Hard N' Heavy

Air Mata di Balik Distorsi: Achmad Albar Mengenang Tragedi Maut Fuad Hassan dan Soman Lubis

MUSIKPLUS – Bagi pencinta musik rock Indonesia, nama God Bless adalah lambang ketangguhan. Lahir pada awal era 1970-an, grup yang dimotori oleh Achmad Albar ini sukses berevolusi menjadi raksasa panggung yang disegani. Namun, di balik kemegahan sejarah dan lagu-lagu distorsi yang membakar semangat, God Bless menyimpan satu luka lama yang tak pernah benar-benar sembuh. Sebuah tragedi kelam pada hari Selasa, 9 Juli 1974, merenggut nyawa dua pilar penting mereka sekaligus: Fuad Hassan (drummer) dan Soman Lubis (keyboardist).

Melalui penuturan langsung Achmad Albar dalam kanal YouTube Kamar Musik Id, tabir kepedihan masa lalu itu kembali dibuka. Kisah ini menjadi pengingat betapa mahalnya harga sebuah kehilangan di masa-masa awal perjuangan sang legenda rock.

Fuad Hassan: Sang Motor di Balik Kelahiran God Bless

Sebelum tragedi terjadi, peran Fuad Hassan di dalam tubuh band sangatlah sentral. Sebagai musisi yang usianya satu angkatan di atas Achmad Albar, Fuad adalah sosok yang dihormati. Bahkan, gagasan awal pembentukan band ini muncul dari Fuad saat Achmad Albar baru saja kembali dari Belanda pada pertengahan tahun 1972. Bersama gitaris asal Belanda, Ludwig Le Mans, dan bassist Donny Fattah, mereka mulai merintis fondasi grup ini di kawasan Pegangsaan, Jakarta.

Fuad pula yang paling dominan mengarahkan aransemen musik dan menentukan tanggal-tanggal pertunjukan krusial, termasuk konser tunggal mereka yang fenomenal di Taman Ismail Marzuki (TIM). Begitu besarnya pengaruh Fuad sehingga setiap keputusan perubahan lagu di atas panggung harus melalui persetujuan darinya.

Firasat Sebelum Keberangkatan

Memasuki tahun 1974, God Bless yang kala itu juga diperkuat oleh Soman Lubis (keyboardist asal Bandung) sedang bersiap untuk melakukan tur besar ke Sumatra, melintasi kota Medan dan Padang. Demi fokus berlatih, para personel memutuskan untuk mengontrak sebuah rumah bersama di daerah Kalibata, Jakarta Selatan.

Pada hari nahas itu, seluruh personel berencana pergi dari rumah kontrakan Kalibata menuju tempat latihan rutin mereka di rumah keluarga besar Keenan Nasution di Pegangsaan. Sebelum berangkat, Fuad Hasan yang saat itu baru saja sembuh dari sakit dan masih dalam pengaruh obat jalan, bersikeras ingin mengendarai sepeda motor barunya. Padahal, personel lainnya sudah menyiapkan dua unit mobil untuk berangkat bersama-sama.

“Fuad waktu itu baru beli motor belum lama. Jadi dia masih asyik, tiap hari bersihin motor,” kenang Achmad Albar. Karena merasa khawatir dengan kondisi Fuad yang belum pulih total, adik Achmad Albar, Camelia Malik, sempat menitipkan pesan khusus kepada Soman Lubis agar menemani Fuad dan Soman-lah yang harus memegang kemudi motor tersebut. Soman menyetujuinya. Namun, tanpa sepengetahuan yang lain saat rombongan mobil sudah melaju duluan, posisi kemudi justru kembali diambil alih oleh Fuad Hassan.

Tragedi di Kawasan Pancoran

Rombongan mobil Achmad Albar dan Donny Fattah tiba di Pegangsaan lebih dulu. Detik demi detik berlalu, namun Fuad Hassan dan Soman Lubis tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Kepanikan mulai melanda tempat latihan tersebut.

Tak lama berselang, sebuah taksi Tebet berhenti di depan rumah Pegangsaan. Sang sopir taksi, yang kebetulan merupakan langganan para musisi God Bless, datang membawa kabar buruk yang mengejutkan. Ia mengabarkan bahwa motor yang dikendarai Fuad dan Soman mengalami kecelakaan lalu lintas yang sangat fatal di jalur antara Pancoran dan perdatam (dekat area pompa bensin).

“Sopir taksi itu datang dengan inisiatif sendiri untuk mengabari kami. Dia bilang keadaan Fuad sudah sangat kritis, sementara Soman digambarkan masih bernapas,” ujar Achmad Albar dengan nada getir.

Mendengar kabar tersebut, seluruh personel langsung bergegas menuju rumah sakit. Mereka sempat mencari ke RS Pelni sebelum akhirnya menemukan kepastian di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Salemba. Di sana, kenyataan pahit langsung menampar mereka. Fuad Hassan ternyata telah meninggal dunia seketika di lokasi kejadian akibat benturan yang sangat keras.

Achmad Albar bahkan sempat bersitegang dengan petugas keamanan rumah sakit karena langsung diberitahu secara frontal bahwa rekannya sudah berada di kamar mayat, tepat di depan Camelia Malik dan teman-teman wanita lainnya yang sedang syok berat. Sementara itu, Soman Lubis yang sempat terpental jauh dengan luka parah dilarikan secara terpisah ke RSAL Mintohardjo, Bendungan Hilir. Sayangnya, akibat penanganan yang kurang cepat di tengah situasi darurat saat itu, nyawa Soman Lubis tidak dapat tertolong dan ia mengembuskan napas terakhirnya beberapa jam kemudian.

Luka Mendalam yang Menjadi Spirit

Kehilangan dua personel inti sekaligus dalam satu hari merupakan pukulan paling telak dan terberat sepanjang sejarah berdirinya God Bless. Kepergian Fuad Hassan dan Soman Lubis sempat mengguncang kelangsungan hidup band yang baru saja merayap naik ke puncak popularitas.

Meski duka itu begitu menghancurkan, God Bless menolak untuk menyerah pada keadaan. Posisi drum kemudian digantikan oleh Yockie Suryo Prayogo (yang sempat beralih peran) dan nantinya diisi oleh sosok legendaris lainnya, sementara posisi keyboard kemudian diisi oleh musisi-musisi berbakat lainnya yang menjaga api musik rock mereka tetap menyala.

Tragedi maut 1974 ini tidak hanya dicatat sebagai sejarah kelam, tetapi juga menjadi titik balik spiritual bagi para personel yang tersisa untuk terus berkarya. Bagi Achmad Albar dan kolega, mengenang Fuad Hassan dan Soman Lubis bukan lagi tentang meratapi kematian, melainkan tentang menghormati dedikasi luar biasa yang telah mereka letakkan sebagai fondasi awal kebesaran nama God Bless di belantika musik tanah air.

+ Bagikan

Artikel Terkait

1 of 4