Hard N' Heavy

Menolak Pensiun, Memeluk Kesunyian: Kisah Hidup Rock n’ Roll Total ala Heydi Ibrahim Powerslaves

MUSIKPLUS – Nama Heydi Ibrahim tak bisa dilepaskan dari sejarah musik rock Indonesia. Pria kelahiran Magelang bernama asli Prahoro Prio Utomo Martadi ini dikenal sebagai vokalis ikonik dari band rock legendaris asal Semarang, Powerslaves. Melalui obrolan santai di angkringan jamu “Mampir Ngombe”, Heydi membagikan perjalanan hidupnya yang berapi-api, sebuah potret nyata dari filosofi sex, drugs, and rock n’ roll yang sempat menyeretnya ke titik terendah, hingga transformasinya kini menjadi seorang sufi yang menemukan kedamaian dalam seni rupa.

Awal Mula Yang Tanpa Sengaja

Menariknya, Heydi tidak pernah bercita-cita menjadi seorang penyanyi sejak kecil. Di masa mudanya, ia justru mendalami dunia pewayangan dan bersekolah dalang. Namun, gairah bermusiknya meledak saat ia mengikuti program pertukaran pelajar ke Belanda semasa SMA. Di sana, ia terbiasa tertidur sambil mendengarkan piringan hitam lagu-lagu rock klasik seperti Deep Purple. Dari sanalah ia berikrar pada dirinya sendiri untuk memilih jalan pedang sebagai seorang rocker.

Pertama kali bergabung dengan band di Belanda, ia mendaftar sebagai pemain bas. Namun, karena merasa tidak pintar dalam matematika dan hitungan ketukan, ia beralih mengambil posisi vokal yang kosong. Sepulang ke tanah air, ia menyelesaikan pendidikan SMA-nya di Semarang. Saat momen perpisahan sekolah, ia tampil menyanyi dan mengejutkan semua orang, termasuk keluarganya sendiri yang tidak pernah tahu bahwa dirinya bisa bernyanyi.

Kegilaan Panggung dan Insiden Magelang 1991

Sebagai vokalis, Heydi dikenal dengan aksi panggungnya yang liar dan anti-mainstream. Salah satu momen paling ikonik sekaligus kontroversial dalam sejarah rock Indonesia terjadi pada tahun 1991 di GOR Tri Bhakti, Magelang. Saat itu, Powerslaves tampil di urutan buncit dari puluhan band. Penonton sudah lelah, lesu, bahkan banyak yang tertidur di lantai.

Heydi memutar otak agar penonton kembali bangkit. Setelah membawakan lagu pertama, ia pergi ke belakang panggung, menanggalkan seluruh pakaiannya, dan kembali naik ke atas panggung hanya dengan mengenakan celana dalam dan sepatu. Aksi nekat ala Axl Rose (Guns N’ Roses) tersebut sukses menyengat ratusan penonton hingga suasana menjadi pecah dan histeris. Namun, pertunjukan terpaksa dihentikan oleh aparat karena dianggap melanggar norma pornografi.

Kegilaan itu berbuntut panjang. Setelah konser, sekelompok musisi lokal yang merasa terusik mendatangi hotel tempat Heydi menginap dan memukulinya hingga hidungnya miring dan bengkak. Alih-alih dendam atau memproses hukum peristiwa tersebut, Heydi justru bersyukur. Berkat berita pemukulan dan aksi nekatnya yang dimuat di surat kabar, nama Powerslaves justru melejit secara nasional lewat promosi gratis tersebut. Bagi Heydi, rock n’ roll harus dijalani secara total. Ia memilih menjadi “orang rock n’ roll yang bermain musik, bukan sekadar musisi yang memainkan musik rock.”

Titik Terendah: Terjebak Badai Narkoba

Popularitas dan gaya hidup bebas membawa Heydi masuk ke dalam jurang kegelapan. Antara tahun 1998 hingga 2005, ia mengalami kecanduan narkotika yang parah. Segala jenis zat terlarang ia konsumsi, yang membuatnya sempat dikeluarkan dari album kelima Powerslaves dan digantikan oleh vokalis lain.

Masa-masa kelam itu menghancurkan pola pikirnya dan membuatnya menjauh dari orang-orang yang menyayanginya. Namun, titik balik kesembuhan justru datang dari ketetapan hatinya sendiri, bukan karena rehabilitasi paksa. Ia berhasil bersih dari narkoba, meski harus menerima penalti dari label rekaman BMG Music untuk tidak merilis album apa pun selama lima tahun. Pengalaman pahit ini menjadi pelajaran berharga yang selalu ia tekankan kepada anak-anaknya: boleh melakukan apa saja untuk mengeksplorasi hidup, tetapi jangan pernah menyentuh narkoba karena zat tersebut merusak mindset manusia.

Rumah Bernama Powerslaves dan Prinsip Bertahan

Bagi Heydi, Powerslaves bukan sekadar band, melainkan “rumah” tempatnya pulang. Meskipun ia pernah merilis album solo pada tahun 1997 dan dinobatkan sebagai Vokalis Rock Terbaik se-Indonesia di ajang AMI Awards, ia menyadari bahwa jiwanya adalah bagian dari sebuah tim.

Ketika badai musik rock era 90-an mulai tiarap digerus zaman, Heydi menunjukkan profesionalisme yang tinggi. Ia menolak berganti profesi atau mengubah warna musiknya demi tren. Ia tetap bernyanyi rock, bahkan jika harus downgrade bernyanyi dari kafe ke kafe demi menghidupi dapur keluarganya. “Ada uang atau tidak ada uang, tetap rock n’ roll,” tegasnya.

Eksistensi Powerslaves yang bertahan lebih dari 35 tahun juga didasari oleh keterbukaan antarpersonel. Masalah di antara mereka diselesaikan secara langsung tanpa kemunafikan. Di usia yang tak lagi muda, hubungan Heydi, Anwar Fatahillah, dan Wiwiex Soegiono telah menjelma menjadi ikatan keluarga yang saling menerima kelemahan masing-masing.

Menepi ke Desa dan Menemukan Kedamaian Lewat Lukisan

Kini, di usianya yang telah menginjak kepala lima, Heydi memilih menepi dari hiruk-pikuk ibu kota. Ia tinggal di sebuah desa di daerah Gedang Anak, Ungaran, Kabupaten Semarang. Ia menjalani kehidupan batin yang lebih kontemplatif dan spiritual—sebuah fase hidup yang dalam istilah Jawa disebut mandek pandito (berhenti dari urusan duniawi untuk mendekatkan diri pada Tuhan).

Di masa tuanya, ia tidak ingin lagi dikejar-kejar oleh ambisi mencari uang secara menggebu-gebu. Setiap pagi, ia memilih menikmati kicau burung, kehangatan matahari, dan menuangkan ekspresi jiwanya di atas kanvas. Secara akademis, Heydi sebenarnya adalah seorang perupa (seniman lukis). Baginya, jika menyanyi di atas panggung menuntutnya untuk selalu tampil prima (meski terkadang hatinya sedang kacau), maka melukis adalah ruang jujur tempat ia berkomunikasi secara intim dengan Sang Pencipta. Ia bisa mengaku secara jujur tentang segala keburukannya di hadapan Tuhan melalui setiap goresan kuas.

Heydi menegaskan bahwa ia tidak akan pernah menyatakan pensiun dari dunia musik. Ia akan terus bernyanyi selama fisiknya mampu. Namun, ketika kelak suaranya habis dimakan usia, ia tahu bahwa seni rupa adalah warisan yang akan menemaninya hingga embusan napas terakhir.

Pesan untuk Generasi Muda (Gen Z)

Di akhir perbincangan, Heydi menitipkan sebuah pesan mendalam bagi generasi muda agar bisa bertahan di tengah dunia yang bergerak serba cepat: jangan pernah menjadi orang yang munafik dan jangan biarkan ketakutan menghantui pikiran.

Menurutnya, rumus kegagalan terbesar dalam hidup adalah ketika seseorang terlalu banyak mendengarkan perkataan orang lain, sehingga kehilangan kemampuan untuk mendengarkan suara Tuhan dan intuisi yang ada di dalam lubuk hatinya sendiri. Seseorang harus berani memegang teguh minat, bakat, serta impian terbesarnya melampaui batas (over the limit), terlepas dari apa pun penilaian dunia luar.

+ Bagikan

Artikel Terkait

1 of 4