MUSIKPLUS – Maret 2012, di sebuah studio foto di kawasan Bethnal Green, East End London, salah satu bintang rock paling ikonis di planet bumi sedang duduk bersandar di sofa. Tanpa top hat (topi tinggi) yang menjadi ciri khasnya, pria itu tampak asyik memetik riff-riff blues dari gitar Les Paul miliknya yang tidak tersambung ke pengeras suara.
Ia baru saja turun dari pesawat setelah penerbangan panjang dari Australia. Bahasa tubuhnya yang lemas, jabat tangan yang lunglai, serta kuapan yang sengaja dilebih-lebihkan, mengisyaratkan bahwa ada seribu hal lain yang lebih ingin ia lakukan pada hari Minggu jam 11 pagi ketimbang meladeni jurnalis.
Namun, tanpa banyak mengeluh, ia menegakkan posisi duduknya. Mengenakan sepatu bot ala anak motor, celana kulit hitam, kacamata hitam Ray-Ban reflektif di dalam ruangan, dan kaus tanpa lengan bertuliskan “Fuck Me I’m Famous”, ia tetap memancarkan pesona bintang rock sejati. Pria itu adalah Saul Hudson, atau yang dunia kenal sebagai Slash.
Bagi majalah Classic Rock, percakapan hari itu awalnya terasa seperti sebuah interogasi. Namun bagi Slash, itu adalah momen pembuktian.
“Rasanya menyenangkan bisa menyudahi percakapan dengan seseorang,” aku Slash seusai wawancara, “dan membuat mereka pulang dengan kesadaran bahwa aku bukanlah seorang bajingan rock yang bodoh (rock moron).”
Kilas Balik 1987: Band Paling Berbahaya di Dunia
Mari putar waktu kembali ke musim semi tahun 1987. Geffen Records mengundang segelintir jurnalis musik ke Rumbo Studios di San Fernando Valley, Los Angeles. Agendanya adalah memperkenalkan sebuah band baru yang saat itu sudah digembar-gemborkan oleh para pembuat publisitas Hollywood sebagai The Most Dangerous Band In The World: Guns N’ Roses.
Kelompok anak muda liar dan penuh percaya diri ini langsung memberikan kesan pertama yang tak terlupakan. Mereka tanpa ragu mengumbar cerita tentang transaksi narkoba, mencuri makanan demi bertahan hidup, keintiman dengan penari telanjang, hingga perseteruan fisik dengan kepolisian LA (LAPD). Bagi mereka, musik rock ‘n’ roll sudah mati dan “membosankan” sejak era Sex Pistols, dan album debut mereka, Appetite For Destruction, berjanji untuk mengubah itu semua.
“Band ini nyata,” tegas Slash yang saat itu baru berusia 21 tahun. “Bisnis ini baru bagi kami. Kami bertemu orang-orang yang mendikte kami, ‘lakukan ini, lakukan itu.’ Dan kami hanya menjawab: ‘Fuck it. Fuck you.’ Kami melakukan apa pun yang kami mau.”
Topeng Karikatur Sang ‘Dewa Rock’
Dua puluh lima tahun berlalu sejak era liar tersebut, figur Slash telah bertransformasi menjadi salah satu brand personal paling kuat dalam sejarah musik. Berada di peringkat kedua setelah Jimi Hendrix dalam daftar 10 Pemain Gitar Listrik Terbaik Sepanjang Masa versi majalah Time tahun 2009, wajah dan siluetnya adalah yang paling mudah dikenali di dunia.
Celana kulit, kacamata hitam, rambut keriting bervolume, dan topi tinggi Melrose Avenue bukan sekadar gaya busana. Elemen-elemen itu adalah perisai pelindung bagi seorang Saul Hudson. Di balik karikatur “Dewa Rock” yang tahan banting dan peminum Jack Daniel’s itu, ada sosok ayah dua anak yang jauh lebih tajam dan persektif daripada penampilan luarnya yang santai.
“Ada citra yang dibangun orang-orang sejak masa lalu,” ujar Slash. “Saya melihatnya dan berpikir, ‘Oh, jadi itu saya? Liar, kecanduan narkoba, bawa botol Jack Daniel’s, dan merokok?’ Ya silakan saja, saya tidak mencoba mengubah penilaian orang. Tapi ketika saya mengobrol langsung, orang biasanya sadar bahwa saya punya kedalaman berpikir yang lebih dari sekadar karikatur itu.”
Berdamai Dengan Masa Lalu dan Menatap Masa Depan
Saat wawancara ini berlangsung pada 2012, Slash tengah sibuk mempromosikan album solo keduanya, Apocalyptic Love, yang digarap bersama vokalis Myles Kennedy serta duo Todd Kerns dan Brent Fitz. Berbeda dengan masa-masa penuh konflik di Guns N’ Roses atau Velvet Revolver, Slash merasa proyek solonya saat ini adalah sebuah berkah di mana semua orang berada di frekuensi yang sama.
Namun, bayang-bayang masa lalu tidak pernah benar-benar pergi. Pihak manajemen sempat meminta agar tidak ada pertanyaan mengenai pelantikan Guns N’ Roses ke dalam Rock And Roll Hall of Fame yang dijadwalkan pada April 2012 sebuah momen yang berpotensi mempertemukan lima anggota pendiri GNR dalam satu ruangan untuk pertama kalinya sejak tahun 1990.
Ketika topik itu akhirnya tersentuh, Slash menarik napas dalam-dalam. Ia mengaku belum berbicara lagi dengan Axl Rose sejak tahun 1996.
“Ini adalah penghargaan yang membuat kami rendah hati, tapi di saat yang sama, itu sudah lama sekali,” katanya pelan. “Kadang saya merasa telah melakukan banyak hal hebat dalam 10 tahun terakhir, sehingga orang tidak perlu terus-menerus membahas hal yang sudah berusia 20 tahun.”
Di akhir percakapan, ketika ditanya apakah versi dirinya yang berusia 21 tahun saat membuat Appetite For Destruction akan heran melihat hidupnya yang sekarang jauh lebih tenang dan bebas dari drama, Slash hanya tersenyum.
“Mungkin bagi standar orang biasa, hidup saya saat ini terlihat tenang. Tapi di dunia tempat saya bekerja, kegilaan dan kekacauan itu selalu ada. Apakah saya akan lebih bahagia jika kecanduan dan kehancuran di masa lalu itu ada lagi di hidup saya sekarang? Fuck no. Jika Anda berdiri di posisi saya selama beberapa hari saja, Anda tidak akan pernah berpikir bahwa hidup saya ini membosankan.”






















