MUSIKPLUS – Sebuah badai besar sedang membayangi industri musik global. Setidaknya satu merek gitar asal Amerika Serikat mengaku telah diperintahkan untuk memusnahkan instrumen tipe-“S” (Stratocaster) buatan mereka dan membayar ganti rugi yang besar kepada raksasa industri gitar, Fender. Namun, apa sebenarnya fakta di balik berita utama yang mengguncang jagat maya ini?
Hanya berselang dua bulan setelah kemenangan hukumnya terkait merek dagang Stratocaster pada Maret 2026, sebuah firma hukum yang mewakili Fender Musical Instruments Corporation dilaporkan telah mengirimkan surat teguran keras (cease and desist) ke berbagai produsen gitar. Isinya tegas: tuntutan untuk menghentikan total produksi instrumen yang meniru desain ikonis Stratocaster.
Akar dari ketegangan ini bermula pada Maret lalu, ketika Fender memenangkan gugatan verstek (putusan tanpa kehadiran tergugat) melawan perusahaan asal China, Yiwu Philharmonic Musical Instruments Co, di Pengadilan Regional Düsseldorf, Jerman. Putusan pengadilan tersebut menyatakan bahwa Stratocaster bukan lagi sekadar merek dagang biasa, melainkan sebuah “karya seni terapan yang dilindungi hak cipta.”
Meskipun putusan ini dijatuhkan hanya karena pihak Yiwu tidak hadir di persidangan dan secara hukum hanya mengikat instrumen yang dijual atau diimpor ke wilayah Uni Eropa (UE) Fender tampaknya bergerak cepat memanfaatkan celah hukum ini untuk menyapu bersih para peniru bentuk bodi Stratocaster di seluruh dunia.
Isi Surat Ancaman: Tarik, Hancurkan, dan Bayar Ganti Rugi
Namun diketahui salinan surat tuntutan yang telah disensor, yang dikirim oleh firma hukum Bird & Bird atas nama Fender kepada salah satu perusahaan gitar anonim. Dalam dokumen tersebut, Fender menegaskan bahwa bentuk bodi Stratocaster adalah ciptaan artistik unik yang dikembangkan oleh Leo Fender pada tahun 1950-an, dan lekukan bodinya lebih dari sekadar desain fungsional praktis.
Potongan surat tersebut berbunyi:
“Telah menjadi perhatian klien kami bahwa Anda memasarkan gitar listrik di bawah merek [DIHAPUS]… contohnya model [DIHAPUS]… Desain bodi gitar-gitar ini hampir identik dengan desain bodi gitar ‘Stratocaster’ milik klien kami… Oleh karena itu, Anda telah melanggar hak cipta klien kami atas bentuk bodi Stratocaster. Sebagai konsekuensinya, klien kami menuntut Anda untuk menghentikan pemasaran gitar tersebut, membuka data informasi penjualan, membayar ganti rugi, memusnahkan produk yang melanggar, menarik produk dari pasaran, dan mengganti biaya hukum kami.”
Fender juga memberikan tenggat waktu yang sangat ketat. Para produsen diberi waktu hingga 25 Mei 2026 untuk mematuhi tuntutan tersebut. Jika mereka kooperatif, Fender bersedia memberikan kelonggaran terkait masa transisi atau nilai ganti rugi. Namun, jika diabaikan, Fender mengancam akan langsung menyeret mereka ke jalur hukum tanpa ragu.
Perlawanan Dari Produsen Butik
Meskipun putusan pengadilan ini berasal dari Uni Eropa, efek dominonya telah menyeberangi samudra hingga ke Amerika Serikat. LSL Instruments, sebuah produsen gitar butik skala rumahan yang berbasis di California, menjadi merek pertama yang berani bersuara dan mengakui secara terbuka bahwa mereka telah menerima surat ancaman tersebut.
Sebagai bentuk perlawanan, LSL Instruments langsung menggalang dana melalui kampanye GoFundMe untuk membiayai pengacara mereka. Dalam waktu singkat, dana yang terkumpul telah melewati angka $7.000 (sekitar Rp112 juta).
“Kami sangat menghargai semua dukungan yang diberikan kepada kami dan seluruh dunia gitar butik,” ungkap perwakilan LSL dalam sebuah pernyataan resmi. “Kepada setiap pembuat gitar yang terdampak oleh masalah ini, kami ingin mereka tahu bahwa kami bersama mereka.”
Dalam blog resminya, LSL menjelaskan betapa fatalnya dampak tuntutan ini bagi bisnis kecil seperti mereka.
“Kami menerima tuntutan dari Fender untuk menghentikan penjualan, menarik, dan memusnahkan semua gitar model ‘Saticoy’ kami di seluruh dunia. Kami hanya memproduksi kurang dari 500 gitar dalam setahun, sementara Fender memproduksi 500.000 gitar. Bisnis kecil kami sama sekali bukan ancaman bagi mereka, tapi di sinilah kami sekarang. Jika kami melawan ini sendirian, ada kemungkinan besar kami akan bangkrut dan gulung tikar dengan cepat.”
Apa Artinya bagi Industri Gitar Global?
Sejarah mencatat ini bukan pertama kalinya raksasa industri mencoba memonopoli bentuk gitar. Pada tahun 2009, Fender pernah kalah dalam kasus besar di AS ketika mereka mencoba mematenkan bentuk bodi Stratocaster, Telecaster, dan P-Bass. Saat itu, pengadilan membatalkan tuntutan Fender karena bentuk-bentuk tersebut dianggap sudah menjadi standar industri yang bisa digunakan siapa saja, asalkan bentuk headstock (kepala gitar) mereka berbeda.
Namun, langkah hukum terbaru Fender di Eropa ini menggunakan strategi yang berbeda. Kali ini, mereka tidak menggunakan hukum merek dagang (trademark), melainkan hukum hak cipta (copyright), dengan membingkai bodi Stratocaster sebagai sebuah karya seni murni.
Aarash Darroodi, Penasihat Umum & Kepala Pejabat Administratif Fender, menyatakan bahwa langkah ini adalah bentuk komitmen perusahaan terhadap orisinalitas dan persaingan yang sehat. Fender mengklaim bahwa tindakan hukum ini hanya menyasar “pelanggaran yang jelas” dan bukan untuk membatasi inovasi.
Pertanyaan besarnya kini adalah seberapa kuat fondasi hukum dari putusan Pengadilan Düsseldorf tersebut. Karena putusan itu diambil secara verstek (tanpa perlawanan dari perusahaan China), argumen-argumen hukum Fender belum pernah diuji secara langsung melawan pengacara pembela di ruang sidang.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Fender belum memberikan komentar resmi terkait keaslian dokumen hukum yang beredar. Namun satu hal yang pasti, industri gitar kini sedang menahan napas, menunggu apakah para produsen butik akan memilih tunduk atau bersatu melawan sang raksasa demi mempertahankan ruang kreativitas mereka.


















