MUSIKPLUS – Dunia musik rock kehilangan salah satu pilar terbesarnya ketika sang maestro gitar, Eddie Van Halen, berpulang pada Oktober 2020. Di balik statusnya sebagai dewa gitar yang merevolusi teknik bermain instrumen enam senar, Eddie adalah seorang sahabat, saudara, dan musisi yang memiliki hati luar biasa besar.
Dalam sebuah sesi bincang-bincang hangat di kanal YouTube, dua legenda rock yang juga sahabat karib Eddie, Steve Lukather (gitaris Toto) dan Sammy Hagar (mantan vokalis Van Halen), duduk bersama untuk mengenang memori, tawa, dan kejeniusan murni yang ditinggalkan oleh sang mendiang. Melalui obrolan penuh nostalgia ini, mereka mengupas sisi manusiawi Eddie yang jarang tersorot kamera.
Ikatan Emosional yang Melampaui Musik
Bagi Sammy Hagar, era ketika dirinya bergabung dengan Van Halen (sering disebut era Van Hagar) bukan sekadar tentang kesuksesan komersial atau tur stadion yang terjual habis. Itu adalah masa-masa di mana dirinya dan Eddie memiliki koneksi magis yang instan.
Sammy mengenang bagaimana Eddie selalu menjadi orang pertama yang bersemangat di studio ketika mereka menemukan sebuah progresi akord yang bagus.
“Eddie memiliki energi anak kecil yang tidak pernah padam ketika berbicara tentang musik. Dia bisa terjaga semalaman hanya untuk mengulik sebuah nada, dan ketika dia berhasil, dia akan memelukmu seolah kami baru saja memenangkan lotre,” ujar Sammy Hagar dengan mata berkaca-kaca.
Di sisi lain, Steve Lukather memiliki perspektif yang tak kalah mendalam. Sebagai sesama gitaris sesi papan atas di Los Angeles pada era late 70-an dan 80-an, Lukather dan Eddie tumbuh bersama dalam sirkuit musik yang kompetitif, namun hubungan mereka justru jauh dari kata persaingan. Mereka berdua sering menghabiskan waktu bersama hanya untuk minum, mengobrol, dan bertukar pikiran tentang kehidupan di luar panggung.
Kejeniusan yang Alami dan Tanpa Batas
Satu hal yang disepakati oleh Lukather dan Sammy adalah bahwa kejeniusan Eddie Van Halen tidak datang dari teori musik yang kaku, melainkan dari intuisi murni. Eddie tidak bisa membaca not balok, namun ia memahami frekuensi dan harmoni dengan cara yang tidak bisa direplikasi oleh gitaris mana pun di dunia.
Steve Lukather menyoroti bagaimana teknik two-handed tapping yang dipopulerkan Eddie sebenarnya lahir dari rasa penasaran yang jujur, bukan sekadar gaya-gayaan (show-off).
“Banyak orang mencoba meniru Eddie dengan bermain secepat mungkin, tetapi mereka melupakan satu hal: groove dan rasa,” tegas Lukather. Ia menambahkan bahwa Eddie adalah seorang penulis lagu yang brilian, riff gitarnya selalu memiliki struktur yang kuat yang membuat lagu-lagu Van Halen tetap ramah di telinga pendengar awam hingga hari ini.
Menghadapi Masa-Masa Sulit Bersama
Persahabatan sejati diuji bukan saat berada di atas puncak, melainkan saat berada di titik terendah. Baik Sammy maupun Lukather tidak menutupi bahwa Eddie memiliki masa-masa kelam terkait kecanduan dan masalah kesehatan. Namun, memori yang mereka pilih untuk diingat adalah bagaimana Eddie selalu berusaha bangkit dan tetap menunjukkan rasa cinta yang besar kepada teman-temannya.
Sammy Hagar menceritakan momen rekonsiliasi emosionalnya dengan Eddie di tahun-tahun terakhir sebelum sang gitaris wafat. Setelah sempat mengalami kerenggangan hubungan selama bertahun-tahun pasca-perpecahan band, Sammy berhasil menghubungi Eddie kembali. Mereka saling bertukar pesan, tertawa, dan melupakan semua ego masa lalu. Bagi Sammy, kedamaian itu adalah hadiah terindah yang ia miliki sebelum sahabatnya pergi untuk selamanya.
Warisan yang Takkan Pernah Padam
Di akhir video, baik Steve Lukather maupun Sammy Hagar sepakat bahwa tidak akan pernah ada lagi sosok seperti Eddie Van Halen. Ia bukan hanya mengubah cara orang memainkan gitar elektrik, tetapi juga mengubah wajah musik rock dunia secara keseluruhan.
Bagi Lukather, warisan terbesar Eddie adalah senyuman ikhlasnya saat berada di atas panggung. Eddie bermain gitar dengan rasa bahagia yang menular kepada jutaan penonton. Melalui obrolan singkat namun mendalam ini, kedua musisi gaek tersebut berhasil menyampaikan satu pesan: Eddie Van Halen mungkin telah tiada, namun distorsi, tawa, dan jiwanya akan terus hidup setiap kali sepotong lagu Jump atau Eruption bergema di udara.























