemen yang fun, memadukan sentuhan jazz dengan warna city pop modern yang terasa segar.

    “Walaupun ceritanya tentang putus asa mengejar cinta, kami sengaja bikin aransemennya tetap ceria. Jadi, rasa sedihnya seperti tertutup oleh harapan yang pelan-pelan muncul,” ujar Dana.

    Hasilnya, “Menunggu Bersamamu” tidak sekadar jadi lagu galau. Ia hadir sebagai pengalaman emosional yang lebih elegan—seolah mengajak pendengar berdamai dengan rasa, tanpa harus larut terlalu dalam.

    Patah hati di sini bukan luka, tapi fase yang bisa dinikmati dengan ritme yang tetap hidup.

    Groovify sendiri terbilang wajah baru. Band ini resmi terbentuk pada 19 Februari 2025, beranggotakan Dana Laga (vokal), Adi Kurniawan (gitar), Wahyu Rilnanda (keyboard), Aqeela Razel (drum), Ivan Maulana (bass), Jamesha (perkusi), dan Tasya Sherin (vokal).

    Awalnya, mereka hanya membidik panggung-panggung reguler—kafe, restoran, hingga acara korporat.

    Nama mereka sempat rutin mengisi panggung Ampitheater Awanncosta, POJ City, Semarang, selama hampir setahun.

    Dari situ, jam terbang terbentuk, panggung demi panggung dilalui, hingga akhirnya muncul satu kegelisahan: berhenti jadi band cover, dan mulai bicara dengan karya sendiri.

    “Setelah cukup lama manggung, kami merasa harus punya identitas. Rilis lagu original jadi langkah awal kami untuk benar-benar masuk ke industri,” kata Tasya Sherin.

    Keputusan itu jadi titik balik. Dari panggung ke studio, dari membawakan lagu orang ke menciptakan suara sendiri.

    “Menunggu Bersamamu” pun lahir sebagai penanda: Groovify bukan sekadar band pengisi acara, tapi musisi yang sedang mencari tempatnya di tengah riuh industri.

    Harapannya sederhana, tapi terasa jujur—tetap solid, terus berkarya, dan perlahan membangun warna yang khas di setiap rilisan berikutnya.

    Karena di musik, seperti juga dalam cinta, yang bertahan bukan yang paling cepat, tapi yang paling konsisten menjaga rasa.

  • myBCA Java Jazz 2026: Festival Jazz Terbesar Asia Kembali Digelar

    myBCA Java Jazz 2026: Festival Jazz Terbesar Asia Kembali Digelar

    Musik+ – Ada banyak festival musik di dunia. Sebagian lahir dengan gegap gempita, lalu hilang sebelum sempat menjadi tradisi. Namun ada pula festival yang tumbuh perlahan, membangun reputasi tahun demi tahun, hingga akhirnya menjadi institusi budaya.

    Di Indonesia, nama itu adalah Java Jazz Festival.

    Ketika memasuki tahun ke-21 pada 2026, festival ini bukan lagi sekadar panggung musik. Ia telah menjadi simbol bagaimana sebuah ekosistem industri kreatif bisa bertahan, berevolusi, dan tetap relevan dalam lanskap global yang terus berubah.

    Di tengah persaingan festival musik yang semakin agresif, myBCA International Java Jazz Festival 2026 memilih langkah yang tidak biasa: berevolusi tanpa meninggalkan akar.

    Langkah pertama terlihat dari perubahan skala. Tahun ini festival dipindahkan ke lokasi baru, NICE (Nusantara International Convention Exhibition) PIK 2, Tangerang. Area yang lebih luas ini memungkinkan penyelenggara menghadirkan pengalaman festival kelas dunia yang lebih imersif. Selama tiga hari, 29 hingga 31 Mei 2026, sepuluh panggung besar akan diisi aliran musik yang tidak pernah berhenti.

    Namun perubahan ini bukan sekadar soal ruang.

    Ia adalah sinyal bahwa Java Jazz sedang memasuki fase baru.

    Ekosistem yang Dibangun Dua Dekade

    Dalam dunia festival, umur panjang adalah kemewahan. Banyak event lahir sebagai fenomena sesaat, tetapi gagal membangun fondasi jangka panjang.

    Java Jazz mengambil jalur berbeda.

    Sejak pertama kali digelar pada 2005, festival ini dibangun sebagai ekosistem: mempertemukan musisi internasional, talenta lokal, industri kreatif, sponsor, hingga komunitas penonton lintas generasi.

    Kolaborasi ini lebih dari sekadar sponsor. Ini kemitraan strategis untuk keberlanjutan ekosistem kreatif Indonesia,” ujar Dewi Gontha, Direktur Utama Java Festival Production.

    Selama dua dekade, festival ini telah menghadirkan ratusan musisi kelas dunia. Dari legenda jazz hingga bintang pop dan soul modern.

    Lebih penting lagi, Java Jazz menciptakan ruang bagi musisi Indonesia untuk tampil di panggung yang sama dengan artis internasional.

    Di situlah letak kekuatan sebenarnya: panggung global yang tetap berpijak di tanah sendiri.

    Ketika Brand dan Musik Bertemu

    Masuknya myBCA sebagai sponsor utama menandai babak baru dalam hubungan antara industri musik dan sektor keuangan digital.

    Di era ekonomi kreatif, festival musik bukan lagi sekadar hiburan. Ia adalah platform ekonomi.

    Bagi BCA, kolaborasi ini merupakan cara untuk terlibat langsung dalam ekosistem kreatif yang terus berkembang.

    Sebagai bagian dari komitmen kami mendukung industri kreatif Indonesia, myBCA bangga dapat berkolaborasi di tahun ke-21 Java Jazz Festival,” ujar Norisa, EVP Transaction Banking Business Development BCA.

    Kolaborasi ini juga membawa transformasi digital ke dalam pengalaman festival. Dari pembelian tiket hingga transaksi di lokasi, sistem pembayaran dirancang semakin praktis melalui layanan digital BCA.

    Dalam bahasa sederhana: festival musik kini juga menjadi ruang eksperimen ekonomi digital.

    Panggung Dunia di Jakarta

    Dari sisi artistik, lineup tahun ini mempertegas posisi Java Jazz sebagai titik pertemuan musik dunia.

    Nama-nama besar dari berbagai negara akan tampil, termasuk:

    • Jon Batiste, peraih 8 Grammy Awards

    • Earth, Wind & Fire by Al McKay

    • Incognito

    • Dave Koz & the Summer Horns

    • Ella Mai

    • wave to earth

    Kehadiran artis internasional ini dilengkapi oleh musisi Indonesia seperti Slank, RAN, Maliq & D’Essentials, Ziva Magnolya, hingga Bilal Indrajaya.

    Perpaduan ini menciptakan spektrum musik yang luas—dari jazz klasik hingga R&B modern, dari soul hingga fusion.

    Bagi penonton, ini bukan sekadar konser.

    Ini adalah perjalanan musikal lintas benua.

    Jazz yang Menyentuh Semua Generasi

    Ada satu hal yang membuat Java Jazz berbeda dari festival lain: ia berhasil menembus batas generasi.

    Penonton yang datang di awal 2000-an kini kembali membawa anak mereka.

    Jazz yang dulu dianggap musik “orang tua” kini menemukan audiens baru di kalangan generasi muda.

    Fenomena ini jarang terjadi dalam industri musik.

    Namun Java Jazz berhasil melakukannya dengan satu pendekatan sederhana: menjaga kualitas, sambil membuka diri pada eksplorasi genre baru.

    Masa Depan Festival Musik Indonesia

    Di tengah perubahan lanskap industri hiburan global, Java Jazz memberi satu pelajaran penting: festival musik yang bertahan bukan hanya soal lineup artis.

    Ia adalah soal narasi, komunitas, dan keberlanjutan ekosistem.

    Ketika banyak festival berlomba menjadi yang paling besar, Java Jazz memilih menjadi yang paling konsisten.

    Dan setelah 21 tahun, konsistensi itu kini telah berubah menjadi warisan.

    Warisan bagi industri musik Indonesia.
    Warisan bagi generasi penikmat musik berikutnya.

    Karena pada akhirnya, seperti jazz itu sendiri—

    musik terbaik selalu lahir dari keseimbangan antara tradisi dan improvisasi.

  • Kisah PR Tiara Hermanto Mengawal Musik Koplo dan UMKM Naik Kelas

    Kisah PR Tiara Hermanto Mengawal Musik Koplo dan UMKM Naik Kelas

    MUSIK+ – Di balik layar industri musik dan komunikasi Indonesia, ada satu nama yang semakin diperhitungkan, tetapi jarang terlihat oleh publik secara luas.

    Tiara Lupita Ayu Hermanto, seorang Public Relations Specialist yang kini berperan besar di PT JMusic Global Group, telah membuktikan bahwa di dunia yang semakin didorong oleh pencitraan dan visual, komunikasi yang sejati tetap lahir dari ketenangan, ketepatan, dan kedalaman pemahaman akan manusia itu sendiri.

    Di tengah kegilaan industri hiburan yang penuh sorotan dan gempita, Tiara mengambil langkah yang berbeda: ia memilih untuk berbicara melalui pekerjaan yang membangun reputasi dengan hati-hati, memastikan bahwa pesan yang ia sampaikan mencerminkan integritas dan nilai yang berkelanjutan.

    Namun, jika Anda hanya mengenal Tiara sebagai PR perusahaan besar, Anda mungkin belum sepenuhnya mengenalnya.

    Tiara, lebih dari sekadar seorang komunikator—ia adalah penjaga narasi, seseorang yang menganggap komunikasi bukan sekadar tugas, tetapi sebuah seni untuk merawat hubungan manusia.

    Dari menyuarakan pesan besar perusahaan hingga membangun citra individu dan merek, Tiara memiliki pendekatan yang mengedepankan empati dan pemahaman terhadap konteks.

    Menariknya, peran Tiara dalam dunia PR tidak terbatas pada dunia korporasi saja.

    Sebagai seorang yang memiliki pengalaman di dunia musik—sebagai vokalis band UNDVD dan pengisi suara dalam berbagai proyek—Tiara memahami bahwa komunikasi yang sesungguhnya berakar pada kemampuan untuk mendengarkan, meresapi, dan kemudian menyampaikan.

    Sebagai bagian dari proyek besar, Tiara juga terlibat dalam Festival Musik Koplo Keliling (KOPLING) 2025, sebuah inisiatif kolaborasi antara Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dan Gajah Mada Entertainment yang menggabungkan musik dan ekonomi kreatif.

    Dengan dua lokasi besar: Gambir Expo Jakarta (8–9 November) dan Stadion Pakansari Cibinong (22–23 November), festival ini tidak hanya akan mengguncang dunia musik Indonesia, tetapi juga menjadi motor penggerak untuk pemberdayaan UMKM—suatu langkah besar untuk menyatukan industri kreatif dan ekonomi rakyat.

    Di tengah peran penting yang ia emban, Tiara hadir bukan hanya sebagai seorang PR yang berdiri di depan meja rapat atau menulis rilis pers, tetapi sebagai seseorang yang menata setiap pesan dengan penuh pertimbangan—karena ia memahami, bahwa dalam dunia yang semakin cepat bergerak, hanya pesan yang tepat yang dapat bertahan lama.

    Mendalami Dunia yang Tidak Tergesa: Tiara dan Komunikasi yang Tepat Sasaran

    Lahir dan tumbuh besar di Indonesia, Tiara mulai mengenal dunia komunikasi melalui panggung.

    Ia adalah vokalis dari UNDVD, band gospel kontemporer yang memadukan musik modern dengan nilai spiritual.

    Dari sana ia belajar bahwa musik bukan hanya hiburan, tetapi juga cara untuk menyampaikan pesan yang mendalam.

    Suara bukan sekadar alat, melainkan identitas—sesuatu yang lebih dari sekadar nada, tetapi juga emosi, cerita, dan pengalaman.

    Pengalaman di panggung membentuk cara pandangnya terhadap dunia.

    Ketika banyak orang berbicara tentang reputasi dan citra, Tiara lebih sering memperhatikan bagaimana suara dan pesan diterima, serta bagaimana audiens merespons.

    Di situlah letak kekuatannya—ia tahu bahwa citra yang baik tidak dibangun dengan berlebihan, tetapi dengan keseimbangan antara emosi dan logika.

    Langkah selanjutnya adalah mengembangkan keterampilan voice over—sebuah bidang yang membuka jalan baginya untuk berperan dalam berbagai proyek besar, termasuk pengisi suara di acara penting Blue Bird Group Tbk di Ibu Kota Nusantara.

    Tidak hanya mengisi suara, Tiara menyadari bahwa di balik setiap kata yang ia ucapkan, ada makna yang harus disampaikan dengan penuh perhitungan.

    Pengalaman seperti ini memperkaya keterampilannya dalam komunikasi.

    Ia belajar bahwa suara yang benar-benar kuat tidak hanya terdengar, tetapi juga terasa.

    Dari sinilah, Tiara belajar bahwa dalam dunia PR, komunikasi bukan hanya soal apa yang dikatakan, tetapi juga bagaimana cara menyampaikannya dengan tepat.

    Tiara dan PR: Menjaga Makna dalam Setiap Pesan

    Berpindah dari dunia musik ke PR, Tiara membawa pendekatan yang berbeda dari kebanyakan profesional.

    Ketika banyak orang berfokus pada pencapaian pribadi atau mencari pengakuan, Tiara justru memilih untuk mendalami seni mendengarkan dan meresapi kebutuhan orang lain.

    Dalam dunia PR di PT JMusic Global Group, ia tidak hanya menyusun pesan, tetapi juga menjaga makna dari setiap narasi yang ia sampaikan.

    Di dunia yang sering kali berbicara dengan nada bising dan berlebihan, Tiara lebih memilih untuk berbicara dengan cara yang halus namun pasti.

    Baginya, PR bukan hanya tentang menjual cerita, tetapi tentang membangun kepercayaan.

    Ia memahami bahwa sebuah brand atau individu tidak akan bertahan lama tanpa kepercayaan tersebut.

    Kepercayaan yang dibangun melalui konsistensi, integritas, dan komunikasi yang berbasis pada pemahaman manusia.

    Salah satu pencapaian besar Tiara dalam dunia PR adalah ketika ia membantu Yuvita Apolonia Ginting, seorang kandidat DPRD, untuk membangun personal branding yang lebih dekat dengan rakyat.

    Ia merancang kampanye yang tidak mengandalkan jargon politik atau kepentingan pribadi, melainkan berbasis pada narasi yang lebih humanis, jujur, dan langsung menyentuh hati masyarakat.

    Dengan pendekatan yang lebih empatik dan terfokus pada nilai, Tiara tidak hanya berhasil membuat kampanye yang menarik, tetapi juga menghubungkan kandidat dengan pemilihnya di tingkat yang lebih pribadi.

    Ini adalah contoh bagaimana komunikasi dapat menjadi kekuatan yang menyatukan, bukan memisahkan.

    KOPLING 2025: Menggabungkan Musik dan UMKM dengan Sentuhan PR yang Taktis

    Dalam proyek terbesar Tiara, Festival Musik Koplo Keliling (KOPLING) 2025, perannya tidak hanya terbatas pada menyampaikan pesan.

    Tiara hadir sebagai pilar komunikasi yang menjembatani berbagai pihak: kementerian, media, sponsor, UMKM, dan tentu saja, publik.

    Festival ini tidak hanya tentang musik, tetapi juga tentang pemberdayaan ekonomi rakyat melalui promosi UMKM yang lebih luas.

    Sebagai PR untuk KOPLING 2025, Tiara mengoordinasikan strategi komunikasi yang melibatkan banyak stakeholder.

    Festival ini adalah bukti nyata bahwa musik dapat menjadi penggerak ekonomi, bukan hanya hiburan belaka.

    Dengan dua lokasi besar—Gambir Expo Jakarta pada 8–9 November dan Stadion Pakansari Cibinong pada 22–23 November—KOPLING 2025 akan menjadi ajang terbesar untuk memperkenalkan produk UMKM Indonesia ke khalayak lebih luas, sambil mengguncang industri musik dengan penampilan-penampilan spektakuler.

    Di tangan Tiara, pesan yang ingin disampaikan sangat jelas: musik koplo bukan sekadar hiburan, tetapi juga motor penggerak ekonomi rakyat.

    Tiara bekerja di balik layar untuk memastikan bahwa setiap elemen festival ini—dari media coverage, hubungan sponsor, hingga partisipasi UMKM—berjalan lancar dan terkoordinasi dengan baik.

    Ia menjaga agar setiap cerita yang dibawa oleh UMKM memiliki ruang untuk berkembang, sementara pesan festival tetap terasa kuat di setiap langkah.

    Jejak yang Tertinggal: Antara Kejujuran dan Konsistensi

    Jika ada satu hal yang membedakan Tiara dari banyak profesional lain di bidang komunikasi, itu adalah ketenangannya.

    Di dunia yang sering kali terburu-buru, Tiara tidak tergesa-gesa untuk membuat langkah besar yang melibatkan banyak sorotan.

    Sebaliknya, ia memilih jalur yang lebih pelan, tetapi dengan konsistensi yang tak tergoyahkan.

    Melalui pengalaman panjang di dunia PR, Tiara memahami satu prinsip dasar: bahwa reputasi adalah sesuatu yang harus dijaga, bukan dicari.

    Baginya, PR bukan hanya tentang seberapa cepat kita bisa mengirimkan pesan atau membuat sebuah cerita viral—tetapi seberapa dalam kita memahami dampak dari pesan yang kita kirimkan.

    Setiap langkah yang diambil oleh Tiara dalam kariernya adalah langkah yang terukur, penuh perencanaan, dan berlandaskan nilai yang kuat.

    Baik itu di dunia musik, politik, atau UMKM, Tiara selalu menyusun setiap narasi dengan kesadaran penuh bahwa kepercayaan dan integritas adalah modal utama dalam membangun reputasi yang abadi.

    Melangkah ke Depan: Tiara yang Akan Terus Membuat Cerita

    Ke depan, Tiara sudah menyiapkan dirinya untuk lebih dari sekadar PR di balik layar.

    Dengan pengalaman yang terus berkembang, baik di dunia musik, komunikasi, dan ekonomi kreatif, ia akan terus mengembangkan dirinya dan memperkuat personal branding yang telah dibangunnya.

    Ia bukan hanya seorang PR—ia adalah penjaga cerita yang tahu kapan harus berbicara, kapan harus mendengarkan, dan kapan harus membawa pesan itu ke ruang yang tepat.

    Satu hal yang pasti: dalam setiap perjalanan dan cerita yang ia bangun, Tiara akan terus memainkan peran penting dalam membentuk narasi yang lebih baik—untuk perusahaan, untuk masyarakat, dan untuk dunia yang terus berkembang.

  • Day Zero Festival Bakal Digelar di Bali Tahun Depan

    Day Zero Festival Bakal Digelar di Bali Tahun Depan

    MUSIK+  – Setelah bertahun-tahun dikenal sebagai perayaan musik elektronik paling spiritual dan eksklusif di jantung hutan Tulum, Meksiko, Day Zero Festival yang digagas Damian Lazarus akhirnya mengumumkan ekspansinya ke Asia Tenggara.

    Bali terpilih menjadi panggung debut Day Zero pada 17 April 2026. Keputusan ini, menurut Lazarus, bukan sekadar urusan bisnis, melainkan panggilan jiwa yang dipicu oleh “energi kosmik” Bali.

    Perluasan ini menjadikan tahun 2026 sebagai periode monumental bagi Day Zero. Keputusan untuk memperluas jangkauan itu sendiri dilakukan dengan sangat selektif.

    “Tidak pernah ada rencana konkret untuk Day Zero di luar rumah spiritual kami di Tulum. Namun, selama bertahun-tahun, tim saya dan saya telah bepergian ke banyak tempat terpencil, menjajaki peluang baru—seringkali atas undangan produser dan promotor acara yang sudah mapan,” kata Lazarus, dikutip Billboard, Sabtu, 14 November.

    “Kami telah sangat berhati-hati dalam ekspansi kami, tidak pernah ingin terburu-buru melakukan sesuatu yang tidak terasa benar-benar tepat untuk kami semua,” smabungnya.

    Adapun, Day Zero Bali akan diproduksi melalui kemitraan dengan Savaya Group, tim produksi yang dikenal menyelenggarakan acara musik dansa di Bali, Jakarta, dan sekitarnya.

    Keahlian Savaya dalam produksi acara di Pulau Dewata menjadi alasan utama terjalinnya kolaborasi ini.

    “Beberapa tahun yang lalu, saya juga mulai menjelajahi Bali sebagai tujuan potensial untuk menenun keajaiban kami. Saat saya menghabiskan lebih banyak waktu di sana, menyelami kekayaan budaya, tradisi, dan energi kosmiknya, saya jatuh cinta sedalam-dalamnya pada pulau ini,” ujar Lazarus. “Koneksi itu membawa saya untuk memulai dialog dengan Savaya Group, yang langsung saya kenali sebagai mitra sempurna untuk membantu mewujudkan visi yang telah saya kembangkan—sebuah festival spektakuler yang berlatar tempat luar biasa yang saya temukan.”

    Sebelum mendarat di Bali, festival yang kental dengan nuansa deep house dan tech house spiritual ini akan singgah lebih dulu di São Miguel dos Milagres, sebuah kota di pesisir utara Alagoas, Brasil, pada 3 Januari 2026.

    Sepekan setelahnya, pada 10 Januari 2026, Day Zero akan kembali ke ‘rumah spiritual’ aslinya di Tulum, yang telah menjadi lokasi tahunan sejak 2012.

    Edisi Tulum akan menampilkan DJ Mau P, Seth Troxler, Nicola Cruz, Damian Lazarus sendiri, dan banyak nama besar lainnya yang akan diumumkan dalam beberapa bulan mendatang.

    Lazarus melanjutkan, alasan penambahan dua edisi baru Day Zero tahun tahun depan dikarenakan keyakinannya bahwa tahun 2026 adalah waktu yang tepat untuk berekspansi.

    Ia mengatakan, tim Day Zero terdiri dari individu yang sangat berbakat dan terhubung secara istimewa di Meksiko setiap tahun untuk menciptakan pengalaman dunia lain.

    “Kami membahas ide untuk membawa cinta dan niat tulus kami ke tempat-tempat istimewa lainnya dan sepakat bahwa kami mampu membangun apa yang telah kami ciptakan sejauh ini; kami semua mendengar panggilan untuk menciptakan keajaiban semacam ini di beberapa tempat lain,” tuturnya.

    Ia juga menjelaskan, lokasi Day Zero sangat memengaruhi pilihan artis yang akan tampil. “setiap lokasi berbicara kepada saya dengan cara yang berbeda. Saya harus melihat lokasi dan mencoba membayangkan apa yang akan dan tidak akan berhasil di setiap lokasi. Saya mencoba membuat daftar artis sambil berjalan di lokasi, membayangkan bagaimana kami akan mengubah tempat itu dan jenis suara seperti apa serta artis dan kepribadian seperti apa yang akan bersinar di sana,” ungkapnya.

    Lazarus memastikan, tiga acara di Tulum, Brasil, dan Bali akan menjadi satu-satunya edisi Day Zero yang diadakan sepanjang tahun 2026. Hal ini didasari tuntutan produksi yang sangat detail.

    “Kami tidak pernah ingin mengurangi etika kami, perhatian dan detail kami, aktivasi keberlanjutan kami, atau koneksi tulus yang dipimpin oleh pertunjukan kami dengan masyarakat adat dan tradisi mistis,” tandasnya.

  • KOPLING 2025 Hadir di Pakansari: NDX AKA hingga The Changcuters Siap Tampil Meriah

    KOPLING 2025 Hadir di Pakansari: NDX AKA hingga The Changcuters Siap Tampil Meriah

    MUSIK+ — Festival Musik Koplo Keliling (KOPLING) 2025 akan kembali mengguncang Jawa Barat melalui gelaran kedua di Stadion Pakansari, Cibinong, pada 22–23 November 2025.

    Antusiasme publik meningkat tajam setelah penyelenggara resmi mengumumkan bahwa NDX AKA, salah satu grup koplo-hiphop paling berpengaruh di Indonesia, turut bergabung sebagai penampil utama.

    Informasi ini dirilis tak lama setelah KOPLING mencatat sukses besar dalam rangkaian perdana di Gambir Expo, Jakarta, pada 8–9 November lalu.

    KOPLING 2025 merupakan inisiatif Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) bersama Gajah Mada Entertainment, yang dirancang bukan sekadar festival musik, melainkan sebagai platform strategis untuk memperkuat ekosistem UMKM melalui interaksi langsung antara budaya populer, pasar kreatif, dan pelaku usaha lokal.

    Penggabungan antara panggung musik koplo, zona UMKM, kuliner lokal, hingga produk-produk kreatif UMKM menjadi salah satu kekuatan utama yang membedakan KOPLING dari festival musik lainnya.

    Harga Tiket Resmi KOPLING Cibinong 2025

    Penyelenggara merilis daftar harga tiket lengkap yang dapat dibeli melalui platform Goers dan akun resmi @koplokeliling.

    Seluruh harga belum termasuk pajak dan biaya platform. Berikut detailnya:

    Tiket 2 Hari

    • RZQ X KOPLING – VIP 2 Days Pass: IDR 260.000 (Max 100 tix/user)
    • RZQ X KOPLING – Festival 2 Days Pass: IDR 200.000 (Max 100 tix/user)
    • VIP – 2 Days Pass: IDR 210.000 (Max 5 tix/user)
    • Festival – 2 Days Pass: IDR 150.000 (Max 100 tix/user)
    • SIMPATI X KOPLING – Festival 2 Days Pass: IDR 150.000 (Segera Hadir)

    Tiket Harian

    • VIP – Day 1 (22 Nov): IDR 130.000
    • VIP – Day 2 (23 Nov): IDR 130.000
    • Festival – Day 1 (22 Nov): IDR 85.000
    • Festival – Day 2 (23 Nov): IDR 85.000

    Paket ini menawarkan pilihan fleksibel bagi penonton yang ingin menikmati festival penuh dua hari atau memilih penampilan musisi favorit di hari tertentu.

    Line-up Pengisi Acara

    Gelaran KOPLING Cibinong menghadirkan puluhan musisi lintas genre dalam dua hari penyelenggaraan.

    Pada Day 1 (22 November), panggung akan diramaikan oleh Guyon Waton, Maliq & D’Essentials, Feby Putri, Mr. Jono & Joni, Fakedopp, Batas Senja, Drive, serta kelompok-kelompok koplo kreatif seperti Start Koplo, Warga Koplo, Koplo Disko, dan Spontan Music.

    Perpaduan antara indie pop, band besar, hingga komunitas koplo menjadi warna khas yang menunjukkan bagaimana musik koplo mampu berkolaborasi dengan genre lain.

    Pada Day 2 (23 November), penonton dapat menikmati penampilan The Changcuters, Ndarboy Genk, Aftershine, Juicy Lucy, Lomba Sihir, serta musisi lain seperti Della Monica ft. DJ Gemoy, Aldi Taher, Om Abidin, Pegawai Musik Sipil, Jakarta Koplo, Biang Koplo, Starbe, hingga Mendadak Koplo.

    Tampilnya NDX AKA di hari kedua diprediksi menjadi magnet utama yang akan menarik penonton dalam jumlah besar, terutama komunitas koplo-hiphop yang selama ini menjadi basis penggemar setia grup tersebut.

    Akses Transportasi Menuju Stadion Pakansari

    Lokasi Stadion Pakansari relatif strategis dan dapat dijangkau dari berbagai arah.

    Dari Jakarta, penonton bisa menggunakan KRL Commuter Line menuju Stasiun Cibinong, kemudian melanjutkan perjalanan dengan ojek atau angkot sekitar 10 menit.

    Akses tol juga sangat mudah melalui Tol Jagorawi, keluar di Gerbang Tol Cibinong, dan hanya membutuhkan waktu 10 menit untuk mencapai stadion.

    Dari Depok dan Bekasi, jalur Tol Cimanggis–Cibubur menjadi pilihan tercepat.

    Penonton dapat keluar di area Cibinong City Mall dan melanjutkan perjalanan selama 5–10 menit menuju lokasi.

    Transportasi online seperti Gojek dan Grab juga tersedia 24 jam dengan titik drop-off di pintu utama stadion, memudahkan mobilitas penonton dari berbagai kota sekitar Jabodetabek.

    Penginapan Terdekat Stadion Pakansari

    Untuk penonton luar kota atau mereka yang ingin menikmati festival selama dua hari penuh, tersedia beragam pilihan penginapan di sekitar area Pakansari.

    Di antaranya The Michael Cibinong Hotel yang berjarak 5 menit dari stadion, Bigland Sentul Hotel yang dapat dicapai dalam 10–15 menit, serta RedDoorz dan OYO di kawasan Cibinong dengan harga ekonomis.

    Untuk opsi kelas menengah, Savero Hotel Depok dapat menjadi pilihan, yang berjarak sekitar 20 menit perjalanan melalui tol.

    Selain itu, tersedia guest house di area Pakansari yang cocok untuk komunitas dan rombongan besar.

    Kisaran harga kamar berada di rentang Rp250.000 hingga Rp650.000 per malam.

    Festival Musik yang Menggerakkan Ekonomi

    Selain menjadi sarana hiburan, KOPLING 2025 diposisikan sebagai model kolaborasi nyata antara sektor publik dan swasta.

    Festival ini membuktikan bahwa ketika musisi, UMKM, komunitas kreatif, dan penyelenggara berkembang bersama, dampaknya tidak berhenti pada industri hiburan semata, tetapi meluas hingga menggerakkan roda ekonomi masyarakat secara lebih luas.

    Kementerian UMKM menegaskan bahwa festival-lah yang mampu menjadi jembatan antara budaya populer dan misi pemberdayaan ekonomi rakyat.

    Dengan line-up kuat, harga tiket yang beragam, akses mudah, serta dukungan penuh bagi UMKM, KOPLING 2025 diprediksi menjadi salah satu festival musik terbesar dan paling berdampak di Indonesia tahun ini.

    Tiket semakin terbatas. Amankan tiketmu sekarang, pilih paket sesuai kebutuhan, dan siap menikmati ledakan musik koplo di Pakansari!

  • Once Mekel Gandeng Franky Raden Inisiasi Terbentuknya Orkestra Tradisional Beranggotakan Talenta Muda

    Once Mekel Gandeng Franky Raden Inisiasi Terbentuknya Orkestra Tradisional Beranggotakan Talenta Muda

    MUSIK+ –  Musisi Once Mekel menunjukkan kepedulian dan menaruh perhatian kusus terhadap kebudayaan Indonesia. Hal ini ia tunjukkan dengan membentuk orkestra pemuda dengan memadukan alat musik tradisional daerah yang ada di Indonesia.

    Menariknya orkestra yang digagas Once ini beranggotakan talenta-talenta muda, yang sebagian besar masih duduk di bangku sekolah SMK.

    Menurut Once, kegiatan ini sebagai bentuk kepedulian dirinya, akan adanya  regenerasi kdepan.

    ” Saya pingin kebudayaan ini ada semacam regenerasi berkesinambungan, makanya saya mengajak para pemain orkestra muda ini untuk menggelar sebuah konser orkkestra dengan memadukan alat musik tradisional yang ada di Indonesia,” kata Once, saat ditemui di De Heng, Kawasan Kemang, pada Sabtu (18/10).

    Tak hanya regenerasi, acara ini juga bertujuan untuk  melestarikan, mengembangkan dan memanfaatkan kebudayaan.

    ” Selain regenerasi, yang terpenting juga adalah pelestarian, kemudian engembangan dan pemanfaatan. Jadi tiga unsur ini harus jalan bersamaan. Selain melestarikan, kita juga harus mengembangkan, bisa saja dengan berimprovisasi dengan menggabungkan orkestra dengan alat tradisional atau yang lain. Kemudian pemanfaatan, jadi bagi para pemainnya juga harus mendatangkan manfaat, misalnya dengan menggelar konser berkelanjutan tau semacam Roed Show, jadi dengan begitu manfaatnya bisa dirasakan baik oleh pemain maupun masyarakat.” lanjut Anggota Komisi X DPR RI ini.

    Tak sendirian, dalam menyelenggarakan acara ini Once berkolaborasi dengan maestro musik tradisi yaitu Franki Raden, dan Lexi M Budiman dari DeHeng House sebagai tempat penyelenggaraan acara.

    Franky Raden  yang selama ini kita kenal getol menggelar konser musik tradisi Indonesia keliling manca negara mengapresiasi ide dari Once Mekel.

    ” Konser orkestra ini aku pikir ide pribadi Once ya, meskipun dia ada di Komisi X DPR RI, dan ini menurut saya ide :gila” juga, apalagi semua biaya dia cover sendiri. Jadi ini sebagai bukti bahwa Once memiliki kepedulian yang kuat melestarikan, mengembangkan dan meanfaatkan t musik tardisional itu tadi,” kata Franki Raden.

    Lebih lanjut, Franki Raden menamahkan bahwa gagasan Once untuk melestarikan, mengembangkan dan memanfaatkan ini langsung diterjemahkan secara nyata.

    “Gagasan Once melestarikan itu nanti akan saya wujudkan, caranya begini, nanti pas latihan kita akan undang sekolah-sekolah untuk nonton, atau kita sebut Open Reharsal. Jadi dari situ secara langsung bisa memotivasi anak-anak lain untuk menyukai kemudian menarik minat untuk  bermain alat musik, terutama tradisional. Dengan cara ini kita sudah melakukan pelestarian dan pengembangan, ” lajut Franky.

    Berawal dari sini, baik Franki dan Once berharap kedepan pemerintah berperan akif untuk  bisa membentuk semacam State Orchestra.

    ” Saya berharap banget, Indonesia ini punya semacam “State Orchestra”, seperti London Orchestra, Berlin Orchestra. Jadi saya berharap negara dalam hal ini pemerintah harus membuat, mereka diposisikan seperti pegawai negri yang digaji, dikasih tunjangan kesehatan dan lain-lain. Semoga konser yang digagas Once bisa menjadi cikal bakal lahirnya State Orchestra,” tutup Franki./Ib.

  • Tantowi Yahya Ingin Musik Country Punya Ajang Tahunan Seperti Java Jazz

    MUSIK+ – Gelaran musik tahunan Country Music Club of Indonesia (CMCI) memang sempat madeg untuk beberpa waktu.  Bukan hanya pagelarannya saja yang madeg, namun juga regenerasinya yang tersendat.

    Hal itu diakui presiden CMCI  Tantowi Yahya disela-sela acara  October Bash yang digelar di Bandung, pada Sabtu (13/10/25).

    “Di Indonesia musik country masih identik dengan orang tua, gunung, dan ndeso. Jadi, anak muda enggak mau, apalagi generasi Z. Padahal, di luar negeri, musik country berkembang seperti musik lain, karena kemasannya berbeda,” kata Tantowi pada 1st Annual Country Music Gathering October Bash di Bumi Sangkuriang, Jalan Kiputih, Kota Bandung, Sabtu, 11 Oktober 2025.

    Tantowi menambahkan, di Indonesia, stigma musik country itu koboi dan orang-orang tua. “Pelan-pelan kami ubah,” kata Tantowi  Tantowi menyebutkan, salah satu wujud regenerasi musik country di Indonesia lahir dari Bandung melalui band Crossroads yang personelnya berusia 17-24 tahun.

    Kemudian, komunitas country line dance juga sudah mulai masuk ke anak muda. Biar bagaimana pun, kata Tantowi, generasi penerus harus diisi anak muda.

    “Regenerasinya pelan-pelan, karena memang enggak mudah. Akan tetapi, saya optimistis, musik country di Indonesia akan terus beregenerasi. Soalnya untuk memperbesar dan memperpanjang umur satu genre harus melibatkan anak muda, karena mereka yang akan meneruskan,” lanjut Tantowi.

    Menurut Tantowi, CMCI akan meneruskan yang telah dilakukan sebelumnya. Salah satunya, masuk ke sekolah, seperti sekolah dasar, kemudian CMCI tampil. Selain itu event-event kecil di daerah akan dihidupkan lagi.

    “Dengan cara yang persuasif, divisi pendidikan CMCI akan kasih coaching. Tak hanya praktik musik country, tapi juga teori-teori musik country dan line dance. Kami akan pakai Crossroads sebagai peluru CMCI, karena mereka masih muda dan menjadi penerus kami untuk masuk ke anak muda,” sambung Tantowi.

    Ciri khas Indonesia  Selain regenerasi, tantangan lain yang dihadapi CMCI adalah menciptakan musik country berciri khas Indonesia. Seperti Australia yang sukses menciptakan musik country ala Australia dengan memakai instrumen tradisional didgeridoo. Begitu pula dengan Meksiko dan Prancis yang memiliki warna musik country sendiri.

    “Kami sedang mencari bagaimana musik country Indonesia. Saya sendiri, sebagai musisi belum mendapatkan rekognisi bagaimana musik country Indonesia,” ujar Tantowi.

    Sebagai wadah penggiat, pemerhati, dan penyuka musik country, 1st Annual Country Music Gathering menjadi momentum penting bagi perjalanan CMCI untuk mengawali perhelatan tahunan para musisi, pecinta, penikmat, dan aktivis musik country di Indonesia.

    Tantowi menegaskan, CMCI bukan sekadar kumpulan penggemar musik country. Akan tetapi, mereka membina persaudaraan dan menjalin silaturahmi. Kendati dihuni ratusan anggota yang terdiri atas lintas agama, ras, budaya, dan suku, tapi mereka disatukan oleh musik country.

    Dengan kembalinya CMCI, kata Tantowi, kegiatan musik country, baik panggung, pendidikan, dan aktivitas sosial akan kembali hidup dan menggeliat.  Tantowi mengaku, mimpinya membuat festival musik country, seperti jazz dengan Java Jazz Festival. Jadi, setiap tahun, para pencinta musik country dan musik pada umumnya akan menantikan acara tersebut.

    “Penginnya diadakan setiap bulan Oktober, makanya namanya October Bash. Tahun depan, bikinnya tetap di Bandung atau kota lain, yang pasti tiap tahun ada October Bash,” ujar Tantowi./Ib.

  • Enteng Tanamal Ultah dan Luncurkan Buku Biografi, Menbud Fadli Zon Berikan Penghargaan

    Enteng Tanamal Ultah dan Luncurkan Buku Biografi, Menbud Fadli Zon Berikan Penghargaan

    MUSIK+ – Musisi Legendaris Indonesia Enteng Tanamal merilis buku biografi sekaligus merayakan ulang tahun yang ke-81 di Perpustakaan Nasional, pada Kamis (9/10).

    Tak hanya sekedar buku biografi, tetapi buku yang berjudul ” Memahami Hak Cipta dan Tata Kelola Royalti Dalam Industri Musik Indonesia” ini juga menjadi tonggak sejarah tentang lahirnya Lembaga Manajemen Kolektif (LMK) yang  pertama di Indnesia, yaitu LMK KCI.

    Selain itu dalam buku tersebut juga berisi edukasi pemahaman tentang tata kelola royalti musik di Indonesia.

    “Ya, buku ini tak hanya mengisahkan perjalanan bermusik saya, tetapi juga berisi tentang bagaimana seharusnya mengelola royalti berdasarkan pengalaman nyata, bukan teori, Belakangan banyak ribut-ribut ssoal royalti kan, nah itu karena ada kesenjangan antara pencipta lagu dan penyanyi atau pemusik,: kata Enteng Tanamal di Jakarta, pada Kamis (9/10).

    Lebih lanjut Enteng Tanamal menambahkan, buku ini juga bermanfaat bagi media, biar nggak asal tulis tanpa sumber yang jelas. Kita lihat faktanya banyak pencipta yang sudah tua-tua, ada yang sudah meninggal dan meninggalkan ahli waris, mereka semua berharap dengan adanya royalti ini. Kalau yang muda dan lagi ngetop sih mungkin kurang peduli ya, tetapi untuk yang sudah tua-tua ini kan sangat dibutuhkan sekali,” lanjut Enteng.

    Enteng Tanamal juga mengatakan bahwa penghargaan atas karya-karya dari  pencipta lagu masih minim sehingga banyak pencipta lagu yang hidupnya memprihatinkan. Menurutnya kalau penyanyi dan pemusiknya masih lumayan.

    “Seperti kita tau dan rasakan ya, dulu pencipta lagu itu karyanya dihargai 25 ribu per lagu, itupun jual putus. Jadi lagu mau diapain saja sama produser dia sudah tidak dapat apa-apa lagi. Tapi kalau pemusiknya masih lumayan lah, bisa daet ratusan ribu, apalagi penyanyinya, kalau lagunya meledak dipasaran bisa dapat juta-jutaan. Nah, sekali lagi  buku ini bisa jadi panduan bagaimana kita mengelola royalti musik berdasarkan kenyatan. Semoga bermanfaat buat perbaikan tata kelola royalti di Indonesia ” kata Enteng Tanamal lagi.

    Selain menekankan tentang tata kelola royalti musik, bukuTrilogi Kehidupan Enteng ini juga banyak mengisahkan bagaimana perjalanan bermusik Enteng Tanamal, dari mulai mendirikan organisasi musik pertama yaitu Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta lagu dan Pemusik Republik Indonesia (PAPPPRI), dan perjalanan bermusik lainnya.

    Salah satu diva Indonesia yang yang hadir dalam acara tersebut mengaku terkesan dengan kiprah Enteng Tanamal. Ia menyebut bahwa sosok Enteng Tanamal adalah orang yang membantu dalam mengawali karirnya.

    “Dulu ada ajang yang namanya Asia Bagus, acara itu diadakan di Singapura, nah saya adalah salah satu pesertanya karena harus pergi keluar negeri, maka Om Enteng lah yang pertama kali membuatkan paspor saya,” kenang Krisdayanti.

    Lebih lanjut Kridayanti menambahkan bahwa diajang Asia Bagus yang pertama itu Enteng Tanamal jadi juri, dan dirinya menjadi pemenangnya.

    “Di ajang Asia Bagus yang pertama itu Om Enteng jadi juri mewakili Indonesia, kebetulan saya yang menang. Waktu itu saya membawakan lagu judulnya “Learning From Love  cipaan Tengku Malinda,” lanjut Krisdayanti.

    Menbud Fadli Zon Saat Menghadiri Launching Buku Biografi Enteng Tanamal

    Dalam peluncuran buku dan perayaan ulang tahun tersebut, tak anya dihadiri oleh kerabat atau teman deket Enteng Tanamal saja, tetapi ada dari kalangan pemerintahan.

    Dari kalangan Pemerintahan ada Menteri Kebudayaan Fadly Zon dan jajarannya, dalam sambutannya Fadly Zon mengatakan,

    “Selamat ulang tahun ke-81 untuk Bang Enteng. Buku ini hadir di waktu yang tepat. Dunia musik kini berubah cepat karena digitalisasi aturan juga harus menyesuaikan. Kita tak bisa terus bernyanyi di masa depan dengan partitur masa lalu,” ujar Fadli.

    Ia menambahkan, musik kini tak lagi sekadar hiburan, tapi juga sumber ekonomi budaya.

    “Negara-negara seperti Korea menjadikan musik sebagai diplomasi budaya. Indonesia juga bisa asal sistemnya berpihak pada pencipta, bukan hanya penikmat.” tambahnya.

    Hadir dari kalangan artis tampak hadir Kris Dayanti, Nia Daniati, Ermy Kulit, Vonny Sumlang, Andre Hehanusa, Obbie Mesakh, Chandra Darusman, Dwikki Dharmawan, Lisa A Riyanto, Reynold Panggabean dan masih banyak lagi.

  • Andien x Tohpati x Vina x Indra Lesmana — Saksikan Kolaborasi Lintas Generasi!

    Andien x Tohpati x Vina x Indra Lesmana — Saksikan Kolaborasi Lintas Generasi!

    MUSIK+— Di antara sorotan lampu panggung dan gema orkestra, Andien kembali menata langkahnya menuju panggung megah Istora Senayan, (9/10/25)

    Lima belas November mendatang, ia akan berdiri di sana — bukan sekadar sebagai penyanyi, melainkan sebagai penutur kisah.

    Dua puluh lima tahun bukan waktu singkat untuk seorang perempuan yang tumbuh bersama denting jazz, denyut pop, dan disko yang menyalakan nostalgia.

    Konser bertajuk Suarasmara ini bukan sekadar perayaan musik. Ia adalah catatan hidup yang ditulis dengan melodi, busana, dan napas keindahan.

    Sejak video manifesto yang dirilis pada hari ulang tahunnya, Andien seolah mengundang publik untuk masuk ke dunia batinnya: tempat musik, cinta, dan nilai-nilai hidup berpadu tanpa batas.

    “Aku ingin konser ini menjadi ruang di mana semua yang pernah menemaniku dalam perjalanan turut bersuara,” ucapnya dalam keterangan resmi.

    Dibalik kemegahan panggung, ada denyut emosi yang lebih dalam: rasa syukur, rasa kehilangan, dan cinta yang tumbuh di tengah perubahan zaman.

    Konser Suarasmara adalah semacam rumah spiritual bagi Andien, tempat ia mengumpulkan serpihan dirinya — dari gadis berani di awal 2000-an hingga ibu dan aktivis lingkungan yang menyalakan harapan di masa kini.

    Empat Babak Perjalanan: Dari Jazz ke Cinta yang Dewasa

    Disutradarai oleh Shadtoto Prasetio, konser ini akan dibagi menjadi empat babak musikal yang dirangkai seperti pertunjukan Broadway: penuh energi visual, dramatis, dan melodius.

    “Semangat dalam karya ini adalah mengulik segala estetika dari Andien,” tutur Shadtoto.

    “Sejak awal, ia selalu berani tampil beda. Konser ini adalah cara untuk mengajak penonton masuk dan merasakan langsung dunia Andien.”

    Babak demi babak akan membawa penonton ke lanskap emosional berbeda — dari jazz romantis, retro yang menggoda, hingga disko futuristik dengan warna-warna Y2K.

    Masing-masing bagian menggambarkan fase kehidupan Andien: dari idealisme muda, kematangan cinta, hingga kebebasan mengekspresikan diri tanpa batas.

    Tohpati, sang music director, menyebut proyek ini sebagai “tantangan unik”.

    Ia harus menyusun narasi musik yang bukan hanya padu secara teknis, tapi juga emosional.

    “Belum pernah saya mengerjakan konser yang musiknya dibagi secara tematik per babak begini,” katanya.

    Hasilnya nanti akan menjadi perjalanan musikal yang memeluk kenangan dan inovasi sekaligus.

    Kolaborasi Lintas Generasi: Suara-suara yang Menyatu

    Satu hal yang membuat Suarasmara begitu istimewa adalah kolaborasi lintas generasi dan genre.

    Nama-nama besar seperti Vina Panduwinata, Indra Lesmana, Diskoria, Wijaya 80, dan White Chorus akan tampil bersama Andien di atas panggung.

    Semua hadir bukan hanya untuk bernyanyi, tetapi menuturkan benang merah perjalanan musik Indonesia.

    “Selama 25 tahun, aku beruntung bisa bertemu banyak musisi berbakat yang menjadi bagian hidupku,” kata Andien.

    “Konser ini bukan hanya milikku, tapi milik semua yang pernah berjalan bersamaku.”

    Di tengah industri yang sering terjebak tren cepat, kolaborasi seperti ini terasa menenangkan — seperti menemukan semilir jazz di tengah hiruk-pikuk algoritma.

    Di sana, Andien meneguhkan bahwa musikalitas sejati adalah dialog lintas waktu, bukan kompetisi usia.

    Panggung, Busana, dan Jiwa yang Merayakan

    Andien memang bukan sekadar penyanyi. Ia adalah fashion statement yang hidup.

    Dalam konser Suarasmara, ia menggandeng desainer ternama seperti Hian Tjen, Eddy Betty, dan Ivan Gunawan, serta label eksentrik DIBBA.

    Bersama mereka, Andien ingin menghadirkan narasi visual yang sejalan dengan musik — feminin tapi tangguh, glamor tapi jujur.

    Hian Tjen mengakui tantangan kolaborasi ini: “Bagaimana menyeimbangkan karakter Andien yang autentik, edgy, dan penuh energi dengan DNA desain saya agar tercipta keharmonisan visual.”

    Hasilnya nanti bukan sekadar gaun panggung, melainkan perpanjangan dari suara Andien sendiri: berlapis-lapis, eksperimental, namun tetap hangat.

    Di luar panggung, penonton akan disambut dengan instalasi seni dari Setali Indonesia dan komunitas autisme, ruang interaktif yang menampilkan karya kreatif lokal.

    Di sini, konser menjadi pengalaman multisensori — musik, cahaya, dan empati berpadu menjadi satu.

    Seni yang Peduli pada Bumi dan Sesama

    Lebih dari sekadar pertunjukan, Konser Suarasmara juga membawa pesan keberlanjutan.

    Bersama Rekosistem, limbah acara akan dikelola secara bertanggung jawab, sementara jejak karbonnya diimbangi lewat program carbon offset.

    Sebagian hasil penjualan tiket akan disalurkan melalui Andien Aisyah Foundation untuk membangun Sekolah Anak Percaya di kampung pemulung.

    Bagi Andien, menjadi seniman berarti juga menjadi bagian dari solusi.

    Ia telah lama aktif dalam isu fashion sustainability melalui Yayasan Setali Indonesia, dan kini memperluas dampaknya melalui musik.

    “Menjaga bumi bukan sekadar gaya hidup, tapi bentuk cinta,” katanya dalam wawancara terdahulu.

    Dalam ruang industri hiburan yang sering menomorsatukan gemerlap, langkah kecil seperti ini terasa seperti nada yang tulus.

    Ia menunjukkan bahwa hiburan dan tanggung jawab sosial bisa berjalan seirama — seperti duet yang lembut tapi berdaya.

    Suarasmara: Sebuah Catatan tentang Waktu dan Cinta

    RedLine selaku promotor memperkirakan konser ini akan dihadiri lebih dari 5.000 penonton.

    Tiketnya dibanderol mulai dari Rp575 ribu hingga Rp2 juta.

    Namun lebih dari sekadar harga, nilai sejati konser ini terletak pada pengalaman emosional yang dibawanya.

    “Empat babak yang akan ditampilkan adalah sajian yang megah dan indah, bukan hanya musik tapi juga pengalaman interaktif yang mengajak penonton menjadi bagian dari pertunjukan,” ujar Aldi Liputo dari RedLine.

    Pada akhirnya, Konser Suarasmara bukan hanya perayaan musik seorang Andien — tapi perayaan hidup itu sendiri.

    Dua puluh lima tahun ia melintasi panggung, mengisi udara dengan suara, mode, dan makna. Dari jazz ke pop, dari glamor ke kesederhanaan, dari panggung ke gerakan sosial.

    Semua menyatu dalam satu kata yang kini menjadi tajuk perayaannya: Suarasmara.

    Seperti namanya, konser ini adalah tentang suara yang lahir dari cinta — cinta pada musik, pada manusia, dan pada bumi yang menjadi rumah bersama.

    FAQ

    1. Kapan konser Andien Suarasmara digelar?
      → Pada 15 November 2025 di Istora Senayan, Jakarta.
    2. Apa tema utama konser Suarasmara?
      → Perayaan 25 tahun perjalanan musikal Andien dalam empat babak penuh warna.
    3. Siapa saja musisi yang tampil?
      → Tohpati, Vina Panduwinata, Indra Lesmana, Diskoria, White Chorus, dan Wijaya 80.
    4. Siapa sutradara kreatif konser ini?
      → Shadtoto Prasetio.
    5. Apa keunikan konsep Suarasmara?
      → Dibalut empat babak tematik dengan visual Broadway–Roaring Twenties–Y2K.
    6. Bagaimana kontribusi sosial konser ini?
      → Hasil tiket disalurkan untuk Sekolah Anak Percaya dan dikelola ramah lingkungan.
    7. Siapa perancang busana Andien?
      → Hian Tjen, Eddy Betty, Ivan Gunawan, dan DIBBA.
    8. Siapa promotor konser ini?
      → RedLine.
    9. Berapa harga tiket konser Suarasmara?
      → Mulai Rp575.000 hingga Rp2.012.500.
    10. Apa pesan utama konser ini?
      → Musik, cinta, dan keberlanjutan dapat berjalan beriringan.

    Dalam perjalanan seni yang sering kali bergegas, Andien memilih untuk berhenti sejenak dan menengok ke belakang — bukan dengan nostalgia, tapi dengan rasa syukur.

    Suarasmara menjadi ruang di mana waktu bernyanyi, dan cinta beresonansi. Bagi penonton, mungkin hanya satu malam.

    Tapi bagi Andien, ini adalah seperempat abad yang dirayakan dalam satu napas: musik yang lahir dari jiwa yang selalu ingin berbagi.

  • Rocker Kasarunk Bakal Tampil dalam Kolaborasi Rock dan EDM di Tease Club Emporium

    Rocker Kasarunk Bakal Tampil dalam Kolaborasi Rock dan EDM di Tease Club Emporium

    MUSIK+ – PWI Jaya Seksi Infotainment & Lifestyle akan menggelar event “Jakarta Rocktober: Distorsi & Drops”, di Tease Club, Emporium Hotel Jakarta Pusat, Kamis 23 Oktober 2025, siap menghadirkan panggung spektakuler yang menggabungkan dua dunia: rock dan EDM.

    Line-up band rock yang dipastikan tampil antara lain Rocker Kasarunk, Briana, Sumber Jaya Abadi Rejeki, Rex 4, Trodon, Trio Kuda, dan iHateband. Mereka dikenal sebagai band yang konsisten berkarya lewat single dan album di industri musik Tanah Air.

    Sementara itu, band Hyper Rock siap membawa para pengunjung bernostalgia ke atmosfer era 80-90an, lewat suguhan lagu-lagu hits klasik rock dan slow rock di eranya.

    Selepas itu, giliran FDJ Amelles, DJ Febri A’w, dan DJ Ryandri yang akan membawa suasana ke level berbeda lewat beat elektronik. Menariknya, seluruh rangkaian acara ini dibuka gratis bagi pengunjung.

    Ketua Panitia Jakarta Rocktober, Mambang Yazid, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Seksi Infotainment & Lifestyle PWI Jaya, mengungkapkan bahwa Jakarta Rocktober ini siap digagas sebagai agenda tahunan musik kota Jakarta.

    “Rock sudah jadi gaya hidup sejak lama, bahkan punya basis loyal lintas generasi, sementara musik elektronik kini jadi favorit anak muda. Jakarta Rocktober hadir sebagai ruang temu dua energi besar itu,” ujar Yazid.

    Di samping itu, Tease Club sebagai tuan rumah Jakarta Rocktober, memang dikenal sebagai salah satu ikon hiburan malam terbaik di Jakarta dengan tata cahaya modern, atmosfer mewah, serta kombinasi live musik dan DJ kelas atas.